
"Hallo pah...."
[ ................................. ]
"Al memang tidak memberitahu dia jika Al sudah pulang ke Indo, lagi pula dia kan bukan istri Al kenapa aq harus laporan kepada nya setiap kali akan melakukan sesuatu atau pergi," jawab Alex dengan sedikit menahan emosi.
[ ................................. ]
"Iya pah, Al usahakan nanti jika pekerjaan ku sudah selesai."
Tut....
Alex langsung menutup panggilan nya dan merebahkan tubuh nya secara kasar di kursi kebesaran nya. Dia memijat kening nya yang tiba - tiba terasa pusing.
"****..... dasar tukang mengadu, apa - apa langsung mengadu kepada papah. Lihat saja jika perusahaan ku ini sudah sukses aku pastikan akan mengembalikan investasi yang orang tua nya tanamkan di perusahaan palah nanti," geram Alex.
Bisa kalian tebak siapa yang dimaksud Alex saat ini kan? yupz....tebakan anda benar semua nya, Jesika. Wanita itu lah yang membuat Alex saat ini emosi. Bagaimana tidak Jesika mengadu kepada papa Alex karena Alex pulang ke Indonesia tidak bilang pada nya. Dan entah apa saja yang wanita itu adukan pada orang tua Alex sehingga papa Alex memaksa nya untuk menjemput Jesika di bandara nanti.
Alex mengusap wajah nya kasar, baru beberapa hari dia merasa nyaman tanpa gangguan wanita licik itu, sekarang dia harus berurusan lagi dengan Jesika.
**
" Kenapa perasaan ku menjadi tidak karuan seperti ini, apa aku meminta bantuan mas Yanto saja untuk mengantar kopi ini ya? aku kira bakalan tidak akan bertemu langsung dengan nya. Eh....ternyata aku salah," Tiara bergumam dengan diri nya sendiri sembari mengaduk kopi yang dia buat untuk Alex.
"Sudah selesai belum Ra? kalau sudah buruan antar ke ruangan pak Alex, beliau sudah menunggu itu," perintah Yanto.
Tiara mengangguk, dia menaruh secangkir kopi itu di atas nampan dan membawa nya. Baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik ke arah Yanto kembali.
"Ehm...apa tidak sebaiknya mas Yanto saja yang mengantarkan kopi ini?" Tiara berkata dengan sangat hati - hati.
"Apa yang kamu bilang Ra?"
__ADS_1
"Ah..tidak ada mas, kalau begitu permisi aku ke ruangan nya pak Alex dulu."
Setelah Tiara berlalu dari hadapan nya Yanto tersenyum sinis." Lihat saja apa yang akan pak Alex lakukan pada mu nanti, karena kopi yang kamu buat sangat manis dan itu akan membuat pak Alex menjadi muntah nanti."
Saat ini Tiara sedang berdiri tepat di depan pintu ruangan CEO. Ibu dua anak itu beberapa kali menghela nafas nya untuk menetralkan rasa gugup dan detak jantung nya yang berdetak sangat kencang.
"Bagaimana ini, kenapa aku sangat gugup sekali. Saat di dalam nanti aku harus bagaimana? apa aku harus menyapa nya sebagai teman, dan aku juga apa perlu menanyakan kabar nya. Atau seperti apa nanti? dan ini kenapa jantung nya berdebar seperti ini. Ayo lah Tiara ....Alex itu teman SMA mu dulu, pasti dia akan menyambut mu dengan hangat nanti," monolog Tiara dalam hati menyemangati diri sendiri.
Setelah memantapkan hati nya, dia kemudian mengetuk pintu ruangan Alex.
Sedangkan di ujung sana ada seseorang yang sedang tersenyum menyeringai melihat kegugupan Tiara.
"Bismillah..."
Tok..tok...tok...
"Permisi...."
"Maaf pak, saya mau mengantarkan kopi untuk anda?"
