My Favorite You

My Favorite You
Ditraktir Pak Guru


__ADS_3

"Lain kali bawa jaket." Ujar Pak Arif menunggui Citra yang tengah mengelap badannya dengan tissue yang diambil dari meja. Keduanya berada di rumah makan lesehan yang ada di depan lokasi kegiatan untuk makan siang. Maunya Citra sih dia puasa saja siang ini tapi perutnya sudah mendemo minta diperhatikan.


"Tadi kan cerah, Pak." Ujar Citra beralih mengeringkan rambutnya yang lembab. Untung saja hanya lengan seragamnya yang sedikit lembab.


"Tetap saja." Pak Arif duduk setelah membersihkan tempat duduk untuk Citra dengan tissue,"Kurang pendek ini." Sindir nya sembari meletakkan tas ranselnya diatas pangkuan siswinya yang keras kepala ini untuk menutupi pahanya yang terekspos.


"Besok saya pendekin lagi, Pak." Ucap Citra sengaja ingin membuat jengkel gurunya. Lagian perkara rok saja tidak ada habis-habisnya. Ganti judul kek, apa kek.


Pak Arif mendengus, pria dewasa itu lantas memanggil pelayan dan memesan makanan. "Mau pesan apa?" tanyanya pada Citra sambil memilih menu untuk dirinya dan juga Citra.


"Samain aja, Pak." Jawab Citra sibuk mengelap meja mereka dengan tissue.


"Yakin? Saya pesan bakso mercon."


"Yakin. Minumnya es teh."


Pak Arif mengangguk, "Bakso mercon dua, mbak. Teh hangat dua juga." katanya sembari menyerahkan buku menu pada mbak pelayan mengabaikan pelototan tak terima Citra.


"Saya mau es teh loh, Pak." Protesnya.


"Hujan-hujan jangan minum es." Kata Pak Arif. "Itu saja, Mbak. Terima kasih." ujarnya pada sang pelayan.


Yah, kalau gitu ngapain nanya bapaaaaak. Omel Citra dalam hati.


"Bapak jangan ngatur selera orang dong." Ujar Citra manyun, mengajukan protes setelah pelayan tersebut pergi. "Nanti Saya bayar sendiri deh."


Pak Arif tak menanggapi. Lelaki itu malah sibuk dengan hpnya seolah Citra tidak ada disana. Hal itu membuat Citra tambah gondok. Mau marah tapi ini gurunya, durhaka tidak sih kalau gurunya menyebalkan seperti ini?!


"Besok pagi pakai rok panjang."


Nyenyenyenyenyenyeeeee


"Nggak mau."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Ya nggak mau aja, Pak. Bapak kenapa sih? Masalah bangat sama rok saya kayaknya. Bapak suka rok saya apa gimana? Bilang deh, kalau suka nanti saya kasi buat bapak." Terserah. Terserah kalau dirinya di kutuk jadi buku absensi kusut atau batu kali sekalipun, perkara rok ini benar-benar membuatnya kesal.


Di depannya Pak Arif terdiam. Tak menunjukkan emosi sama sekali. Wajahnya datar sedatar papan tripleks di parkiran sekolahnya. Citra yang merasa mungkin sudah keterlaluan pada gurunya langsung tidak enak hati. Menyesal sih tidak tapi takut durhaka saja, meninggikan suara di depan orangtua kan berdosa ya.


"Maaf, Pak. Maksud saya kalau---"


"Ya saya suka---" Pak Arif menjeda kalimatnya, "Saya suka sama kamu, bukan rokmu." lanjutnya membuat gadis di depannya mengerjap bod*h.


"Gi-gimana,Pak?" Cicit Citra takut saja salah dengar dan berharap ia memang salah dengar.


Pak Arif duduk dengan tenang, menatap serius siswanya itu, "Saya suka sama kamu." Katanya. Ia tersenyum kecil, "Gimana, Mbak Jenaya?"


