
Sabtu sore adalah hari kebebasan setiap orang yang bergelar anak sekolahan termasuk Citra yang sudah menyiapkan beberapa judul dracin yang akan menemaninya menghabiskan akhir pekan. Setelah membantu Mama mencuci pakaian, ia berleha-leha sejenak di depan TV sembari menikmati semangkuk es krim sogokan dari Pak Arif. Seperti pesan Pak Arif, Alul juga dapat jatah tapi hanya setengah mangkok karena Citra memang sedoyan itu dengan es krim.
"Mbak Jen, temani Mama yuk ke arisan?" Mama muncul dengan tampilan paripurna. Kalau Papinya lihat pasti akan jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
"Mager, Ma. Akhir pekan pengennya di rumah aja." Katanya menolak ajakan sang Mama. Lagian kalau arisan pasti lama, belum makannya, gosipnya, foto-foto nya apa lagi, beuuuh malas bangat nggak sih.
"Nggak asik ih. Teman-teman Mama banyak yang bawa anak, kamunya mageran gini."
"Ajak Alul, Ma. Doyan makan dia." Ujar Citra menyarankan agar bocil yang akhir-akhir ini makin rapat dengan Pak Arif itu meng upgrade pergaulannya supaya mainnya sama yang seumuran jangan sama bapak-bapak.
"Adik kamu mana mau ikut acara kayak beginian. Yaudah deh, Mama jalan dulu ya. Jangan lupa siapin makan malam untuk Papi dan adikmu."
Citra menghormat, "Siap komandan." ia menyalami Mamanya lalu melanjutkan acara nontonnya. Citra duduk selonjoran seperti orang yang tidak pernah susah dalam hidupnya. Lengkap semua kebahagiaannya sore ini, ada TV, ada es krim, tidak ada tugas untuk hari senin-- YESSS!!!
"Assalamu'alaikum, Mbak Jen."
Citra memutar bola matanya malas. Ia lupa yang satu ini, Alul bisa jadi masalah kalau tidak dijinakkan secepatnya.
"Mbak Jen, ada Mas Arif."
"HAH?" Citra buru-buru bangun memperbaiki posisi duduknya. Ia tidak boleh terlihat grasak grusuk di depan Pak Arif. Harus punya karakter yang berkelas biar kalau Pak Arif mau membanding-mbandingkan dirinya dengan Bu Wardah hasilnya tidak jomplang. "Mana?" tanyanya cepat mencari sosok itu dalam rumah mereka. Wajahnya langsung tak enak melihat tatapan jahil adiknya.
"Di rumahnya lah."
Sialan, kena prank. "Rghhhhhhhh!" Citra mendudukan dirinya kesal. Benar kan, Alul kalau sudah kambuh suka bikin asam lambung, asam urat, gula darah, tensi naik drastis semua. "Awas aja minta uang jajan sama Mbak."
Alul menyengir, "Kan ada Mas Arif." Ujarnya enteng seolah Pak Arif itu kantong doraemon nya yang bisa dimintai apa saja.
"Dih, Mbak laporin sama Papi."
Alul menatap kakaknya sebal, "Kenapa sih Mbak, Pak Arif aja nggak keberatan ngejajanin." terancam dapat amukan bapaknya dia kalau sampai ketahuan sering dijajanin Pak Arif. Bagaimana Pak Arif mau tidak royal kalau semua info tentang Mbaknya bebas akses.
"Nggak boleh. Pak Arif tuh nggak ada hubungan keluarga sama kita. Ngerti?"
"Kata Pak Arif, tetangga itu keluarga kita yang paling dekat." kata Alul polos.
Citra menggeleng frustasi. Agak lain memang adiknya ini, "Au ah, pokoknya nggak boleh. Keluarga yang bisa kamu mintain uang itu cuma Papi, Mama dan Mbak, Pak Arif nggak masuk hitungan." malas rasanya harus menjelaskan panjang lebar belum tentu juga anak SD ini paham konsep keluarga yang dimaksud Pak Arif.
"Jadi Pak Arif bohong?"
Citra mengurut pelipisnya, "Pak Arif nggak bohong tapi maksudnya bukan itu. Keluarga dalam artian tetangga yang bakal tolong kita duluan kalau ada apa-apa. Paham nggak? Kalau nggak paham lagi minta Pak Arif yang jelasin. Keluarga yang bisa kamu mintai uang itu yang tinggalnya serumah."
Alul duduk disamping Mbaknya merebut mangkuk es krim di pangkuan sang kakak, "Ya udah, Mbak Jen nikah aja sama Pak Arif biar kita jadi keluarga, tinggalnya serumah." ujarnya polos dengan mata berbinar penuh harapan.
"YA NGGAK GITU JUGA KONSEPNYA ADEEEEEK!!! HIIIH GEMEEES!" Citra meluruh diatas sofa, "capek bicara sama anak kecil."
__ADS_1
"Alul bukan anak kecil." Protes anak SD itu. Citra memelet.
"Emang anak kecil kok. " Godanya makin menjadi.
Alul yang tidak pernah senang di panggil anak kecil langsung berkaca-kaca, "ALUL BUKAN ANAK KECIL MBAK JENAAAA!!! "
Citra tertawa puas. Sebentar lagi adiknya ini akan menangis, dan itu adalah puncak kemenangannya. "Anak keciiiil, uluh uluuuh."
"AAAAAA MBAK JEEEEN!" Alul menangis artinya Citra pemenangan nya. Sebelum Alul mengambil remot TV dan melemparnya padanya ia bergegas melarikan diri keluar rumah.
