
Citra menghabiskan waktu antara maghrib dan Isya dengan membaca Al-Quran. Walaupun terbata-bata ia tetap berusaha konsisten melakukannya terlebih egonya sebagai manusia biasa terkadang di babat habis oleh Alul yang bacaannya lebih lancar dari dirinya. Salahkan dirinya yang malas-malasan belajar saat semua anak di lingkungannya rajin ke mushola untuk belajar baca tulis al Quran.
Tok tok tok...
"Mbak Jen--"
Citra menoleh, Alul masuk ke dalam kamarnya dengan senyum lebar.
"Makan bakso yuk, Mbak!"
"Dimana? Bukannya Mang Ujan lagi pulang kampung ya?" Tanyanya sambil meletakkan pembatas Al Quran dibatas bacaannya malam ini.
"Di warung depan. Ada yang baru di ujung jalan. Ayo, Mbak!" Alul menarik tangan kakaknya yang malas-malasan berdiri. Mood Citra belum membaik sejak dapat perlakuan dingin dari tetangga depan mereka.
"Malas, Dek. Kamu aja gih! Ajak Mama dan Papi. Buat aku di bungkusin aja." Tolak Citra sembari melepas mukena nnya. Maunya sekarang adalah dia tidur dan besok pagi ia lupa semuanya. Capek juga memikirkan perasaan orang lain.
"Nggak enak, Mbak, kalau dibungkus. Lagian Papi Mama mana mau jalan kaki cuma untuk ngebakso. Ayolah, Mbak."
Citra berdecak. Tak tega juga melihat Adiknya memohon seperti ini. "Oke. Mbak ambil jaket dulu." ia menuju lemari, membuka bagian tempat menyimpan jaket. Sayangnya dalam lemari jaket bersih yang ada hanya punya Pak Arif yang belum sempat di kembalikan. Gak ada pilihan, mengambil jaket tersebut berharap pemiliknya tidak melihatnya.
"Ayo, Mbak!"
"Sabaaaar." Citra keluar kamar sambil menarik keatas resleting jaketnya. "Ayo!" Ia mengangkat kepala dan cukup terkejut mendapati Pak Arif ada di ruang tamu bersama Papinya.
"Ini Mbak Jen, Mas Arif. Ayo jalan." Alul menghampiri Pak Arif, menarik tangan guru kakaknya itu.
"Titip anak-anak ya, Mas Arif." Ujar Papi mengantar mereka keluar rumah sedangkan Citra yang baru sadar dari kebekuan nya menyusul dalam diam.
"Iya, Pak. Kami jalan dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Alul mencium tangan Papinya di susul Citra. Gadis itu masih diam seribu bahasa. Ia masih menerka-nerka alasan Pak Arif melakukan ini. Bukannya tadi bahkan menegur pun tidak mau ya? Kok sekarang malah mau temani keluar?!
Citra mengikuti dua lelaki beda generasi itu dalam diam. Keduanya asik bercerita sedangkan Citra akhirnya memilih menyumbat telinganya dengan headset.
"Jaketnya cocok."
"Gimana, Pak?" Citra menarik salah satu headsetnya saat Pak Arif melambatkan langkahnya untuk mensejajarinya.
"Jaketnya cocok sama kamu." Ulang Pak Arif sama sekali tidak menatap Citra.
Citra melihat jaket yang dikenakannya, "Cuma ini yang ada di lemari. Punya Bapak. Bapak mau ambil?" Tanyanya sambil mengangkat tangan hendak menurunkan resleting jaket tersebut namun dicegah oleh Pak Arif.
"Jangan di lepas. Dingin."
Citra mengangguk. Entah kenapa ia kembali pada saat-saat merasa sungkan berada di dekat Pak Arif padahal beberapa hari belakangan ini ia sudah bisa bersikap santai bahkan marah pada laki-laki di sampingnya ini. Efek sikap dingin Pak Arif sore tadi ternyata cukup mempengaruhinya.
