
Citra masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan salam. Ibu Pak Arif menyambutnya dengan hangat sementara itu Alul sudah asik di ruang TV dengan Ayah Pak Arif membahas buku surga dan neraka. Kelurga religius memang seperti ini beda dengan keluarga nya saat berkumpul di depan TV kalau bukan remot yang melayang ya bantal sofa.
"Istrahat dulu disini, pinjam kamar Masmu." Ujar Budhe Lia mengantarnya ke depan pintu kamar Pak Arif.
"Pak Arif nggak apa-apa, Budhe, kamarnya Jena pakai?"
Budhe Lia menggeleng, "Ridho lahir batin dia kalau sama Mbak Jena." katanya membuka pintu dibelakang Citra.
Citra mengangguk. Kebaikan keluarga ini memang bukan hal yang aneh, jadi yang semacam menampung anak tetangga yang kelaparan jelas hal kecil bagi mereka.
"Pak Arif tidak di dalam kan, Budhe?" tanya Citra memastikan sekali lagi sebelum masuk kedalam kamar yang sudah dua kali ia terobos itu. Sebelum-sebelumnya ia tidak begitu khawatir karena tidak ada pemiliknya tapi sekarang Pak Arif ada dalam rumah itu yang mungkin saja akan masuk dalam kamar tanpa mengetahui ada seorang gadis polos nan lugu yang sedang menempatinya wilayahnya itu.
"Tidak ada. Masmu tau kok kalau kamu disini." ujar budhe lalu berpamitan untuk kembali ke dapur.
Citra menghela nafas sejenak sebelum kemudian melangkahkan kaki masuk dalam kamar. Tak lupa ia mengunci pintu dan sesaat menyandarkan punggungnya di pintu kamar sembari menatap ruangan itu. Dia harus bertepuk tangan untuk takdirnya, dirinya sedang ngambek sama pemilik kamar yang tak lain adalah gurunya sendiri tapi sekarang malah terjebak di dalam kamar si pemilik. Hidup memang kadang sebercanda itu. Sekali lagi Citra menghela nafas lalu dengan langkah gontai tak yakin, ia melepas semua pakaiannya dan mengambil handuk serta baju ganti yang sepertinya memang disiapkan untuk dirinya. Tampak sudah sangat direncanakan keberadaanya disini. Tak mau berpikir panjang dan menambah beban psikisnya yang sudah seharian ini pontang panting di hajar massa, Citra memutuskan untuk segera membersihkan diri agar bisa sejenak melepas penat.
Tok tok tok...
Citra terbangun dengan perasaan linglung. Ia terduduk dengan kaki menjuntai menapak keramik. Sejenak ia memperhatikan dekorasi kamar yang jauh berbeda dengan kamar miliknya. Ia langsung menyadari bahwa dirinya sekarang berada di kamar seseorang yang tak lain adalah gurunya sendiri dan sedang tidur diatas ranjangnya. WOW!
Akan jadi berita besar jika ada yang mengetahui hal ini. Sudah bisa dipastikan seluruh penghuni sekolah akan semakin gempar melebihi kasus salah upload yang beritanya cepat sekali tenggelam. Entah apa yang dilakukan Pak Arif waktu itu yang pasti kehidupan SMAnya yang normal sudah pulih kembali terkecuali hatinya yang di gantung seperti ikan kering sama si Pak Guru Kimia.
Tok tok tok...
Citra menatap kearah pintu. Jika tidak mengingat dimana dirinya sekarang sudah pasti itu adalah Alul tapi karena ini rumah Pak Arif--- semoga itu bukan beliau karena mukanya sekarang sedang berminyak, mata sayu dan rambut acak-acakkan persis singa gagal kawin.
"Mbak Jen---"
WAH! ITU PAK ARIF!
Citra berdiri cepat lalu berlari kearah cermin dan sedikit memperbaiki penampilannya yang--- "Semoga Pak Arif nggak pingsan melihat monster cebol seperti ini di kamarnya--hiks." ia menatap dirinya di depan cermin, tidak menemukan apapun di depannya untuk memperbaiki penampilannya. Astaga! Ia bahkan berdaster emak-emak---
Tok tok tok...
"Mbak Jen---"
__ADS_1
"Ah sudahlah. Bodo amat." Citra menyerah. Mau bagaimana lagi kalau sudah seperti ini keadaanya. Kecantikan itu kan yang terpenting yang ada di dalam-- iya kan? Tapi memangnya seorang Citra cantik dari dalam? HAH!
Ceklek.
"Ya?" Ujarnya dengan wajah datar menatap lelaki yang mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos putih di depannya. Lelaki itu tampak segar sangat berbeda dengan dirinya persis tanaman layu yang dicabut pagi tadi dan belum sempat disiram.
