My Favorite You

My Favorite You
Berdua Pak Arif


__ADS_3

Citra kembali ke ruang tengah membawa nampan di atasnya ada semangkuk bubur dan segelas air putih. Gadis remaja itu menarik nafas sesaat sebelum menyapa gurunya yang tengah duduk menyandarkan kepala di sandaran sofa.


"Silahkan, Pak." Ujarnya pelan. Pak Arif langsung meluruskan punggungnya, duduk dengan benar. Terus terang saja Citra sangat ingin menghindari situasi semacam ini, terjebak berdua Pak Arif tapi semesta selalu berkhianat dengan keinginannya. Dan apa-apaan dirinya yang selalu ingin menjebak diri dalam situasi seperti ini. Hufff, Citra Jenayaaaa, lain kali jangan terlalu ngide buat ke sarang Pak Arif, Bunuh diri namanya.


"Terima kasih, Mbak Jen."


Nah, ini lagi. Entah kenapa Citra selalu merasa wajahnya menghangat setiap kali Pak Arif memanggilnya Mbak Jen, rasanya mereka seperti orang yang cukup dekat.


"Sama-sama, Pak." Citra berdiri dengan canggung. Melirik kanan kiri mencari keberadaan adiknya yang tak berjejak.


"Alul ada di taman, Mbak. Panahan." Ujar Pak Arif yang menyadari kebingungan gadis remaja di depannya. Hari ini muridnya itu tampak berbeda dari biasa nya. Selama ini tetangganya ini selalu memakai pakaian yang katanya ternyaman di dunia, hotpants dan baju kaos yang mengepas di badannya tapi sekarang gadis berambut hitam panjang itu memakai celana kulot dan baju oversize yang membuatnya tampak--Cantik, manis dan menggem-- Astagfirullah. Pak guru muda itu berdehem, mengusap wajahnya kasar. Setan-setan sudah mulai bergerilya sepertinya


"Kenapa, Pak? Nggak enak ya?" Tanya Citra melihat gelagat aneh gurunya.


Pak Arif menggeleng, "Enak." Jawabnya singkat lalu kembali makan bubur tersebut dengan sedikit terburu-buru.


"Eh, santai, Pak. Saya nggak minta kok." Citra buru-buru memberikan air putih pada Pak Arif yang tersedak bubur.


"Makasih." Pak Arif muda berujar pelan. Citra manggut-manggut, meringis memperhatikan cara makan Pak Arif yang terlalu tergesa-gesa.


Lapar bangat kali ni orang. Mau heran tapi ini Pak Arif yang kepribadiannya suka ganti-ganti tergantung cuaca.


"Duduk, Mbak."


"Ah iya." Citra yang baru sadar dirinya sejak tadi hanya berdiri langsung mengambil tempat duduk di sofa single yang cukup berjarak dari pak Arif. Kalau bisa sih sejauh kutub utara dan selatan.


"Enak ya, Pak?" Tanyanya saking tercengang nya melihat nafsu makan gurunya itu yang sama sekali tidak mengindikasikan orang sakit. Pak Arif mengangguk. 'Baguslah. Oh ya, Pak. Ini uang ojek bapak tempo hari." Citra mengeluarkan uang dari saku celananya mengingat tujuannya kenapa sampai berani menjebak diri di rumah ini karena ingin mengganti uang Pak Arif yang di pakai bayar ojek yang menghilang itu. Citra meletakkan uang sepuluh ribu selembar diatas meja. "Terima kasih ya, Pak." ucapnya hati-hati. Takut tiba-tiba Pak Arif kambuh dan melemparnya dengan piring pikirnya. Pokoknya yang ada di kepala Citra Jenaya ini hanyalah sosok Pak Arif yang seperti monster labil.


Pak Arif hanya melirik uang itu lalu melongos begitu saja ke dapur setelah menghabiskan bubur di piringnya. Citra yang sudah hafal tabiat Pak Arif yang suka mood-mood an tidak jelas bergegas ke dapur lalu merebut piring yang hendak laki-laki itu cuci.


"Saya saja, Pak. Bapak Istrahat saja sambil nonton-nonton tv."

__ADS_1


Pak Arif menjauh dari wastafel, tak langsung ke ruang TV melainkan menonton citra yang sedang mencuci piring dan gelas bekas pakainya.


"Mbak Jen bisa cuci piring?" Tanya laki-laki itu menaikkan satu alisnya sanksi.


Citra yang merasa harga dirinya sebagai perempuan yang sudah memulai karir mencuci piringnya sejak kelas tiga SD tersenyum miring, "Cuci atap rumah juga saya bisa, Pak. Bapak mau di cuciin atap rumahnya?" Tanyanya sarkas tanpa menoleh pada Pak Arif.


"Tidak perlu. Cukup menurut saja ucapan saya."


Citra mencibir, mengomel-ngomel tanpa suara memang keahliannya.


"Gimana belajar kamu? Lancar?"


