Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 74 Ungkapan perasaan Alex...


__ADS_3

"Kamu tidak ikut makan Ra .." tanya Alex


Tiara menggelengkan kepala nya," aku tadi sudah makan di tempat Mak Jum Al," jawab Tiara lirih.


"Beneran ibu udah makan tempat Mak Jum? Kalau ibu belum makan, ini nasi Juna yang separoh untuk ibu saja.." ucap sang putra yang menatap lekat manik mata sang ibu mencari kebohongan di mata sayu itu.


Tiara yang ditatap intens sang anak kemudian pura-pura mengusap dahi nya yang tidak berkeringat hanya untuk mengalihkan pandangan sang anak.


"Iya sayang...ibu sudah makan kok tadi, sekarang Juna habiskan makanan Juna terus abis itu bobo ya?"


Juna menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makan.


Alex yang sejak tadi memperhatikan tingkah Tiara tahu jika wanita di hadapannya itu sedang berbohong. Walaupun mereka jarang bertemu akan tetapi Alex sangat mengenal Tiara sewaktu SMA dulu jadi dia bisa membedakan saat Tiara sedang berbohong atau tidak.


"Sayang...mau ayah suapin?" ucap Alex pada Juna yang sedari tadi memandangi wajah sang ibu mencari tahu kebenaran apakah ibu nya benar-benar sudah makan atau belum.


"Mau yah...dengan senang hati, karena itu yang Juna mimpikan selama ini," jawab sang anak dengan wajah berbinar.


"Ayo yah buruan, mumpung Luna tidak tahu kalau ayah nyuapin Juna, jika dia tahu pasti....." ucapan Juna terhenti karena terdengar suara orang yang baru saja dia bicarakan.


"Ayah..." teriak Luna dari arah pintu kamar dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Tu kan nongol orang nya, baru saja di omong," gerutu Juna.


Sedangkan Tiara dan Alex hanya terkekeh melihat ekspresi sang putra yang jengkel.


"Sayang...kenapa kamu bangun hem," tanya Tiara saat menghampiri sang putri yang sedang berdiri celingukan sambil mengucek kedua mata nya.

__ADS_1


"Ayah pergi lagi apa Bu?" bukannya menjawab pertanyaan sang ibu Luna justru menanyakan keberadaan sang ayah sekarang.


Belum sempat Tiara menjawab pertanyaan sang putri, tiba - tiba terdengar suara dari arah belakang nya. "Ayah di sini sayang, tenang saja ayah tidak akan kemana-mana," jawab Alex sambil menggendong sang putri.


"Luna mau makan? Nanti ayah suap"


"Hem..." jawab Luna manja.


Akhir nya malam itu Alex makan bersama kedua anak nya. Lebih tepat nya Alex menyuapi kedua anaknya karena bagian makanan Alex sebagian dia gunakan untuk menyuapi Juna dan Luna. Tiara diam - diam meneteskan air mata melihat interaksi antara kedua anak nya dengan ayah kandung nya.


Hal ini yang sudah lama mereka dambakan selama ini. Dan Tiara merasa bahagia karena anak nya sekarang mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Setelah selesai makan, Tiara membereskan sisa makanan yang ada di meja dan mencuci piring kotor di dapur. Sedangkan Alex membawa kedua anak nya ke kamar untuk segera tidur.


Selesai mencuci piring tiba - tiba perut Tiara berbunyi tanda cacing - cacing dalam perutnya minta untuk di isi.


Biasa nya dia hanya minum air putih saja untuk mengganjal perut nya jika persendian bahan makanan sedang menipis. Karena dia hanya mengutamakan kedua anak nya saja. Memastikan jika anak-anak nya bisa tetap makan sekalipun hanya sedikit.


Tiara melirik ke arah mangkuk tempat nasi tadi, dia tersenyum senang karena di sana masih ada sedikit sisa nasi yang masih dia makan untuk mengganjal perut nya. Tanpa menunggu lama Tiara langsung mengambil piring dan menaruh sisa nasi itu di atas piring nya, kemudian dia mengambil sejumput garam dan mencampur nya ke dalam nasi tersebut.


"Bismillah..."


Tiara langsung menyantap nasi - nasi tersebut dengan lahap, hanya dalam dua suapan nasi tersebut sudah masuk semua dalam perut nya.


"Alhamdulillah..semoga cacing - cacing dalam perut ku tidak memberontak lagi," ucap Tiara sambil terkekeh mengelus perut nya yang rata.


Tanpa Tiara ada seseorang di balik pintu yang menyaksikan apa yang Tiara lakukan sejak tadi. Alex yang awal nya ingin menghampiri Tiara tiba - tiba langkah dia terhenti saat melihat Tiara sedang berbicara dengan diri nya sendiri dan menyantap sisa nasi yang dia makan bersama kedua anaknya.

__ADS_1


Hati Alex terasa nyeri melihat wanita yang sudah melahirkan kedua anak nya hanya menyantap nasi dengan campuran garam saja. Dia beberapa kali mengusap wajah nya dengan kasar guna menghilangkan rasa nyeri dalam hati nya. Dia sengaja tidak masuk saat Tiara sedang menyantap makanan sisa itu, takut jika Tiara nanti merasa malu ketahuan jika dia sudah berbohong dengan mengatakan jika dia sudah makan di tempat Mak Jum tadi.


"Sudah aku duga kalau dia berbohong, Tiara...maafkan aku, gara - gara aku kamu jadi menderita seperti ini," gumam Alex lirih.


Setelah mengatakan itu Alex langsung kembali ke ruangan di mana dia makan tadi.


"Anak - anak sudah tidur Al?" tanya Tiara yang sudah tiba di ruangan itu.


"Sudah Ra...baru saja mereka tidur. Oh ya Ra, ada hal yang ingin aku bicarakan pada mu," ucap Alex dengan serius.


" Iya katakan saja Al.."


"Ra...aku sudah memutuskan untuk menikah dengan mu secepatnya, karena aku ingin menebus segala kesalahan ku di masa lalu, dan aku ingin membahagiakan kalian. Aku ingin kedua anak ku tumbuh dengan keluarga yang lengkap. Aku tahu jika ini terkesan mendadak atau lebih tepat nya memaksa. Selain karena alasan itu, kamu tahu kan jika aku sejak dulu sangat mencintai mu, bahkan sampai saat ini perasaan itu selalu tumbuh sekalipun aku berusaha untuk menepisnya tapi tetap saja perasaan ku pada mu semakin kuat Ra. Walaupun sejak dulu aku tidak pernah mengungkapkan perasaan ku lewat kata - kata tapi aku yakin kamu bisa merasakan hal itu dan aku yakin kamu juga memiliki perasaan yang sama seperti ku," kata Alex dengan penuh kelembutan dan keseriusan.


Deg,


Deg,


Deg,


Jantung Tiara tiba - tiba berpacu dengan cepat mendengar pernyataan Alex tersebut, ibu dua anak itu bingung harus menjawab apa saat ini. Tidak munafik yang dikatakan Alex memang benar dia juga memiliki perasaan yang sama seperti Alex, dia juga ingin kedua anak nya mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua nya. Akan tetapi di dalam hati nya masih ada sedikit keraguan.


Di tambah saat ini ayah Alex sedang mendekam dalam penjara karena laporan nya.


Dan ini terlalu cepat menurut nya, baru saja dia mendapatkan kebenaran tentang kejadian enam tahun yang lalu dan dia juga belum sepenuhnya percaya pada Alex.


"Tapi Al...."

__ADS_1


__ADS_2