
"Heh! Bengong aja!"
Citra terlonjak, reflek memukul Abu dengan tumbler orange di tangannya, "Muncul kayak manusia bisa?" Geramnya pada Abu yang sudah mengagetkannya.
"Nggak bisa. Mau apa?" Tantang Abu memelet pada sahabat yang kadang karib kadang ribut itu. Citra mendengus lalu sekali lagi memukul kepala cowok tengil itu dengan tumbler mengabaikan ringisannya.
"Ngapain sih? Kayak jomblo aja." Abu duduk selonjoran di dekat Citra yang sejak tadi menatap kosong kearah ruang guru. Abu yang tadinya sedang asik main futsal penasaran dengan apa yang dilakukan sahabatnya itu. Takut kalau anak kesayangan Papi ini kesurupan penunggu pohon mangga tempat tongkorongannya para makhluk astral.
Citra mendorong Abu jauh-jauh risih dengan badan berkeringat cowok itu, "Ck. Udah ah sana, jangan ganggu." Usirnya.
Abu mengambil jarak aman, sakit juga di hantam tumbler ukuran satu liter itu berkali-kali "Pak Arif ya?" Tanyanya mengusap bahunya yang kena pukul.
"Iya."
"HEH!!"
"AAHHHH! Apaan sih teriak-teriak." Citra mengusap kupingnya yang dengungannya sampai ke ulu hati. Mulut toa Abu lama-lama bisa berbahaya juga untuk pendengarannya.
Cowok itu melotot tak percaya jawaban yang diberikan Citra "Ngapain liat-liat Pak Arif? Kebencian kamu itu sudah berubah jadi cinta? "
"DIH AMIT AMIT."
Abu mencibir, "Amit amit lama-lama jadi Aamin aamiin." Godanya membuat Citra bergidik ngeri.
"Jangan sampai ya. Jangan sampai."
"Jodoh siapa yang tau, Cit." ujar Abu mengingatkan sahabatnya itu yang masih juga keras kepala. "Lama-lama kemakan omongan tau rasa."
Citra mendelik tak senang, "Kamu ini teman macam apa sih. Doanya kok jelek bangat." Omel Citra tak senang mendengar kalimat mengerikan itu. TOLONG YA, INI PAK ARIF YANG NYEBELINNYA SUDAH RESMI JADI NAMA TENGAH.
"Doa jelek apaan. Modelan Pak Arif itu mana masuk doa jelek. Yang ada juga dia yang sial dapat cewek keras kepala macam kamu." Tukas Abu belum juga puas memukul telak mentalnya. Terlalu jujur anak manusia satu ini.
"Saya penurut ini kok." Bantah Citra tak Terima di tuduh si keras kepala. Kalau dia keras kepala, sudah sejak lama ia menghantam kepalanya ke kepala Pak Arif. Siapa tau saja Gurunya itu geger otak dan mendapatkan otak yang lebih normal dari sebelumnya.
"Penurut apaan. Seragam saja mesti diingetin setiap hari. Udah diingetin belum juga di lakuin. Gimana Pak Arif tidak kesetanan coba ketemu kamu."
"Ngomong nggak pake filter bangat sih! UDAH SANA JANGAN GANGGUIN! HUSH HUSH!" Tukas Citra sebal. Punya teman kok nggak ada yang bisa dijadikan sekutu. Ngenes amat--hiks.
__ADS_1
Bukannya pergi, Abu malah mendekat pada Citra berbisik pelan pada sahabatnya itu, "Kamu mau dengar satu rahasia tentang Pak Arif nggak?"
"Nggak. palingan bohongin saya." Tolak Citra mendorong Abu jauh-jauh.
Abu berdecak, "Serius. Sumpah Demi Tuhan."
"Bukannya Kamu Atheis ya?"
"Kamprett nih bocah. Mau dengar nggak?" Ujar Abu mulai gemas-gemas ingin cekek leher seseorang.
Citra menaikkan satu alisnya, "Ya udah apaan?" Tanyanya melipat tangan di dada seolah tak butuh info ini walaupun sebenarnya ia sangat penasaran mendengar kabar gurunya yang hari ini tidak masuk sekolah.
Seharusnya Citra tetap dengan pendiriannya, Seharusnya ia tidak perlu meladeni orang semacam Abu ini, Seharusnya ia langsung menendang Abu ke pluto sejak tadi daripada sekarang menyesal mendengar ucapannya.
"Pak Arif nggak ke sekolah, Sakit malarindu sama siswi kecintaannya Citra Jenaya."
"Si B*ngsat!"
***
"Mbak Jen sampai kapan tatap-tatapan sama pintu kayak gitu?"
