
Alex begitu telaten membersihkan dan mengobati lutut kaki Luna yang terluka akibat benturan aspal.
"Auws...." ringis Luna saat Alex memberikan cairan anti septik di lutut Luna.
"Sakit?" tanya Alex dengan lembut.
"Sedikit perih om ganteng," lirih Luna takut kalau - kalau Juna mendengarkan nya.
Alex tersenyum pria tampan itu langsung meniup ke lutut Luna yang terluka, berharap bisa mengurangi rasa perih yang gadis kecil itu rasakan.
"Aku merasa om ganteng ayah Luna, mungkin seperti ini rasa nya di perhatikan oleh seorang ayah," ucap polos Luna.
Deg,
Seketika jantung Alex berdetak kencang kembali saat mendengar perkataan Luna. Entah mengapa lagi - lagi dada nya berdesir saat mendengar kata ayah yang keluar dari mulut gadis kecil itu.
"Emang ayah Luna kemana?" tanya Alex yang sedikit penasaran. Dia merasa seperti ada yang aneh dengan ucapan Luna tadi.
"Kata ibu ayah kami pergi jauh ke luar negeri mencari uang om, tapi sampai sekarang ayah tidak pernah pulang. Aku juga sering lihat ibu menangis kalau habis di kata - katain para tetangga. Bahkan aku dan kak Juna sering dapat ledekan kalau kami adalah anak haram. Emang ada ya om anak haram, kata ibu semua anak yang lahir di dunia ini adalah anak yang suci tidak ada yang haram," curcol Luna dengan ekspresi yang menggemaskan dan nada yang tersengal - sengal karena sambil menahan rasa perih di lutut nya.
Alex seketika menghentikan aktifitas nya saat mendengar cerita Luna. Lagi dan lagi hati nya terasa sakit sekali mendengar penuturan gadis kecil itu. Tanpa menanggapi apa yang di katakan oleh Luna, dia hanya memberikan usapan lembut pada rambut hitam Luna tujuan nya hanya ingin membuat hati anak kecil itu terhibur.
"Om ganteng.....ehm, boleh tidak Luna peluk om?" ucap Luna dengan mata yang berkaca - kaca.
"Luna ingin merasakan pelukan dari seorang ayah," Luna melanjutkan ucapan nya dengan air mata yang sudah mengalir di pipi nya.
Tanpa waktu lama Alex langsung membawa tubuh gadis kecil itu ke dalam pelukan nya. Juna, Nek Ijah dan Jo asisten Alex pun terpaku dengan apa yang Alex lakukan saat ini.
"Seperti ini kah rasa nya di peluk oleh ayah, walaupun om ganteng bukan ayah Luna, tapi rasa nya hangat sekali berada di pelukan om ganteng," batin Luna.
"Kenapa hati ini rasa nya hangat sekali saat memeluk anak ini," ucap Alex dalam hati nya.
__ADS_1
Hem,
Terdengar suara deheman dari laki - laki lain selain Alex dan Jo di sana, siapa lagi kalau bukan dari si dingin Arjuna.
Mendengar saudara nya bersuara Luna langsung mengendurkan pelukan nya.
"Luna..kamu lupa apa yang ibu kita katakan pada kita," kata Juna dengan nada dingin dan ekspresi wajah yang seperti biasa nya datar.
Luna mengangguk dan menghapus sisa air mata nya yang masih menempel di pipi chubby nya. Dengan nafas yang masih tersengal akibat menangis tadi dalam pelukan Alex. Gadis itu berkata," kita tidak boleh terlalu akrab dengan orang yang asing atau yang baru kita kenal."
"Bagus kalau kamu masih ingat yang ibu katakan pada kita, jadi ayo kita pergi dari sini," Arjuna berkata seperti itu sambil melirik tidak suka ke arah Alex.
"Maaf tuan...karena sudah merepotkan anda, dan sekali lagi mohon maaf atas kecerobohan cucu saya ini," ucap nek Ijah sambil meraih tangan Luna.
Alex hanya menganggukkan kepala nya dan tersenyum tipis.
"Ayo Juna .. Luna...kita pergi dari sini," ajak nek Ijah pada kedua anak kembar itu.
"Baik nek..." jawab ke dua nya.
"Pak Al seperti nya sangat menyayangi anak kecil ya," kata Jo tiba - tiba saat mereka sudah berada di dalam mobil nya dan melanjutkan perjalanan nya ke kantor.
Hem,
Alex hanya berdehem menanggapi pertanyaan dari asisten nya itu.
"Mode dingin nya kambuh lagi, padahal tadi saat bersama gadis kecil itu si bos terlihat hangat sikap nya, ini kok balik lagi ke mode awal," gumam Jo dalam hati.
"Kamu mengatai saya Jo?"
"Eh..tidak pak, mana berani saya mengatai bapak," jawab Jo dengan gugup tapi sebisa mungkin tetap fokus menyetir sambil sesekali melirik ke arah bos nya itu.
__ADS_1
Tidak butuh waktu yang lama akhir nya mereka tiba di kantor. Kedua nya langsung masuk lift menuju ke ruangan CEO di lantai yang paling atas dari gedung itu.
Alex membuka ruangan nya dan pandangan mata nya menelusuri setiap sudut ruangan nya itu. Bibir atas nya sedikit melengkung karena melihat ruangan kerja nya sudah bersih dan rapih serta wangi seperti biasa nya.
Hanya saja kali ini ada sesuatu yang berbeda jelas, karena yang membersihkan tempat kerja nya adalah orang yang dia inginkan.
"Kenapa di meja ku tidak ada kopi? apa dia tidak di beri tahu oleh Yanto jika sebelum aku datang sudah harus ada kopi di meja ku."
Ck,
"Yanto....kenapa di meja ku tidak ada kopi, apa pegawai baru itu tidak kamu beritahu terlebih dahulu kebiasaan ku seperti apa dan bagaimana?" omel Alex ada Yanto lewat sambungan telepon.
" Maaf pak....tadi saya sudah sampaikan pada Tiara untuk membuatkan kopi untuk bapak sebelum bapak datang ke ruangan nya. Tapi seperti nya dia tidak menghiraukan penjelasan saya pak," bohong Yanto.
Padahal dia bilang pada Tiara jika hari ini Alex tidak akan minum kopi karena dia meeting di luar terlebih dahulu. Dia mengarang cerita kepada Tiara kalau dia dapat info tersebut dari asisten Alex.
" Cepat suruh pegawai baru itu membuatkan kopi untuk saya, ingat jangan sampai salah takaran nya !"
"Baik pak.."
Tut..Tut...Tut...
"Rasain loe Tiara bakal kena omel pasti nanti ma pak Alex. Salah sendiri berani menggeser posisi gue di sini, ini baru permulaan ya Tiara..aku pastikan apa yang kamu kerjakan nanti akan selalu menjadi masalah untuk mu," ucap Yanto dengan tersenyum sinis.
Laki - laki itu langsung menuju pantry untuk mencari Tiara.
"Ra....barusan pak Alex menelepon dia ingin di buatkan kopi sekarang, buruan sana kamu buatin," perintah Yanto.
"Lha kata nya dia hari ini tidak minum kopi mas karena sudah minum kopi di tempat meeting."
Kebiasaan Alex memang seperti itu dia hanya minum kopi sehari sekali saja. Jika dia sudah minum kopi di luar dia tidak akan minum kopi di kantor.
__ADS_1
"Sudah jangan banyak tanya, buruan buatkan kopi untuk pak Alex sesuai instruksi yang sudah aku ajarkan pada mu."
"Baik mas...."