My Favorite You

My Favorite You
Suami Mbak Jena


__ADS_3

Pagi-pagi di meja makan, bukannya menikmati sarapan dengan damai, Citra duduk seperti pesakitan yang sedang disidang karena telah berbuat kejahatan besar. Papi dan Mamanya tak putus menceramahinya karena sudah membuat panik satu rumah dengan teriakan nyaringnya menuduh suaminya sendiri sebagai penyusup.


"Gimana toh Mbak, suami sendiri diteriaki penyusup. Untung aja nggak kedengaran warga. Bisa di arak masa Mas Arif nya di tuduh udah mau jahatin anak gadis orang." Papi menggeleng tak percaya dengan kelakuan ajaib sang putri.


"Maaf, Pi." Cicit Citra menunduk dengan kedua tangan bertaut. Di sampingnya Pak Arif duduk menikmati sarapannya sambil sesekali mengusap rambut istrinya itu memberi kekuatan. Ia sudah mengatakan pada mertuanya bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan karena wajar saja Citra kaget, belum terbiasa dengan keberadaannya. Tapi ya namanya juga Papi kalau bukan menjahit ya hobinya marah-marah seperti ini.


"Dibiasain, Mbak. Sebelum tidur di tatap dulu suaminya, supaya pas bangun nggak kaget." Tambah Mamanya terkikik geli mengingat kehebohan tadi pagi yang membuat Alul sampai berlari keluar dari kamar mandi tanpa sehelai pakaian pun saking paniknya. Untung sudah tidak ada tamu lain yang menginap jadi anak SD itu tidak perlu menanggung malu karena hal memalukan itu.


"Iya nih, Mbak Jen. Alul sampe panik, lupa pake handuk." Ujar Alul ikut nimbrung masih kesal karena harga dirinya tercoreng di muka kakak iparnya.


"Maaf, Ma, Dek."


"Minta maafnya sama Mas Arif." Ujar Papi.


Citra menoleh dengan takut-takut pada sang suami, "Maafin Jena ya Mas." ujarnya tulus dengan wajah memelas.


Pak Arif mengangguk, "Tidak apa-apa." katanya tersenyum kecil sambil mengusap rambut Citra lembut. "Sekarang habiskan makanannya."


Citra mengangguk, lalu mulai sarapan, ditemani obrolan keluarganya dengan Pak Arif yang membahas rencana-rencana kedepannya.


***


"Mas Arif mau kemana?" Citra menutup pintu di belakangnya, ia baru saja mencuci piring kembali ke kamar untuk mandi sore dan mendapati Pak Arif sudah siap dengan baju kemeja kotak-kotak yang digulung lengannya sampai siku.Jangan salah paham dengan baju kotak-kotak yang terkesan biasa itu karena harganya ternyata bisa dipakai untuk hidup anak kos selama sebulan.


"Mau ajak Mbak Jen jalan. Siap-siap sekarang."


"Jalan kemana?" Bukannya bersiap-siap, Citra malah menarik kursi belajarnya lalu duduk memperhatikan Pak Arif yang sedang merapikan rambutnya dengan gel. Ganteng. Wangi. Kaya. Tiga kata mendeskripsikan sosok guru yang kini sudah mendapatkan status baru sebagai suaminya.


Pak Arif menoleh, "Kenapa lihatin Mas?"


Citra menggeleng, "Nggak nyangka aja Pak guru yang suka nge hukum Jen tanpa keadilan sekarang malah jadi suami."


Pak Arif terkekeh, "Kamu bandel. Makanya sering dapat hukuman."


"Enggak.Jena nggak bandel sama sekali. Mas Arif aja kayaknya emang nggak suka Jen. " Kata Citra menolak ucapan Pak Arif yang mengatakan dirinya bandel.


"Kalau Mas nggak suka, Mas tidak disini sekarang." Jawab Pak Arif mendekati Jenaya, merangkum wajahnya, "melihat siswi bandel Mas dengan bando kelincinya."


"Ini bukan kelinci tapi koala." Protes Citra menepis tangan Pak Arif yang mengunyel-ngunyel pipi chubby nya gemas. "Sakiiiiit" Rengeknya manja.

__ADS_1


Pak Arif tergelak gemas, "Ini yang bikin Mas langsung nikahin."


"Kenapa emang?"


"Biar bisa ngerasain nguyel pipi kamu tanpa takut dosa. Kayak bakpao."


"Bapak Ihhh!!!" Citra mendorong badan Pak Arif, kesal karena dibilang chubby. Bukan kah itu artinya dia gemukan? Haduh, masa harus diet lagi sih.


Pak Arif masih disisa-sisa tawanya, terdorong kebelakang dengan sengaja karena kekuatan Citra itu seperti kekuatan semut.


"Jena marah." Citra melipat tangan membelakangi Pak Arif dengan wajah di tekuk. Sengaja, biar dibujuk.


