
Akhirnya selesai juga urusan kerjaan Pak Arif. Saatnya Liburaaaan. Citra sudah merencanakan semuanya mulai dari tempat yang akan mereka datangi hingga apa saja yang akan mereka lakukan.
"Pokoknya ini bakalan jadi liburan yang tidak akan pernah Mas lupakan. Jena udah rencanain dengan matang dan sempurna." Citra terus berbicara sembari menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Pak Arif yang mulai terbiasa dengan kebisingan di kamar itu yang tak lain berasal dari sang istri hanya menanggapi dengan anggukan. Dirinya tengah sibuk merapikan administrasi sekolah dalam laptopnya.
"Tau nggak Mas, ini tuh tempat yang udah Jena impian dari dulu buat liburan tapi Papi dan Mama nggak ngasi izin."
Pak Arif menoleh sebentar, tersenyum kecil lalu kembali menekuri kerjaannya.
"Mas pasti nggak akan nyesel." Tambahnya bersemangat.
"Iya. Makasih ya Mbak Jen." Ujar Pak Arif sembari menutup Laptopnya. Kerjaan selesai saatnya membantu istri kesayangannya ini beberes.
"Kita mau camping?" Tanya Pak Arif saat melihat hampir semua perbekalan persis perbekalan anak pramuka yang hendak camping.
"Liat aja nanti." Jawab Citra sok rahasia. Pak Arif manggut-manggut. Ia tidak mau mengacaukan rencana istrinya yang bahkan sudah mencatat semua peralatan dalam buku agendanya.
"Ada yang bisa Mas bantu?" Pak Arif membantu Citra yang tampak kesusahan menarik resleting ranselnya karena terlalu penuh.
"Makasih, Mas. Udah selesai kok." Citra menepuk tangan sekali sembari menghembuskan nafas lega.
"Setelah ini langsung wudhu trus tidur." Ucap Pak Arif merapikan ikat rambut Citra yang hampir terlepas.
"Oke, Boss!" Jawabnya memeluk Pak Arif sebentar lalu bergegas ke kamar mandi.
Setelah berwudhu dan mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman, Citra bergabung diatas tempat tidur bersama Pak Arif yang sudah setengah berbaring menyandarkan punggungnya diatas bantal yang disusun.
"Baca apa sih Mas?" Citra mendekat, menyusup diantara ketiak Pak Arif mengintip apa yang sedang dibaca suaminya yang berbeda dengan sebelumnya. Pak Arif tidak menjawab melainkan menunjukkan sampul buku tersebut yaitu tentang rumah tangga Rasulullah.
Citra manggut-manggut setelah membacanya. Ia mencari posisi nyaman di dada Pak Arif.
"Mas, Rasulullah kan poligami ya, Mas juga bakalan ngikut sunah yang itu nggak?" Citra bertanya setelah hening beberapa saat.
Pak Arif membuka lagi lembar berikutnya, tak langsung menjawab.
"Jena nggak mau di poligami." Lanjut Citra, ngeri dengan bayangannya sendiri.
"Mbak Jen menentang poligami? Itu dari Allah loh, Mbak."
__ADS_1
Citra menghela nafas pendek, "Iya sih. Guru agama udah ngejelasin tapi tetap aja rasanya nyesek bangat nggak sih Mas liat orang yang disayang bersama orang lain."
"Mbak Jen sayang sama Mas?" Pak Arif meletakkan bukunya di nakas lalu memeluk Citra. Dagunya ia letakkan diatas kepala Citra.
"Kalau nggak sayang, Jena sekarang nggak disini dipelukan Mas Arif tapi lagi berebut remot TV sama Alul di rumah." Jawab Citra sedikit sewot mengundang tawa Pak Arif.
"Gitu ya."
"Iya. Makanya jawab yang tadi dulu biar Jena pikirin masih mau disini atau pulang ke rumah buat rebutan remot sama Alul."
Pak Arif terkekeh, sebelum menjelaskan ia memperbaiki posisi Citra agar lebih nyaman dalam dekapannya, "Mbak Jen tau nggak kalau populasi wanita di dunia ini lebih banyak dari pria?"
Citra mengangguk.
"Nah, salah satu solusinya itu Poligami supaya muslimah lain yang belum kebagian jodoh bisa tetap terjaga dengan dinikahi oleh para muslimin yang baik akidah dan akhlaknya."
"Tapi kan tetap aja sakit ngeliat suami nikahin perempuan lain." Ujar Citra masih tak Terima.
"Manusiawi Mbak Jen. Tapi seorang muslimah sejati tidak akan tega melihat saudara muslimah nya hidup tanpa perlindungan. Bisa jadi mereka akan terseret kedalam hal-hal yang dibenci Allah." terang Pak Arif hati-hati. "Sesama muslim bersaudara, Mbak Jen. Dan sebagai saudara sudah sepatutnya kita saling menjaga dalam kebaikan bahkan jika itu harus berbagi perlindungan."
Citra menggeleng, mengeratkan pelukannya pada Pak Arif, "Nggak mau. Jena nggak mau bagi-bagi Pak Arif. Jena nggak bisa--hiks."
