Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 72 Cerita Juna


__ADS_3

Ny. Sofia memeluk kedua cucu nya dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang. Dia tak henti - henti nya mencium kedua bocah itu secara bergantian. Mama Alex benar - benar tidak menyangka ke dua bayi yang dia tolong enam tahun yang lalu ternyata adalah cucu kandung nya. Dia sangatlah bersyukur karena dia telah menolong dan menyelamatkan keturunan putra nya itu bahkan dia juga ikut andil dalam pemberian nama untuk kedua nya.


"Sungguh kuasa mu luar biasa ya Allah..." ujar Ny. Sofia di dalam hati dengan penuh hari. Tidak terasa air mata nya jatuh membasahi kedua pipi nya.


"Ayah....kalau aku dan kak Juna mempunyai Oma, bearti kami juga memiliki opa dong yah.." tanya Luna kepada sang ayah yang berada di sisi Oma nya saat pelukan dari Oma nya sudah terlerai.


"Iya sayang...kalian juga punya opa, sama seperti teman - teman kalian yang lain."


"Benarkah ....lalu di mana opa sekarang yah?" tanya Luna kembali sambil mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan akan tetapi dia tidak melihat sosok yang di maksud ayah nya itu. Karena dia tidak melihat orang lain lagi di sana.


"Opa kalian sedang pergi ke luar kota sayang .." jawab Ny. Sofia.


Mama Alex sengaja mengatakan hal itu supaya Luna atau Juna tidak bertanya yang macam - macam. Mana mungkin dia mengatakan jika opa mereka saat ini sedang mendekam di penjara. Dan hal itu karena ibu mereka yang melaporkan nya.


Luna dan Juna hanya ber Oh ria dan manggut - manggut sebagai jawaban nya.


Tiara yang mendengar Ny. Sofia terpaksa berkata bohong kepada kedua anak nya pun hanya menghela nafas. Bagiamana pun tuan Wira adalah kakek dari kedua anak nya, dan dia tahu sejak dulu kedua anak nya sangat merindukan sosok kakek maupun nenek.


Seperti nya dia harus menurunkan ego nya demi kebahagiaan kedua anak nya.


"Ya sudah kita pulang sekarang sayang," kata Tiara mencairkan suasana.


Luna dan Juna mengangguk, mereka kemudian berjalan ke arah Tiara.


"Kalian akan pulang kemana?" tanya mama Alex.

__ADS_1


"Kami akan pulang ke kontrakan kami Tante."


"Kenapa kalian harus pulang ke kontrakan kalian, kenapa tidak pulang ke rumah Tante Yu..."


"Iya Ra...Kenapa kalian tidak pulang saja ke rumah mama, itu akan lebih baik lagi," imbuh Alex.


"Maafkan Ayu Tan...kami tidak bisa, saya harap Tante bisa mengerti . Jika tante kangen pada mereka Tante bisa mengunjungi kami di kontrakan kami," tolak Tiara secara halus.


Ny. Sofia mengerti dengan apa yang Tiara ucapkan." Baiklah kalau begitu, tapi lain kali jika tante mengundang kalian untuk main ke rumah Tante kalian harus mau ya?"


Tiara dan kedua anak nya mengangguk. Dan pada akhir nya mereka meninggalkan rumah sakit itu dengan tujuan berbeda. Ny. Sofia pulang diantar oleh Jo asisten Alex, Ny. Sofia sebenarnya ingin sekali ikut mengantarkan Tiara dan kedua anak nya pulang ke kontrakan nya. Akan tetapi dia juga harus segera mengunjungi sang suami yang sedang di penjara saat ini.


Sementara Alex dan Tiara saat ini berada di dalam perjalanan menuju ke kontrakan Tiara bersama kedua anak mereka. Tidak ada obrolan antara Tiara dan Alex, mereka berdua merasa canggung satu sama lain nya terutama Tiara, setelah mengetahui jika ayah biologis dari kedua anak nya adalah Alex entah mengapa ibu dari dua anak itu seperti menjaga jarak dengan CEO tampan itu.


Tidak munafik, Tiara memang merasa lega dan bahagia karena ayah biologis anak adalah Alex bukan laki - laki hidung belang seperti yang Jesika bilang dahulu.


"Yee....sudah sampai," teriak Luna kegirangan.


"Ayah mau gendong Luna lagi kan seperti di rumah sakit tadi."


"Pasti dong sayang..." jawab Alex dengan penuh kebahagiaan.


