Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 75 Akhirnya....


__ADS_3

"Tapi Al..." lirih Tiara sambil menundukkan wajah nya.


"Tapi apa Ra...?"


Tiara terdiam tidak tahu harus menjawab apa, hati nya merasa bingung harus bagaimana. Di satu sisi dia sangat bahagia dengan ungkapan perasaan Alex, karena itu yang dia inginkan sejak dulu. Karena dia sendiri juga sangat mencintai laki - laki yang ada di hadapan nya itu sejak dulu sekalipun perasaan itu pernah ia kubur dalam - dalam akan tetapi semakin dia melupakan nya semakin kuat rasa cinta itu dalam hati nya. Namun di sisi lain, apakah keluarga besar Wiratama mau menerima kehadiran nya sebagai bagian keluarga sedangkan dia hanya dari kalangan orang bawah.


Namun dia juga harus memikirkan kebahagiaan kedua buah hati nya yang sejak dulu sudah mendambakan kehadiran sosok seorang ayah dan keluarga yang lengkap.


Alex yang menyadari dengan keraguan Tiara, CEO tampan itu langsung mengangkat dagu pujaan hati nya ke atas," tatap mata ku Ra..di sana kamu bisa melihat ada kebohongan atau tidak atas apa yang aku utarakan tadi, kamu juga bisa melihat keseriusan ku di sana, bahkan perasaan tulus ku pada mu juga bisa kamu lihat di mata ku," ucap Alex dengan penuh keyakinan sambil menatap manik indah Tiara dengan lekat.


Tiara pun memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata Alex, dia ingin mencari semua jawaban dari keraguan yang ada di hati nya di sana. Dan benar saja apa yang Alex ucapkan terlihat jelas di mata nya.


"Tapi Al...bagaimana dengan keluarga mu? Kamu tahu sendiri aku bukan dari kalangan berada seperti kalian, apa mungkin Tante Sofia mau menerima wanita seperti ku untuk menjadi menantu nya."


"Mutiara Ayunda...jadi itu yang membuat kamu ragu terhadap perasaan ku," Alex tersenyum mendengar penuturan Tiara tentang ketakutan nya.


"Justru mama lah yang menyuruh ku segera melamar mu. Padahal aku pengen nya melamar kamu dengan romantis, tidak seperti ini. Tapi mama memaksa aku malam ini juga aku harus melamar mu," kata Alex sambil terkekeh karena semua nya tidak sesuai dengan ekspektasi nya.


Laki - laki tampan itu sebenarnya sudah mempunyai planning akan melamar Tiara dengan sangat romantis, tapi pada kenyataannya dia harus melamar sang pujaan hati di sebuah kontrakan kecil dan sempit jauh dari kata layak atau romantis.


"Benarkah seperti itu Al?"


"Iya sayang...." Alex tiba - tiba memanggil Tiara dengan sebutan sayang dan itu mampu membuat kedua pipi Tiara menjadi merah merona karena malu. Sontak wajah Tiara langsung menunduk kembali.


Alex yang melihat ekspresi Tiara menjadi gemas sendiri," Mutiara Ayunda...maukah kamu menjadi istri ku, menjadi pendamping hidup ku sampai maut memisahkan, dan menjadi ibu untuk anak - anak ku."

__ADS_1


Dengan penuh keyakinan Tiara menganggukkan kepala nya seraya tersenyum manis pada Alex.


"Yesss !!!" teriak Alex karena terlalu bahagia akhir nya lamaran nya di terima oleh Tiara.


"Al...jangan keras-keras, anak - anak bisa ke bangun nanti."


Alex menggaruk tengkuk leher nya yang tidak gatal," hehe..maaf Ra, aku terlalu happy soal nya," ucap Alex yang langsung merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukan nya.


Keduanya larut dalam kebahagiaan, Alex melonggarkan pelukan nya dan menatap lekat wajah sang kekasih lebih tepat nya wajah calon istri nya.


