Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 47 Abimana Mahendra


__ADS_3

"Hei....kalau jalan hati - hati nona," ucap seorang pria yang tidak sengaja Tiara tabrak tadi.


Tiara mengelus lengan nya yang sedikit sakit karena menabrak bahu seorang pria dengan cukup kencang tadi. Dia langsung berjongkok mengambil beberapa lembar uang yang berceceran di lantai akibat tabrakan tadi.


Setelah selesai mengambil uang nya dan memasukkan kembali ke amplop nya Tiara langsung membungkukkan badan nya sebagai tanda maaf tanpa berniat untuk melihat siapa yang dia tabrak tadi.


"Maaf tuan...saya tidak sengaja," ucap Tiara seraya membungkukkan badan nya kembali kemudian dia langsung berlalu dari tempat itu.


Orang yang dia tabrak hanya bengong melihat tingkah Tiara yang begitu cuek berlalu begitu saja tanpa melihat wajah nya.


"Lex...apa pesona ku saat ini sudah memudar? sampai pegawai paling rendah di kantor mu tidak mau melirik ku sama sekali," ucap Abimana kepada Alex yang berada di samping nya.


Pria tampan dengan berjuta pesona yang terkenal dengan sebutan Casanova itu adalah Abimana Mahendra seorang CEO muda yang merupakan klien Alex sekaligus sahabat Alex saat di Amerika dulu.


Kedatangan Abi panggilan sehari - hari nya di kantor Alex untuk membahas suatu proyek. Selain itu juga untuk temu kangen pada sahabat nya yang sudah lama tidak pernah ketemu.


"Lex...."


"Hemm..."


"Apa benar pesona ku sudah menghilang begitu saja?" tanya ulang Abi kepada Alex.


Alex hanya mengangkat kedua bahu nya tanpa menjawab pertanyaan dari sabahat nya itu. Laki - laki tampan itu justru berjalan meninggalkan Abi yang masih terlihat heran dan bingung.


"Lex....tunggu ngapa" ucap Abimana sambil mengejar Alex yang sudah berjalan mendahului.


Di belakang mereka dengan setia kedua asisten pribadi dari dua CEO itu dengan setia mengikuti ke dua bos nya itu.


"Lex....aku jadi penasaran dengan pegawai mu yang tadi, sekilas aku sempat melihat wajah nya ternyata dia sangat cantik. Sayang kecantikan nya harus tertutupi karena kurang perawatan saja. Body nya juga mantaf Lex..." kata Abimana sambil menampilkan senyuman mesum nya saat membayangkan Tiara.

__ADS_1


Alex yang mendengar perkataan sahabat mesum nya itu langsung mengeraskan rahang nya, kedua tangan nya mengepal keras.


"Tidak usah mengganggu nya," ucap Alex dengan sorot mata tajam ke arah Abimana.


"Woi.....santai bro, jangan melotot seperti itu," jawab Abimana sambil cengengesan.


Huft,


Alex menghela nafas nya untuk mengontrol emosi nya yang hampir saja keluar. Entah mengapa ada gemuruh dalam dada nya saat Abimana terang - terangan memuji Tiara di hadapan nya. Hal itu juga menjadi perhatian Jo asisten nya.


"Ada apa sebenarnya dengan pak Alex, selama ini aku perhatikan dia begitu sensitif sekali jika berhubungan dengan Tiara. Aku jadi ingat saat dia tahu jika Yanto lah yang menjadi dalang atas semua kesalahan yang Tiara lakukan saat bekerja, pak Alex langsung marah dan menyuruh ku untuk memberikan hukuman dan peringatan yang keras pada Yanto. Dan sekarang saat pak Abimana terang - terangan memuji Tiara pak Alex juga terlihat sangat marah sekali. Ada hubungan apa antara mereka berdua, setiap mereka bertatap muka pandangan mata mereka seolah - olah ada sesuatu yang terpendam di antara mereka," kata Jo dalam hati nya sambil menatap ke arah bos nya yang sedang menahan emosi.