Mereka berjalan kaki menelusuri gang kecil, jalan menuju kontrakan Tiara memang tidak bisa di lalui kendaraan roda empat, hanya motor yang bisa melewati jalan itu. Sehingga mobil Alex terpaksa di parkir di jalanan besar yang agak jauh dari jalan menuju kontrakan Tiara.


Alex dengan telaten menggendong Luna dan tangan satu nya menggandeng sang putra, sedangkan Tiara berjalan di belakang Alex dengan membawa beberapa barang dari rumah sakit. Mereka nampak seperti keluarga yang harmonis dan bahagia jika di lihat.

__ADS_1


Untung saja lingkungan tempat tinggal Tiara yang sekarang tidak julid seperti lingkungan tempat tinggal Tiara yang dahulu. Sehingga kedatangan Alex di kontrakan Tiara tidak ada yang peduli atau sekedar kepo.


Tiara masuk dahulu ke dalam rumah dan meletakkan barang-barang yang dia bawa di dapur. Sedangkan Alex membawa Luna ke kamar, karena keadaan Luna yang masih belum pulih benar sehingga bocah kecil itu harus beristirahat saat ini. Kebetulan saat di perjalanan menuju kontrakan Tiara tadi Luna tertidur dalam gendongan Alex.


Alex meletakkan dengan hati - hati tubuh bocah perempuan itu di atas kasur lantai yang sudah usang dan tipis dan menyelimuti nya. Hari Alex terasa nyeri melihat sang putri harus tidur di tempat yang tidak kayak seperti ini selama bertahun - tahun. Sedangkan diri nya selama itu tidur di tempat yang empuk dan nyaman. Laki - laki gagah itu menghapus cairan bening yang tidak sengaja jatuh di pipi nya karena merasa bersalah selama ini kepada kedua anak nya.


Tidak ingin berlama-lama di dalam kamar itu, Alex pun keluar dari kamar itu. Dia menelusuri setiap sudut ruangan dari kontrakan Tiara dan anak - anak nya itu. Tidak ada istimewa dari kontrakan itu, tidak ada sofa, tidak ada telivisi atau pun perabot rumah tangga lain nya. Yang dia lihat hanya ada meja usang dan kursi plastik yang berada di ruangan di mana dia berdiri saat ini.


"Ya Tuhan.... kehidupan macam apa yang mereka jalani selama ini, bertahun - tahun mereka hidup dalam kesusahan dan kekurangan, sedangkan aku..." ucapan Alex terhenti saat melihat Juna ke luar dari sebuah ruangan dengan membawa secangkir teh, Alex bisa menduga jika anak laki -laki nya itu dari dapur.


Juna meletakkan segelas teh di atas meja usang yang berada di hadapan Alex.


"Ini yah teh nya, silahkan di minum...ibu yang buat untuk ayah," ucap bocah tampan itu seraya menyuruh Alex untuk duduk. Diri nya pun ikut serta duduk di samping sang ayah.


"Juna...ibu mu kemana?" tanya Alex yang mencari keberadaan Tiara yang sejak tiba di kontrakan itu tidak kelihatan batang hidung nya.


"Ibu setelah membuatkan teh ayah, langsung pergi ke warung Mak Jum untuk bantu - bantu di sana supaya ibu bisa mendapatkan beras dan telur untuk makan nanti," jawab Juna.


"Apa? " Alex langsung membelalakkan kedua mata nya.


"Iya yah...setiap tanggal dua puluh ke sana ibu selalu bekerja di warung Mak Jum untuk memenuhi kebutuhan kami, kadang ibu juga mencuci dan menggosok di rumah tetangga supaya dapat uang lagi. Karena di tanggal itu gaji ibu sudah habis. Kadang Juna merasa kasihan ma ibu yang selalu bekerja keras siang dan malam tanpa henti, apa lagi setelah Luna sakit dan harus membeli obat setiap bulan nya, ibu jadi harus kerja ekstra lagi untuk memenuhi kebutuhan kami. Suatu hari nanti jika Juna sudah besar, Juna akan ambil alih tanggung jawab ibu, Juna akan bekerja keras supaya mendapatkan uang yang banyak sehingga ibu tidak perlu bekerja keras lagi. Juna sering merasa kasihan ma ibu yah, setiap malam ibu sering merintih kecapean saat tertidur, ibu sering terjaga setiap malam nya karena merasa tangan dan kaki nya terasa sakit. Juna sedih jika melihat ibu seperti itu yah..." kata bocah tampan itu sambil menangis sesenggukan menceritakan semua yang Tiara alami selama ini.


Alex yang mendengar cerita anak nya itu meremas dada nya yang tiba - tiba terasa sesak.


"Ya Tuhan....laki - laki macam apa aku ini..."

__ADS_1


__ADS_2