Pak Arif mendekat, memegang bahu belakang Citra dengan kedua tangannya, "Wah, Mas dalam masalah besar ini kalau Mbak Jen nya marah." dikecup nya puncak kepala Jena yang tidak terhalang bando yang katanya kuping koala itu.


"Makanya jangan nyebelin."


"Iya, Maafin Mas Arif ya Mbak Jen." Pak Arif merendahkan badannya, mengecup pipi Citra yang mengembung lucu membuat si empunya tersentak. "Ayo jalan-jalan. Mas tunggu diluar." ujarnya mengusap pipi bekas bibirnya itu lalu pergi keluar kamar meninggalkan korbannya, tidak sadar diri sudah membuat anak gadis Papi diserang penyakit jantung kronis.


Pak Arif reseeeeeee!!! Citra membekap mulutnya sendiri yang ingin berteriak malu. Meredakan panas yang menjalar di pipinya, ia mengipas-ngipasi wajahnya dengan kedua tangan. Ya Ampuuuuun, Papiiiiiii tolongin Jenaaaa, Pak Arif nakutiiiin.


***


"Mas, ini banyak bangat." Citra menatap tas belanjaan dengan merek-merek tertentu yang berjajar di dekat mobil siap dimasukan di bagasi dan jok belakang oleh pegawai toko.


"Kan ada barang Mas, Alul, Mama, Papi, Ayah dan Ibu juga." ujar Pak Arif membuka pintu mobil untuk Citra. Setelah ini mereka akan pergi makan malam.


"Tapi punya Jena kebanyakan." Protes Citra karena keluarganya itu hanya satu tas saja sedangkan sisanya untuk dirinya semua.


Pak Arif menunduk memasangkannya seatbelt membuat Citra reflek memundurkan kepala, terlalu dekat, jantung tidak aman.


"Nggak banyak itu." Kata laki-laki itu menarik diri keluar lalu menutup pintu. Ia menghampiri pegawai toko untuk mengucapkan Terima kasih dan memberi sedikit tip mengabaikan Citra yang lagi-lagi harus pasrah dihujani dengan begitu banyak barang oleh Pak Arif.


"Nggak takut uangnya habis apah." Omel Citra seorang diri.


Pak Arif masuk mobil, melirik Citra sesaat, "Solat maghrib dulu setelah itu kita cari makan."


"Terserah." Jawab Citra sebal. Ia jadi kesal pada Pak Arif yang mengabaikan pendapatnya.


Pak Arif tak jadi menyalakan mesin mobil. Ia menoleh sepenuhnya pada Citra, "Marah lagi sama Mas?" tanyanya lembut.

__ADS_1


"Tau ah. Mas nyebelin. Nggak dengerin pendapat Jen." Citra enggan menoleh pada Pak Arif. Wajahnya lurus kedepan.


"Jangan gini. Memangnya Jen maunya gimana?" Bujuk Pak Arif, meraih tangan Citra.


Citra menoleh, menunjuk barang-barang di belakangnya, "Banyak bangat. Boros. Kata Papi yang boros itu temannya setan. Jen nggak mau temenan sama setan."


Pak Arif melirik ke tas-tas belanjaan yang memenuhi jok belakang mobil, "Itu hadiah dari Mas. Sama sekali tidak boros karena semua kebutuhanmu."


"Kebutuhan Jen nggak banyak. Jen nggak suka belanjaan-belanjaan gini."


Pak Arif mengangguk, "Mas paham. Tapi Jen sekarang sudah pakai kerudung. Pakaian-pakaian yang ada di lemari Mbak Jen tidak bisa dipakai keluar lagi kan? Sekarang Mas beliin yang baru supaya bisa ganti yang ada di lemari." jelasnya sabar. "Mas lihat lemari Jen penuh tapi yang dipake keluar yang ini ini aja." lanjutnya menunjuk pakaian yang Citra pakai.


Citra memperhatikan pakaian. Baru sadar kalau ternyata dirinya memang tidak punya pakaian untuk dirinya yang kini sudah berjilbab.


"Mas perhatiin?" Tanyanya, nada suaranya mulai terdengar lembut.


Pak Arif mengangguk, "kewajiban Mas untuk memenuhi kebutuhamu."


Citra jadi menyesal sekarang. Memang otaknya sekarang sudah pendek sumbunya makanya agak loading.


"Makasih ya Mas. Maaf udah marah-marah tadi."


Pak Arif mengangguk, "Jangan marah lagi."


"Nggak akan marah lagi." Janji Citra mengangkat tangannya.


Pak Arif mengusap puncak kepala Citra "Semoga ya." Ia menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas meninggalkan toko tersebut.


"Jena mau makan yang dipinggiran jalan."


"Malam ini ikut maunya Mas dulu ya." Pak Arif tak menoleh saat mengucapkannya.


"Memangnya maunya Mas dimana?"


"Hotel."


"ASTAGHFIRULLAH."


***

__ADS_1


__ADS_2