
Mohon maaf untuk para readers...baru bis UP sekarang...karena kemarin - kemarin sibuk untuk acara tasyakuran aqiqah anak dulu, mohon pengertian nya🙏🏻
Terima kasih karena telah setia menunggu update dari novel ini, insyaallah ke depan nya bisa on time lagi🤗🥰
Jangan lupa selalu dukungan nya ya kakak...kakak readers🥰🌹
**
Alex memasuki ruangan Seto dengan penuh emosi. Laki - laki tampan itu tanpa banyak kata langsung menyerang Seto dengan membabi buta, jika tidak ada Jo bisa di pastikan Seto kehilangan nyawa nya.
Sedangkan Seto sendiri tidak membalas satu pun serangan dari Alex, dia hanya bisa pasrah. Karena memang dia layak mendapatkan itu semua.
"Maafkan aku Lex...."
Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Seto, walaupun dia tidak bertanya kenapa dia di pukuli oleh Alex, akan tetapi dia sudah yakin jika Alex telah mengetahui rahasia enam tahun yang lalu. Karena dia paham betul bagaimana karakter Alex, sekalipun mereka bukan sahabat dekat akan tetapi Seto telah mengenal Alex lama. Alex tidak akan emosi seperti itu jika tidak ada hal besar yang telah membuat diri nya kecewa.
"Kenapa kamu tega lakukan ini pada ku to," teriak Alex dengan suara tinggi dan nafas yang tersengal - sengal dalam posisi badan masih dalam dekapan Jo sang asisten.
"Lepaskan.." Alex menghempas kan tangan Jo yang mendekap badan nya dengan kasar.
"Maaf pak Al..."
Alex menghampiri Seto yang bersandar lemas di tembok ruang kerja nya. Dia langsung mencengkram kerah baju dokter anak itu. Ada kilatan amarah dalam sorot mata Alex.
__ADS_1
"Kenapa kamu lakukan ini semua, kau tahu dengan apa yang sudah kamu dan Jesika lakukan enam tahun yang lalu, ada masa depan yang tidak sengaja aku hancurkan, ada dua anak yang selama lima tahun ini sangat merindukan kehadiran ayah nya yang mereka sendiri tidak tahu siapa, ada penderitaan yang Tiara tanggung sendirian selama enam tahun, apa kamu memikirkan itu semua hah!"
"Maafkan aku Lex.." hanya kata itu yang selalu muncul dari bibir dokter muda itu.
"Kata maaf kamu tidak akan mengubah semua yang terjadi enam tahun yang lalu! sekarang jelaskan pada ku apa kenapa kamu lakukan itu kepada ku dan Tiara," kata Alex dengan penuh emosi dan penekanan. Tanpa Alex sadari tangan nya telah mencekik leher Seto sehingga membuat laki - laki itu kesusahan untuk bernafas.
"Pak Al...saya mohon kontrol emosi bapak, jangan sampai anda melukai dokter Seto seperti itu," bujuk Jo pada atasan nya yang sedang terbawa emosi.
Alex langsung melepaskan cengkraman nya dan mundur beberapa langkah dari Seto berada. Benar kata Jo dia harus bisa mengontrol emosi nya, karena dia juga tahu otak dari semua kejadian enam tahun yang lalu bukan Seto melainkan Jesika.
"Uhuk..uhuk...."
"Baiklah Lex, aku akan menceritakan semua nya tentang kejadian enam tahun yang lalu pada mu, dan setelah aku menceritakan semua nya aku hanya pasrah jika kamu akan menghukum ku nanti," ucap Seto dengan terbata.
"Untuk kejadian kenapa kamu bisa berada di kamar Tiara, itu di luar rencana Jesika yang sebenarnya Lex, karena dari awal Jesika menginginkan malam itu kamu menghabiskan malam bersama nya, tapi takdir berkata lain kamu justru menghabiskan malam bersama Tiara. Sehingga akhir nya merubah rencana awal nya dan memfitnah Tiara dengan video dan foto itu," jelas Seto panjang lebar.
Semua perkataan Seto membuat Alex mengepalkan kedua tangan nya, tidak ingin menyakiti Seto lagi Alex kemudian meninju tembok yang berada di sebelah Seto sampai jari - jari tangan nya terluka.
"Pak Al...anda tidak boleh seperti ini. Anda jangan menyakiti diri anda sendiri, setidak nya kita sudah tahu kejadian yang sebenarnya. Sekarang sebaiknya anda temui kedua anak anda dan nona Tiara. Biar dokter Seto menjadi urusan saya," kata Jo sambil berusaha menahan Alex yang ingin menyakiti diri nya sendiri karena merasa sangat bersalah pada Tiara.
"Tiara...Juna...Luna," lirih Alex sambil beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan Seto.
Alex berjalan gontai menyelusuri koridor rumah sakit, untuk penampilan nya jangan di tanya lagi yang jelas tidak seperti Alex yang sebelum nya yang selalu berpenampilan rapih dan perfect.
__ADS_1
Sesampai nya di depan ruang rawat Luna, dia membuka pintu pelan - pelan. Hal pertama yang dia lihat adalah sang putri yang sedang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Dia mengedarkan pandangan nya namun tidak tampak wanita yang secara tidak sengaja telah dia renggut masa depan nya. Hanya nampak laki - laki kecil yang sedang meringkuk di sofa. Alex mendekat ke arah anak laki - laki itu, di usap nya rambut hitam Juna dan dia kecup pelan kening bocah tampan itu sembari membenarkan posisi tidur nya supaya terasa lebih nyaman.
"Maafkan ayah Juna, yang sudah membiarkan kalian hidup menderita selama ini. Entah penderitaan seperti apa saja yang sudah kalian lewati selama ini," ucap Alex sambil terisak menangis.
Dia bisa merasakan betapa menderita nya kedua anak nya selama ini. Karena dia bisa melihat dari keseharian selama dia bersama mereka selama ini.
"Ayah janji setelah ini, tidak ada penderitaan dan air mata lagi yang kalian rasakan, yang ada hanya kebahagian dan canda tawa. Sekalipun ada air mata itu adalah air mata kebahagiaan bukan air mata kesedihan lagi."
"Ayaaaah....jangan tinggalkan Luna lagi."
Deg,
Alex langsung menghampiri sang putri yang ternyata masih terlelap tidur, ternyata Luna hanya mengigau.
"Iya sayang....ayah tidak akan meninggalkan kalian lagi, ayah janji," Alex berkata sambil mengusap punggung tangan Luna yang terpasang selang infus.
Setelah membuat sang putri tenang kembali, dia menelisik ke segala penjuru ruangan tetapi Tiara belum kembali lagi ke ruangan itu.
"Kemana Tiara?" gumam Alex.
Karena sudah lama menunggu Tiara akhirnya Alex memutuskan untuk mencari keberadaan Tiara di sekitar rumah sakit.
Langkah kaki nya terhenti saat melihat seorang wanita yang sedang duduk menyendiri di bangku taman rumah sakit.
__ADS_1
"Maafkan aku Tiara...."