"Aku merasa tertarik dengan wanita itu, karena baru kali ini ada seorang wanita yang tidak mau menatap ku sama sekali. Padahal di luaran sana banyak sekali wanita yang antri ingin menjadi teman ranjang ku. Tapi dia.....ah, aku jadi benar - benar penasaran dengan wanita itu. Seperti nya aku akan sering ke kantor mu Lex."


Alex mengerutkan kening nya," ngapain kamu sering ke kantor ku? bukan kah urusan kita sudah clear?"


"Hei....ya mau ngapain lagi kalau bukan mendekati pegawai mu itu."


"Woles bro......sensitif sekali kau ini, aku jadi curiga jangan - jangan kamu...." Abimana menggantungkan ucapan nya.


"Tidak usah mengada - ngada kamu, aku hanya tidak ingin salah satu pegawai ku menjadi korban laki - laki playboy cap kadal seperti mu itu," ujar Alex sebisa mungkin menutupi emosi nya.


"Hahahaha.... pokok nya aku tidak peduli, aku akan tetap mendekati pegawai mu itu."


"Terserah ....." Alex berkata sambil mempercepat langkah nya.


"Okey...kalau kamu bilang terserah bearti boleh ya Lex..." teriak Abimana karena Alex sudah berjalan mendahului nya.


Sedangkan Alex sendiri hanya mengangkat salah satu tangan nya.

__ADS_1


"Yes...." ucap Abimana kegirangan.


**


"Kak...apa nanti ibu tidak marah kalau kita menyusul ibu di tempat kerja nya," tanya Luna pada saudara kembar nya.


"Insyaallah ibu ngga akan marah."


"Tumben banget kak Juna pengen ke tempat kerja ibu, biasa nya kalau Luna minta ada aja alasan nya," cicit gadis kecil dengan mengerucutkan bibir nya.


Huft...


"Kakak ngajak kamu ke tempat kerja ibu itu juga ada alasan nya dek. Kalau ngga ada hal penting yang harus kakak lihat mana mungkin kakak ngajak kamu ke sana."


"Oh.....emang kakak mau apa di tempat kerja ibu nanti."


Juna tidak menjawab pertanyaan dari adik nya itu. Karena dia tahu jika Luna tidak akan berhenti bertanya nanti nya jika dia memberi tahu tujuan utama mereka datang ke tempat kerja ibu nya itu. Dengan telaten Juna menggandeng tangan Luna berjalan menyelusuri trotoar. Untung saja cuaca hari ini sedikit redup jadi asik kalau untuk berjalan kaki.


"Akhir nya sampai juga..." lirih Juna memandang gedung kantor yang menjulang tinggi. Dia menengadahkan kepala nya melihat gedung pencakar langit itu kemudian dia mengajak Luna untuk duduk di dekat pintu gerbang. Lebih tepat nya di dekat pos keamanan perusahaan AW.Group itu.


Dia langsung mengeluarkan peralatan menggambar nya yang dia simpan di tas nya. Luna langsung tahu tujuan utama mereka datang ke tempat kerja ibu nya itu untuk apa.


Gadis cantik itu langsung mendengus kesal, karena tujuan utama kakak nya mengajak dia ke sana hanya untuk menggambar gedung perkantoran itu.


"Tahu gini mending Luna sama Mak Ijah aja tadi," gerutu gadis kecil itu dengan muka yang di tekuk. Dia duduk di samping Juna sambil ngoceh - ngoceh tidak jelas. Sedangkan Juna sendiri tidak memperdulikan ocehan dari saudara kembar nya itu. Dia memilih fokus dengan pensil dan kertas gambar nya membuat sketsa gedung pencakar langit itu.


Luna yang merasa di cuekin oleh kembaran nya, beranjak berdiri dan melihat - lihat pemandangan sekeliling perusahaan yang tampak asri.


Tidak lama terlihat sebuah mobil mewah keluar dari area kantor menuju ke arah pintu gerbang. Laki - laki yang berada di dalam mobil tersebut memandang ke arah Luna.

__ADS_1


"Aku seperti mengenal bocah perempuan itu.."


__ADS_2