"Nggak usah jijik gitu deh, Pak, ngeliatnya. Saya tau kok saya mirip genderuwo sekarang." Sentaknya kesal ditatap intens oleh Pak Arif. Apalagi yang dilakukan laki-laki itu kalau bukan menilai dirinya yang sedang kacau balau ini--hiks.
"Kamu mimpi buruk ya? Ngomong ngegas terus. Sana ke dapur, makan." Ujar Pak Arif lalu pergi meninggalkannya yang membeku di depan pintu.
"Gitu doang?" Tanya Citra tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dasar bapak-bapak gajah duduk! Bukannya mengikuti perintah Pak Arif untuk segera ke dapur, Citra malah kembali dalam kamar. Ia memilih berpuasa daripada makan di rumah yang di dalamnya ada orang bernama Arif--Monster--Rahman, "Mending tidur." katanya namun belum juga kepalanya sampai di bantal gedoran kembali terdengar.
"ISH! Rese!" Dengan hentakkan kaki kesal ia kembali menuju pintu siap memuntahkan kekesalannya di depan muka guru labilnya itu-- Ceklek.
"APA LA--- Eh, Budhe." Citra menyengir tak enak karena di hadapannya berdiri budhe dengan senyum ramah di wajahnya. Hampir saja.
"Ibu ganggu ya, Nak?"
"Eh, enggak, Bu. Enggak sama sekali." Ujarnya cepat. Tak enak karena tadi berkata dengan volume keras, dipikirnya Pak Arif ternyata Ibunya yang super baik.
Citra semakin tidak enak. Seharusnya tadi ia langsung ke ruang makan setelah mandi tapi godaan kasur Pak Arif sangat sulit untuk di tolak.
"Ibu minta Masmu panggil tapi katanya kamu nggak mau makan."
PAK ARIF KAMVRET! Sejak kapan saya ngomong gitu sih! Ah elah, Senang bangat mau menghancurkan nama baik orang.
"Eeh enggak, Bu. Saya ke kamar mandi dulu tadi mungkin bapak tidak dengar." Bohongnya. Cukup Pak Arif yang tidak mengerti perempuan, sesama perempuan harus saling peka, saling menjaga perasaan.
"Yaudah, Mbak Jen langsung ke dapur aja sudah Ibu siapin diatas meja makanannya. Nanti ditemani Masmu."
"Iya, Bu. Terima kasih." Ujar Citra sopan.
Budhe Lia mengusap rambutnya dengan penuh kasih, "Ibu ke kamar ya. Jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri."
Citra mengangguk, "Iya, Bu."
__ADS_1
Sepeninggal Ibu Pak Arif, Citra langsung bergegas ke dapur. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menggeplak kepala Pak Arif yang sudah sembarangan bicara pada Budhe Lia. Saat melewati ruang TV, ia melihat Alul tertidur diatas karpet tebal ditemani suara televisi. Disebelahnya kosong, sudah pasti itu tempat Pak Arif terlihat dari bantal yang tersusun dua. Ia melanjutkan langkah menuju dapur dan si tersangka utama sedang duduk di kursi makan dihadapannya ada piring yang masih kosong.
"Bapak apa-apaan sih pake ngadu sama Budhe?! Sengaja mau ngerusak nama baik saya? Biar saya dibilang tamu tidak tau diri?" Semprot nya dengan suara pelan namun tajam.
"Makanya jangan keras kepala. Disuruh makan ya makan." Ujar Lelaki itu santai. "Saya lapar, cepetan duduk."
"Dih. Lapar ya tinggal makan. Ngapain nunggu saya." Citra menghentakkan kaki kesal sekali lalu duduk di kursi. "Nyebelin!" omelnya kesal.
Pak Arif tak menanggapi. Laki-laki dewasa itu menyodorkan piring kosongnya pada Citra.
Citra menatap itu dengan kening berkerut, "Apaan? Saya sudah punya piring sendiri." tunjuk nya pada piring kosong di depannya.
"Ambilin nasi." Kata Pak Arif datar.
Citra melongos, dengan sebal ia mengambil piring itu, "Manja bangat." rutuknya, "Segini atau mau ditambahin?" Tanyanya masih dengan nada kesal bin sewot.
Pak Arif mengangguk, "Cukup."
"Lauknya mau yang mana? Ikan goreng atau telur balado?"
"Telur balado."
"Sayurnya mau yang tumis atau santan?"
"Jangan pake sayur."
"Oke, yang bening saja." Putus Citra lalu mengambilkan sayur bening dan mencampur nya diatas piring yang sama.
"Saya tidak makan sayur bening, Mbak Jen."
Citra menoleh dengan tatapan galak, membuat Pak Arif langsung menyesal mengajukan protes.
"Oke, saya makan." Ujarnya pasrah.
Citra mengangguk puas, "Nah, gitu dong, makan sayur biar Mas sehat." ujarnya tanpa menyadari laki-laki disampaingnya tengah menahan diri dengan susah payah untuk tidak tersenyum.
__ADS_1
***