
Alex dan Tiara masuk di sebuah kontrakan bedengan dengan ukuran yang sangat kecil menurut Alex. Pandangan laki - laki tampan itu menelisik sekitar kontrakan yang terlihat sempit, padat dan pengap. Untung saja saat itu waktu menunjukan pukul tiga sore jadi tidak banyak orang yang berada di luar kontrakan karena biasa nya jam segitu mereka masih bekerja di luar.
Tiara dan Juna berhenti di sebuah kontrakan yang berada di paling ujung. Alex bisa menduga jika itu adalah tempat tinggal Tiara dan anak nya selama ini.
Juna membantu sang ibu membuka pintu kontrakan nya. Sedangkan Tiara menaruh beberapa barang di kursi plastik yang berada di teras kontrakan nya.
"Sini pak, Luna biar saya yang gendong. Terima kasih pak Al sudah membantu saya untuk menggendong Luna sampai sini," ucap Tiara seraya ingin mengambil alih Luna dari gendongan Alex.
Tapi laki - laki itu tidak memperdulikan Tiara dia justru masuk begitu saja ke dalam kontrakan Tiara yang sudah terbuka.
"Eh...pak Al mau ngapain?"
"Di mana kamar Luna? "Alex malah bertanya di mana kamar anak - anak Tiara sambil kedua mata nya mengitari seluruh ruangan kontrakan Tiara.
"Biar saya saja pak yang membawa Luna ke dalam kamar?" Tiara tetap berusaha mencegah Alex.
"Di mana kamar nya?" tanya ulang Alex.
Tiara akhir nya pasrah, percuma jika harus berdebat dengan atasan nya itu. Lagi pula dia juga sudah merasa lelah dan butuh istirahat karena dia nanti malam harus bekerja lagi. Akhirnya dia menunjuk satu kamar yang ada di dalam kontrakan nya itu. Ya karena memang kontrakan Tiara hanya ada satu kamar saja dan itu juga sangat sempit sekali.
Dengan langkah lebar Alex berjalan menuju kamar yang di tunjuk oleh Tiara. Sedangkan Tiara berjalan mengekor di belakang nya sambil mendengus kesal.
__ADS_1
"Dasar tukang maksa," gerutu Tiara di belakang Alex. Entah laki - laki itu mendengar atau tidak Tiara tidak perduli.
Alex membuka tirai pintu kamar itu, dan pandangan pertama yang dia lihat adalah Juna yang sudah terbaring di atas kasur tipis dengan ukuran kecil. Ternyata putra sulung Tiara itu terlalu kelelahan sehingga dia langsung tidur begitu saja setelah sampai di kontrakan.
"Di mana saya harus membaringkan Luna?" tanya Alex sambil melihat ke sana kemari untuk mencari siapa tahu masih ada kasur yang lain selain yang di tiduri oleh Arjuna.
"Di sebelah Juna pak," jawab Tiara singkat.
"Hah...mana cukup kasur segitu untuk tidur mereka berdua."
"Mereka sudah terbiasa tidur bersama dan berbagi kasur itu sejak mereka masih bayi," kata Tiara sambil merapihkan bantal dan menggeser sedikit tubuh Juna supaya ada bagian yang bisa di tempati oleh Luna.
Dada Alex serasa teriris mendengar jawaban Tiara tadi. Pria tampan itu masih berdiri mematung memperhatikan setiap gerak gerik Tiara yang yang sedang merapihkan kasur busa tipis itu.
"Pak Al..." ucapan Tiara mengangetkan Alex.
"Eh iya..." Alex langsung membaringkan Luna pelan - pelan di sebelah Juna. Dia juga merapihkan beberapa anak rambut Luna yang menutupi wajah imut nya. Ada senyum yah terukir di wajah CEO tampan itu saat dia mengusap lembut rambut kedua anak Tiara.
