Mutiara Sang CEO

Mutiara Sang CEO
Bab. 43 Cerita Luna


__ADS_3

Sesampai nya di pantry Tiara memandangi secangkir kopi yang dia buat untuk Alex tadi. Dia berpikir kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai Alex seperti itu. Padahal dia sudah membuatkan kopi sesuai dengan arahan yang Yanto berikan pada nya.


"Apa mungkin mas Yanto salah dalam memberikan arahan pada ku," gumam Tiara.


Tiara membaca kembali catatan semua kebiasaan Alex dan hal apa saja yang harus dia kerjakan dan lakukan di bagian ruangan CEO itu. Dan di sana dia tidak menemukan kesalahan apa pun, semua hal sudah dia lakukan seperti yang ada di kertas itu.


Ibu dua anak itu hanya menghela nafas nya berat, dan memasukkan kembali catatan itu ke dalam saku seragam nya. Ingin bertanya langsung pada Yanto tapi orang yang di maksud sudah berpindah ke bagian divisi lain di kantor itu.


Untung saja hari berlalu dengan cepat, dan setelah kejadian kopi tadi Tiara tidak bertemu dengan Alex kembali. Karena CEO muda itu sedang ada urusan di luar.


Tiara pulang ke kontrakan nya dengan mengendarai motor butut nya. Motor yang dia dapat dari hasil jualan kue nya sebelum dia bekerja di perusahaan Alex.


Hanya butuh waktu tiga puluh menit akhir nya dia sampai juga di kontrakan nya. Kedatangan nya itu di sambut oleh kedua anak nya yang sudah berpenampilan rapih semua. Tiara bisa menebak jika kedua buah hati nya sudah mandi sore.


"Assalamualaikum anak Sholeh dan sholeha nya ibu..." sapa Tiara dengan penuh senyum ceria.


"Waalaikumsalam ibu....." jawab kedua nya yang langsung menghambur ke dalam pelukan ibu nya.


"Wach....anak - anak ibu sudah pada wangi semua ini," Tiara bergantian mencium kedua anak nya itu.


"Jelas dong...anak siapa dulu, ibu Mutiara Ayunda," sahut Luna dengan gaya khas centil nya.


Tiara mencubit gemas pipi sang putri. Bagi Tiara hal seperti ini lah yang membuat nya bahagia. Melihat kedua buah hati nya yang tumbuh sehat, ceria dan bisa menerima apa ada nya tanpa mengeluh. Walaupun terkadang Tiara merasa bersalah karena belum bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna pada kedua buah hati nya.


"Sayang....gimana hari ini, ada cerita seru apa?" tanya Tiara sambil meletakkan beberapa belanjaan nya di dapur.


Sebelum sampai di rumah tadi Tiara sempat berbelanja di warung dekat kontrakan nya. Dia membeli beberapa kebutuhan dapur nya yang sudah mulai menipis.


Kedua anak nya hanya saling pandang mendapati pertanyaan dari ibu nya itu. Tampak ada rasa takut dari raut wajah Luna, dia beberapa kali memandang saudara kembar nya dengan sebuah isyarat supaya tidak memberitahukan kejadian tadi kepada sang ibu.


Arjuna yang paham dengan tatapan saudara kembar nya itu hanya menghela nafas. Anak tampan itu mendekat ke telinga Luna dan membisikan sesuatu," kamu lupa, ibu paling tidak suka jika kita berbohong pada nya."

__ADS_1


"Tapi kak, aku takut ibu akan memarahi ku nanti," lirih Luna.


"Nanti kakak bantu menjelaskan pada ibu."


Luna mengangguk, dia kemudian menghampiri sang ibu yang sedang bersiap - siap untuk masak makan malam untuk mereka.


Sebelum mengatakan semua nya Luna berkali - kali menghela nafas nya perlahan.


"Bu...ada yang ingin Luna bicarakan pada ibu."


Tiara menghentikan kegiatan nya dan berjongkok menghampiri sang putri.


"Ada apa sayang? seperti nya anak ibu yang paling comel ini punya cerita yang seru nih.."