"Bapak tidak sibuk? Kok mau-mau aja diajak Alul?"
"Saya yang ajak Alul-- dan kamu." Ujar Pak Arif. Mereka sudah hampir sampai di tempat tujuan, "Kita perlu bicara."
__ADS_1
"Tentang apa, Pak?" Citra berhenti begitupun Pak Arif. Tampak sekali kebingungan di wajah Citra. Di ajak makan bakso hanya untuk bicara? Apa iniiii?
"Nanti saja di dalam. Kasian Alul sudah lapar." Kata Pak Arif memimpin jalan. Di belakangnya Citra mengikut sembari memikirkan kira-kira apa yang ingin dibicarakan oleh gurunya ini. Apa ada hubungannya dengan sikap dinginnya tadi?
"Tiga mangkok bakso mawar ya Bang." Alul si paling antusias langsung memesan. Suasana di warung baru itu cukup ramai lancar. Pak Arif mencari tempat duduk yang berada di pojokan agar tidak banyak orang yang berlalu lalang saat mereka makan. Setiap meja terdiri dari empat kursi. Citra duduk sendiri sedangkan Pak Arif duduk tepat di depannya dan Alul duduk disamping Pak Arif.
"Gimana, Lul? Nyaman?" Tanya Pak Arif mengacak rambut Alul.
"Nyaman, Mas. Tidak banyak asap." Ujar anak itu menyengir senang.
"Lain kali ngajaknya yang jelas ya Dek, Adek atau Pak Arif yang ajak, harus di perjelas." Kata Citra yang merasa dijebak oleh dua lelaki ini. Kedekatan Alul dan Pak Arif sungguh sangat mengkhawatirkan. Hari ini hanya di suap bakso saja Alul berhasil membawanya keluar, jangan-jangan kelak cukup dikasi stiker saja Alul langsung memberi restu Pak Arif untuk menikahinya. Kalau benar terjadi, sungguh murah sekali harganya dimata adik semata wayangnya ini.
"Jelas kok Mbak. Alul yang ajak tapi yang bayarin Mas Arif. Iya kan Mas?"
Pak Arif mengangguk, "Benar sekali." katanya tersenyum lebar.
Citra mendengus. Kalau keduanya sudah berkomplot, memang dia bisa apa? Haduh, Papi dan Mama kok melahirkan adik penghianat ini untuk dirinya.
Tak lama pesanan mereka datang. Pak Arif membantu meletakkan mangkuk bakso di depan Citra dan Alul. "Hati-hati, Panas."
Citra dan Alul meracik bumbu bakso mereka sedangkan Pak Arif hanya menambahkan perasan jeruk nipis dan sejumput garam.
"Bapak tidak mau sambal dan kecapnya?" Citra meletakkan botol sambal dan kecap di depan Pak Arif.
"Saya biasanya begini saja kalau makan bakso. Memangnya enak pake sambal dan kecap?" Tanyanya melihat mangkuk Citra yang sudah berubah warna.
"Mau coba? Nih! " Spontan mengulurkan sendok yang berisi kuah bakso di depan mulut Pak Arif.
Citra hendak menurunkan tangannya namun Pak Arif lebih dulu memasukan sendok itu dalam mulutnya lewat tangan Citra. "Enak." katanya tanpa dosa. Sementara Citra sendiri sudah tremor di kursinya. Apa itu tadi barusan? Menyuapi Pak Arif? Berbagi sendok sama Pak Arif? Wajah Citra langsung menghangat. "Makan, Mbak Jen." Tegur Pak Arif.
Citra cepat-cepat makan baksonya hingga hampir tersedak.
"Pelan-pelan, Mbak. Alul nggak minta kok."
ALUUUUUL!!!
Pak Arif mengulum senyum melihat dua bersaudara itu. Terlebih melihat wajah Citra yang sudah seperti kepiting rebus. Memang masih polos sekali kesukaannya ini. Ketiganya makan dalam diam. Alul menikmati makannya dengan lahap, Citra sedikit-sedikit tersedak karena panik diperhatikan Pak Arif, sementara Pak Arif makan dengan tenang tanpa beban sama sekali.
