
"Waaah parah bener si bapak ya, bukannya habis sakit itu tobat malah makin jadi aja kelakuannya?"
"Apalagi sih Mbak Citra cantiiiiiik? Kerjaan kamu kok hari-hari ngedumel terus? Cepat keriput, cepat tua, perawan tua loh, mau?"
Citra menabok kepala Agus dengan botol air mineral di tangannya. Bukannya menghibur sahabatnya yang satu ini malah mengatainya. Emosinya belum stabil pasca melihat papan pengumuman nama-nama siswa yang berhak mewakili sekolah untuk lomba sains. Dirinya yang sudah separuh nafas dan sepenuh jiwa mengisi soal Kimia malah tidak lolos seleksi sekolah. Lolosnya nyasar ke bidang lain, TIK, yang benar saja dong. Dia saja mengisi soal TIK sambil merem kok bisa-bisanya malah tersaring sementara Kimia malah gagal. Sudah pasti ini ada turut campurnya Pak Arif. Citra memukul-mukul pohon mangga dengan sepenuh hati demi melampiaskan kekesalannya. Sasarannya yang lama sudah melarikan diri semenjak ia berubah jadi kuda lumping.
"Aguuuuuus.... tungguin!" Citra mengangkat roknya lalu berlari menyusul Agus yang sudah menghilang di belokan lorong kelas. Saat ia ingin berbelok, Citra hampir menabrak seseorang jika saja remnya blong.
"Jangan lari-lari di lorong. Membahayakan orang lain."
Citra mundur ke belakang lalu menunduk sopan, "Maaf, Pak."
"Kenapa lari-lari?"
Citra tak menyahut, ia kembali menunduk lalu berpamitan, "Permisi, Pak." Demi kantong ajaib doraemon, Citra lebih memilih menatap lama-lama ****** sapi dari pada muka Pak Arif. Ia masih sangat kesal dengan perlakuan tak adil ini. Citra merasa ia lebih mampu dari
pada Sari. Sari bahkan mengeluhkan setengah dari soal yang diberikan karena tidak bisa dijawabnya sedangkan dirinya, kimia sudah menjadi denyut kehidupannya, ia sangat mencintai bidang itu dan terbukti bisa tapi kenapa malah tidak di loloskan? Fix. Pak Arif memiliki dendam kesumat padanya. Sepulang dari sekolah ia harus bertanya pada orang tuanya mungkin ada hutang besar yang belum di bayar oleh orang tuanya pada tetangganya itu makanya bawaannya sensi kalau berkaitan dengan dirinya.
"Tau gini saya campur obat mencret tuh bubur. Nyebelinnya nggak manusiawi guru satu ini." Omel Citra tak lagi mengejar Sahabatnya. Gadis itu kini mojok di bawah pohon ketapang di belakang sekolah. Ia malas bertemu siapapun termasuk Lisna dan Sari yang pasti akan membahas Kimia. Kimia my a**. Untunglah hari ini ia tidak ada kelas Kimia. Setidaknya ia tidak perlu muntah kuning karena harus bersama Pak Arif sembilan puluh menit.
Beberapa menit sebelum jam masuk pelajaran terakhir, Citra dan Abu bertemu diam-diam di tempat rahasia mereka.
"Kali ini saya dukung kamu, Cit. Kalau perlu kita jual motor Pak Arif."
"Hush!" Citra memukul bahu Abu, "Itu Nyari penjara namanya. Saya nggak siap pake baju orange." Ada-ada saja memang ide sesat si Abu Lahab ini.
"Kita kempesin aja ban nya udah cukup. Bengkel Jauh. Biarin sakit pinggang. Supaya sadar juga kalau umur sudah tua sebaiknya banyak-banyak beramal bukannya berbuat jahat." Ujar Citra sembari melonggarkan lubang angin motor itu. Abu yang otaknya terset satu frekuensi dengannya melakukan hal yang sama pada Ban depan.
__ADS_1
Syuuuuuuuuuttt....
Bunyi angin yang bebas cukup membuat keduanya waspada. Kalau sampai ketahuan Pak Arif, bukan saja sekolah yang menghukum tapi kedua orangtuanya juga. Untuk sementara Citra lupa resiko apa yang akan dia terima jika ketahuan mengisengi gurunya, yang terpenting sekarang adalah membalaskan dendamnya pada guru resenya itu.
***
"Mbak Jen, sini, Mbak."
Citra yang sedang mengerjakan tugas Fisikanya berdiri dari kursi lalu keluar. "Iya, Papi. Ada apa?"
"Papi minta tolong ambilin nama-nama pengurus DKM di rumah Pak Arif."
