Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 36 Pindah tugas


__ADS_3

Setelah mengatakan itu Alex langsung menuju ke ruangan nya. Dia merasa sesak setiap kali melihat Tiara bekerja keras seperti itu. Seharusnya Tiara saat ini sudah bergelar dokter bahkan sudah bekerja di rumah sakit ternama pasti nya. Tapi apa yang terjadi sekarang Tiara justru harus bekerja keras seperti itu, bahkan mendapat kan pekerjaan dengan level yang paling rendah di perusahaan yang dia pimpin.


"Tapi itu setimpal dengan apa yang sudah dia lakukan dulu. Dia sendiri yang memilih jalan seperti itu. Tapi tunggu dulu, kenapa dia tidak bekerja seperti dulu? bukan kah dia akan lebih mudah mendapatkan uang banyak dengan sekali melayani para pria hidung belang itu. Kenapa dia sekarang justru bekerja sebagai cleaning service? apa dia sudah bertaubat atau itu hanya kedok dia saja untuk menutupi pekerjaan utama dia yang kotor?" pertanyaan - pertanyaan itu muncul seketika di pikiran Alex saat ini.


"Argh...." Alex mengusap wajah nya dengan kasar.


Setelah mengambil beberapa berkas yang ingin dia tanyakan pada ayah nya dia segera meninggalkan ruangan nya.


Dia dan Jo langsung meninggalkan kantor menuju ke kantor pusat AW.Group yang di pimpin oleh ayah nya.


Saat mobil yang di tumpangi Alex sampai di gerbang kantor dia melihat Tiara sedang memberikan sebungkus nasi yang dia terima tadi pada dua anak kecil. Alex melihat sekilas dari jendela mobil nya saat melintasi Tiara dan kedua anak kembar nya.


Setelah menerima nasi bungkus itu Tiara menghubungi tetangga kontrakan nya untuk memberitahu kedua anak nya supaya menyusul nya ke kantor. Saat ini Tiara sudah berpindah kontrakan yang lebih dekat dengan perusahaan tempat dia bekerja sekarang. Semua itu atas usul dari Nadia sehingga Tiara mau pindah. Akan tetapi Tiara tidak tinggal satu lokasi kontrakan dengan Nadia, karena kontrakan Nadia harga sewa nya lebih mahal dari tempat Tiara sekarang ini jadi Tiara memutuskan untuk mencari kontrakan dengan harga sewa yang lebih murah lagi.


"Kalau ini buat kami, terus ibu nanti makan apa?" tanya si sulung Juna.


Tiara tersenyum," ibu sudah makan sayang, baru saja. Tadi ibu dapat dua nasi bungkus, jadi yang satu untuk kalian berdua. Lauk nya pasti kalian suka."


"Ayam goreng tepung ya Bu," jawab si bungsu Luna dengan senyum yang merekah.


Tiara menganggukkan kepala nya dan mengusap rambut panjang Luna dengan penuh kasih sayang.


"Hore.....kak kita makan enak siang ini," teriak Luna sambil mengguncangkan tubuh Juna saudara kembar nya itu.


Arjuna menatap sang ibu, seolah tatapan itu mengisyaratkan sebuah pertanyaan. Dan Tiara yang tahu arti dari tatapan anak nya itu langsung tersenyum dan menganggukkan kepala nya.


Akhir nya kedua bocah itu pun pergi dengan membawa sebungkus nasi yang diberikan oleh ibu nya dengan perasaan yang suka cita. Semua itu tidak lepas dari penglihatan Alex dari spion mobil nya. Dia sengaja menyuruh Jo untuk berhenti tidak jauh dari Tiara dan anak nya berbicara. Dia membuka jendela mobil nya sedikit supaya dia bisa mendengar kan percakapan antara ibu dan anak itu.


"Jadi mereka itu anak - anak Tiara? dan Tiara adalah janda dengan dua anak dalam usia se muda itu?" batin Alex .


Sayang wajah kedua anak itu tidak terlihat oleh Alex karena mereka berdiri membelakangi Alex itu yang membuat Alex penasaran terhadap kedua anak Tiara.

__ADS_1


Setelah melihat kedua anak Tiara pergi Alex langsung menyuruh Jo untuk melajukan mobil nya.


**


Setelah kedua anak nya pulang, Tiara langsung pergi ke mushola kantor untuk menunaikan kewajiban nya sholat dzuhur. Di situ sudah ada Nadia yang baru saja selesai sholat juga.


"Kamu dari mana saja Ra, sejak tadi Bu Maya nyariin kamu."


"Nyariin aku?" tanya Tiara dengan gugup.


Seketika ingatan nya langsung tertuju dengan kejadian saat di loby tadi. Dia berpikir Bu Maya mencari nya pasti untuk memberikan peringatan pada nya atau bahkan memecat nya.


"Woi....malah bengong! kamu tadi kemana aja," tanya ulang Nadia yang membuyarkan lamunan Tiara.


"Aku habis menemui Juna dan Luna di depan Nad.."


