My Favorite You

My Favorite You
Merekatkan yang Dekat


__ADS_3

Pak Arif sepertinya lupa bahwa ia baru saja menikahi seorang gadis beliau yang baru lulus sekolah. Citra yang sepanjang malam menyuarakan ketakutannya akan sebuah prosesi malam pertama, pagi ini malah tidur dengan damai dalam pelukannya. Bahkan suara alarm HP untuk membangunkan mereka solat subuh sama sekali tidak mengusiknya.


"Jena, bangun." Pak Arif melepas tangan Citra yang ada di atas perutnya. Gadis itu untungnya bukanlah orang yang sulit di bangunkan hanya sekali panggil saja Citra langsung membuka mata.


"Udah pagi ya Mas?" Ia bangun, duduk sambil mengucek matanya.


"Subuh." Ujar Pak Arif turun dari ranjang king size itu lalu mematikan alarm.


Citra menyusul turun dari ranjang dan langsung berjalan ke kamar mandi untuk berwudhu.


"Mas, Jena semalam mimpi buruk. Dikejar hantu." Citra keluar dari kamar mandi, menceritakan mimpinya yang ia ingat.


"Kamu nggak baca doa mungkin." Ujar Pak Arif gantian masuk dalam kamar mandi.


"Iya sih. Jena lupa semalam. Tapi di mimpi Jena untung ada Mas." Terangnya sambil bersandar di kusen kamar mandi menunggu sang suami berwudhu. "Hebat ya mas. Di mimpi aja bisa jadi penolong nya Jena." Katanya senang.


Pak Arif terkekeh, menyiprat air di wajah Citra setelah selesai membaca doa, "Mimpi cuma bunga tidur Mbak Jen. Tapi Insya Allah Mas akan selalu jaga Mbak Jen." ucapnya menggelar sajadah bersiap untuk solat setelah memakai pecinya.


"Mas kenapa sih nikahin Jena? Sampai sekarang Jena ngga habis pikir loh. Soalnya kata Mama banyak ibu-ibu pengajian yang mau jadiin Mas mantu. Apalagi anak gadis mereka cantik dan solehah semua."


"Solehah itu Allah yang nilai. Kalau Mas hanya manusia biasa taunya cuma suka dan ingin menikahi Jena yang nurut bangat sama Mama dan Papinya ini." Jawab Pak Arif, sabar menunggui Citra mengenakan mukenah nya.


Citra menyengir, "Gitu ya Mas? Trus kapan Mas Arif mulai suka sama Jena? Padahal di sekolah kayaknya Jena nggak ada tebar pesona ke siapapun. Sukanya juga sama Pak Alvian."


Pak Arif menghela nafas. Bakalan panjang ceritanya kalau harus menceritakan semua itu sedangkan waktu solat subuh sudah tiba.


"Kita solat sunah dua rakaat dulu. Sebentar Mas ceritain."


"Janji?"


"Insya Allah." Ujar Pak Arif lalu mulai melakukan gerakan awal solat diikuti oleh Citra.


"Jadi, sejak kapan Mas sukanya?"


Mereka bahkan baru selesai mengucapkan Aamin setelah berdoa tapi Citra sudah memulai pertanyaannya dengan tidak sabar. Pak Arif yang paham sekali rasa penasaran yang dimiliki siswinya itu menoleh, duduk menghadap Citra yang dilakukan sama juga oleh gadis itu.

__ADS_1


"Mas tidak ingat pastinya. Mungkin sejak kamu sering naik kedepan gara-gara tidak mengerjakan tugas atau mungkin sebelum itu."


"Ih, kok gara-gara di hukum kedepan sih Mas. Nggak elit bangat." Protes Citra merasa sangat tidak elegan di sukai saat ia kena hukuman.


"Kan Mas bilang, Mas nggak ingat betul. Lagipula apa penting sekali ya kapan Mas mulai suka sama Mbak Jen? Yang penting kan sekarang Mbak Jen sudah jadi milik Mas." Ucap Pak Arif mengusap kepala Citra yang masih memasang wajah cemberut.


