
Citra mengerjakan dua puluh soal kimia yang sudah di bagikan oleh Pak Arif sebagai salah satu bahan seleksi untuk mengikuti lomba Olimpiade Kimia. Sejujurnya Citra sangat menyukai pelajaran ini apalagi cara mengajar Pak Arif cukup menyenangkan hanya saja ia tidak menyukai bagaimana Pak Arif memperlakukannya. Ia harus menjalani berbagai jenis hukuman pendisiplinan hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang seharusnya cukup dengan teguran saja. Oleh karena itu Citra menjadi lebih pendiam di kelas Pak Arif. Ia maju ke depan mengerjakan soal jika di tunjuk selebihnya Citra memilih pasif. Asal semua tugas, ulangan dikerjakannya dengan baik, ia tidak peduli aspek penilaian yang lain. Ia bahkan tidak berharap akrab dengan Pak guru muda itu seperti teman-temannya yang lain.
"Niat bangat kayaknya mau wakilin sekolah." Abu berbisik di telinganya. Temannya yang satu itu mengerjakan soal yang diberikan dengan asal karena sama sekali tak tertarik dalam lomba ini.
"Mau buktiin sama Pak Arif kalau saya itu nggak cuma bisa di hukum di kelasnya." Jawab Citra sembari terus mencoret-coret di kertas kosong. Sesekali keningnya mengerut, berpikir keras memecahkan soal-soal tersebut.
"Bagus. Saya dukung kalau begitu. Sekalian kalau nilai kamu bagus, tempelin di mukanya." Kekeh Abu mengacungkan jempol disambut Citra dengan tawa yang lebih nyaring.
"Nggak berani. Galak."
"Siapa yang galak?"
Citra tersentak, sementara Abu langsung berpura-pura mengerjakan soalnya dengan serius.
"Oh ini, Pak, soalnya galak bangat." Jawab Citra, asal. Di depannya Pak Arif mengawasi. Guru itu diam begitupun Citra menunduk semakin dalam saat Pak Arif tak juga pergi dari hadapannya.
Bagaimana bisa konsentaris bekerja kalau diawasi begitu? Citra membatin.
Tidak lama kemudian Pak Arif beranjak dari sampingnya, seperti biasa berkeliling mengecek pekerjaan siswanya. Citra melirik Pak guru tersebut dengan ekor matanya, aura membunuh Pak Arif memang sudah terekam jelas di alam bawah sadarnya. Seadem apapun mukanya, tetap saja Citra tidak bisa menepis ingatannya tentang hukuman-hukuman yang diberikan Pak Arif. Citra tidak tahu apa cuma dirinya yang memiliki perasaan seperti ini tapi hukuman yang ia dapatkan membangun tembok tak kasat mata antara dirinya dan Pak Arif. Saat teman-temannya begitu mudah bergaul dengan guru muda itu, Ia malah merasa semakin jauh. Jika teman-temannya sudah membentuk kelompok belajar dengan Pak Arif sebagai pembimbing, Ia malah tidak diajak bergabung. Citra tak masalah karena ia pun sangat meminimalisir pertemuannya dengan Pak Arif tapi sebagai siswa dan remaja biasa terkadang Ia merasa bahwa Pak Arif tidak suka siswi sepertinya. Abu dan Agus yang juga sering kena hukuman bersamanya bahkan bisa bermain futsal dengan Pak Arif di sore hari sementara dirinya,--- ah sudahlah, tak perlu ditanyakan lagi.
Bell panjang berbunyi menandakan kelas berakhir.
Citra memasukan barang-barangnya dalam tas tak lupa mengumpulkan hasil pekerjaannya di depan.
"Mau nebeng?" Lisna menghampiri. Rumah mereka memang searah tapi Citra tidak tega pada Lisna yang harus mengantarnya dulu karena rumah Lisna lebih dekat dari sekolah.
"Jangan deh. Nanti saya tunggu ojek." Tolak Citra mencanklok tas sampingnya.
"Nebeng Pak Arif aja kalau gitu. Nanti saya yang ngomong sama bapak."
Citra menggeleng cepat, "Nggak. Yang ada saya mati sebelum waktunya. Udah, nggak apa-apa. Ojek sini udah pada kenal-kenal semua kok." Ia lebih memilih jalan kaki daripada terjebak bersama Pak Arif. Hih, mengerikan.
"Saya antar kalau begitu. Sampai di rumah deh, setengah jalan." Lisna tahu Citra selalu merasa tak enak tapi ia juga tidak tega membiarkan sahabatnya itu naik ojek.
__ADS_1
"Ck, nggak usah. Makasih ya." Citra menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu agar Lisna tak begitu menghawatirkan nya, "I am okey. Serius."
Lisna mengangguk, "Ya udah." Katanya tersenyum kecil.
