Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 40 Bertemu si kembar


__ADS_3

Ciit........


Bug,


Auws....


"Ya Allah Lunaaaaaaa....." teriak nek Ijah dan Juna.


Mereka langsung berlari ke arah di mana Luna saat ini berada.


"Kamu tidak apa - apa kan sayang?" ucap nek Ijah penuh khawatir sambil memeriksa seluruh tubuh Luna.


"Hee...aku tidak apa - apa kok nek, cuma ini yang sakit," gadis kecil itu justru cengengesan sambil menunjuk ke arah lutut nya yah sedikit lecet.


Huft,


Arjuna menghembuskan nafas nya untuk menetralkan detak jantung nya karena sempat kaget dan panik melihat Lina yang hampir saja tertabrak oleh mobil.


"Syukurlah nak kalau kamu baik - baik saja, lain kali hati - hati kalau mau menyebrang jalan, tunggu nek Ijah dan Juna dulu," kata nek Ijah memperingatkan Luna.


"Maafin Luna nek, udah membuat nek Ijah dan kak Juna khawatir. Luna janji tidak akan mengulangi lagi," Luna mengatupkan kedua tangan nya sebagai permintaan maaf dan penyesalan karena kecerobohannya sudah membuat nek Ijah dan saudara kembar nya menjadi khawatir.


Sedangkan dua orang pria yang berada di dalam sebuah mobil mewah hanya bisa memandang kejadian yang ada di depan nya itu dengan jantung yang masih berdetak dengan sangat kencang sekali.


"Hampir saja," lirih Jo sambil memegang dada nya.

__ADS_1


Ya mobil yang hampir saja menabrak Luna adalah mobil yang di kendarai oleh Jo asisten Alex, otomatis pria yang berada di samping Jo adalah Alexander Wiratama.


Setelah menetralkan detak jantung nya, Alex langsung turun dari mobil dan langsung menghampiri kedua anak kecil dan seorang wanita tua yang berada di depan mobil nya.


Melihat bos nya turun dari mobil, Jo pun ikut turun dari mobil. Dia juga merasa penasaran dengan apa yang terjadi di depan mobil nya.


Hem,


Alex berdehem setelah sampai di depan ketiga orang yang sedang merasa khawatir. Sontak saja deheman Alex itu membuat, Juna, Luna dan nek Ijah mendongakkan kepala nya ke sumber suara tadi.


Juna dan Nek Ijah membantu Luna untuk berdiri dan merapihkan pakaian Luna yang sedikit berantakan dan kotor.


"Kamu itu sangat ceroboh sekali jadi anak," omel Juna sambil membersihkan pakaian Luna yang kotor karena banyak debu yang menempel.


"Apa kalian tidak apa - apa?" terdengar suara bariton seorang pria dewasa yang membuat Juna menatap ke sumber suara tersebut.


Entah mengapa detak jantung Alex tiba - tiba berdetak kencang kembali setelah pandangan nya menangkap sosok makhluk kecil berjenis kelamin laki - laki di depan nya sedang menatapnya dengan tatapan yang sama persis dengan nya.


Ada desiran aneh yang Alex rasakan di dalam dada nya saat ini saat memandang wajah tampan anak laki - laki di hadapan nya saat ini.


"Dia....kenapa wajah nya seperti..." batin Alex merasa kebingungan.


"Lain kali kalau membawa mobil lebih hati - hati lagi om, hampir saja mobil yang om kendarai melukai adik saya," ucap Juna dengan menampilkan aura dingin dan wajah yang datar tanpa ekspresi.


Alex tercengang mendengar penuturan anak laki - laki di depan nya itu. Baru kali ini dia mendapati anak kecil yang sangat berani berbicara pada nya dengan sangat tegas tanpa menunduk, atau merasa takut. Dia menjadi sangat tertarik dengan anak kecil itu. Biasa nya anak kecil akan merasa takut berbicara dengan nya, bahkan melihat wajah dingin nya saja mereka sudah ketakutan.

