My Favorite You

My Favorite You
Malam Pertama


__ADS_3

Citra terkejut hampir memekik saat keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas lutut dan mendapati Pak Arif sedang duduk diatas ranjang sembari membolak balik halaman buku berjudul kado pernikahan yang ia beli beberapa hari setelah Pak Arif melamarnya secara resmi di depan keluarga. Apa ia terlalu lama berada di dalam kamar mandi sampai lupa kalau ada Pak Arif disini?! Astaga, sepertinya ia butuh healing untuk merestart otaknya supaya bisa ia pakai lagi.


"Sudah selesai?" Pak Arif buru-buru menunduk saat melihat Citra hanya mengenakan handuk berdiri di depan pintu kamar mandi dengan rambut basahnya. Ia kembali pura-pura sibuk membaca buku di tangannya walaupun sebenarnya otaknya sudah tidak ada di tempat. Bukan rahasia lagi gadis Jawa itu memiliki paras manis dan menarik namun melihatnya dengan keadaan yang seperti ini, Pak Arif sampai bingung harus mengartikan nya sebagai anugrah atau petaka.


Melihat Pak Arif kembali sibuk sendiri, Citra langsung bergegas menuju lemari dan dengan sembarangan menarik baju dari tumpukkan nya lalu segera berlari kembali masuk di dalam kamar mandi.


Huf huf huf.


Citra bernafas terengah-engah, bersandar di pintu sambil menenangkan detak jantungnya yang maraton. Demi Tuhan, ia bisa mati muda kalau begini terus. Ini malam pertama mereka. Otaknya sudah ternodai oleh pesan-pesan yang ia baca di internet bagaimana malam pertama itu berlangsung. Kegiatan panas. Astagfirullah. Citra membekap mulutnya sendiri yang ingin teriak kencang tak mampu membayangkan hal itu terjadi antara dirinya dengan Pak Arif. Bisakah ia pingsan saja dan bangun bangun secara resmi segelnya terlepas? Mungkinkah hal seperti itu bisa terjadi? Ya mungkin saja jika Pak Arif kerasukan jin pohon mangga di sekolahnya dan menjelma menjadi manusia brengsek. Tentu saja mustahil karena lelaki itu penuh adab dan sopan santun. Buka pintu kamar istri saja pake acara minta izin. Sudah pasti kalau mau buka yang lain izin akan lebih khusyuk. Iya kan? Aduh, Pikiran kotor itu harus ia enyahkan dalam kloset supaya malam ini bisa ia lewati dalam keadaan hidup hidup.


Beres mengenakan pakaian tidur bermotif bunga daisy, Citra dengan tangan bergetar membuka kenop pintu kamar mandi. Dilihatnya Pak Arif tengah duduk diatas sajadah membelakanginya. Di belakangnya ada sajadah lain dan juga mukenah.


Pak Arif menoleh, tersenyum lembut pada istri kecilnya itu. "Sudah wudhu kan?"


Citra mengangguk, dengan langkah ragu mendekati sajadah itu dan mengenakan mukenah yang sudah disiapkan Pak Arif.


Pak Arif kemudian berdiri untuk memimpin solat dan di belakangnya Citra menjadi makmumnya. Secara perdana inilah yang sering ia lihat di video-video bagaimana sebuah pernikahan impian itu di mulai. Sejak akad dan dilanjutkan solat bersama. Hal-hal yang Citra kepoi saat Pak Arif mulai menyatakan keinginannya menikah dan memintanya untuk mempertimbangkan itu. Meskipun sampai saat ini pun Citra belum mengetahui alasan Pak Arif memilihnya diantara perempuan-perempuan baik diluar sana yang pernah menyentuh hidupnya. Bukankah aneh semodelan dirinya yang masih menjadi beban orangtua dan dunia ini dipilih oleh seorang Arif Rahman yang ternyata memiliki harta banyak melihat dari mahar yang ia Terima dari lelaki itu?!


"Assalamu'alaikum warahmatullah." Pak Arif menoleh ke kanan lalu kekiri, mengakhiri solatnya. Setelah berdzikir dan berdoa yang diamini oleh Citra.


Pak Arif tersenyum lembut saat Citra menyalaminya, mencium punggung tangannya lembut. Untuk sesaat keduanya tak mengatakan apa-apa, hanya duduk saling berhadapan dengan pikiran masing-masing.


"Mbak Jen sudah mengantuk?" Tanya Pak Arif saat Citra tiba-tiba menguap karena suasana sepi yang tercipta di ruangan itu.


