Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab 78 Mencabut tuntutan


__ADS_3

"Emang uang ayah banyak ya?"


Alex menganggukkan kepala dan tersenyum salah satu tangannya mengusap lembut rambut sang putri yang berada di samping nya.


"Benarkah itu yah,,,bearti Luna dan kakak bisa makan ayam tepung di sana dong yah," seloroh Luna sambil menunjuk ke arah restoran cepat saji yang menjual ayam crispy di seberang jalan.


Alex melihat ke arah yang di tunjuk Luna sambil berkata," apakah kalian belum pernah makan di sana?"


"Belum yah," jawab Luna dengan tertunduk lesu.


"Setiap kami minta untuk makan di sana, ibu hanya menjawab supaya kita bersabar karena uang ibu belum cukup untuk membeli makanan di sana jadi kita selalu dibelikan ayam tepung yang di pinggiran jalan itu yah, tapi Luna dan kak Juna malah senang karena suka di kasih bonus banyak remukan tepung ayam nya, xixixi iya kan kak?," lanjut Luna sambil terkekeh melirik ke arah sang kakak.


"Ya Allah...untuk membeli ayam crispy di sana saja mereka tidak mampu, ayah macam apa aku ini, padahal dengan harta yang aku miliki bisa untuk membeli resto itu," batin Alex sambil mengusap wajah nya kasar.


"Aku selalu lihat ibu bersedih jika ada permintaan kami yang tidak bisa ibu penuhi, ibu selalu menangis di setiap sholat. Itu yang aku lihat hampir setiap malam yah," giliran Juna yang berbicara.


Juna dan Luna menceritakan bagaiman kehidupan mereka selama ini pada Alex, tentu mereka berani bercerita seperti itu atas desakan sang ayah yang ingin tahu kehidupan seperti apa yang anak - anak nya lalui selama ini. Beberapa kali Alex menghela nafas nya kasar setiap kali mendengar cerita sang anak. Tanpa di sadari ada buliran kristal yang jatuh di pipi CEO tampan itu setelah mendengar semua cerita sang anak.


"Ayah nangis?" tanya Luna pada sang ayah karena tanpa di sengaja dia melihat ada air mata di pipi ayah nya.


"Ngga sayang...mana ada ayah menangis Hem," ucap Alex sambil berusaha bersikap seperti biasa.


"Ini bukti nya ayah habis menangis," Lina menghapus jejak air mata yang ada di pipi sang ayah.

__ADS_1


Alex yang sudah ketahuan oleh sang anak hanya bisa tersenyum.


" Kenapa ayah menangis setelah mendengar cerita kami, ayah sedih? Ayah tidak boleh sedih, kita saja yang menjalani semua nya tidak bersedih yah, justru kita sangat bersyukur dengan keadaan yang kita miliki selama ini, yang terpenting kita selalu di beri kesehatan dan di luar sana masih banyak yang tidak seberuntung kita, itu yang selalu di ajarkan oleh ibu selama ini, benar kan kak?"


"Hem...yang dikatakan Luna benar yah, kita tidak pernah merasa kekurangan selama ini meskipun keadaan kita selalu pas - pas an. Karena ada ibu yang selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah dan selalu memberikan yang terbaik untuk kami," lanjut Juna.


"Tiara...lagi - lagi kamu telah mendidik anak - anak kita dengan sangat baik, aku bersyukur sekali karena keturunan ku lahir dari rahim seorang ibu yang seperti malaikat seperti mu," gumam Alex dalam hati.


**


Sedangkan di tempat lain, Tiara bersama Nadia dan Jo asisten Alex sedang menuju ke kantor polisi. Ya...Tiara sudah memantapkan hati untuk mencabut tuntutan nya terhadap tuan Wiratama yang tak lain adalah ayah Alex.


Tiara sudah mempertimbangkan keputusan nya ini. Bagaimana pun tuan Wira telah menyelamatkan dia saat melahirkan enam tahun yang lalu. Sekalipun tuan Wira telah menyebabkan ayahnya meninggal akan tetapi dia sudah menganggap semua ini adalah takdir. Toh tuan Wira juga mengakui dan mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Selain itu Tiara juga sudah benar - benar ikhlas lahir batin memaafkan kesalahan tuan Wira dia tidak mau menyimpan dendam dalam hati nya.


"Apakah anda yakin dengan keputusan ini nona?" tanya Jo kepada Tiara.


"Iya pak Jo..aku sudah yakin dengan keputusan ku ini," jawab Tiara dengan begitu mantap.


"Baiklah kalau begitu nona...mari kita masuk ke dalam."


Tiara mengangguk dan mengikuti asisten Jo dari belakang bersama Nadia.

__ADS_1


"Kamu benar sudah yakin Ra dengan keputusan mu ini?" bisik Nadia.


"Eum....aku sudah mempertimbangkan matang - matang semua ini Nad, semua aku lakukan demi kebahagiaan orang - orang yang aku sayangi," Tiara berkata sambil tersenyum terlihat jelas ketulusan dari wajah cantik itu.


"Kamu memang orang yang baik Ra, semoga kebahagiaan selalu menyertai mu," batin Nadia.


Setelah melakukan beberapa prosedur untuk mencabut tuntutan nya terhadap tuan Wira, Tiara dan Nadia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena. Sedangkan Jo masih di kantor polisi untuk menunggu tuan Wira keluar dari penjara.


**


Seperti yang sudah Alex janjikan kepada anak - anak nya kini mereka berada di sebuah resto cepat saji yang menyediakan menu ayam crispy seperti yang Luna tunjukan tadi.


Di sana Alex sangat memanjakan kedua anak nya, seluruh menu yang ada di restoran cepat saji itu Alex pesan untuk kedua anak nya.


"Yah...kenapa makanan yang kita pesan banyak sekali, kita tidak akan habis memakan ini semua yah. Ini terlalu berlebihan, lagi pula kata ibu segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik," kata Juna sambil melihat banyak menu berada di depan nya.


"Benar sekali kata kakak yah... seharusnya ayah tadi memesan sesuai dengan porsi kita, sayang sekali jika makanan ini nanti nya tidak habis ke makan. Yang ada nanti bisa mubazir yah...ibu selalu berkata seperti itu, makanan yang tidak kita habiskan akan mubazir, padahal di luar sana masih banyak orang yang kelaparan," imbuh Luna sambil melihat dua orang anak jalanan yang sedang mencari sesuatu di kotak sampah dekan resto itu.


Lagi - lagi Alex di buat bangga dengan sikap kedua buah hati nya itu. Semua itu berkat didikan Tiara pasti nya, laki - laki tampan itu semakin di buat terpesona oleh Tiara karena mampu mendidik anak - anak nya dengan baik dalam kondisi yang serba kekurangan.


"Aku benar-benar beruntung kedua anak ku lahir dari rahim yang tepat" batin Alex sambil tersenyum menatap kedua anak nya secara bergantian.


"Maafkan ayah sayang, lain kali ayah tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi."

__ADS_1


__ADS_2