__ADS_1


"Kak Juna kok ngomong begitu pada om ganteng ini, dia tidak salah kak...tapi Luna lah yang salah karena menyeberang jalan tidak lihat kanan kiri seperti yang ibu ajarkan kepada kita. Luna ceroboh kak...." protes Luna pada saudara kembar nya.


"Akhir nya kamu mengakui juga kalau kamu itu ceroboh Luna...ce ro boh...! Juna berkata dengan penuh penekanan pada kata ceroboh yang membuat Luna langsung menatap tajam pada Arjuna.


Alex merasa gemas sendiri dengan kelakuan dua bocah kecil itu, entah mengapa dia merasa senang melihat pemandangan seperti itu di depan nya saat ini.


"Sudah...sudah...kalian jangan bertengkar lagi, maafkan kedua cucu ku tuan..." ucap nenek Ijah pada Alex.


"Kok nenek meminta maaf duluan pada om itu? harus nya dia yang meminta maaf duluan pada kita, karena dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang tinggi tadi. Untung saja mobil yang di gunakan om itu bagus dan pasti nya semua mesin di mobil itu masih berfungsi dengan baik sehingga bisa mengerem tepat waktu, kalau tidak entah apa yang terjadi pada adik saya," jelas Juna panjang lebar yang membuat Alex dan Jo menjadi tercengang tidak percaya seorang anak kecil bisa berbicara sangat tegas seperti itu dengan sorot mata yang tajam.


"Entah mengapa setiap aku melihat anak itu berbicara, aku seperti bercermin pada diriku sendiri," batin Alex dengan menatap Juna tanpa berkedip sama sekali.


Sedangkan sang asisten yang sejak tadi memperhatikan kejadian di depan nya itu pun merasa heran dan sedikit bingung.


"Kenapa aku seperti melihat bos Alex di wajah anak laki - laki itu ya, ekspresi nya, gaya bicara nya, tatapan mata nya, dan lagi garis wajah nya seperti garis wajah yang di miliki keluarga Wiratama, apa anak itu....ah, apa sih yang aku pikirkan. Mungkin itu hanya kebetulan saja," monolog Jo dalam hati nya.


"Kakak...." ucap Luna dengan nada yang sedikit meninggi karena dia merasa tidak suka jika Juna memarahi Alex, entah apa yang di pikirkan gadis kecil itu sehingga dia merasa tidak suka jika Alex di marahi oleh kakak nya. Karena di dalam hati Luna juga merasa jika diri nya lah yang bersalah dalam hal ini.


"Om ganteng....maafkan kakak ku ya, dia orang nya memang seperti itu kalau ngomong suka pedas," kata Luna sambil melirik ke arah Juna, sedangkan saudara kembar nya itu hanya mencebikkan bibir nya.


Alex langsung membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Luna. Dia tersenyum dan mengelus rambut hitam Luna dengan lembut.


"Tidak apa - apa, benar yang di katakan kakak mu itu jika om juga salah karena telah membawa kendaraan dengan kecepatan tinggi. Apa kamu ada yang luka, hem.." tanya Alex pada Luna dengan nada yang lembut.


"Luna tidak apa - apa kok om ganteng, cuma lutut Luna sedikit perih dikit," Luna membisikkan kata sedikit perih tepat di telinga Alex karena dia takut terdengar oleh saudara kembar nya itu.

__ADS_1


Alex kemudian melihat ke arah lutut gadis kecil itu, benar saja di sana ada sedikit goresan luka akibat terkena benturan aspal tadi. Alex langsung melirik ke arah Jo, dan orang yang di lirik pun tahu apa maksud dari atasan nya itu. Dengan cepat Jo mengambil sebuah kotak P3K yang ada di dasboard mobil dan langsung menyerahkan kepada Alex.


"Sini om obati luka kamu.."


__ADS_2