Tak berapa lama, Pak Arif sudah menghabiskan isi mangkuknya begitu juga dengan Citra. Yang tertinggal hanya Alul yang memang makannya lebih lambat.
"Dihabiskan ya, Lul."
Alul mengangguk-angguk tak bisa menjawab karena mulutnya penuh dengan Bakso.
"Pinjam headsetnya, Mbak." Pak Arif mengambil Headset Citra bahkan sebelum Citra memahami permintaan itu. Pak Arif memasang headset di hpnya lalu memutar murottal.
"Dengerin ini dulu ya Lul, Mas mau ngomong sama Mbakmu." Izinnya sambil menyumbat kedua telinga Alul yang pasrah saja apapun yang dilakukan oleh Mas Mas kesayangannya itu.
Citra yang melihatnya hanya bisa menggigiti sendoknya. Ia dibuat deg degan sekaligus penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Pak Arif.
"Bapak mau ngomong apa?" Tanyanya pelan.
__ADS_1
Pak Arif memberikan minuman kepada Citra, "Minum dulu, jangan panik begitu. Saya hanya ingin bicara sama kamu." ujarnya melihat kepanikan di wajah Citra.
Citra mengambil air minum tersebut dan meminumnya sekaligus.
"Sudah lebih tenang?" Pak Arif bertanya lembut.
Citra mengangguk kaku.
"Baik. Sebelumnya saya mau tanya sama Mbak Jen, ini soal perasaan Mbak jen setelah mendengar pernyataan suka saya."
"Maksud bapak apa?"
"Mbak Jen keberatan dengan pernyataan saya waktu itu? Mbak Jen merasa terganggu? Kalau Mbak Jen misalnya keberatan atau terganggu, saya perlu minta maaf." Kata lelaki dewasa itu lugas.
Citra yang belum menghadapi situasi semacam ini meneguk saliva susah payah. Sekarang dia harus bilang apa?
"Mbak jen tidak perlu merasa sungkan hanya karena status saya sebagai guru. Di luar sekolah kita bukanlah siswa dan guru tapi laki-laki dewasa dan perempuan---" Pak Arif agak susah untuk mengatakan ini.
"Dewasa?" Sambung Citra
Pak Arif menggeleng, "Remaja beranjak dewasa." katanya tersenyum kecil.
Citra mengangguk lugu.
"Jadi, katakan saja. Kalau suka bilang suka, kalau tidak suka bilang tidak suka." Lanjut Pak Arif.
Citra tak kunjung menjawab. Ia malah makin intens menggigiti sendok di tangannya.
"Nanti giginya sakit." Pak Arif merebut sendok itu dari tangan Citra.
Citra gelagapan. Pak Arif yang menyadari itu mengulum senyum diam-Diam. Citra tampak sangat menggemaskan di matanya.
"Saya suka sama kamu, Jenaya. Kamu suka tidak sama saya?" Tanya Pak Arif tak mau berbelit-belit lagi. Citra masih diam.
"Kalau begitu jawab yang ini. Kamu mau saya berhenti menyukaimu?"
Citra langsung menggeleng cepat.
Pak Arif menaikkan satu alisnya, "Gelengan kamu itu artinya apa? Kamu tidak mau saya berhenti?"
Citra terdiam sebentar, lalu dengan malu-malu mengangguk.
Melihat itu Pak Arif tersenyum lebar, "Oke. Saya simpulkan kalau Mbak Jen juga menyukai saya, betul kan?" tanyanya dengan sabar.
Citra mendongak, dengan wajah makin memerah ia mengangguk, "Iya." hanya satu kata pendek itu Citra langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Paaaaak, sudah dong. Saya maluuu." Akunya teredam.
Di depannya Pak Arif tak bisa menyembunyikan senyumnya.
I got you, little girl.
__ADS_1
***