My Favorite You

My Favorite You
Disayang Pak Arif


__ADS_3

"Dapat ikannya, Lul?" Pak Arif datang menghampiri Citra dan Alul yang tengah memancing di danau buatan di tengah-tengah kebun buah milik keluarga Pak Arif. Kebuan seluas tiga hektar itu adalah surga para pencinta suasana alam yang asri. Citra dan Alul bahkan tidak mengenal panas dan lelah saat menyusuri setiap sudut kebun, memetik banyak buah dan kini mojok di danau buatan tempat favorit ayah Pak Arif.


"Dapat, Mas. Tiga. Mbak Jen yang belum dapat. Galak sih makanya ikannya pada takut mendekat."


Pak Arif mengambil tempat duduk di samping kiri Alul sehingga posisinya sekarang Alul duduk di tengah antara dirinya dan Citra. Ia melirik gadis itu yang tampak serius menunggu kailnya bergerak.


"Ikannya aja yang buta nggak liat mata kail segede bus ini." Ujar Citra sebal. Hampir dua jam duduk belum ada juga ikan yang tergoda untuk menyerahkan nyawa di mata kailnya padahal ia sudah berbaik hati mengambil cacing yang paling besar sebagai umpan dan mata kail yang tak kalah besar. Ya wajar sih ikan tidak ada yang mendekat, maut di depan mata begitu biar tidak punya akal tetap saja ada insting untuk bertahan hidup dari musuh.


"Sabar, Mbak. Salah satu hikmah dari memancing ya berlatih kesabaran." Pak Arif menyilangkan kaki menghadap pada dua anak tetangganya itu.


"Jangan tanya soal kesabaran sama saya, Pak. Kurang sabar apalagi coba saya ngadepin mood bapak yang berantakan di sekolah." Balas Citra tanpa mau repot-repot menoleh pada gurunya tersebut.


"Itu karena Mbak jen nakal, iya kan, Mas?" Timpal Alul, "YEEEEE DAPAT LAGIIII!!!" anak itu berseru heboh melihat mata kailnya kembali menelan korban.


Citra melihat ikan itu dengan penuh rasa iri. Bibirnya mengerucut, mata kailnya bahkan jangankan menelan korban, mendekat saja sepertinya tidak. Para ikan berkomplot untuk tidak mendekati mata kailnya. Ia menoleh pada Pak Arif yang kebetulan juga menatap padanya dengan tatapan geli. "Pak Ariiiiif, bantuiiiiin." Rengeknya memasang wajah memelas. Ia tidak peduli lagi image nya sebagai gadis baddas anti merengek-merengek club sekarang ia hanya mau mata kailnya dapat ikan tidak peduli ikan paus sekalipun.


Pak Arif yang tak tega beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Citra, "Mau dibantuin gimana Mbak Jen? Dipegangin pancing nya atau manggilin ikannya?" katanya lembut seperti biasa.Disamping meraka Alul begitu acuh karena kesenangan dengan aktivitasnya.


"Mau ikan juga." Kata Citra menyerahkan kailnya pada Pak Arif.


Pak Arif tertawa, "Itu namanya saya yang mancing bukan kamu." Aura-aura ganasnya memang makin hari makin memudar di mata Citra. Yang ada sekarang Pak Arif yang menyukai Citra Jenaya bukan Pak Arif guru kimianya yang suka menghukumnya.


"Gak peduli, pokoknya aku juga mau ikan kayak adek." Katanya masih dengan mode merengek.


"Kalau saya berhasil dapat ikan, Mbak Jen mau kasi apa?"


Citra mengerucutkan bibir, "Katanya bapak suka, kok pamrih?! Yaudah deh, nggak usah aja." Ia hendak mengambil kembali alat pancing nya dari tangan Pak Arif namun laki-laki itu sigap menjauhkannya dari jangkaunnya.


"Iya iyaaaa."


Citra menyengir lebar, "Makasih Pak Guruuuu."

__ADS_1


"Ada maunya aja manis bangat ngomongnya." Pak Arif menggelengkan kepala tak bisa, tersenyum kecil melihat tingkah siswinya itu.


Pak Arif harus menahan sabar setiap kali Citra berteriak kala kailnya bergerak. Telinganya seperti akan meledak karena siswinya itu berteriak tepat di telinganya dengan volume seolah besok tidak membutuhkan lagi pita suaranya.


"Pak pak, itu Pak, gerak. Pak Arif, tarik Pak, itu ---Aaaah Tuh kaaan, lepas."