Entah ada bisikan apa sehingga membuat Alex mencium kening kedua anak itu secara bergantian. Terlihat sangat jelas jika yang dilakukan Alex sangat tulus dan penuh kasih sayang Tiara bisa melihat itu semua di balik tirai kamar. Tiara sengaja tidak ikut menunggu di dalam kamar anak nya. Karena dia juga harus menjaga batasan nya, bagaimana pun dia wanita single dengan dua anak tidak lah baik jika berada dalam satu kamar dengan seorang laki - laki.
"Bahkan selimut pembantu di rumahku saja masih lebih layak di bandingkan dengan yang mereka pakai sekarang," batin Alex saat menyelimuti Juna dan Luna tadi.
__ADS_1
Alex berjalan ke arah Tiara setelah menyelimuti kedua bocah itu dengan sebuah selimut tipis yang sedikit usang.
"Kalau kasur itu hanya muat untuk mereka berdua lalu di mana kamu tidur selama ini?" entah ada angin apa sehingga Alex melontarkan pertanyaan itu saat berhadapan dengan Tiara.
"Hah....?" Tiara mengerutkan dahi nya mendengar pertanyaan dari Alex. Tapi dia langsung menunjuk ke arah tikar yang terlipat rapih di pojok kanan.
Alex melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Tiara. Betapa ngilu hati nya membayangkan betapa tidak nyaman nya jika tidur di atas tikar seperti itu. Dan parah nya lagi, Tiara melakukan hal itu selama bertahun - tahun lama nya.
CEO tampan itu tidak bisa berkata apa - apa lagi, ia berlalu begitu saja dan menuju kursi yang ada di teras kontrakan Tiara. Mau tidak mau Tiara menyusul bos nya itu dan mendudukkan diri nya di kursi yang tidak jauh dari Alex duduk. Sejenak tidak ada obrolan apa pun antara mereka berdua. Kedua nya larut dalam pikiran nya masing - masing.
"Di mana ayah dari anak - anak kamu sekarang?" tanya Alex dengan nada dingin.
Dan pertanyaan Alex itu pun seakan menampar hati Tiara. Bagaimana dia akan menjawab pertanyaan itu sedangkan dia sendiri tidak tahu jawaban nya.
Huft,
Hanya itu yang terlontar dari bibir Tiara. Pandangan wanita itu lurus ke depan. Sesekali dia menghela nafas nya untuk mengurangi sedikit beban yang selama ini ada di atas pundak nya.
"Jika saya tahu keberadaan ayah dari anak - anak saya pasti kehidupan saya tidak akan seperti ini. Setidak nya lebih baik lagi, kamu tahu sendiri kejadian enam tahun yang lalu. Dan hasil dari kejadian enam tahun yang lalu adalah yang sedang saya jalani sekarang. Entah siapa yang begitu tega dengan saya sehingga menjebak saya seperti itu, anda tahu pak Al betapa menderita nya saya setelah kejadian itu? kehidupan saya berubah seratus delapan puluh derajat, akibat perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab itu, saya harus kehilangan masa depan saya, saya harus kehilangan kehormatan saya sebagai seorang wanita dan saya juga harus kehilangan ayah saya untuk selama - lama nya. Belum lagi hinaan, cacian, makian dari orang - orang yang sudah terlanjur menganggap saya sebagai seorang ja ****Ng hanya karena sebuah foto yang belum jelas kebenaran nya itu. Tapi saya berterima kasih pada orang yang sudah jahat pada saya, setidak nya dari tindakan dia yang sudah menjebak saya malam itu sekarang saya mendapat kan dua malaikat yang sangat saya sayangi," ucap Tiara dengan pandangan lurus ke depan, bibir nya menampilkan senyuman walaupun sesekali wanita yang terlihat tegar tapi sebenarnya rapuh itu menghapus butiran bening yang jatuh di pipi nya.
Alex menatap iba pada wanita yang sampai saat ini dia sayangi. Ingin rasa nya dia memeluk wanita rapuh itu, akan tetapi rasa gengsi nya tetap mendominasi. Tidak di pungkiri ada rasa sakit yang dia rasakan saat mendengar curahan hati Tiara.
__ADS_1
"Aku semakin aja yang aneh dengan kejadian malam itu..."