Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 73 Hati yang pilu


__ADS_3

Dada Alex bergemuruh hebat, mendengar cerita sang putra, hati nya begitu sakit dan perih. Tanpa menunggu lama dia rengkuh tubuh mungil di depan nya itu dengan sangat erat dan penuh kasih sayang.


"Maafkan ayah Juna...maafkan ayah...karena ayah kalian harus menderita seperti ini. Ayah janji setelah ini, ayah akan ambil alih tanggung jawab ibu, ayah akan membuat kalian bahagia dan tidak kekurangan satu apa pun," ucap Alex dengan bibir bergetar menahan tangisannya.


Juna yang mendengar perkataan sang ayah kemudian merenggang kan pelukan nya. Bocah tampan itu menatap lekat manik mata sang ayah, " kenapa ayah baru berkata seperti itu sekarang, kenapa tidak dari dulu ayah mengambil alih tanggung jawab ibu, kenapa yah?"


Alex, terdiam seribu bahasa tenggorokan nya tiba - tiba tercekat begitu saja, dia bingung ingin menjawab apa atas pertanyaan sang anak. Tidak mungkin dia menjelaskan semua nya yang terjadi antara diri nya dan Tiara di masa lalu. Usia Juna saat ini masih terlalu kecil untuk menerima penjelasan itu.


"Kenapa ayah diam saja,Hem..."


"Maafkan ayah Juna...." hanya rangkaian kata itu lah yang muncul dari bibir Alex saat ini sambil kembali memeluk sang putra berharap sang anak bisa sedikit tenang saat ini.


Di balik pintu ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan semua percakapan antara ayah dan anak itu dengan sesekali menghapus air matanya.


Tiara yang sudah pulang sejak tadi awal nya ingin langsung masuk ke dalam untuk memasak makan malam tiba - tiba terhenti begitu saja setelah mendengar suara sang anak yang sedang menceritakan kehidupan mereka selama ini dengan sang ayah.


Ibu dua anak itu terpaksa berhenti tidak jadi masuk ke dalam karena dia ingin tahu seperti apa tanggapan atau respond dari Alex setelah mendengar semua cerita Juna. Tiara sangat terharu mendengar penuturan sang anak yang begitu dewasa. Sekalipun dia merasa sedih karena sang anak harus tumbuh menjadi dewasa sebelum waktu nya.


Setelah mendengar semua nya Tiara memutuskan untuk segera masuk, karena dia tahu pasti Alex tidak mampu menjawab pertanyaan Arjuna, bagaimana pun dia sudah menyadari kejadian yang menimpa nya selama ini bukan semata - mata kesalahan Alex semata lebih tepat nya baik diri nya dan Alex sama - sama hanya korban dari kelicikan Jesika.


"Assalamualaikum...." salam Tiara sambil berjalan masuk ke dalam ruangan di mana Alex dan Juna berada saat ini. Sebelum nya Tiara merapikan penampilan nya terlebih dahulu yang sedikit berantakan dan berdebu setelah membantu Mak Jum mengangkat beberapa barang di warung tersebut. Tak lupa dia juga menghapus jejak air mata yang keluar tadi dari pipi nya.


Juna yang mendengar suara sang ibu langsung melepas pelukannya dari sang ayah.


"Waalaikumsalam..." jawab kedua pria di ruangan itu dengan suara yang pelan.


Alex menengok ke arah sumber suara yang sangat dia kenali. Tatapan nya saat ini tertuju pada seorang wanita yang menenteng sebuah kantong plastik kecil yang entah apa isi nya. Wanita itu terlihat sangat lelah nampak jelas dari raut wajah nya yang sayu, sekalipun wanita itu menampakkan seulas senyuman manis dari bibir nya. Lelah yang terlihat dari wajah wanita itu tidak mengurangi pancaran kecantikan dari perempuan itu.

__ADS_1


"Ibu sudah pulang?" tanya Juna sambil mendekat ke arah ibu nya dan mengambil alih kantong plastik yang di bawa sang ibu.


"Iya sayang, kebetulan pekerjaan di warung Mak Jum tidak lah banyak jadi ibu bisa pulang cepat sekarang," jelas Tiara.


Jika pekerjaan sang ibu di warung Mak Jum sedikit bearti ibu nya hanya mendapatkan beras dan lauk sedikit, itu yang ada dalam pikiran Arjuna sekarang ini.


"Pantas saja ibu hanya membawa kantong plastik yang kecil," ujar Juna dalam hati.


"Ya sudah, ibu duduk dulu istirahat Juna akan memasak beras ini dan mengambil kan ibu air."


