My Favorite You

My Favorite You
Rumah Mertua


__ADS_3

Sehari semalam berada di hotel ternyata tak sia-sia untuk Pak Arif dan Citra. Keduanya menjadi semakin dekat dan menambah pengetahuan mengenai kebiasaan-kebiasaan kecil misalnya Pak Arif kalau tidur gantengnya nambaaaaaaaah. Citra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat menahan diri untuk tidak teriak brutal melihat wajah malaikat Pak Arif yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Gantengnya nggak kalem. Teduh bangat suami oraaang. Huhuuuu suamikuuuuu." Citra bermonolog sembari menatap wajah itu dengan tatapan memuja. Ia jadi heran sendiri kenapa selama ini tidak menyadari pesona guru kimianya tersebut dan malah jadi bucinnya Pak Alvian padahal sekarang kalau diliat-liat Pak Alvian kalah jauh dari gurunya yang satu ini. Hebat, lafadz akad tidak main-main menggetarkan hati seorang Citra. Ya gimana, Arsy aja bergetar apalagi seorang Citra yang hatinya mudah bergetar kalau sudah disayang-sayang seperti ini.


"Ganteng ya Mbak suaminya?"


"Banget, EH!!!" Citra terkejut, memundurkan kepalanya namun tidak bisa, satu tangan Pak Arif menahan tengkuknya. Lelaki itu tersenyum tipis dengan tatapan mengunci.


"Ba--bapak udah bangun?"


Bukannya menjawab, Pak Arif malah makin menarik tengkuk Citra membuat wajah keduanya makin dekat. Hidung minimalis Citra bakan sudah menyentuh hidung perosotan itu, berbagi udara yang tiba-tiba menipis.


"Mas, Mbak Jen." Ujarnya dengan suara berat yang lirih di telinga Citra.


Citra menelan saliva susah payah. Kedekatan mereka sejauh ini, sudah ini yang paling membuat dada Citra seperti kehilangan pasokan udara. Isi kepalanya bahkan kehilangan kemampuan berpikir, yang terdengar hanya suara berat itu.


"Mm--Mas." Lirih Citra mengikuti. Citra masih sempat melihat senyum miring menyesatkan milik Pak Arif sebelum kemudian matanya kehilangan kemapuan melihat sebab mereka kini yang tak berjarak. Citra membeku, merasakan sebuah sapuan hangat dan lembab di bibirnya. Lembut mulanya sebelum kemudian bagian lembut itu menjadi semakin menuntut dan dalam. Citra tahu ini yang disebut ciuman ta--tapiiiiiii BUKANNYA PAK ARIF LELAKI ALIM SOLEH BIN MASYA ALLAH YA KOK LIDAHNYA NYEDOOOT????!!!HUAAAAAAAAW!!!


***


Citra tak membuka suara sepanjang perjalanan pulang dari hotel sampai rumah Pak Arif. Bahkan saat mereka di rumah Citra untuk mengambil beberapa barang keperluannya dan membagikan belanjaan kemarin, Citra masih setia bungkam. Setelah ciuman yang cukup lama dan menguras pasokan udara di kamar hotel tadi, gadis itu seperti kehilangan separuh dari kesadarannya. Pak Arif yang menyadari bahwa Citra syok pun tak melakukan apa-apa. Bersikap seolah hal itu bukanlah apa-apa, seolah merupakan hal biasa menyed*t lidah seorang peraw*n, HIKS.


"Kenapa, Nduk, sakit?"


Citra yang sedang menemani Ibu mertuanya nonton dan yang sebenarnya hanya raganya disana sedang kepalanya zonk, menoleh lalu menggeleng pelan. "Jena nggak apa-apa, Bu." ujarnya pelan. Ibu tersenyum kecil pada menantunya itu, mengusap kepalanya lembut. Sepertinya bahasa cinta keluarga Pak Arif ini mengusap rambut. Memang nyaman sih, bikin ngantuk juga.


"Nggak nyesel kan nikah sama Mas?" Tanyanya lembut.