***
Seluruh siswa sudah membubarkan diri. Citra yang lagi-lagi harus naik ojek bergegas ke depan jalan untuk mencari ojek konvensional yang muka tukang ojeknya sudah dia kenali. Pangkalan di depan sekolahnya akan selalu ramai tapi bisa juga tidak kebagian ojek karena tak sedikit siswa yang menggunakan jasa mereka untuk pulang pergi sekolah.
"Naik ojek lagi, Citra?"
Citra lagi-lagi dibuat terkejut oleh keberadaan Pak Arif. Ia mengangguk hormat pada guru itu, "Iya, Pak."
"Pak bambang belum pulang dari kampung? "
"Belum, Pak. Permisi ya Pak." Citra langsung berlari kecil tak mau berlama-lama dengan Pak Arif. Ia semakin mempercepat langkahnya menuju pangkalan ojek saat menyadari guru yang senang sekali menghukumnya itu masih dibelakangnya mengikuti dengan motor.
"Perumahan Tri Dharma, Pak." Ujar Citra pada tukang ojek.
Citra mengangkat sedikit roknya saat naik diatas motor. Tangan kanannya memegang rok panjangnya agar tidak tergulung terali motor sedangkan tangan kirinya berpegangan di belakang. Sepanjang perjalanan Citra fokus di depan dan saat ia menoleh kebelakang, ia mendapati motor Pak Arif mengikuti ojek yang membawanya. Citra buru-buru mengalihkan pandangannya. Ia duduk dengan kaku dan untuk pertama kalinya Citra merasa perjalanan menuju rumah benar-benar jauh dan melelahkan.
Setelah perjalanan panjang nan melelahkan, akhirnya ojek itu sampai juga di depan rumahnya.
Citra melompat turun dan hampir saja terjatuh karena roknya terkait di sadel motor.
"Hati-hati, Mbak."
Citra menyengir. Ia mengeluarkan dompet dari tasnya dan langsung membelalak kaget saat tak mendapati isi dompetnya hanya dua ribu rupiah saja.
"Pak, tunggu bentar ya. Uang saya nggak cukup." Citra buru-buru memasukan kembali dompetnya dalam tas lalu bergegas masuk ke rumah untuk mengambil uang ojek.
Citra berlari masuk tanpa melepas sepatunya melewati Mamanya begitu saja.
"Salam dulu toh, Mbak Jen."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum mama." Teriak Citra sambil masuk dalam kamarnya. Ia kembali dari kamar dan tanpa sengaja pintu kamar tertutup kencang. "Maaf Maaaa." Teriaknya berlari keluar
Mama hanya geleng-geleng kepala melihat anaknya berlari kearah pinta, "Anak gadis kok nggak bisa lembut, Mbak." Gumamnya berdecak.
Sementara Citra yang baru kembali membawa uang sepuluh ribuan heran tak mendapati Ojek yang di tumpangi nya di depan pagar. "Kok nggak ada?" Hanya Pak Arif yang baru saja masuk melewati gerbang rumah. Citra lantas mencari-cari orang tersebut sampai ke ujung jalan tapi tidak menemukannya. Setelah beberapa lama mencari dan orang itu tidak muncul juga, Citra memutuskan untuk pulang.
Citra masuk dalam rumah sembari mengucapkan salam, "Assalamu'alaikum, Ma." Ia duduk di samping mama menyalami wanita panutannya itu.
"Waalaikumsalam. Kenapa lari-lari tadi?"
Citra menunjukkan uang sepuluh ribuan yang sudah lecek, "Tukang ojeknya ngilang. Jena tadi ngambil uang dan pas balik orang nya udah nggak ada."
"Oh ya?"
Citra mengangguk, "Tapi nanti besok pasti ketemu di sekolah. Bapaknya suka mangkal disana."
"Oh iya. Nanti balikin ya Mbak. Kasian."
"Iya, Ma. Jena ke kamar ya, Mah. Mau gantian, nggak nyaman bangat." Pamit Citra beranjak dari sana.
Namun sebelum benar-benar masuk dalam kamar, ucapan Mamanya membuat langkahnya terpaku di depan pintu.
"Mbak, di kulkas ada Jamu dari Budhe Lia. Bagus untuk meredakan nyeri sekaligus melancarkan haid."
"Kok budhe tau Jena lagi dapet?" Tanyanya heran. Mamanya tidak mungkin ember dong ya keliling kampung cuma mau ngabarin anak gadisnya sedang M, apaan bangat coba.
"Pak Arif bilang Mbak Jen nggak masuk kelasnya karena sakit hari pertama M. Makanya budhe bawain ini."
Citra menutup mulut tak percaya. Astaga! Pak Arif sampai laporan sama Ibunya? Citra memegang kepalanya yang tiba-tiba pening.
Nggak sekalian aja di laporin se-RT?!
***
__ADS_1