My Favorite You

My Favorite You
Belajar Lagi


__ADS_3

"Jadi gimana, Pak Arif sama Mbaknya? Lancar kan?"


Pak Arif yang tengah menginput nilai siswa hanya tersenyum kecil mengiyakan pertanyaan Kepala sekolah yang sedang berada di ruang guru. Jam istrahat memang selalu di gunakan oleh para guru dan staf untuk beristirahat dan bertukar informasi mengenai perkembangan anak-anak didik mereka.


"Jadi kapan rencananya, Pak?" Pak Alfian muncul dengan segelas kopi dari bilik kecil tempat dispenser.


"Insya Allah saat orangnya siap." Jawab Pak Arif meninggalkan sejenak kerjaannya saat sebuah pesan singkat masuk. Senyum laki-laki itu terbit saat membaca pesan yang tertulis disana yang tak lain dari seorang Citra Jenaya.


"Gawat, Pak Arif senyum sendiri." Bu Fia selaku guru Bahasa Indonesia menggodanya. Begitupun menyusul kejahilan dari rekan-rekannya memberikan berbagai motivasi dan wejangan bagaimana menjalani sebuah hubungan serius.


"Tapi harapan saya, Pak Arif sebagai guru harus tetap memperhatikan pendidikan anak itu. Memberikan dukungan yang terbaik. Dia termasuk anak yang cerdas, sayang sekali kalau tidak melanjutkan sekolah." Ujar Kepala sekolah yang disetujui oleh guru lain kecuali satu, Bu Wahyuni.


"Kalau pikir sekolah ya harusnya jangan menikah dulu, Pak. Lagian anak remaja seperti itu pasti labil pemikirannya. Bukannya membangun rumah tangga, Pak Arif dan dia malah membangun taman bermain. " Bu Wahyuni berujar dengan nada se biasa mungkin tapi semua orang juga tahu bahwa maksud guru temannya Bu Wahdah itu tengah menyindir Pak Arif dan Citra.


"Terima kasih atas kepedulian Ibu." Ucap Pak Arif kalem. Tentu saja ia tidak akan terpancing oleh omongan seperti itu karena tidak ada gunanya memberi pengertian pada seseorang yang sudah terlanjur tak suka.


Tak lagi menanggapi komentar-komentar miring yang sudah mulai menyusul memberikan pandangan ini dan itu, Pak Arif memutuskan untuk membalas pesan yang baru masuk dari Citra.


Citra Jenaya.


Pak, bacaan niat solat tahajud gimana?


ASAP!


^^^Me^^^


^^^Jgn main HP di sekolah^^^


Citra Jenaya


Jam istrahat, Pak. Jwb dlu pertanyaan Jena.


^^^Me^^^


^^^Google ada kan?!^^^


Citra Jenaya


Nggak mau, maunya nanya sama bapak. Sekalian pengen tau, Bpk beneran ngerti agama atau cuman pencitraan doang.

__ADS_1


Pak Arif tersenyum. Lalu mengetik lagi balasan pesan Citra.


^^^Me^^^


^^^Insya Allah nanti malam di rumah. Sekalian praktek langsung. Kalau mau tau lbh banyak tunggu sampai kita nikah^^^


Citra Jenaya


DIH.


Pak Arif lagi-lagi tersenyum kecil. Ternyata seperti ini rasanya punya berteman dengan anak remaja modelan Citra. Menyenangkan. Ia meletakkan hpnya diatas meja lalu kembali meneruskan pekerjaannya.


***


Memiliki hubungan yang spesial dengan Pak Arif tak membuat Citra hilang hormat apalagi kalau dalam mode belajar seperti ini. Walaupun kadang mendumel dalam hati tetap wujud sebagai siswi beradap tetap di tunjukkan nya seperti sekarang ini ia menyiapkan teh hangat dan kudapan untuk sang guru yang malam ini datang dengan misi yang baru yaitu mengajarinya pendidikan agama sekalian mendengarkan bacaan Quran nya. Tentu saja ada Alul yang setia menemani keduanya sementara kedua orang tua Citra tengah menonton TV.


"Nggak ada kopi?" Tanya Pak Arif saat Citra meletakkan cangkir teh di depan gurunya itu.


