My Favorite You

My Favorite You
TIK dan Hujan


__ADS_3

Citra berdiri dengan cuek menunggu teman-temannya yang sedang di briefing oleh Pak Arif. Tim Kimia yang telah di persiapkan dengan matang oleh Pak Arif menjadi Tim andalan sekolah pada Olimpiade kali ini. Dirinya yang hanya bagian dari tim pengisi kuota bidang TIK jelas tak perlu berusaha keras disini bahkan dia bisa mengerjakan tes sambil tutup mata atau kayang pun dipersilahkan. Istilahnya stor nama sekolah lah. Sayang sekali padahal seorang Citra Jenaya adalah salah satu siswa lima besar yang memiliki nilai tertinggi dalam pelajaran kimia hanya saja karena gurunya menyebalkan seperti gurita tetangga spongebob makanya dia harus terhempas dari posisi sebagai Tim andalan sekolah.


"Cit, rok kamu kok pendek lagi?" Lisna yang baru keluar dari ruangan kantor menemuinya sambil menyerahkan nomor sekolah dan bukti pendaftaran. "Padahal cantik loh pake yang kemarin."


"Gerah, Lis. Ini udah pas, sesuai aku bangat." jawab Citra memutar badannya. Hari ini ia kembali menggunakan rok pendek kesayangannya dan sepatu kets tinggi favoritnya. Bodo amat dengan Pak Arif atau siapapun yang berkomentar miring tentang penampilannya. Papinya bahkan no comment tentang roknya yang beberapa centi di atas lutut saat dia berangkat pagi tadi.


Lisna menghela nafas pendek. Sepertinya sama halnya Citra yang sudah malas melihat muka Pak Arif, Lisna juga sudah mulai lelah menghadapi kelabilan seorang Citra.


"Yuk, ke mobil." Ajak Lisna menggandeng Citra di susul oleh Sari dan beberapa siswa lainnya termasuk Pak Arif yang sejak bertemu Citra di gerbang depan pagi tadi diamnya membuat atmosfer di sekitarnya terasa panas panas membara.


"Pak Arif kayaknya lagi ada masalah deh." Bisik Lisna saat Pak Arif menjadi orang terakhir yang naik diatas bus yang akan mengantar mereka ke tempat lomba.


Citra yang duduk di dekat jendela mengangkat kepala melihat objek yang di maksud Lisna. Dan benar saja, Pak Arif yang biasa suka menebar senyum ramah tampak sedang menanggung beban di kepalanya.


"Deg deg an kalik,. Kalian kan mau tampil." Ujar Citra tak begitu mau peduli. Ia sudah menarik garis merah yang jelas antara dirinya dan Pak Arif, kalau pun harus pindah ke mars dia akan lakukan jika itu bisa membuat dia aman dan damai menjalani hari-harinya.


"Iya kalik ya." Gumam Lisna.


Citra melihat keluar jendela menikmati angin sepoi yang menerbangkan anak rambutnya yang tidak terikat. Hari ini ia akan buktikan pada Pak Arif atau siapapun yang melihatnya sebelah mata bahwa meskipun hanya sebagai pengisi kuota, dirinya akan melakukan yang terbaik. Kalau perlu membawa gelar pemenang di belakang namanya.


"Sebelum berangkat, kita berdoa dulu agar apa yang kita niatkan ini menjadi ibadah untuk kita semua. Berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing." Ujar Pak Arif berdiri memimpin doa.


Citra meluruskan punggung, lalu mengangkat tangan dengan khusyuk. Doanya tentu saja kemenangan untuk dirinya.


"Doa selesai." Pak Arif sekilas bertatapan dengan Citra setelah menutup doa. Gelengan kecil membuat Citra makin sebal dibuat nya. Gadis berseragam putih Abu-Abu itu balas menatap jengkel Pria berlabel gurunya tersebut.


"Jangan terlalu benci, Cit, ntar jatohnya bucin." Bisik Lisna yang langsung mendapat delikan tak Terima dari temannya itu.


"Dih!"


Lisna tergelak sembari menutup mulut menahan suaranya agar tidak menganggu orang lain.


"Saya do'ain kalian jodoh."


"AMIT AMIT YA ALLAH. JAUHKAAAAAN." Teriakan Citra memancing semua mata tertuju padanya membuat dia langsung buru-buru menunduk merendahkan badannya dibalik kursi. Sementara di sampingnya Lisna tidak lagi menahan diri untuk tertawa sepuasnya.


"Rese bangat." Omel Citra pada Lisna setelah suasana kembali tenang.