"Ehm...tadi Luna hampir saja ke tabrak mobil.." kata gadis kecil itu dengan terbata dan menundukkan kepala nya tidak berani memandang sang ibu.


"Astagfirullah...bagaimana bisa, terus ada yang luka ngga sayang," ucap Tiara sambil memegang seluruh badan Luna dengan sangat khawatir.


"Om ganteng?" tanya Tiara bingung.


Dia melirik ke arah putera nya, Juna yang paham akan tatapan ibu nya langsung menceritakan apa yang terjadi pada saudara kembar nya itu. Luna juga menambahkan tenang om ganteng yang dia kagumi.


"Siapa laki - laki yang di maksud Luna dan Juna ya, kalau di lihat dari cerita mereka seperti nya dia bukan orang sembarangan. Tapi siapa pun dia, aku ucapkan terima kasih karena sudah mau mengobati Luna," batin Tiara.


"Sekali lagi maafkan Luna ya Bu? Luna janji lain kali akan lebih hati - hati lagi...."


"Dan jangan ceroboh.." lanjut Juna.


"Iya kak..."


" Ya sudah, yang terpenting sekarang ini Luna baik - baik saja. Lain kali kalian harus lebih hati - hati lagi ya sayang, dan harus selalu semua pesan ibu," kata Tiara yang langsung memeluk kedua anak nya.

__ADS_1


**


Semenjak kejadian itu hari demi hari sudah Tiara lalui dengan berbagai kejadian, terkadang ada saja hal kecil yang membuat wanita itu mendapat ucapan pedas dari Alex.


Seperti saat ini, dia mendapat bentakan lagi dari Alex hanya karena mengganti posisi guci yang ada di pojokan ruangan Alex. Tiara melakukan hal itu pun sesuai dengan arahan dari Yanto yang sudah di catat oleh nya. Jika setiap satu bulan sekali Alex selalu merubah posisi benda atau hiasan yang ada di dalam ruangan nya.


Jo yang berada di dalam ruangan itu pun merasa kasihan pada Tiara setiap acap kali wanita itu kena semprot dari bos nya. Dia berpikir seperti ada yang tidak beres di sini.


"Kenapa hari demi hari aku selalu melakukan kesalahan. Padahal aku sudah melakukan semua pekerjaan ini dengan benar dan sesuai dengan instruksi dari mas Yanto, tapi kenapa selalu ada saja yang salah," ucap Tiara sambil terduduk lesu di dalam pantry.


Hem,


Terdengar suara deheman dari arah pintu pantry yang membuat Tiara menengok ke arah suara itu. Dia langsung berdiri setelah mengetahui siapa yang berdiri di ambang pintu itu.


"Maaf Pak Jo, apa ada yang anda butuhkan?" tanya Tiara pada asisten nya Alex itu.


Jo sengaja datang ke pantry karena merasa kasihan pada Tiara yang hampir setiap hari mendapatkan kata - kata pedas dari Alex.


"Ada hal yang ingin saya tanyakan pada mu Tiara," ucap Jo dengan ramah.


Tiara mempersilahkan Jo untuk duduk di kursi yang ada pantry bersama nya.


"Apa yang ingin pak Jo tanyakan pada saya?"


"Begini, apa sebelum nya Yanto tidak memberitahu kamu dengan jelas tentang apa yang harus kamu kerjakan dan lakukan di sini," Jo bertanya dengan penuh telisik.


"Sudah pak Jo, semua sudah di jelaskan oleh mas Yanto, bahkan mas Yanto memberikan saya catatan ini. Semua hal yang harus saya kerjakan dan lakukan di sini semua ada di kertas ini. Bahkan semua yang di sukai pak Alex baik itu makanan dan minuman semua sudah tertera di sini. Dan saya sudah melakukan sesuai dengan catatan yang diberikan oleh mas Yanto pak," jelas Tiara panjang lebar lalu menyerahkan kertas yang di maksud Tiara pada Jo.


Jo menerima kertas itu dan langsung membaca catatan itu dari awal sampai akhir.


"Pantas saja...."

__ADS_1


__ADS_2