Tiara hanya mengangguk, dan menuruti perintah sang anak. Dia mendudukkan tubuh nya di kursi yang ada di ruangan itu. Dia tidak mempermasalahkan jika Juna yang memasak beras yang dia bawa tadi, karena hal itu sudah biasa Juna lakukan setiap hari nya. Lagi pula Juna memasak nasi nya menggunakan alat penanak nasi jadi tidak begitu bahaya bagi nya.


"Benar yang seperti aku duga," ucap Juna saat melihat isi kantong yang Tiara bawa tadi, di situ terlihat ada sedikit beras dan dua butir telur.


"Jika ibu cuma mendapatkan ini, bearti besok pagi ibu harus bekerja keras lagi untuk mencari makan kami, karena yang ibu bawa sekarang hanya cukup untuk makan malam nanti, kasihan ibu..." lirih Juna sambil menyeka air mata nya yang keluar.


Lagi dan lagi hati Alex sangatlah terasa sakit karena melihat sang anak tumbuh menjadi anak yang begitu dewasa sebelum waktu nya. Bahkan apa yang Juna ucapkan tadi pun terdengar sangat jelas oleh Alex.


Dengan cepat Alex langsung meraih ponsel nya dan menghubungi sang asisten. Entah apa yang di perintahkan Alex pada asisten nya itu.


"Sedang apa kamu di sini Al?" tanya Tiara yang baru saja dari kamar Luna mengecek keadaan sang putri, jadi dia tidak mengetahui jika Alex berada di dapur.


"Em, ini aku mau ke kamar mandi tapi aku tidak tahu di mana tempatnya," bohong Alex.


"Oh....kamar mandi nya ada di sebelah sana, tapi maaf kamar mandi nya sangat kecil dan kotor Al," kata Tiara seraya menunjuk ke sebuah ruangan kecil yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ini.


Alex mengangguk dan berjalan ke arah yang Tiara tunjukkan tadi. Tiara sendiri langsung menghampiri Juna yang sedang membuat bumbu untuk menggoreng telur nanti.

__ADS_1


"Sini biar ibu yang melanjutkan nya sayang...kamu istirahat saja dan temani ayah kamu."


"Baik bu..." setelah mengatakan hal itu Juna pun meninggalkan Tiara dan menemui Alex yang sudah berada di ruangan yang tadi.


Tiara tahu sang anak sekarang ini ingin selalu dekat dengan ayah nya, secara mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun mereka terpisah.


Tidak perlu waktu yang lama bagi Tiara untuk menyelesaikan urusan dapur nya. Bagaimana dia mau berlama-lama di dapur kalau yang dia masak hanya telur dadar. Memang hanya itu yang dia bisa masak sekarang ini, karena selama Luna di rawat di rumah sakit dia tidak menyetok apa pun di dapur nya, lebih tepat nya dia tidak mempunyai uang untuk membeli bahan - bahan kebutuhan dapur nya.


"Sayang...makan malam nya sudah siap nak," ucap Tiara sambil meletakkan sepiring kecil telur dadar dan semangkuk nasi putih di atas meja.


"Iya Bu..." jawab Juna dari arah teras.


"Ternyata mereka berada di luar," lirih Tiara.


"Ayah...ayo kita makan bersama-sama, Juna ingin sekali merasakan makan bersama ayah," ajak sang anak dengan tatapan sendu.


Alex pun menganggukkan kepalanya mengikuti kemauan sang anak, dia tidak ingin membuat sang anak menjadi kecewa jika dia menolak ajakannya.


"Maaf Al ..hanya ini yang bisa aku sediakan untuk makan malam," kata Tiara sambil menundukkan kepala seraya mengambilkan nasi untuk Juna.


"Tidak apa - apa Ra, maaf jika aku merepotkan kalian," ucap Alex merasa tidak enak karena harus ikut numpang makan di sana.


Betapa hati Alex teriris pilu melihat menu makanan yang terhidang di atas meja sekarang ini. Hanya sepiring kecil telur dadar dan semangkuk nasi putih saja.


Dengan tangan gemetar dia mengambil secentong nasi dan seiris telur kemudian dia letakkan di atas piring nya. Rasa nya dia tidak tega memakan makanan yang ada di hadapannya itu, apa lagi saat dia melirik ke sang anak yang hanya makan sedikit karena nasi nya sebagian dia ambil.


"Kamu tidak ikut makan Ra .." tanya Alex

__ADS_1


Tiara menggelengkan kepala nya," aku tadi sudah makan di tempat Mak Jum Al..."


__ADS_2