"Ada tapi nggak boleh. Banyak kafein tidak baik untuk tubuh." jelasnya lalu kembali duduk di lantai di depan Pak Arif. Keduanya di halangi oleh meja kaca tempat Citra meletakkan teh dan kue bikinan mamanya serta sebuah buku kecil untuk menulis dan Alquran yang tengah di bacanya.


"Saya sukanya kopi." Ujar Pak Arif setelah menyeruput teh di cangkirnya.


"Iya, buat benerin bacaan kamu."


"Supaya makhrajnya nggak salah-salah, Mbak." Tambah Alul yang asik memainkan game edukasi di HP Pak Arif. Diam-diam ternyata anak itu menyimak keduanya.


"Yah padahal udah jauh bangat batasan ngajiku." Kata Citra tak bersemangat. Yang namanya turun kelas kan memang tidak enak.


"Ngaji itu bukan seberapa banyak lembarannya, Mbak Jen tapi seberapa tepat kita membacanya dan seberapa paham kita memahami isinya. Kan Salah penyebutan salah arti." Jelas Pak Arif dengan sabar. "Lagian, pokok utama dari mengaji itu adalah paham isi dan kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai adanya di lisan aja tapi tidak sampai di hati meskipun tetap, memperbanyak ngaji juga hal yang baik. Paham Mbak Jen?"


Citra mengangguk, "Paham deh, biar cepet." ujarnya menyengir tanpa dosa. "Yuk lanjut."


Keduanya kemudian melanjutkan belajar mengaji. Sesekali Pak Arif akan menghentikan Citra dan membenarkan bacaannya terkadang alul pun ikut nimbrung mengoreksi bacaan sang kakak yang membuat Citra manyun.


Pelajaran mengaji berakhir. Mereka melanjutkan sesi tanya jawab. Dimana Citra yang bertanya, Pak Arif yang menjawab. Alul yang sudah kelelahan seperti biasa akan bergelung di paha Pak Arif membuat Citra rasa-rasanya ingin menendang tubuh kecil itu dan menggantikannya. Pasti sangat nyaman makanya Alul paling betah tiduran disana.


"Nanti kalau saya nikah sama bapak, solatnya sama diimami bapak juga dong?" Tanya Citra antusias. Bacaan Pak Arif tuh bagus, apalagi pas ramadhan, pasti jadi imam pilihan karena bacaannya surat-surat pendek plus enak di dengar.


"Jangan berangan-angan. Kita jalani saja dulu." Jawab Pak Arif menandaskan isi cangkirnya. "Lebih baik baca buku ini baik-baik." Ia mengeluarkan buku kecil dari kantong bajunya, "Bukan saja solat tahajud, di dalam ada juga solat sunnah lainnya yang bisa kamu pelajari."

__ADS_1


"Katanya langsung praktek."


"Baca saja dulu. Tau teorinya, kalau sudah, prakteknya pasti gampang. Pelan-pelan saja belajarnya."


Citra manggut-manggut.


"Solat wajibnya di jaga. Kata Alul solat subuhmu selalu terlambat."


Citra berdecak. Punya adik kok ember bangat.


"Pasang alarm."


"Nggak mempan, Pak. Padahal udah volume maksimal."


"Minta sama Allah semoga dimudahkan mengerjakan ibadah."


"Oke."


"Jangan oke-oke aja. Dilakuin."


"Nggeh, Paduka Arif Rahman."


Pak Arif menggeleng sembari berdecak, " Dikasi tau malah ngeledek."


Citra menyengir lebar, "Bercanda bapaaaak. Sensi amat."


"Anak nakal."


"Emang." Citra tergelak melihat wajah masam Pak Arif. Ternyata menyenangkan juga menggoda bapak-bapak. Modelan Pak Arif ini memang harus sering-sering diajak bercanda agar hidupnya lebih berwarna, "Bersyukurlah, Pak. Bapak ketemu anak muda penuh warna seperti saya. Hidup bapak pasti akan lebih indah kedepan."


"Semoga saja. Saya takutnya malah dibikin cepat tua sama kamu. Ada saja kelakuan aneh."


"Nggak akan, Pak. Buktiin deh."


Pak Arif mengangguk, "Berarti siap ya nikah bulan depan."


"HAH? BULAN DEPAN?????"


***

__ADS_1


__ADS_2