Citra manyun. Pak Arif lagi, Pak Arif lagi. Sudah sukses seharian ini ia hindari bapak gurunya itu malah sekarang di suruh temui. Nasib apaan nih?!
"Alul aja ya, pi. Jen lagi ngerjain tugas."
"Adik kamu juga lagi belajar, Nak. Kasian kalau di gangguin."
"Jangan gitu, Nduk. Bantuin, Papi. Ayo, buruan. Nanti keburu makin malam." Pinta Papi pada gadis sulungnya.
Citra menghentakkan kaki kesal keluar rumah. Mendingan juga ke rumah tukang jagal dari pada ke rumah tetangga depan. Raga sih aman sentosa tapi emosi jiwa yang berserakan ke mana-mana.
"Ganti bajunya dulu, Nduk. Dingin di luar." Teriak Papi dari dalam rumah. Tapi Jenaya mengabaikan nya saja. Gara-gara punya tetangga modelan Pak Arif, kebebasan nya berpakaian jadi terancam. Papi dan Mamanya yang selama ini membebaskan dirinya memilih gaya pakaian sendiri sekarang mulai terkontaminasi oleh ide sesat Pak Arif yang selalu mendoktrin orangtuanya tentang kejahatan di luar sana yang terjadi pada para gadis muda. Padahal Citra sangat menyukai style simple but sexy ini, Baju tidur satu tali dan celana sepaha, jangan lupakan rambut panjang yang di cepol asal.
Tok tok tok.
"Assalamu'alaikum." Citra berdiri membelakangi pintu setelah mengucapkan salam dan mendengar balasan dari dalam rumah.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Eh, sayang. Masuk, Nak, Masuk."
"Eh, nggak usah, Bu. Jena disini saja. Papi cuma nyuruh ngambil daftar nama-nama pengurus DKM sama Pak Arif. " Ujar Citra, menolak keras ide masuk dalam penangkaran, Arif-Gorila-Rahman. Sudah paling benar dia menunggu di luar saja.
"Nah, itu. Minta aja sama Pak Arif, Ibu lagi repot menggoreng. Ayo, Masuk." Ibu Pak Arif menariknya masuk sehingga dengan tampang terpaksa Citra tidak memiliki pilihan selain menemui guru resenya itu.
"Arif lagi di taman samping. Lagi ngebenarin motornya. Kayaknya diisengin siswa tapi dianya nggak ngaku." Ujar Ibu Pak Arif berbisik pelan.
Citra si pelaku utama menahan ekspresinya agar tidak ketahuan bahwa dialah siswa iseng itu. Citra manggut-manggut tidak tahu harus merespon apa pada Ibu Pak Arif.
"Kamu minta aja ya. Ibu kembali ke dapur bentar."
Sekarang Citra bingung harus apa. Menemui Pak Arif dan mengajaknya duel adalah satu-satunya hal yang terpikir di kepalanya sekarang. Tapi amanah dari Papinya harus dilaksanakan jika tidak ingin uang jajannya di pangkas rata aspal.
"Malam, Pak."
"ASTAGHFIRULLAH." Pak Arif yang tengah jongkok di samping motornya terkejut akan kehadiran gadis muda yang--yang---aduh, harus di istighfar kan berkali-kali kelakuannya yang luar biasa ini.
"Ngapain kesini tidak pakai baju?" Tembak Pak guru muka triplek ia, tanpa menatap pada Citra sebisa mungkin.
"Papi minta nama-nama pengurus PKM, Pak. " Jawab Citra bertahan di tempatnya berdiri. Malas juga dekat-dekat dengan sumber masalah hidupnya.
Pak Arif menghela nafas panjang, memikit pangkal hidungnya frustasi, "Tunggu." Ujarnya. Ia langsung bergegas masuk ke kamar melewati Citra begitu saja. Pak Arif mengambil kertas itu lalu menyerahkannya pada Citra. "Sekarang pulang. Jangan keluruyuran di mana-mana. Lain kali kalau mau keluar rumah pakai pakaian yang lebih rapi. Bisa kan, Mbak Jen?"
Citra membeku, bukan karena ucapan panjang Pak Arif tapi karena spontanitas laki-laki yang memakaikan jaket di tubuhnya.
"Nanti masuk angin." Ujarnya lalu tanpa ucapan apapun lagi kembali ke tempat dimana tadi ia memperbaiki motornya.
__ADS_1
Citra yang mendapat perlakuan random itu hanya bisa menatap dengan kerdipan polos pada gurunya, KENAPA LAGI BAPAK SATU INI!!!
***