"IIIIIIIHHHH BAPAAAAAKKKK!!!"


***


"Dimakan, Mbak? Dingin itu baksonya."


Citra menggeleng, "Nggak mau. Bapak nyeremin." gadis berseragam SMA itu duduk mojok di sudut tempat makan itu. Sementara Pak Arif, entah harus menyesali pengakuannya atau mensyukurinya yang pasti siswanya yang di pojokan itu menggemaskan sekali.


"Sudah tidak lapar lagi?" Tanya Pak Arif mendorong mangkok bakso makan miliknya yang sudah kosong menjauh.


Pak Arif mendongak. Sejenak menatap siswinya itu lalu menggelengkan kepala, "Saya serius."


"Paaaak, jangan dong, Pak. Saya kan masih kecil." Pinta Citra menangkup kan tangannya di depan.


"Mbak Jen sudah baligh."


"Tapi saya masih kecil, Pak. Masih anak-anak. Belum boleh pacaran sama Papi."


Pak Arif terkekeh, "Siapa yang mau ajak kamu pacaran. GR. "


"TRUUUS YANG TADI?" Citra mulai keki. Ya harga diri gimana ini. Dia GR saja tadi? Tapi kan Pak Arif suka.


"Kenapa yang tadi? Saya kan bilang nya suka bukan ajak pacaran." Ujar Pak Arif, tangannya mendorong mangkok bakso yang masih belum tersentuh sama sekali di dekat Citra. "Cepat makan. Nanti dicari teman-temanmu."

__ADS_1


Citra Menatap mangkok baksonya tak selera. Moodnya makin anjlok. Pak Arif jelas sedang mempermainkan nya sekarang.


"Bapak nggak jelas." Gerutunya. Ia menarik mangkok bakso tersebut dan melahap isinya dengan serampangan.


"Pelan-pelan makannya, saya tidak minta." Laki-laki itu menyerahkan tissue, "Bersihin mulut kamu."


Citra mengambil tissue tersebut tak ramah. Ia masih menatap sebal pada Pak Gurunya itu. Terus terang saja ia terganggu dengan ucapan bapak kimia super nyebelin ini ditambah lagi pernyataannya barusan yang tidak mengajaknya pacaran, sangat membingungkan.


"Bapak kenapa suka sama saya? Saya kan keras kepala." Tanya Citra di sela-sela nya mengunyah bakso.


"Mbak Jen sadar diri ternyata." Ucap Pak Arif datar.


Citra makin manyun, "Jawab aja bisa kali, Pak. Horor bangat disukai Pak Arif."


"Kenapa horor?"


"Bapak galak."


"Kamu saja yang bilang begitu."


"Karena bapak pilih kasih sama siswanya. Diskriminasi."


"Kapan?"


Dih, manusia satu ini. Bisa-bisanya tidak sadar diri. Citra merutuk dalam hati. "Tau ah, Pak. Capek ngomong sama bapak." Ia lanjut makan, mengabaikan keberadaan Pak Arif. Anggap saja bakso yang di kunyah nya ini adalah potongan hati Pak Arif, biarin habis hatinya, jadi zombi, manusia tanpa hati.


"Jangan lama makannya. " Pak Arif menegur melihat Citra makan bak putri keraton.


"Iyaaa, sabar, Pak. Orang sabar umurnya panjang." Jawabnya tapi masih dengan gaya makan yang sama. Sengaja memang biar Pak Arif kesal.


"Kurang sabar apa lagi saya tunggu kamu selama ini." Gumam Pak Arif melarikan pandangannya keluar.


"Bapak ngomong apa?" Tanya Citra karena tidak jelas mendengar ucapan Pak Arif.


"Bukan apa-apa." Jawab Pak Arif.

__ADS_1


"Oh." Citra lanjut makan dengan tenang sementara Pak Arif, jangan tanyakan batas kesabaran laki-laki itu yang harus berhadapan dengan siswinya yang satu ini.


***


__ADS_2