Citra mengerjap, disampingnya ada alul menatapnya lelah.
"Balik aja yuk, Dek." Ujar Citra menatap adiknya memelas.
Anak kecil itu menghela nafas seolah lelah dengan kelabilan kakaknya. Dia tadi yang minta-minta diantar sekarang malah mau pulang.
"Gimana sih Mbak Jen. Katanya tadi mau jengukin Pak Arif, kok sekarang malah minta pulang. Tau gitu tadi Alul nggak mau nganterin." Omel adiknya itu.
Citra manyun. YA GIMANA DOOOONG. Tiba-tiba saja dia ragu dengan isi kepalanya sendiri. Oke, menjenguk orang sakit itu apalagi tetangga adalah hal baik tapi ini Pak Arif loh. MIKIR APASIH CIIIIT?
"Pak Arif kayaknya butuh istrahat deh, Dek. Mending kita balik aja."
Alul memutar bola matanya, "Trus bubur yang di tangan Mbak Jen itu gimana? Kalau mama nanya kenapa buburnya dibawa pulang gimana?"
Citra menghela nafas lelah, baru menyadari ada rantang kecil di tangannya titipan mama untuk tetangga mereka itu. Citra berdecak. Sepertinya ia tidak punya jalan untuk mundur sekarang.
__ADS_1
Tok tok tok.
Citra melotot horor. Adiknya baru saja mengetuk pintu dengan wajah tanpa dosa seolah adiknya itu ingin mengatakan 'Gini cara ngetok pintu, Mbak Jen.'
"Assalamu'alaikum, Mas Arif."
"HEH!" Citra makin melebarkan mata, menyenggol adiknya penuh peringatan,"Sejak kapan Pak Arif jadi mas kamu?"
"Sejak dulu. Mbak Jen aja yang nggak tau." Jawab adik durhaka itu kembali mengetuk pintu mengabaikan tatapan tajam sang kakak, "Assalamu'alaikum, Mas Arif."
Citra pasrah. Ia mundur selangkah saat tak lama seseorang membuka pintu dari dalam. Wajah kuyu itu mengerjap.
"Waalaikumsalam. Loh, Mbak Jen? Lul?"
Citra menyengir, "Hehe, Pak Arif." Sapanya kaku. Sumpah ya, muka bangun tidur Pak Arif ternyata sangat manusiawi. EH ASTAGFIRULLAH!!! Citra menggeleng kencang. Mikir apa dia tadi? haduh gawat!
"Mas Arif. Ini Mbak Jen ngajakin jengukin." Ujar mulut kecil alul yang ingin sekali Citra bungkam pake tutupan rantang di tangannya.
"Oh ya?"
Alul mengangguk, "Dibawain juga bubur, Mas." Lanjut alul yang sepertinya berencana mengacak-ngacak mukanya di hadapan Pak Arif.
"Enggak, Pak. Titipan mama." Bantah Citra. Tangannya diam-diam mencapit pinggang adiknya membuat anak itu mengaduh BERLEBIHAN.
"Oh ya? Terima kasih, sampaikan juga sama Bu Widya ucapan Terima kasih saya." Kata Pak Arif menerima rantang itu dari Citra, "Mau masuk dulu?"
"Nggak u---"
"Mau, Mas." Potong Alul cepat membuat Citra menggigit bibir gemas. Adiknya ini benar-benar--HIIIH!!! Rasanya mau di ulek-ulek mukanya sampai benyek.
"Silahkan masuk." Pak Arif mempersilahkan masuk dua tamunya itu membiarkan keduanya melewatinya lalu ia menutup pintu menatap punggung kecil yang baru melewatinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tak seperti tamu kebanyakan yang langsung di persilahkan duduk di ruang tamu, Citra dan Alul berjalan masuk hingga ke ruang keluarga. Citra sudah tahu sasaran utama Alul adalah lapangan panahan di rumah itu lalu dirinya sekarang harus apa? Citra menoleh kebelakang hampir saja bertubrukan dengan Pak Arif jika saja gurunya itu tidak langsung mengerem.
"Sini, Pak, biar Jena yang siapin. Bapak belum makan kan?" Oke Citra Jenayaaaa, mikir apa kamu sekarang? Mau bunuh diri? Iya? "Tapi kalau---"
"Terima kasih, sekalian tolong dengan air minumnya." Ujar Pak Arif menyerahkan rantang itu yang diterima Citra dengan gerakan kaku.
__ADS_1
"I-iya, Pak." Citra buru-buru berjalan menuju dapur. Berdua dengan Pak Arif suasananya benar-benar mencekam. Jantungnya sampai tidak bisa berdetak dengan normal.
***