My Favorite You

My Favorite You
Papi Jenaya


__ADS_3

Tepat jam sebelas malam Citra dan Alul diantar pulang oleh Pak Arif saat kedua orang tua mereka sudah pulang dari acara. Alul tertidur anteng dalam gendongan Pak Arif sementara Citra berjalan di sampingnya masih mengenakan daster milik Ibu Pak Arif karena pakaiannya sudah ia masukan dalam tas. Tangan kirinya memegang sepatu sekolahnya sedangkan kakinya beralaskan sendal rumahan milik Pak Arif yang kebesaran di kakinya.


"Pak?"


"Hm?"


"Bapak jangan bilang-bilang ya sama temen-temen kalau kita---emm-nggg---" Citra menggigit bibir bingung harus menyebut apa hubungan mereka.


"Kalau kita mau nikah?" Pak Arif melanjutkan.


Citra meringis, "Ya terserah deh apa namanya. Tapi bapak janji ya? Jena belum siap jadi seleb dadakan seperti kemarin." katanya teringat bagaimana rumitnya perasaannya ketika harus menjelaskan pada orang-orang tentang hubungannya dengan Pak Arif.


"Iya. Kamu belajar aja yang benar, jangan pikirkan hal lain."


Citra mengangguk. Mereka sudah sampai di depan pagar, Papi Citra terlihat berdiri di depan pintu menunggu mereka.


"Assalamu'alaikum, Pak." Sapa Pak Arif saat sudah berdiri di depan rumah. Citra langsung menyalami Papinya dan masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam. Maaf ya mas Arif, merepotkan." Papi mengambil alih Alul dalam gendongan Pak Arif.


"Tidak apa-apa, Pak. Mereka anak-anak baik." Ujar Pak Arif menatap sayang pada Alul.


"Iya, cuma kadang-kadang kalau sudah bertengkar ramainya mengalahkan satu stadion." Ujar Papi mengusap rambut Putranya.


"Saudara sudah biasa seperti itu, Pak."


"Iya, kamu benar. Sekali lagi Terima kasih banyak."


Pak Arif mengangguk sembari tersenyum sopan, "Sama-sama, Pak. Sebenernya saya ingin menyampaikan sesuatu pada bapak."


"Apa itu?"


Pak Arif diam sejenak, merasa salah karena tidak menepati janjinya, "Jenaya sudah tahu semuanya. Saya sudah memberitahunya, Pak. Saya mohon maaf karena tidak menepati janji." ucapnya menyesal.


Papi Citra tak langsung menjawab. Raut wajahnya tak terbaca, lalu helaan nafas berat lolos begitu saja, "Ya sudahlah, tidak apa-apa. Cepat atau lambat dia pasti akan tau juga."

__ADS_1


"Sekali lagi saya minta maaf, Pak."


Papi Citra tersenyum kecil, "Saya mengerti. Tapi sebagai seorang ayah saya tetap menginginkan kebahagiaan untuk putri saya. Jadi, saya berharap Mas Arif bisa memberi waktu untuk Jenaya berpikir jernih. Setidaknya sampai ujian selesai."


"Tentu, Pak."


"Baiklah. Saya berharap dia menjadi putri yang membanggakan keluarga ini. Mas Arif pasti mengerti maksud saya."


"Baik, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang."


"Iya. Silahkan."


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullah."


Papi Citra menunggu sampai Pak Arif keluar dari pagar baru setelah itu masuk membawa Alul ke kamarnya.


Di dalam kamar Citra tak langsung tidur melainkan duduk di depan meja rias nya dengan perasaan campur aduk. Benarkah ia akan menikah diusia semuda ini? Apa dirinya mau melepas masa remajanya secepat ini? Bagaimana pandangan orang-orang terhadapnya? Pernikahan di usia muda terkadang tak jarang di asumsikan sebagai pernikahan karena telah terjadi sesuatu yang tidak benar pada para gadis padahal itu hanya sebagian kan? Harus kah ia menolak saja? Tapi, apa ia siap kehilangan perhatian-perhatian kecil itu dari Pak Arif? Apa ia siap seumur hidup melihat Pak Arif bersama perempuan lain? Pertanyaan-pertanyaan itu bercokol dalam kepalanya membuat otaknya yang belum matang terasa memikul beton sekolahnya.


"Mbak Jen?"


Citra menoleh, di depan pintu ada Papi memegang handle pintu, "Iya, Pih?"


"Papi boleh masuk?"