Citra menggeleng, "Nggak, Bu. Mas Arif baik memperlakukan Jena." Kecuali sore tadi, agak brutal dan bikin dada seperti genderang perang. Itu juga yang bikin Citra jadi gagal fokus sesorean ini. Untung saja ada kegiatan di mesjid jadi dia tidak perlu menghadapi wajah kalem yang diam-diam menghayutkan itu.


"Alhamdulillah. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk cerita sama Ibu atau Ayah karena selain dirinya dan Allah, kami lah yang cukup baik mengenalnya."


"Iya, Bu. Jena bakal cerita sama Ibu atau Ayah kalau Pak Arif nya nakal." Jawab Citra tersenyum lebar disambut senyum yang sama oleh Ibu mertuanya. Tentu saja ia tidak akan menceritakan bagaimana putra kebanggaan mereka itu mengambil ciuman pertamanya dengan tidak ramah anak.

__ADS_1


"Oh ya, sebelum mulai kuliah, Mbak Jen mau nggak disini aja dulu? Nanti aja pindahnya kalau sudah kuliah. Takutnya Mbak Jen kesepian kalau Masnya kerja."


"Jena mau aja, Bu, apalagi dekat rumah Papi juga tapi semuanya terserah Mas Arif. Jena ikut gimana maunya Mas Arif." Jawabnya diplomatis. Sebagai seorang istri, meskipun pemula ia tahu setiap tindak tanduknya harus atas izin suami sekarang termasuk izin tinggal.


"Masya Allah, nggak salah pilih Masmu." Ibu menepuk-nepuk punggung tangan Citra penuh kasih. Tatapannya jelas menunjukan rasa puas karena menantunya manut suami.


Citra menyengir kaku. Setahunya ini adalah ilmu dasar berumah tangga dimana suami adalah pemimpinnya. "Bu, kalau Jena keliru atau salah, tolong diingetin ya. Jena masih baru soal rumah tangga. Ini juga hasil belajar dari google." akunya jujur. Gambaran-gambaran mertua galak jelas sudah hilir mudik di kepalanya tapi ia yakin kedua orangtua Pak Arif adalah orang-orang bijaksana terlihat dari hasil didikan mereka pada Pak Arif.


"Pasti. Ibu, Ayah, kedua orangtua Mbak Jen, siap membantu kalian." Ujar Ibu.


Keduanya melanjutkan obrolan dengan topik-topik ringan. Kebanyakan tentang Pak Arif yang tidak diketahui oleh Citra. Ibu dengan senang hati membongkar aib sang putra di depan istrinya yang kini tertawa renyah sembari memegangi perutnya yang kram karena capek tertawa.


"Asik bangat sampai nggak denger salam." Ayah Pak Arif muncul di susul Pak Arif membuat dua wanita beda generasi itu berhenti tertawa.


"Waalaikumsalam, udah selesai acaranya?" Ibu menyalami Ayah diikuti Citra. Hal yang sama dilakukan oleh Pak Arif, menyalami Ibunya lalu kemudian pada Citra yang tak berani mengangkat wajah hanya mengambil tangannya dan menciumnya khidmat. Citra pikir sampai disana saja salam-salamannya tapi ternyata Pak Arif belum selesai, lelaki yang mengenakan baju koko putih itu menarik lembut kepala Citra dan menyarangkan kecupan di keningnya.


"Sudah makan?" Tanyanya lembut masih dengan bibir di dekat kening Citra. Citra yang sadar situasi melirik kearah mertuanya, wajahnya langsung memerah melihat orangtua Pak Arif tersenyum menatap mereka.


"Langsung makan yuk. Nanti lagi sayang-sayangannya." Ajak Ibu memecah keheningan yang sebenarnya malah semakin membuat Citra makin ingin menenggelamkan diri dalam toples kue. Pak Arif yang entah urat malunya tertinggal di kamar mandi hotel atau terselip di bawah bantal hotel bukannya menjauh malah merangkulnya berjalan menuju dapur.


"Sopnya Mbah Jen yang buat loh." Jena yang membantu menata piring menoleh pada Ibu mertuanya yang sedang menghidangkan Sop dan lauk pauk lain.