"Seperti biasa, kamu memberikan lagi nasi bungkus yang di berikan oleh mba Yana pada kedua anak mu?"


"Ya Allah Ra....padahal tinggal kamu makan saja itu nasi bungkus. Lagian kedua anak mu kan pasti sudah makan di rumah. Kamu sendiri kan setiap hari masak untuk mereka."


"Awal nya mau aku makan nasi itu Nad, tapi setelah aku buka ternyata lauk di dalam nya ayam goreng tepung kesukaan kedua anak ku Nad, langsung aku ingat ma mereka berdua yang hanya makan ma orek tempe di rumah," ujar Tiara sambil menghela nafas nya.


"Terus kamu makan siang apa?"


"Ini...." jawab Tiara dengan menunjukkan sebungkus roti isi kacang hijau sambil nyengir kuda menampilkan deretan gigi nya yang rapih dan putih.


Nadia langsung memutar kedua bola mata nya karena sangat paham dengan sahabat nya itu.


"Jangan keseringan cuma makan sebungkus roti itu saja lho Ra, pekerjaan kita itu berat jadi kita butuh tenaga yang ekstra seharian. Kalau cuma sebungkus roti kecil itu mana ada tenaga nya."


"Insyaallah aku kuat Nad...." ucap Tiara menenangkan sahabat nya itu.

__ADS_1


Nadia hanya mengangkat kedua bahu nya. Dan berlalu dari hadapan Tiara karena jam istirahat nya sudah selesai. Sebelum nya dia mengingatkan Tiara untuk segera menemui Bu Maya di ruangan nya setelah jam istirahat nya berakhir.


Setelah kepergian Nadia, ibu dua anak itu langsung menunaikan sholat Dzuhur dan memakan sebungkus roti isi kacang hijau yang dia bawa dan meminum sebotol air mineral yang dia bawa dari rumah nya. Dia berdoa supaya di kenyangkan dan diberikan tenaga yang ekstra selama seharian walaupun hanya memakan sebungkus roti kecil dan beberapa teguk air putih saja. Hal itu yang selalu dia lakukan setiap dia hanya membawa bekal sebungkus roti.


"Alhamdulillah....semoga apa yang aku makan sekarang bisa menjadikan tenaga untuk ku bekerja sampai sore nanti," ucap Tiara mengakhiri makan siang nya. Walaupun cuma memakan sepotong roti isi kacang hijau seharga dua ribu rupiah dan beberapa teguk air putih tapi itu sudah cukup membuat cacing - cacing dalam perut nya berhenti berteriak.


"Oh ya, aku harus segera ke ruangan nya Bu Maya. Semoga bukan hal buruk yang akan terjadi nanti. Tapi apa pun itu, aku ikhlas menerima nya," batin Tiara menguatkan diri nya sendiri sebelum menemui atasan nya itu.


Tok..tok..tok...


"Permisi Bu," ucap Tiara memberikan salam dengan sopan pada perempuan yang sedang berkutat dengan komputer nya di meja kerja.


"Oh Tiara, silahkan masuk Ra.." jawab Bu Maya.


Tiara kemudian masuk ke dalam ruangan yang hanya ada satu orang penghuni itu. Dia langsung duduk di kursi yang ada di depan meja Bu Maya.


"Kata Nadia ibu mencari saya tadi, apa ada hal penting yang ingin ibu sampaikan pada saya."


"Benar sekali Ra, ada hal penting yang ingin saya bicarakan pada nya berkaitan dengan kejadian di lobby kantor tadi."


Deg,


Jantung Tiara langsung berdetak dengan cepat mendengar penuturan atasan nya itu. Tapi dia langsung menyakinkan diri nya sendiri bahwa semua nya akan baik - baik saja.


"Ibu harap kejadian seperti tadi tidak terulang lagi Ra, kamu harus lebih fokus lagi dalam bekerja. Karena selama ini kinerja kamu bagus, entah kenapa kamu bisa ceroboh sampai mengakibatkan salah satu karyawan di kantor ini terjatuh karena lantai yang kamu pel masih basah dan licin. Jika kamu ada masalah keluarga atau yang lain nya ibu harap kamu bisa profesional Ra, sehingga kamu tetap fokus terhadap pekerjaan mu," jelas Bu Maya panjang lebar.


Tiara sendiri mendengarkan seluruh ucapan Bu Maya dengan menundukkan kepala nya, karena dia tahu jika ini adalah kesalahan nya.


"Saya benar - benar minta maaf Bu, saya janji kejadian ini tidak akan terulang kembali. Dan saya mohon supaya ibu tidak memecat saya atas kejadian ini. Karena saya sangat membutuhkan pekerjaan ini bu," mohon Tiara dengan mengatupkan kedua tangan nya.


Bu Maya mengernyitkan dahi nya," siapa yang bilang ibu akan memecat kamu Ra, justru karena kejadian tadi kamu sekarang berpindah tugas membersihkan ruangan CEO."

__ADS_1


"Hah...."


__ADS_2