"Lancar bangat, Pak. Apalagi hari ini, beuuuh nginap di sekolah juga saya mau." kata Citra berapi-api.


"Oh ya? Tumben. Biasanya kabur ke UKS."


Karena hari ini nggak ada bapak. Ujar gadis belia itu dalam hati.


"Penunggu sekolah?" Tanya Pak Arif heran.


Citra mengibaskan tangan, "Udah, Pak, nggak usah dipikirin. Mendingan bapak ke ruang tengah, duduk, ngadem, saya bikinin susu biar sehat."


"Saya harus minum obat tidak boleh minum susu." Ujar Pak Arif meninggalkan dapur diikuti oleh Citra.


"Teh hangat, mau?" Citra mengikuti gurunya itu sampai beliau benar-benar duduk.


"Tolong air hangat saja." Ujar Pak Arif menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Terlihat sangat kepayahan. Citra yang melihatnya sedikit menyesali teriakan hebohnya di sekolah mendengar guru musuh bebuyutan nya itu tidak masuk mengajar karena sakit.


"Obatnya dimana, Pak? Biar Saya ambilin sekalian." Citra menawarkan diri.


"Di kamar, diatas nakas." Jawab Pak Arif tak bertenaga.

__ADS_1


Citra menatap kearah pintu salah satu kamar yang tertutup. Ini maksudnya dia harus masuk dalam kamarnya Pak Arif, gitu? Iiiih kok ngeri ya. Kalau galaknya nular gimana?


"Kalau nggak bisa nanti saya amb---"


"Eh, bisa, Pak. Bisa." Citra menahan Pak Arif yang hendak berdiri. Ia segera berlari ke kamar tersebut lalu berhenti sejenak di depan pintu. "Ini, Pak, kamarnya?" Citra menoleh pada Pak Arif.


"Iya."


Citra mengangguk pelan. Dengan ragu di putarnya knop pintu lalu dengan perlahan pintu kamar bercat putih itu terbuka yang langsung menguarkan wangi menyenangkan yang tidak asing bagi Jenaya. Persis wanginya Pak Arif. Stop dulu! Jangan salah paham. Bukannya Citra suka mengendus-endus Pak Arif ya tapi jejak yang di tinggalkan bapak galak itu memang seperti ini, hangat dan menenangkan. Bikin betah berlama-lama.


Anggap saja Citra lancang tapi karena ini hal langka dan mungkin saja hanya akan terjadi satu kali ini seumur hidupnya, ia langsung menscan setiap sudut ruangan dan perabotan di kamar tersebut. Syukur-syukur ia bisa menemukan foto perempuan di dalam kamar ini, bisa dia jadikan gosip terbaru di sekolahnya. Atau misalnya gambar-gambar tak ramah anak dalam majalah haram kan bisa juga dijadikan senjata untuk mengancam Pak Arif. Ya walaupun tampang alim tergoda sulit, tetap saja namanya laki-laki pasti pernah lah ya ingin mengintip sedikit-sedikit. Setidaknya untuk referensi. ASTAGHFIRULLAH CITRAAAA, BURUK SEKALI PIKIRANMU, NAK! Citra memukul kepalanya sendiri guna mengusir bisikan-bisikan setan. Pak Arif meskipun kelakuan persis titisan dakjal tapi hafal sepuluh ayat terakhir Al Kahfi, bisalah ditangkis pengaruh hitam itu.


"Mbak Jen---"


"ASTAGHFIRULLAH, PAAAAAK!!!" Citra memegangi dadanya, hampir saja jantungnya melompat keluar, "JANGAN MUNCULNYA MENDADAK DONG, PAK. INI JANTUNG MANUSIA BUKAN JANTUNG PISANG KALAU DI COPOT TINGGAL DI TUMIS SANTAN." Omelnya Capslock, lupa kalau di depannya ini adalah sosok guru yang harus di gugu dan di tirunya bukan di malah di teriaki seperti maling jemuran.


"Maaf." Ujar Pak Arif berpegangan pada bingkai pintu, hanya mengedip lucu saat diteriaki oleh siswinya sendiri, "Mbak Jen ngapain? Kok lama?"


Citra yang terciduk langsung gelagapan. Terlalu detail memperhatikan setiap sudut kamar sampai lupa tujuan awalnya. Ya lagian kok punya kamar kok ya nyaman bangat, bikin betah saja deh-- EH!


"Eh, maaf, Pak." Citra buru-buru mengambil bungkusan obat diatas nakas lalu bergegas keluar melewati Pak Arif.


"Kamar saya nyaman ya Mbak?" Tanya Pak Arif mengikuti Citra yang berjalan kikuk di depan.


Citra meringis. Tanpa menoleh ia mengangguk, "Rapi, wangi juga." akunya jujur.


"Baguslah kalau Mbak Jen suka."


Lah, apa hubungannya Paaaak???! Jena menggelengkan kepala bingung. Memang sulit memahami manusia satu ini.


***

__ADS_1


__ADS_2