My Favorite You

My Favorite You
Skandal Guru dan Siswi


__ADS_3

Citra tidak tahu bagaimana harus menikmati semua kekacauan ini. Salahkan dirinya yang terjebak dunia medsos. Harusnya ia tidak perlu iseng berkirim foto di hp gurunya. Seharusnya dia lebih sabar menunggu daya hpnya terisi dan melakukan aktivitas sosialnya di hp sendiri. Seharusnya dia bisa lebih menahan diri untuk tidak mengotak atik hp gurunya hanya karena menemukan foto keakraban Pak Arif dengan rekan-rekannya termasuk Bu Wardah. Ini semua karena Dia terlalu cemburuan-AHA CEMBURU! Astagaaa Citra lelah menyesali banyak hal, yap benar kata orang-orang, penyesalan itu datangnya belakangan kalau diawal namanya pendaftaran, huhuhuuuu welcome to the trouble Mbak Jenaya.


"Jangan terlalu di pikirkan."


Citra menoleh kesamping di mana gurunya itu tengah menyetir, "Ini tuh masalah besar, Pak. Apa kata orang-orang coba." katanya sebal. Ingin marah tapi pelakunya diri sendiri. Haruskan ia membanting dirinya di aspal?! HARUSKAH???


"Biarkan saja." Pak Arif dan ketenangannya kadang-kadang menambah emosi jiwa seorang Citra Jenaya yang kesabaran nya hanya setitpis tissue di bagi dua.


"Nggak bisa bapaaaak. Bapak nggak ngertiii, Anak-anak tuh mulutnya kayak pembalut bocor, Pak, ngerembes kemana-mana."


Pak Arif menahan nafas sejenak lalu menghembuskannya. Apa tidak ada perumpamaan yang lebih ramah di telinga? "Diamkan saja. Lama-lama juga lupa." ujarnya masih enteng membuat Citra senewen sendiri. Susah sih kalau yang di ajak bicara seperti Pak Arif ini. Bahkan ketika dia di kerjai habis-habisan oleh Citra sekalipun tidak pernah mencari tahu siapa pelakunya. Atau dia tau pelakunya hanya pura-pura saja? Kalau benar, waaaah penghinaan besar akan kenekatan seorang Citra sih ini.


"Tau ah, bapak nggak ngerti." Katanya membuang pandangan keluar jendela. Di kursi belakang Alul tertidur karena lelah menghawatirkan sang kakak yang ternyata menurut bocah itu LEBAY.


"Kamu tidur saja biar tidak kepikiran. Saya akan urus semuanya." Pak Arif masih berusaha menenangkannya.


"Gimana caranya?" Tanya Citra dengan tatapan jauh mengitari pemandangan yang mereka lalui. Pak Arif tak menjawab, ia hanya menoleh sekilas pada gadis di sampingnya itu dengan tatapan tak terbaca.


Perjalanan dari perkebunan sampai ke rumah mereka cukup. Citra, Pak Arif dan Alul sampai saat adzan maghrib berkumandang.


Pak Arif membantu Citra dan Alul mengeluarkan barang-barang mereka dari atas mobil.


"Langsung mandi dan solat." Katanya pada kedua anak tetangganya itu.


"Oke, Mas. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah." Pak Arif mengusap rambut Alul saat anak itu mencium punggung tangannya. "Semua akan baik-baik saja." lanjutnya pada Citra, ingin mengusap rambut gadis itu tapi untuk saat ini belum bisa karena belum legal secara hukum dan agama.


"Bapak janji ya." Citra menatap Pak Arif penuh harap.


"Insya Allah. Masuk." Kata Pak Arif lembut walaupun untuk saat ini ia pun masih belum tau apa yang harus dilakukannya. Ini bukan tentang dirinya tapi tentang gadis di depannya ini. Bagi seorang dewasa sepertinya mudah mengakui segalanya tapi tidak bagi Citra yang masih harus menjalani hari-harinya sebagai pelajar normal lainnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah." Pak Arif menatap punggung kecil itu. Kepalanya sekarang penuh oleh satu kenyataan, semua akan lebih mudah jika mereka bukanlah siswa dan guru. Haruskah dia mempercepat semuanya?