"Bapak tidak mengantuk?" Tanya Citra balik. Terus terang saja ia sudah sangat kelelahan setelah seharian ini menyalami banyak tamu padahal baru akad, belum lagi resepsi yang undangannya sampai seribu orang yang akan diadakan setelah Citra mengambil ijasahnya.


"Belum." Jawab Pak Arif singkat. Didepannya Citra menggigit bibir panik. Mungkin kah Pak Arif ingin mengambil hak nya malam ini?

__ADS_1


"Pak."


"Hm?"


"Jena mau ngomong sebentar." Katanya memilin ujung mukenah nya tak berani menatap Pak Arif.


"Mau ngomong apa?" Tanya Pak Arif memperhatikan tingkah laku Citra yang terlihat sekali menyimpan banyak hal di kepalanya.


"Sebenarnya Saya takut, Pak." Cicitnya pelan.


"Takut apa? Ada yang menjahati Mbak Jen?"


Citra menggeleng, "Enggak gitu."


"Lalu?" Pak Arif mengambil kedua tangan Citra yang makin aktif memilin mukenah nya membuat barang yang baru dihadiahkan nya itu kusut.


Citra yang digenggam tangannya seperti itu makin keringat dingin. Terlebih saat Pak Arif mengelus punggung tangannya dengan ibu jarinya lembut.


"Sebentar." Pak Arif menyela ucapan Citra, "Kalau saya minta Mbak Jen ganti panggilan untuk saya bagaimana?"


Citra mengerjap polos, menatap lelaki yang juga menatap lembut padanya itu.


"Di luar sekolah, panggil Mas saja, keberatan?"


"Panggil Mas?" Beo Citra.


"Iya, seperti Alul. Nanti kalau di sekolah, panggil Pak lagi. Mbak Jen keberatan?"

__ADS_1


Citra menggeleng masih dengan ekspresi polosnya "Enggak."


Senyum kecil terbit di wajah Pak Arif, "Coba, Mas mau dengar."


"Sekarang?"


Pak Arif mengangguk, "Biar Mbak Jen terbiasa."


Citra menggigit pipi dalamnya, matanya merotasi tak berani menatap Pak Arif yang belum memutus pandangan darinya.


"Mas." Ucap Citra pelan, hampir tak terdengar.


"Coba lebih keras, Mas mau dengar lagi."


Citra memberanikan diri menatap Pak Arif, "Mas Arif." ucapnya lebih jelas.


Pak Arif tersenyum hingga gigi gerahamnya terlihat. Menarik Citra dalam dekapannya tanpa memberi aba-aba sebelumnya, "Iya, ini Mas Arif nya Mbak Jen." ucapnya sambil mengecup puncak kepala Citra yang ditutupi mukenah berkali-kali.


Citra yang kali pertama di peluk orang asing terlebih Pak Arif, langsung menegang. Punggungnya kaku namun di tekan merapat hingga hidungnya kini menggesek dada Pak Arif, mencium aroma segar yang menyenangkan dari parfum yang dipakai laki-laki itu. Perlahan, meski dengan tangan gemetar, ia memberanikan diri mengulurkan tangan melingkari pinggang suaminya itu membalas pelukannya. Alih-alih dipeluk pacar seperti cerita teman-temannya, Citra malah langsung merasakan pelukan suami yang ternyata rasanya sangat nyaman. Saking nyamannya, tau-tau saat membuka mata, azan subuh sudah berkumandang.


"Selamat Pagi, Jenaya." Sapaan lembut itu sontak membuat Citra terkejut. Ia menoleh ke asal suara. Pak Arif berdiri di depan lemari mengenakan pakaian koko dengan wajah segar.


Citra segera menyingkap selimut dan menghampirinya, menatapnya sesaat, menelisik seolah memastikan di depannya ini beneran manusia bukanlah halusinasi. Begitupun Pak Arif yang melihatnya dengan kening berkerut.


Citra mengangkat tangan lalu dengan perlahan, sebelum sempat Pak Arif menghindar, tangannya sudah mencapit pipi itu agak keras.


"Aw." Pak Arif memegang pipinya yang di capit kuku-kuku Citra yang belum sempat dipotong. "Kenapa kamu cubit Mas?"

__ADS_1


Di depannya Citra membelalak, menutup mulut syok, lalu berlari keluar kamar sambil berteriak, "PAPIIIIIIIIIII ADA PENYUSUUUUUP!!! "


***


__ADS_2