
Tiara hanya terdiam dalam pelukan Alex, jujur dalam hati nya merasa tenang dan nyaman, di tambah ucapan Alex tadi. Bahkan tanpa sengaja dia membalas pelukan Alex dengan erat pula. Dan itu membuat Alex merasa bahagia.
"Ibu......"
Sayup - sayup terdengar suara seorang anak kecil yang sangat familiar bagi Tiara maupun Alex. Tiara sontak melepaskan pelukan nya dari Alex dan mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru taman untuk mencari keberadaan suara tersebut.
"Ibu...."
"Juna..." lirih Tiara saat melihat seorang anak kecil yang nampak kebingungan mencari seseorang di ujung koridor rumah sakit yang tidak jauh dari taman itu.
Tiara langsung berlari meninggalkan Alex begitu saja ke arah Juna. Di peluk nya tubuh kecil yang nampak kebingungan itu.
"Ibu..." Juna langsung berlari ke pelukan sang ibu saat melihat Tiara di depan nya.
"Sayang...kenapa kamu keluar dari ruangan Hem?"
"Juna dari tadi nyari ibu karena sejak tadi ibu tidak kembali lagi ke kamar Luna," jelas Juna dengan suara serak khas anak kecil saat bangun tidur.
Karena memang saat Tiara meninggalkan kamar rawat sang anak Juna sudah tertidur pulas di sofa.
"Maafkan ibu sayang...tadi ibu ada keperluan sebentar di luar, ya sudah sekarang kita kembali lagi ke ruangan. Kasihan Luna di tinggal sendiri di sana."
"Iya Bu..."
"Sini ibu gendong."
Tiara merasa tidak tega melihat Juna yang seperti nya masih mengantuk tampak jelas sejak tadi sang anak selalu menguap dan mengucek kedua mata nya.
Akan tetapi baru saja Tiara hendak menggendong sang putra, tiba - tiba Alex muncul dan langsung menggendong Juna.
"Biar aku saja Ra.." ucap Alex yang langsung mengangkat tubuh Juna ke dalam gendongan nya.
"Om Alex...kenapa om Alex ada di sini?" tanya Juna saat sudah berada di gendongan Alex.
"A...." Alex menjeda ucapan nya karena merasa ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang siapa dirinya sebenarnya kepada Juna.
"Om kangen saja ma kalian berdua sayang.."
__ADS_1
"Eum..." hanya kata itu yang keluar dari bibir mungil Arjuna. Dia justru menenggelamkan wajah nya di ceruk leher Alex mencari kenyamanan.
Alex tersenyum bahagia melihat tingkah Juna yang berbeda dari sebelum nya biasa nya bocah itu aka bersikap dingin dan cuek kepada nya. Alex tidak henti - henti nya mendaratkan ciuman di kening sang anak.
"Ayah bahagia sekali nak bisa bertemu dengan kalian, maafkan ayah karena lama untuk mencari kebenaran itu," seketika wajah Alex menjadi sendu dan hal itu tidak luput dari penglihatan Tiara yang berjalan di samping.
Sesampainya di kamar Alex meletakkan Juna di sofa yang ada di ruangan itu dan menyuruh Tiara untuk beristirahat bersama Juna di sofa. Tidak ada penolakan dari Tiara saat ini entah hati Tiara sudah luluh atau karena Tiara merasa sangat lelah hari ini karena terlalu banyak drama yang sudah dia lalui sehingga dia menurut saja saat Alex menyuruh nya untuk beristirahat.
Alex menatap Tiara yang terlelap sambil memangku kepala Juna di sofa, di raih nya kepala wanita yang selama ini selalu bertahta di dalam hati nya ke pundaknya, di elus nya lembut rambut sang pujaan hati dengan penuh hati - hati takut Tiara akan terbangun dan marah jika tahu Alex memperlakukan nya seperti itu.
"Setelah aku membongkar semua kebusukan Jesika dan menjebloskan wanita ular itu ke penjara, aku akan menebus semua kesalahan ku kepada kalian. Aku berjanji tidak akan ada lagi air mata kesedihan yang kalian keluarkan yang ada hanya kebahagiaan saja yang kalian rasakan nanti," gumam Alex.
**
Keesokan hari nya, Jesika dengan penuh percaya diri datang pagi - pagi ke rumah orang tua Alex. Hal itu bukan sekali dua kali Jesika lakukan sudah sering dia berkunjung ke rumah orang tua Alex itu walaupun dia selalu mendapat perlakuan cuek dari Ny
Sofia mama Alex namun wanita itu tidak pernah jera sama sekali lebih tepat nya urat malu nya sudah hilang.