***


Citra membuka mata dengan malas. Pagi ini ia berharap tidak pernah datang. Bagaimana ia harus menghadapi teman-temannya? Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan orang-orang? Trus guru-gurunya juga. Haruskan ia pindah sekolah? Tapi itu namanya melarikan diri. Dan hanya seorang pengecut yang melakukan nya.


Sebuah pesan masuk di hpnya. Ia membaca kontak tersebut yang kemarin di gantinya dengan yang baru.


Masnya Alul 👻


Siap-siap ke sekolah.


Sebuah pesan singkat yang mengingatkan dirinya bahwa ia tidak punya jalan melarikan diri selain menerobos nya. Citra memutuskan untuk tidak membalas pesan itu. Langkah pertama yang harus ia lakukan adalah mengambil wudhu lalu solat dan berdoa semoga orang-orang di sekolahnya lupa ingatan atau dirinya dianugrahi kekuatan menghilang agar mudah menghindar jika sudah tidak sanggup menghadapi pertanyaan.


Menginjakkan kaki di halaman sekolah pagi ini terasa seperti bertamu di teras neraka bagi Citra. Ingin balik badan dan menghilang di balik pohon tapi dari kejauhan dua makhluk yang mentasbih diri mereka sebagai sahabat sejati itu sudah melambai-lambai persis nyiur di pinggir pantai memancing hampir semua penghuni sekolah yang juga baru sampai sepertinya. Terpaksa meski seperti sedang menyeret kereta api, akhirnya ia melangkah kan kaki menuju tiang penghakiman itu.


"PJ ada dong." Ujar Agus mengalungkan tangannya di bahu Abu. Keduanya seperti kompak menambah daftar alasan hari buruknya.


"Bisa diam nggak?!" Greget Citra melewati keduanya tak santai.


"Weshhhh santai dong Bu Arif."


"DIEM NGGAK? DIEM!" Citra menoleh cepat, membekap mulut Abu dengan tangannya, "Saya hekter mau?" Ancam nya yang malah membuat Agus tergelak. Memang kampret nya another level dua orang ini.


Abu melepas bekapan Citra, "Nggak bisa." katanya memelet. Citra menghentakkan kaki kesal lalu dengan kekuatan penuh menendang tulang kering kedua temannya itu yang sontak membuat keduanya mengaduh terdengar seantero lorong kelas.


"RASAIN!" Citra meninggalkan keduanya dengan langkah puas. Lagian pagi-pagi sudah cari perkara saja.


Saat masuk kelas, semua tatapan tertuju padanya.

__ADS_1


"Citraaaaaaaa" Dua, tiga, atau empat orang teman kelasnya, datang menghambur mengelilingi mejanya.


"Kok bisa sama Pak Arif?"


"Gimana bisa sama Pak Arif?"


"Iiih, itu beneran?"


"Mauuuu"


Citra menutup kepalanya dengan tas. Siapapun tolong selamatkan saya.


"Eeeeeh, apa nih pagi-pagi? Minggir minggir!!!"


Akhirnya pertolongan itu datang. Lisna dan Sari membelah kerumunan, mengusir manusia-manusia kepo itu.


Citra mengangkat kepalanya, "Thank you, para malaikat penolong ku." katanya lega.


Sari dan Lisna saling melirik.


"Jadi Pak Arif nih, bukan Pak Alfian?" Tanya Lisna to the point.


"Kok bisa? Cerita dong. Ini Pak Arif loh yang sempat mendapat rumor sebagai jeruk makan jeruk saking sucinya hidupnya dari terjangan para wanita." Tambah Sari tak kalah penasaran.


Citra menatap keduanya malas. Ternyata ini namanya keluar dari mulut singa nyemplung kedalam mulut buaya. Lepas dari Abu, Agus, dan teman kelasnya eh malah ada Lisna dan Sari yang sudah pasti keponya melampaui semuanya.


"Bisa nggak sih kita belajar dulu?" Tanyanya pada kedua temannya itu. Pagi-pagi membahas Pak Arif itu seperti mengundang huru hara.


"Janji ya? Kalau nggak, Pak Arif yang kita tanyain." Lisna mengancungkan jari kelingkingnya.


Citra mengangguk, "Iya, janji." Katanya dengan penuh keterpaksaan. Tak apalah setidaknya pagi ini ia bisa mengikuti pelajaran dengan damai.

__ADS_1


***


__ADS_2