Citra mengangguk, "Masuk aja, Pih." katanya menghadap sepenuhnya pada sang Papi yang mengambil tempat di ujung ranjangnya.


"Gimana tadi di sekolah? Kegiatannya lancar?" Tanya Papi membuka obrolan.


"Alhamdulillah lancar, Pih. Walaupun rasanya badan kayak diinjek kawanan gajah." Ujar Citra terkekeh diakhir kalimatnya.


"Besok jangan lupa minum vitamin ya, jangan sampai sakit. Ujian sudah dekat."


Citra mengangguk, "Siap, Pih. Udah mandi air hangat juga di rumah Pak Arif."

__ADS_1


Papi Citra mengangguk, menatap sang putri dengan tatapan penuh kasih. "Keluarga Pak Arif baik ya, Nduk?! Bersyukur kita punya tetangga seperti mereka."


Citra memaksakan senyum kecil, "Baik bangat, Pih. Apalagi Budhe sama Pakde."


"Pak Arif nya baik juga?" Tanya Papi, tangannya terulur menangkup tangan Citra. Seorang ayah memang yang paling mengerti perasaan putrinya. Cinta pertama seorang Citra Jenaya tentunya.


" Baik. Walaupun kadang-kadang rese, suka nyeramahin Jena." Ujar Jenaya teringat bagaimana hubungannya dengan Pak Arif yang seperti kucing dan tikus tidak pernah akur.


Papi terkekeh, "Itu karena beliau peduli. Mau Mbak Jena ini jadi anak yang lebih baik setiap harinya." ia mengusap rambut Citra lembut.


Citra mengangguk meski sedikit tak Terima tapi memang niat Pak Arif pasti dilakukan untuk kebaikan nya. Dianya saja yang batu, paling senang melawan.


Keduanya terdiam untuk beberapa menit. Lalu Citra membuka suara terlebih dulu.


"Pih, emang bener ya Papi ngasi izin Pak Arif buat nikahin Jenaya?"


"Iya." Jawab Papi tanpa ragu "Tapi semua keputusan akhir ada di Jena. Papi hanya memberikan restu apapun yang kamu putuskan."


"Memangnya Papi nggak apa-apa punya anak nggak sukses kayak Jena? Orang lain anaknya sekolahnya sampe tinggi bangat loh, Pih." Citra mencoba mengingatkan Papinya. Siapa tau kebaikan Pak Arif menutup akal sehatnya sampai-sampai begitu mudah memberinya izin seperti ini.


"Loh, memangnya kalau nikah nggak boleh sekolah tinggi-tinggi ya? Setau Papi nggak ada larangannya." Ujar Papi tersenyum kecil.


Citra berdecak, mengerucutkan bibir, "Iya sih, Pih. Tapi tetep aja, gimana kata orang-orang coba. Nanti dibilang, liat tuh anaknya Pak Guntoro, baru lulus SMA udah nikah." Citra menakut-nakuti.


"Papi nggak peduli omongan orang. Papi lebih tau anak Papi sendiri. Lagian Pak Arif bukan orang yang buruk. Beliau dewasa, ngerti agama, keluarga baik-baik, pergaulannya juga tidak neko-neko, pekerja keras, Tampan juga. Insya Allah beliau mampu menjadi pemimpin untuk Mbak Jen." Terang Papi memberikan pandangannya mengenai Pak Arif.


Citra tidak bisa untuk tidak setuju dengan hal itu karena selain galaknya di sekolah, Pak Arif tidak punya nilai mines sama sekali. Kalaupun suka bikin kesal itu manusiawi sebab beliau hanyalah manusia biasa yang punya nafsu.


"Tapi tetep, Mbak Jen punya hak penuh untuk memutuskan. Papi dan Mama hanya menginginkan hal baik untuk anak-anak kami." Kata Papi melihat wajah gusar sang putri.


Citra mengangguk lalu mendekat memeluk sang Papi, "Makasih, Pih. Jena sayang bangat sama Papi."


"Sama-sama, Nduk. Papi lebih sayang lagi sama Jena. Berbahagialah. Doa Papi selalu menyertai pilihan dan langkah hidupmu." Balas Papi memeluk erat Citra sambil mengecup rambutnya berkali-kali.


Citra tahu, tidak akan ada yang sebaik Papinya dalam menjaganya, memberinya cinta tanpa menyakitinya. Tapi salahkah ia berharap jika Pak Arif bisa memberikan hal yang sama hebatnya seperti sang Papi?

__ADS_1


***


__ADS_2