"MBAK JEN, JANGAN BERISIK! Itu ikan-ikannya jadi kabur kaaan. Aaah elaah, mancing sama perempuan bikin ribet." Alul meletakkan pancingan nya kesal.


Citra memelet, "Apaan sih, Pak Arif saja nggak komen. Anak kecil diem deh." Gadis berambut panjang itu kembali fokus pada kailnya yang di pegang Pak Arif, sementara Alul, anak itu harus menebalkan kesabaran sebab mengharapkan Pak Arif menegur Mbaknya juga percuma, guru ngajinya itu sudah kena pelet.


"It lagi, itu lagi, Paaak... Itu, Pak. Tariiiikk-- YEEEEEEEE DAPEEEET!!!" Citra jingkrak-jingkrak kesenangan melihat mata kailnya akhirnya berhasil mendapatkan ikan. "Waaaaah ikannya besaaar."


Pak Arif tersenyum kecil, "Mbak Jen, senang?"


Citra mengangguk cepat, "Senang bangaaat."


"Alhamdulillah itu yang penting."


"Bentar, aku mau foto sama ikannya. Pak Arif tolong fotoin dong." Ia menyerahkan hpnya pada Pak Arif dan memegang ikan yang baru didapatkan Pak Arif. "Udah cantik belum, Pak?" memperbaiki tatanan rambutnya.


***


"Bapak bisa masak?" Citra menghampiri Pak Arif yang sedang meracik bumbu untuk ikan yang mereka dapatkan di danau.


"Bisa. Mbak Jen mau bantu?" Laki-laki melirik sang siswi dengan ekor matanya. Citra tampak manis dengan rambut di kepang ala Elsa frozen, "Lucu kepangnya."


"Iya kan?" Citra mengusap rambut kepangannya bangga.


"Lebih lucu lagi kalau pakai kerudung, pasti makin di sayang Allah." ujar Pak Arif menyelipkan pesan-pesan terselubung pada gadis kesukaannya itu.


"Jadi sekarang Allah nggak sayang?" Tanyanya sendu.

__ADS_1


Pak Arif akhirnya menoleh sepenuhnya, "Sayang. Allah sangat sayang sama Mbak Jen, sama semua makhluknya. Untuk balas sayangnya Allah kita sebagai hamba baiknya mengikuti perintahNya karena pasti ada kebaikan disitu."


Citra menghela nafas pendek, "Tapi Saya belum siap, Pak. Masih suka rambutnya dibikin lucu-lucu begini." Lalu mengangkat kepala menatap gurunya serius dan penuh tekad, "Tapi Aku sayang kok sama Allah. Sayaaang bangat makanya rajin solat."


Pak Arif tersenyum lembut, "Masya Allah, semoga istiqomah ya Mbak Jen. Pelan-pelan saja belajarnya, tidak apa-apa."


Citra mengangguk, "Do'ain ya Pak."


"Selalu. Nama kamu tidak pernah absen dalam doa-doa saya."


Gadis itu tersenyum senang, "Yaudah, sini Aku bantuin. Aku harus ngapain?" Katanya bersemangat.


"Ulek rempahnya, bisa?" Pak Arif menyerahkan bumbu-bumbu yang sudah disiapkan diatas ulekan dan mendorongnya pada Citra.


"Bisa dong, Pak. Aku jago masak loh Pak, sering bantuin mama di dapur."


"Oh ya? Bagus."


"Iya, kata Mama perempuan harus lincah di dapur biar nanti kalau sudah berkeluarga suaminya nggak kabur."


"Memangnya Mbak Jen kapan siap nikahnya?"


Citra terdiam sebentar, mengetuk-ngetuk dagunya seolah berpikir keras. Lalu kemudian menjawab, "Masih lama. Aku mau kuliah dulu, dapat kerja, bahagiain Mama, Papi dan Alul, trus nikah deh."


Pak Arif manggut-manggut, "Bagus, anak yang berbakti." senyum miris dan helaan nafas pelan lolos dari bibirnya.


"Tapi kalau aku ketemu laki-laki ganteng, banyak uang, orang tuanya baik sama aku dan keluarga, terus super duper baik, aku mau deh nikah cepet."


"Kenapa?"


Citra mengembalikan ulek kan bumbu yang sudah halus pada Pak Arif, "Ya karena Aku pasti dijadiin ratu lah, Pak. Pasti apa-apa dikabulin. Iya kan, Pak?"

__ADS_1


Pak Arif mengangguk, ia mencuci tangannya yang baru saja selesai membersihkan ikan, "Iya, pasti. Jadi, kapan saya dan orangtua bisa ke rumah Mbak Jen?"


***


__ADS_2