My Favorite You

My Favorite You
Berdua di rumah besar


__ADS_3

"Sudah bangun?" Citra Mengerjap saat Pak Arif mengecup rambutnya. Ia menguap sekali lalu kembali menutup matanya dengan posisi badan telungkup menyembunyikan wajahnya di bantal. Pak Arif yang melihatnya tersenyum kecil sembari merapikan rambut yang menutupi wajahnya.


"Bangun, tidak baik tidur sore." Katanya mengusap rambut citra lembut. Citra yang tadinya mau bangun malah kembali mengantuk diperlakukan seperti itu.


"Masih ngantuk." Ujar Citra mengangkat kepalanya dari bantal lalu berpindah di paha Pak Arif yang duduk di pinggir ranjang.


"Di suruh bangun loh, Mbak Jen."


Citra menggeleng, menyembunyikan wajah semakin dekat di badan Pak Arif. Nyaman,"Elus-elus punggung Jena dong Mas."pintanya manja.


"Setelah itu bangun."


Citra mengangguk.


Pak Arif lantas mengusap-usap lembut punggung Citra, sesekali nyasar ke rambut panjangnya. Tak ada obrolan diantara mereka. Baik Citra maupun Pak Arif menikmati sepi yang tercipta. Citra dengan rasa nyaman dan ngantuknya sedangkan Pak Arif dengan rasa sayangnya pada mantan siswinya itu.


"Kalau Mas dulu nggak galak, Jena pasti udah naksir sejak awal. Nggak mungkin tuh perasaan Jena mampir-mampir ke Pak Alfian kalau Mas udah manis kayak gini." Citra membuka obralan. Kedua tangannya melingkat di pinggang Pak Arif.


"Mas tidak galak. Mbak Jena yang nakal."


"Dih, mana ada. Jena terkenal sebagai siswi paling disenangi guru-guru tau."


"Masa sih? Kok sama Mas nakal?" Senyum Pak Arif terbit.


"Enggak. Itu Mas aja yang nyebelin. Ngeliat Jena udah kayak ngeliat tentara Sekutu. "


"Perasaan Mbak Jen saja itu. Buktinya Alul bisa dekat sama Mas."


"Itu karena di sogok stiker. Murah bangat kan adek Jena?" Citra tak habis pikir memang bagaimana mungkin Alul menghargai tali persaudaraan diantara mereka dengan stiker yang di jual tiga seribu. Katanya sih stiker langka tapi mana ada Citra percaya soal itu.


Pak Arif tertawa renyah, tangan hangatnya menepuk-nepuk punggung Citra, "Gitu ya? Sabar ya. Yang penting kan sekarang betah di pangkuan Mas. Nyaman ya Mbak?"


Citra tak menjawab, tangan iseng mencubit pinggang Pak Arif mrmbuat lelaki itu mengaduh minta ampun.

__ADS_1


"Aduh, sakit Mbak."


"Bodo amat. Nyebelin bangat." Puas mencubit Pak Arif, Citra langsung terduduk, merapikan rambutnya yang acak-acakan. Di tempatnya Pak Arif masih memegangi pinggangnya yang dicubit sambil meringis kesakitan. Lama kelamaan Citra menjadi khawatir.


Ia mendekat, "Sakit bangat ya Mas? Maaf, Jena cuma AWWWW AMPUUUUN MAS AMPUUUUN." Citra tergelak diatas tempat tidur sebab Pak Arif yang hanya ekting berbalik menyerang menggelitik nya tanpa ampun. "Maaaas, udaaah Maaaas. Geliiiiiii."


Bukannya berhenti, Pak Arif malah semakin melancarkan aksinya bahkan sekarang sudah mengungkung Citra di bawahnya.


"Masssss, udaaaaaaah." Citra berusaha menghindar karena bukan hanya tangannya yang kini aktif menggerayangi nya melainkan bibirnya juga mengecup seluruh wajahnya berakhir dengan ciuman panjang keduanya yang tentu saja di dominasi Pak Arif.


