Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 39 Senyuman Alex


__ADS_3

Jawaban Alex itu cukup membungkam asisten nya yang mengajukan pertanyaan tadi.


Bagaimana tidak Alex begitu sangat santai dalam menjawab pertanyaan asisten nya itu.


"Sudah beres semua nya Jo," tanya Alex pada asisten nya itu.


"Eh....iya pak, semua sudah beres," jawab Jo sedikit terbata karena tadi sempat terbengong mendengar jawaban bos nya itu.


Setelah semua persiapan beres, mereka berdua langsung menuju tempat di mana mereka akan meeting pagi ini. Untung saja perjalanan pagi ini tidak lah macet sama sekali sehingga mereka bisa membelah jalanan ibu kota dengan sangat lancar sekali.


**


Di ruangan CEO,


Tiara dengan sangat telaten dan hati - hati membersihkan ruangan orang nomer satu di kantor itu dengan penuh semangat. Atas arahan dari mas Yanto dia dapat melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik menurut nya.


Bahkan dia sampai bersenandung saat membersihkan ruangan itu. Jelas saja dia bisa seperti itu karena sebelum nya dia sudah di beri tahu oleh mas Yanto jika Alex hari ini akan datang terlambat ke kantor karena harus menghadiri meeting di luar kantor terlebih dahulu.


"Untung saja hari ini aku tidak harus bertemu dengan nya, semoga saja seterusnya seperti ini," batin Tiara sambil mengelap meja sofa yang ada di ruangan Alex.


Dia cukup terpukau dengan desain interior ruangan tersebut, dia akui selera Alex dari dulu memang sangatlah bagus. Tiara jadi ingat saat masa SMA dulu, saat ada perlombaan menghias kelas Alex lah yang mengambil peran utama dari lomba itu sehingga kelas nya menjadi juara favorite dan semua itu atas ide yang Alex sumbangkan dalam menghias kelas.


Tiara tersenyum jika mengingat hal itu," ah..semua itu hanya masa lalu," lirih Tiara yang tetap menjalankan pekerjaan nya itu.


Dia melirik ke arah benda seperti jam yang melingkar di tangan nya." aku masih sedikit tidak percaya dengan apa yang Mas Yanto ucapkan tadi, aku yakin benda ini ada fungsi nya."


Setelah Tiara selesai mengganti seragam nya tadi dan memakai seluruh atribut yang Yanto berikan pada nya tadi dia memutuskan untuk menanyakan peri hal benda yang membuat nya penasaran itu. Dan jawaban yang di berikan oleh Yanto tidak lah begitu saja di percaya oleh Tiara.

__ADS_1


Yanto hanya memberitahu kepada Tiara jika benda itu hanya lah tanda jika Tiara adalah karyawan khusus di bagian ruangan CEO. Karena pada dasar nya Yanto sendiri juga tidak tahu menahu akan benda itu fungsi nya untuk apa. Dia hanya asal bicara saja supaya Tiara tidak mengajukan pertanyaan yang aneh - aneh lagi pada nya. Karena sebelum nya dia di beri ultimatum oleh Jo supaya tidak berbicara banyak hal dengan Tiara. Tugas dia hanya memberi arahan tentang apa yang harus Tiara lakukan saat bekerja di ruangan itu.


"Ah...bodo amat lah mau untuk apa benda ini ngga ngaruh juga untuk ku, itung - itung lumayan lah untuk hiasan tangan ku,hee..." Tiara terkekeh sendiri sambil memutar - mutar pergelangan tangan nya.


Tiara kemudian melanjutkan pekerjaan nya sampai selesai. Hari pertama dia membersihkan ruang CEO di pagi hari berjalan lancar. Di tambah dia pagi ini tidak di suruh menyiapkan kopi untuk bos nya itu, jadi sehabis ini dia bisa beristirahat.


**


Alex tersenyum melihat ponsel nya, bagaimana tidak adegan yang ada di dalam ponsel nya itu cukup membuat hati nya tergelitik dan membuat rasa lelah di otak nya berkurang.