__ADS_1


Lisna menyengir, "Habisan kalian lucu sih. Bikin gemes penonton."


"GILAK!"


***


"Sudah berdoa?"


"Bapak nggak liat tadi saya angkat tangan sampe ke langit?"


"Ikhlasnya sampai ke langit nggak?"


Citra menoleh, menatap jengkel Pak Arif yang sejak tadi membuntuti nya. Bukannya mendampingi Tim Kimia, bapak guru yang satu ini malah mengekorinya kemana-mana seolah lepas sedikit saja dirinya akan menguap lalu menghilang.


"Bapak ngapain sih disini? Tim Kimia kan ada di gedung sebelah." Citra tak lagi menutup-nutupi kejengkelannya. Nada suaranya tak lagi bersahabat apalagi ramah pada sang guru. sangat tidak sopan sebenarnya tapi salah Pak Arif sendiri yang bikin dirinya selalu darah tinggi.


"Jangan urusi saya. Pikirkan saja tesnya." Jawab Pak Arif sembari mengalungkan ID card di leher gadis itu. "Sebelum melakukan apa-apa jangan lupa bismilah." Lanjutnya.


Citra mengangguk, "Udah kan?"


"Selamat berjuang." Pak Arif menepuk pelan kepala Citra dengan gulungan kertas di tangannya saat para peserta sudah bersiap masuk ke dalam ruangan. Citra yang tidak sempat membalas hanya menghentakan kaki kesal.


Citra duduk di tempat yang sudah disediakan sesuai dengan nomor registrasi. Di sampingnya ada seorang peserta laki-laki yang menatapnya ramah.


"Ahmad." Ujarnya mengulurkan tangannya.


Citra tersenyum, "Citra."


"Dari sekolah mana?"


"SMA---"


"Lomba akan segera di mulai, seluruh peserta silahkan mempersiapkan diri. "


Kalimat Citra di potong oleh pengumuman dari panitia. Meski jengkel pada Pak Arif, dia tidak lupa pesan gurunya itu untuk mengucapkan bismillah sebelum memulai mengerjakan tes.


Citra keluar dari ruangan lomba setelah sembilan puluh menit lamanya. Di luar sedang hujan ringan. Ia benar-benar menunggu sampai waktu selesai lalu setelahnya keluar ruangan. Tak ada siapapun yang dikenalnya. Citra berjalan melewati koridor sambil sesekali memeluk badannya yang kedinginan. Tujuannya adalah tempat parkir bus yang mengantar mereka keluar.

__ADS_1


"Sudah selesai?"


"Astaghfirullah, BAPAK IH!" Reflek Citra memukul bahu Pak Arif yang muncul tiba-tiba, "Kaget, Pak. Ya Allah."


Pak Arif tak bereaksi apapun. Laki-laki itu berdiri di samping Citra, memandang keluar dimana hujan turun.


"Yang lain mana, Pak?"


"Keluar jalan-jalan."


Citra menganga tak percaya, "Trus saya ditinggal sendiri gitu, Pak?"


"Ada saya."


Citra manyun, "Bapak nggak diajak."


Pak Arif menjulurkan tangan keluar, "Lapar?"


Citra memegang perutnya, "Bangat, Pak. Tapi ujan. " tanpa sadar ia berucap manja.


Pak Arif menoleh begitu pula Citra yang baru saja menyadari nada bicaranya yang tidak seharusnya.


"Maksud saya, saya lapar pak tapi nanti di rumah aja." Koreksi Citra yang sebenarnya percuma saja karena Pak Arif malah pergi meninggalkannya. "Ya ampun, jenis manusia apaan sih tu orang." ujarnya heran. "Malah ditinggal. Nggak bertanggungjawab bangat. Mana lapar lagi." Omelnya.


Tak lama berselang, Pak Arif kembali namun kali ini membawa payung di tangannya. "Ayo!"


"Ayo kemana, Pak?" Tanya Citra bingung. Nggak lucu kan kalau dia diculik sama gurunya ini.


"Makan. Katanya tadi lapar. Jalan!" Pak Arif memberi kode agar Citra merapat kebawah payung yang di pegangnya.


Dengan ragu Citra mendekat, mengatur jarak sebisa mungkin.


"Geseran. Nanti basah."


Citra menggeser badannya lagi, "Gini, Pak?" tanyanya polos.


Pak Arif berdehem. Jarak mereka sangat dekat. Tanpa kata keduanya langsung keluar koridor menembus hujan se payung berdua.

__ADS_1


Sepertinya soal TIK mempengaruhi kewarasanku, kok Pak Arif manis begini.


***


__ADS_2