Wajah yang selama ini dia pandang dari jauh kini terpampang sangat dekat dengan nya, dia menangkup ke dua pipi Tiara sambil mengatakan ucapan cinta yang begitu manis," I love you Mutiara Ayunda ..."


"Love you too Alexander Wiratama," jawab Tiara dengan tersenyum manis.


Cup,


Sebuah kecupan manis mendarat di bibir ranum Tiara, hanya sekedar kecupan kecil tapi mampu membuat sang empu bibir tersipu malu, terbukti kedua pipi Tiara langsung merah seperti tomat.


Alex pun dengan berani kembali mendaratkan kecupan nya lagi di bibir Tiara, perlahan tapi pasti dia mulai menggerakkan bibir nya dengan lembut untuk me****t bibir pink itu. Tiara yang merasakan sentuhan lembut dari bibir Alex pun memejamkan kedua mata nya. Dia pun ikut menikmati setiap sentuhan lembut dari bibir Alex di bibir nya, pelan - pelan Tiara pun membalas kecupan bibir Alex walaupun kedua nya masih kaku dalam hal tersebut karena kedua nya terakhir melakukan itu enam tahun yang lalu saat kejadian naas itu pasti nya.


Alex yang merasakan Tiara membalas ci*** nya, kemudian semakin memperdalam ci****nya. Tiara yang kehabisan nafas berusaha memukul dada Alex supaya mau melepaskan nya. Alex pun menyudahi ci****n nya setelah tahu jika sang kekasih kehabisan oksigen.


Dia menyatukan kening nya di kening Tiara, nafas kedua nya masih ngos - ngosan." Aku rasa kita harus segera menikah secepatnya sayang..." ucap Alex dengan suara yang parau.


Hanya berciuman seperti tadi saja sudah membangkitkan gairah di tubuhnya. Tiara hanya tersenyum menanggapi perkataan calon suami nya itu. Dia kini sudah menjadi wanita dewasa, jadi dia tahu betul apa yang di maksud Alex.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada empat pasang mata yang menatap mereka dengan tidak berkedip dari arah ruang tamu.


"Ternyata pak Al agresif juga..." ucap Jo sambil berusaha menelan Saliva nya karena telah melihat adegan +21.


"Mata ku jadi ternoda melihat adegan live +21 di depan mata ku, membuat jiwa jomblo ku meronta - ronta saja," kata Nadia sambil meremas kuat lengan asisten Jo yang ada di samping nya.


"Heh ...cewek cempreng ngapain kamu meremas lengan ku, sakit tahu!" asisten Jo mengatakan dengan penuh penekanan sambil menatap tajam ke arah Nadia.


"Astagfirullah..." Nadia langsung menghempaskan lengan asisten Jo dengan kasar.


"Ya maaf sih...ngga sengaja tahu, ngga perlu melotot seperti itu juga kalee..dasar kulkas dua pintu," umpat Nadia sambil mengerucutkan bibir nya.


Jo langsung melayang kan tatapan tajam nya ke arah Nadia.


"Apa hah..." Nadia pun tak kalah ikutan menatap tajam asisten Alex itu.


"Hahaha, ketahuan kalau jomblo, melihat pemandangan seperti itu saja sampai meneteskan air liur," ejek Jo pada Nadia.


"Lha situ ngga sadar diri apa, dari tadi tuh bola mata sampai mau keluar lihat adegan live +21 pak Al dan Tiara, kalau sampai pak Al tahu bisa tamat riwayat mu."


"Sssst....tu mulut ngga bisa di rem apa kalau ngomong, mana suara nya seperti speaker aktif pula, kalau mereka sampai tahu kita melihat semua nya dari tadi kan berabe. Kamu mau di pecat pak Al gara - gara masalah ini?" ucap Jo sambil membekap mulut Nadia


Nadia langsung menggelengkan kepalanya, perkataan Jo tadi cukup membuat nyali nya menciut. Bagaimana pun dia tidak mau kehilangan pekerjaan nya hanya karena masalah seperti ini.


"Emph...lepas woy ..."

__ADS_1


__ADS_2