"Kabuuuuur."
"MBAK JEEEEN!!! " Alul berlari mengejarnya membawa remot TV di tangannya. Persis sekali Tom dan Jerry yang biasa nonton berdua.
"AAANAK KEC-- AWWWWW." Citra jatuh terduduk karena menabrak badan seseorang, di belakangnya Alul yang tadinya menangis kini tertawa melihat kakaknya.
"Rasain weeeek."
Citra mengaduh, memegang keningnya.
"Coba saya lihat!" Tersangka utamanya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Pak Arif duduk jongkok di depannya memeriksa keningnya.
"Jangan dibantuin, Mas. Mbak Jen nakal." Ujar Alul.
Citra mengusap-usap keningnya, "Sakiiiit." Adunya merengek manja.
Yeeee, situ kan yang ngejegal pintu. omelnya dalam hati.
Laki-laki dewasa itu mendekat untuk melihat lebih jelas kening Citra, "Coba lihat."
Citra menjauhkan tangannya menunjukkan kening yang tadi entah menabrak bagian mananya Pak Arif sampai sakit begini. Dadanya keras bangat, gilaaak. Citra diam-diam menelisik perawakan gurunya itu. Siapa yang menduga di balik balutan seragam khakinya Pak Arif menyembunyikan dada kokoh sandarable nya. Sluuurppp.
"Tidak apa-apa, Mbak Jen." Pak Arif meniup kening Citra yang sebenarnya tidak meninggalkan jejak memar sedikitpun. "Lul, bantuin Mbak Jen." ujarnya pada Alul yang sejak tadi bertransformasi menjadi patung lilin.
"Nggak mau. Mbak Jen harus minta maaf dulu dan bilang kalau Alul bukan anak kecil. " Tolak Alul menuntut keadilan akan harga dirinya sebagai lelaki sejati.
"Citra Jenayaa--" tegur Pak Arif melihat Citra yang malah memelet ke adiknya.
"Apasih Pak Arif Rahmaaaan" Balas Citra dengan muka dongkol nya. Catat ya, dia masih mode ngambek gara-gara foto tidak jelas itu.
"Yang dewasa yang ngalah, Lul." Ujar Pak Arif menoleh pada Alul yang langsung menyengir lebar. Ia langsung membantu Citra berdiri sedangkan Citra matanya hampir keluar dari kelopaknya tak terima ucapan Pak Arif.
"Bilang apa Mbak Jen?" Goda Alul puas melihat wajah kusut kakaknya.
"Makasih." Ujar Citra ketus lalu berbalik masuk dalam rumah meninggalkan dua Sekutu itu.
__ADS_1
"Bapak mau ngapain?" Tanyanya saat sadar Pak Arif ikut masuk dalam rumah.
"Ambil buku kimia mu!"
Citra menoleh cepat, "BUAT APAAN?!" Tidak santai sama sekali. Jangan bilang di rumah pun ia harus setor catatan. Apaan bangat nasibnya.
"Belajarlah.Kemarin kamu ketinggalan satu materi penting."
"Salah bapak, siapa suruh saya di larang masuk."
"Itu aturan untuk setiap siswa yang tidak disiplin dengan tiga kesalahan berulang." Jelas Pak Arif santai. Diantara mereka ada Alul yang sama sekali tidak peduli dengan perdebatan antara guru dan siswinya itu.
"Saya lupa bawa catatan juga karena bapak." Keukeh Citra.
Pak Arif duduk di sofa ruang TV disamping Alul. "Hubungannya dengan saya apa?"
"Semalaman saya kepikiran ucapan bapak sampe lupa siapin alat sekolah."
"Kepikiran kenapa? Kurang jelas ucapan saya?"
Citra bertolak pinggang, "Saking jelasnya saya sampe merinding Pak, nggak bisa tidur. Deg degan terus bawaannya. Muka saya juga panas, Pak." Terangnya terlalu jelas mendeskripsikan malamnya yang sedang jatuh cinta.
Pak Arif tersenyum tipis, menatap Citra dengan mata beningnya, "Begitu ya?"
"Iya. Trus ini---" Citra mengotak atik hpnya, "APA INI?" menunjukkan layar hpnya menampilkan foto di instagram Pak Arif, "Mau pamer?"
Pak Arif menggaruk pelipisnya, " Nanti saya hapus."
"SEKARANG!"
"Saya tidak bawa hp."
"Nggak mau tau, pokoknya sekarang."
Pak Arif angkat tangan, "Oke. Selain itu apalagi supaya Mbak Jen ini bisa manis lagi ngomongnya?"
Citra menurunkan tangannya, menahan ekspresi nya agar tetap terlihat garang meskipun wajahnya sudah sakit menahan senyum. "Kalau salah harusnya ngomong apa? Bapak kan guru, harusnya lebih tau dong." katanya menurunkan volume suaranya.
Pak Arif mengangguk, Laki-laki berperawakan sedang itu berdiri di hadapan Citra lalu berkata lembut, "Mbak Jen, Mas Arif minta maaf ya karena sudah membuat Mbak Jen susah tidur sebab memikirkan saya dan karena sudah bikin Mbak Jen cemburu." senyum manis tak lupa mengakhiri kalimatnya.
Citra mengalihkan wajah kearah lain, "Yaudah." Gumamnya lirih. Wajahnya tak bisa lagi menahan untuk tidak tersenyum.
"Nah gitu dong. Senyum, Mbak Jennya Mas Arif."
"BAPAK IIIIIIIH!!!! "
__ADS_1
***