"Jena nggak mau di poligami, hiks."
"Ya Allah, Nduk." Pak Arif langsung meraih Citra dalam dekapannya, mencium rambutnya berkali-kali. Tak tega mendengar tangisan istri kecilnya ini, "Bukan begitu maksud, Mas. Sudah, jangan menangis."
"Jena mau pulang sama Papi aja, hiks."
Pak Arif menggeleng, "Kamu tidak akan ke mana-mana. Selamanya sama Mas." Membayangkan Citra pergi dari hidupnya seperti neraka dunia bagi Pak Arif. "Ayo duduk yang bener, biar Mas jawab pertanyaan kamu." ia membantu Citra duduk dengan lurus, membantunya mengusap airmata yang membanjiri pipi bakpau nya. "Sudah nangisnya ya, dengerin Mas."
Citra mengangguk sambil sesunggukan. Kedua tangannya berada dalam genggaman Pak Arif yang menatapnya sayang.
"Mas tidak akan mendahului takdir tapi bagi Mas, Mbak Jen aja sudah sangat cukup. Mas selalu meminta sama Allah supaya dicukupkan hanya dengan adanya kamu di hidup mas begitupun sebaliknya. Poligami bukan perkara mudah. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi jika ingin melakukannya bukan hanya asal mampu materi lalu mau melakukannya. Dan Mas tidak sekalipun berpikir untuk melakukannya."
"Beneran?" Citra menatap penuh harap.
Pak Arif bukannya menjawab malah menarik Citra dalam pelukannya, "Mas bukan lelaki sempurna, Mbak Jen. Tapi percayalah, cuma kamu saja yang kuinginkan saat ini, nanti atau sampai kapanpun untuk hidup Mas. Maaf, sudah bikin Mbak Jen menangis."
__ADS_1
Citra membalas pelukan Pak Arif, "Jena bukan menentang poligami Mas, tapi Jena tau kapasitas Jena. Jena bisa jadi orang jahat jika itu terjadi."
"Shhhtttt, jangan katakan apapun lagi. Mas mau peluk Mbak Jena."
Citra mengangguk, menikmati pelukan menenangkan milik Pak Arif.
Tidak ada siapapun yang mampu memprediksi masa depan termasuk Citra. Tapi dalam solatnya yang berusaha ia lakukan se khusyuk mungkin, setiap akhir bacaan alquran nya dan di setiap waktu mustajab untuk berdoa, tak putus doanya meminta agar pelukan ini selamanya hanya akan jadi miliknya dan milik anak-anak mereka kelak.
***
"Nduk, liat HP Mas?"
Citra yang sedang memastikan kembali barang-barang mereka sebelum berangkat ke tempat tujuan menggeleng.
"Di laci nakas?"
Pak Arif menggeleng, "Sudah Mas cek tapi tidak ada." ia memastikan kembali dalam laci nakas lalu di bawah bantal tapi tidak ada.
"Kayaknya Mas nggak buka HP deh semalam." Citra berdiri dan ikut mencari di kamar tersebut.
"Astaghfirullah, lupa. Masih di tas." Pak Arif segera mengambil tas kerjanya lalu mengecek HP. Niatnya menelfon Ibu dan Ayah mengabari kalau mereka akan liburan. Kedua orangtuanya itu masih di luar kota dan akan kembali besoknya. Melihat barang-barang yang disiapkan Citra sepertinya perjalanan ini bukan hanya sehari jadi ia harus memberitahu orangtua mereka. Namun saat menyentuh layar HP, sebuah riwayat panggilan tak terjawab dari nomor tak di kenal terpampang disana. Pak Arif mengernyitkan dahi, namun saat tidak mendapat petunjuk ia memilih mengabaikannya dan menelfon Ibunya.
"Oh ya Mas, kemarin ada orang yang nyariin alamatnya Mas Rahman, emang ada ya tetangga kita namanya Mas Rahman?" Citra muncul dari kamar mandi membawa peralatan mandi yang tertinggal.
Pak Arif yang gagal menghubungi Ibunya menoleh, "Mas Rahman?"
Citra mengangguk, "Iya, nggak ada kan? Jena yakin sih itu modus aja nanyain alamat ternyata mau ngecek ada orang atau tidak biar bisa di rampok. Zaman sekarang kan modusnya banyak bangat."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Perempuan Mas masih muda, cantik. Sayang aja kalau kriminal."
Pak Arif tertegun.
"Oh ya Mas, jangan lupa bawa dompet--eh, " Dompet milik Pak Arif terjatuh dari tangan Citra, Buru-buru ia mengambilnya dan sesuatu baru saja menyapa kesadaran Citra saat melihat KTP Pak Arif yang terbuka.
"Nama Mas kan Arif Rahman--" Citra menatap Pak Arif dan KTP nya bergantian, "Mas Rahman itu maksudnya Mas Arif?"
__ADS_1
Pak Arif mengangguk, "Mungkin." Ia mengambil dompetnya lalu memasukannya di saku belakang celananya, "Udah, yuk! Nanti makin siang." Ajaknya, diikuti Citra yang tiba-tiba kepikiran siapa perempuan kemarin.
***