Sedangkan ayah nya Alex yang tidak lain adalah tuan Wiratama sendiri sebenarnya tidak terlalu suka dengan Jesika. Lebih tepat nya sifat Jesika yang terlalu agresif terhadap laki - laki. Beliau mau menerima perjodohan itu hanya karena ingin membalas budi sebab dengan batuan papa Jesika lah perusahaan ayah nya Alex bisa bangkit kembali.
"Pagi.." jawab tuan Wira.
"Alex nya ada tante?" tanya Jesika kepada Ny.Sofia sambil ikut nimbrung di meja makan. Dia begitu santai nya ikut menyantap menu sarapan keluarga Alex itu tanpa rasa malu atau canggung sama sekali. Padahal sang tuan rumah tidak menawarkan dia untuk ikut sarapan bersama mereka.
"Apa kamu tidak pernah di ajarkan sopan santun hah! " ucap Ny. Sofia dengan nada sinis.
"Maksud Tante?" jawab Jesika santai sambil mengunyah nasi goreng.
"Apa wanita macam ini yang akan kamu jadikan menantu keluarga kita pah?"
"Mah....."
Nyonya Sofia langsung meninggalkan meja makan, dia langsung tidak berselera sarapan setelah kedatangan Jesika. Sedangkan tuan Wira hanya menghela nafas nya kasar, dia tahu betul bagaimana perasaan istri nya itu. Akan tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun, jika dia membatalkan perjodohan itu perusahaan nya akan hancur kembali karena 60% saham perusahaan nya itu adalah milik orang tua Jesika sebagai penanam modal yang terbanyak.
"Maafkan sikap Tante ya Jes..."
"It's okey om, tidak masalah bagi ku. Toh aku menikah nya dengan Alex nanti bukan Tante Sofia, jadi tidak masalah bagi ku jika Tante Sofia bersikap cuek seperti itu. Asal om Wira bisa bersikap lebih baik saja, om tidak lupa kan dengan apa yang sudah papah ku lakukan pada perusahaan om dulu. Dan satu lagi, pasti om tidak akan pernah lupa juga kartu AS om Wira berada di tanganku sekarang," kata Jesika dengan seringai jahat nya.
__ADS_1
Tuan Wira menggenggam erat sendok yang berada di tangan nya setelah mendengar ucapan Jesika barusan.
Jesika tersenyum menang melihat ekspresi dari calon mertua nya itu.
"Anda tidak bisa berbuat macam - macam tuan Wiratama yang terhormat karena rahasia anda enam tahun yang lalu berada di genggamanku," batin Jesika.
"Oh ya om, Alex mana ya dari tadi kok tidak turun - turun."
"Dia dari semalam tidak pulang ke rumah, mungkin dia tidur di apartemen nya."
"Apartemen? kenapa om tidak bilang dari tadi sech, buang - buang waktu ku saja," kesal Jesika.
"Kamu benar - benar tidak punya sopan santun sama sekali ya, aku tidak akan pernah ikhlas jika Alex menikahi wanita seperti mu," ucap Ny. Sofia yang ternyata sudah berada di belakang kursi Jesika.
Wanita paruh bayah itu benar - benar merasa kesal dengan sikap Jesika kepada suami nya.
"Ngga masalah bagi ku jika Tante merasa tidak ikhlas aku menjadi menantu Tante, aku juga tidak mau punya mertua yang seperti Tante, suka mengkritik orang lain. Kayak Tante atau suami Tante itu sudah benar sikap nya, coba tanyakan ke suami tante apa yang sudah dia lakukan enam tahun yang lalu."
Nyonya Sofia langsung beralih menatap sang suami mencari jawaban dari apa yang Jesika ucapkan tadi.
"Jesika...tutup mulut mu!" bentak tuan Wira.
"Kenapa om? takut jika Tante Sofia tahu kebenaran itu?" ejek Jesika.
Tuan Wira mengusap wajah nya kasar, sedangkan nyonya Sofia hanya menatap bingung ke arah sang suami.
Saat keadaan di ruang makan itu sedikit tegang, tiba - tiba Alex datang dengan beberapa polisi.
"Pak...tolong tangkap wanita itu !"
**
Akhir nya bisa UP juga, mohon maaf bgt readers๐๐ป sedikit kerepotan karena punya baby new born, readers tahu sendiri kan pasti nya..๐
Saya berharap kalian tetap setia menunggu kelanjutan dari cerita Alex dan Tiara yang sudah akan menuju titik terang...
Tetap jangan lupa tinggalkan jejak like nya y๐คโค๏ธ๐น๐น
__ADS_1