"Waaaah pasti enak. Makasih ya Nduk." Ayah nampak berbinar menatap sop bening itu sementara Citra, ia menyengir sebab is hanya bantu mengupas bawang saja tadi. Semua masakan ini hasil karya Ibu Mertua. Bukannya Jena tidak tau masak tapi Ibu mertuanya punya skill memasak yang super cepat berbeda dengan dirinya yang kerja seperti kecepatan siput. Kata Mama dan Papinya biar lambat asal matang.


"Cuma bantuin ngupas bawang, Yah." Ujar Citra dengan kepala menunduk sebab Pak Arif tak berhenti menatapnya. Mungkin ia harus menutup mata suaminya itu dengan daun bayam.


"Mbak Jen bantuin banyak kok. " Ibu menyela. Ia menatap Citra full senyum. Citra yang tidak bisa mendebat hanya menyengir. Mau gimana lagi, resiko punya mertua baik.


Setelah menyiapkan semuanya, mereka lanjut makan. Tidak ada yang bersuara di meja makan. Semua menikmati makanan dalam diam. Citra yang terbiasa dengan keramaian di meja makan di rumahnya berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi apapun. Keluarga di rumah ini sepertinya jarang menggunakan sendok makan oleh nya itu suara denting sendok beradu dengan piring tidak kedengaran sama sekali. Hanya Sop yang di tambahkan di piring masing-masing yang memakai sendok. Untuk sesaat ia teringat Alul yang selalu mendapat teguran dari Papi karena menjadikan berbagai alat dapur sebagai alat musik setiap menanti waktu makan. Rasanya berbeda, tapi tak apa, sekarang ia menambah keluarga, ada Pak Arif, Ibu dan Ayah.


***


Citra kembali ke kamar setelah membantu Ibu membereskan alat makan. Ia baru berbalik setelah menutup pintu saat seseorang memerangkap nya dan memojokkan di belakang pintu.

__ADS_1


"Lama." Ujar suara berat itu.


Citra yang hampir stop jantung menatap tak percaya lelaki di depannya ini. Pak Arif dengan gagahnya menjulang menutup akses jalannya. Guru yang kata teman-temannya begitu bijaksana alim, putih, bersih, tak ternoda itu kini memojokkan seorang gadis kecil di ruangan sepi dengan penampilan yang--- HOT. Kira-kira teman-temannya akan mengatakan apa melihat modelan Pak Arif yang seperti ini? Apakah gelar badboy yang diinginkan semua gadis muda akan menjadi label barunya?


"Jangan ngalangin jalan dong, Pak. Sesak nih." Citra memberanikan diri mendorong dada lelaki itu namun gagal. Pak Arif bukannya menjauh malah mempersempit jarak.


"Mas, Mbak Jen." Pak Arif bersuara di dekat telinga Citra.


Citra yang kembali di serang panik memalingkan wajah, tak sanggup menatap jakun yang naik turun itu, "Mas jauhan dikit." cicitnya. Telapak tangannya menahan dada bidang itu.


"Sayang dulu Masnya."


Citra mengangkat wajah, membalas tatapan Pak Arif. "Sayang gimana? Ini udah sayang."


Pak Arif terkekeh melihat wajah polos Citra. Sebenarnya apa sedang coba ia lakukan pada mantan siswi bandelnya ini. Ia menurunkan wajah lalu mengecup pipi Citra. "Gitu."


Citra membeku sesaat karena ciuman ringan itu.


"Gitu aja?"


"Mau lebih?"


Citra mendengus. Ia lantas menarik wajah Pak Arif dan mencium pipinya. "Udah tuh."


Pak Arif tersenyum kecil lalu tanpa kata ia menarik Citra membawanya keatas ranjang membuat gadis itu terpekik.


"Mas lebih suka yang kayak di hotel." Kalimat itu membuat Citra hanya bisa pasrah. Bagaimanapun dirinya kini milik Pak Arif. Mau disedot setiap hari juga dia bisa apa selain menikmati.


***


Aku kembaliiiii 🤣


Lama ya liburnyaaaaaa

__ADS_1


__ADS_2