Hem,
Alex hanya berdehem tanpa menoleh ke ara Tiara. Dia tetap fokus dengan berkas yang ada di tangan nya.
Tiara hanya tersenyum tipis melihat tanggapan dingin Alex. Dia kemudian meletakkan cangkir kopi itu pelan - pelan di atas meja kerja Alex takut jika aktifitas mengganggu CEO muda itu. Tanpa sepengetahuan Tiara, ekor mata Alex melirik ke arah Tiara.
Setelah meletakkan kopi itu Tiara sebenarnya ingin segera meninggalkan ruangan yang membuat dada nya tiba - tiba sesak itu, akan tetapi niat itu dia urungkan. Tidak di pungkiri dia sangat merindukan sosok yang sedang sibuk dengan berkas kantor yang ada di hadapan nya itu. Ingin sekali Tiara menyapa Alex sebagai teman, ya walaupun hubungan mereka semasa SMA tidak lah hangat hanya saja Alex atau Tiara saling memendam perasaan cinta masing - masing.
Dengan sepenuh hati Tiara akhir nya memberanikan diri untuk menyapa Alex.
"Ehm....apa kabar Al?"
__ADS_1
Akhirnya pertanyaan itu muncul juga dari bibir tipis Tiara diiringi senyuman yang manis dan tulus milik nya.
Alex yang mendengar Tiara menyapa nya, seketika menghentikan pergerakan tangan nya di atas lembaran berkas yang harus dia periksa.
"Seperti yang kamu lihat sekarang," jawab Alex seperti biasa dingin, datar dan tanpa melihat ke arah wanita yang bertanya pada nya.
Tiara menganggukkan kepala nya sambil tersenyum dia memberanikan diri kembali untuk berkata kepada Alex," hee...pasti nya kamu baik - baik saja ya, dan kamu terlihat lebih dewasa sekarang," entah mengapa jawaban garing seperti itu yang keluar dari mulut nya.
Bersamaan itu Alex sedang meminum kopi buatan Tiara tadi dan tiba - tiba....
Byuur.....
Alex menyemburkan kopi yang baru dia cicipi barusan. Tiara sampai terjengkit kaget melihat Alex menyemburkan kopi buatan nya tadi. Wanita itu merasa bingung apa ada yang salah dengan kopi buatan nya tadi sehingga Alex sampai memuntahkan kopi itu di depan nya.
"Apa Yanto tidak mengajari kamu bagaimana cara membuat kopi untuk saya hah..." teriak Alex seraya menatap tajam ke arah Tiara.
"Ta..Pi..itu sudah sesuai yang mas Yanto ajarkan pada ku Al..." jawab Tiara dengan gugup dan bibir gemetar.
"Sekarang bawa kopi ini keluar dari ruangan saya, dan satu lagi yang harus kamu ingat di sini saya adalah atasan kamu dan kamu harus tahu batasan kamu sebagai bawahan di sini. Jadi sepatutnya kamu harus bisa jaga sikap dan ucapan kamu kepada atasan seperti apa," ucap Alex dengan nada dingin dan penuh penekanan di setiap ucapan nya.
Ucapan Alex barusan membuat hati Tiara seperti teriris sembilu. Ternyata Alex yang di hadapan nya sekarang ini masih sama seperti Alex yang dulu bahkan lebih pedas lagi ucapan nya.
Dengan mata yang berkaca - kaca dan bibir yang bergetar dia mengambil cangkir kopi yang ada di hadapan Alex saat ini.
"Saya mohon maaf pak Alex atas kelancangan dan kecerobohan saya tadi, ke depan nya kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali," kata Tiara dengan berusaha untuk tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Kalau begitu saya permisi pak.."
Tidak ada sahutan apa pun dari mulut Alex justru dia malah asik kembali dengan berkas yang ada di meja nya.
Tiara tersenyum miris dan tanpa menunggu jawaban apa pun wanita itu langsung meninggalkan ruangan Alex.
__ADS_1
"Apa aku kelewatan tadi sampai aku harus membentak nya..."