"Ternyata dia lucu juga," lirih Alex sambil tersenyum.


Ya saat ini Alex sedang melihat rekaman CCTV yang ada di ruangan nya itu saat perjalanan pulang menuju kantor nya setelah selesai meeting dengan klien yang cukup alot tadi.


Pria tampan itu bisa melihat dengan sangat jelas tingkah Tiara saat membersihkan ruang kerja nya. Bahkan tingkah konyol Tiara saat bersenandung dan sedikit berjoged pun tak luput dari penglihatan Alex dan hal itu lagi - lagi membuat pria yang terkenal dingin dan pelit senyum itu terkekeh sendiri. Walaupun CCTV di ruangan nya itu tidak disertai audio tapi Alex jelas tahu jika Tiara saat itu sedang menyanyikan lagu dangdut.


"Baru kali ini si Bos bisa tersenyum lepas seperti itu, emang apa sech yang dia tonton sampai dia terkekeh seperti itu," batin Jo seraya melirik ke arah atasan nya itu.


"Fokus saja ke depan Jo."


"Hah..iya pak maaf..." jawab Jo sambil menggaruk tengkuk kepala nya yang tidak gatal.


**


"Juna...Luna...ikut nenek ke pasar yuk?" ajak nek Ijah pada si kembar yang sedang asyik bermain di teras kontrakan nya.


"Ke pasar? Luna mau dong ikut nek...." jawab si bungsu penuh dengan antusias.

__ADS_1


"Juna gimana mau ikut tidak?"


Luna langsung melayangkan tatapan maut nya pada saudara kembar nya itu. Dari tatapan itu Juna sudah paham jika Luna menginginkan supaya Juna juga ikut dengan nya.


Huft,


Juna menghela nafas nya perlahan, dia paling kesal dengan tingkah saudara kembar nya itu yang selalu memaksakan kehendak nya.


"Baiklah aku juga ikut nek," jawab Juna sambil menatap tajam kembaran nya itu yang saat ini sedang terkekeh dan mengacungkan ibu jari nya.


Padahal Juna sangatlah malas jika harus ke tempat ramai seperti pasar, dia lebih suka menghabiskan waktu nya dengan pensil dan kertas gambar nya. Di usia nya yang baru lima tahun Arjuna sudah pandai menggambar dan mewarnai, tak ayal dia selalu di ajak oleh tetangga kontrakan nya yang mengajar di TK untuk mengikuti beberapa perlombaan menggambar tingkat TK dan Juna selalu menjadi juara nya.


Walaupun dia belum masuk sekolah secara resmi akan tetapi dia selalu menjadi juara setiap ada perlombaan menggambar yang diadakan di Mall atau tempat hiburan lain nya.


"Emg nek Ijah mau beli apa di pasar nanti? hemz...Luna tahu pasti nek Ijah mau shopping ya?"


"Ngga sayang...mana ada shopping di pasar, kalau shopping itu ya di Mall," jawab nek Ijah sambil berjalan menggandeng kedua bocah itu.


"Emang kata shopping itu cuma berlaku untuk belanja di Mall aja ya kak? di pasar kita tidak boleh menggunakan bahasa shopping saat belanja gitu?" tanya Luna pada kembarannya.


Juna hanya memutar kedua bola mata nya karena jengah mendengar celotehan dari saudara kembar nya itu. Sedangkan nek Ijah hanya terkekeh melihat tingkah Luna yang tidak bisa diam, ada saja yang di bicarakan bocah cantik itu.


"Jadi orang itu jangan sok cool gitu kenapa kak, kayak Luna nih periang, murah senyum, ramah, baik hati dan suka menabung..walaupun banyak kak Juna sih yang masukin uang ke celengan kita bersama, xixixi..." ucap Luna sambil berlarian mendahului Juna dan nek Ijah.


"Luna awas jangan lari - larian, nanti kamu bisa...." teriak nek Ijah.


"Aaaaaa........"

__ADS_1


__ADS_2