***


"Mas sedang apa?" Citra menghampiri Pak Arif yang tengah duduk sambil membaca buku tebal di taman belakang. Setelah makan malam Citra membersihkan piring bekas pakai sedangkan Pak Arif ke ruang perpustakaan yang ternyata mengambil buku tebal dengan tulisan Arab gundul.


"Baca. Sini!" Pak Arif menepuk-nepuk bagian sofa yang kosong tanpa mengalihkan perhatiannya pada buku di tangannya.


Citra duduk sambil mengangkat kaki karena dingin. Ia memperhatikan suasana taman di malam hari yang terbilang terang karena sepertinya memang di setting untuk aktifitas membaca yang menjadi hobi di keluarga ini.


"Kenapa tidak pakai jaket?" Pak Arif menarik Citra dan keterpesonaannya pada suasana taman belakang itu. Ia merangkul Citra mendekat kearahnya.


"Mas,"


"Iya, Mbak Jen?"


"Tadi Ibu minta Jena untuk tinggal disini sementara sambil nungguin masuk kuliah katanya biar nggak kesepian kalau Mas pergi kerja." Ujar Citra teringat ucapan ibu mertuanya.


"Oh ya? Trus Mbak Jen bilang apa?"


"Trus Jena bilang kalau Jena terserah Mas Arif saja. Jena mah istri manut apa kata suami." Jawab Citra polos.


Mendengarnya Pak Arif tersenyum kecil, "Masya Allah, istri solehah." ucapnya sembari mencium rambut Citra.


"Emang," Jawab Citra bangga, "Jadi gimana Mas?"

__ADS_1


"Mas sudah rencana sejak lama untuk segera bawa Mbak Jen ke rumah. Bukannya tidak mau berlama-lama disini tapi supaya Mbak Jen menyesuaikan diri disana, mengenal lingkungan rumah baru. Biar bisa pilih-pilih tema rumah juga supaya bisa diisi."


Citra mendongak, "Memangnya rumahnya masih kosong?"


"Enggak.Tapi siapa tau saja Mbak Jen mau rumahnya dibuat seperti apa nanti bisa di desain baru."


"Kok Jena? Kan rumah Mas."


"Kan Mbak Jen ratunya."


Citra mengerjap. Pak Arif tak lagi membaca bukunya. Perhatiannya sudah terpusat pada Citra dan obrolan mereka.


"Mbak Jen yang akan mengatur rumah. Sejak lafadz akad terucap dari bibir Mas, semua harta kekayaan milik Mas sudah jadi tanggunjawab Mbak Jen. Termasuk kehormatan Mas juga. Jadi tolong dijaga ya Mbak Jen!?" Ujar Pak Arif serius.


Citra masih bengong. Yakali anak baru lulus SMA sudah dikasih tanggung jawab seberat itu.


"Nggak mau ah, Mas. Berat." Citra menggeleng dramatis.


"Udah tugas istri, Nduk." Pak Arif mengusap kening Citra, lalu mengecupnya.


"Emang Jena mampu?"


Pak Arif mengangguk, "Insya Allah pasti di mampukan oleh Allah."


Citra meluruskan punggung, memperbaiki posisi duduk bersila menghadap Pak Arif, melepaskan rangkulan lelaki itu. "Apartemen aja kalau gitu."


Pak Arif menggeleng, "Lebih bagus perumahan supaya punya banyak tetangga. Mbak Jen juga bisa punya halaman luas."


Citra tak menyahut tapi tak menolak gagasan itu. Ia sudah terbiasa hidup di lingkungan perumahan dimana hubungan antar tetangga masih terjalin baik jika tiba-tiba harus pindah ke apartemen pasti akan sangat sulit menyesuaikan.


Keduanya tak lagi mengobrol. Citra menikmati elusan di lengannya sedangkan Pak Arif kembali membaca buku tafsir di tangannya sambil sesekali mencium rambut Citra.


Hidup yang sebenarnya baru akan di mulai. Masa remaja yang menyenangkan kini akan berganti menjadi lebih komplek. Di umur yang segini muda, Pak Arif terus melangitkan doa agar mampu menjadi imam yang amanah dan juga tak lupa doa untuk istrinya ini agar mampu menjalani peran barunya, mengarungi ibadah terpanjang, melengkapi separuh agama mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2