"Jena penasaran Mas." Rengek Citra menepis tangan Pak Arif dari puncak kepalanya dan menggenggam tangan hangat itu.


"Mas juga penasaran bagaimana perasaan itu bisa datang begitu saja. Cuma kalau ditanya alasan, mungkin perasaan Mas semakin yakin saat melihat Mbak Jen begitu manut sama orang tua. Zaman sekarang banyak anak-anak yang tidak menganggap penting izin orang tua. Mbak Jen juga sebenarnya orang yang mudah dinasehati."


"Masa sih? Jena kayaknya udah paling keras kepala deh, Mas. Buktinya sering bangat di hukum sama Mas di sekolah."


"Itu karena Mas suka lihat wajah kesal Mbak Jen. Lucu."


Citra melongok. Astaga, hukuman tak manusiawi selama ini yang ia Terima hanya karena Pak Arif suka wajah kesalnya? Wah, parah. "Jahat bangat sih, Mas. Jena dihukum cuma buat kesenangan Mas aja. Nggak bener." ujarnya ngambek.


Pak Arif tertawa, "Ya selain karena kamu suka lupa tugas tentunya." katanya meluruskan. Bagian bikin kesal Citra cuma bonus saja, selebihnya karena memang gadis itu perlu di disiplinkan agar tidak menjadi siswi yang banyak alasan ketika lupa melakukan kewajibannya.


"Tetap aja, jahat."


"Tapi beneran deh Mas, Jena tuh susah diatur. Keras kepala lah intinya." Citra menjauhkan kelapa dari dada Pak Arif, menatap wajah teduh tersebut dari bawah.


"Tidak. Buktinya saat Pak Alvian bilang untuk pake jilbabnya terus, Mbak Jen melakukannya." Ujar Pak Arif, menyarangkan satu kecupan di wajah Citra yang menatapnya polos.


"Mas denger?"


Pak Arif mengangguk, "Iya. Walaupun Mas agak cemburu juga kenapa Mas ngomong dari dulu kamu nggak dengerin, tibanya Pak Alvian sekali ngomong langsung diturutin."


"Mas nggak pernah nyuruh." Ujar Citra mengingat-ingat kapan gurunya itu pernah memintanya memakai jilbab.


"Mas sering negur pakaian kamu." Pak Arif mengingatkan.


"Itu kan negur bukan minta."


"Yakan Mas mintanya tidak secara langsung."

__ADS_1


Citra mengedikkan bahu, "Itu sih bukan salah Jena. Jena mana paham kode-kodean. Taunya Jena mah Mas marah-marah aja." Terang Citra sembari menarik-narik ujung kaos Pak Arif yang dimasukan dalam sarungnya.


"Iya. Tidak apa-apa juga. Hidayah itu bisa lewat siapa saja. Tidak penting melalui Mas atau Pak Alvian atau siapapun, yang pasti Mas senang Mbak Jen mau pakai kerudung. Semoga istiqomah ya." ujar Pak Arif tulus.


Citra mengangguk, "Aamiin.Doain terus ya Mas. Mas kan ahli ibadah pasti doanya lebih di dengar."


"Kita doa sama-sama. Allah mendengar semua doa hamba-Nya." Pak Arif mengetatkan pelukannya pada Citra. Pagi itu keduanya menghabiskan waktu menikmati subuh dengan hanya berpelukan.


***


Citra terbaring di paha Pak Arif yang tengah mengaji sembari memainkan game candy crush favoritnya. Siang ini setelah makan siang yang disiapkan oleh hotel, Citra tak mau kemana-mana hanya ingin bersantai di hotel bersama Pak Arif melakukan kegiatan bersama-sama. Laki-laki yang sudah berstatus suaminya itu selalu mengisi waktu luangnya dengan membaca Al-Quran atau buku. Citra yang tahunya cuma baca caption di instagram gara-gara diracuni oleh teman-temannya hanya bisa envy dan berharap semoga iman Pak Arif menular padanya.


"Mas bagus bangat ngajinya. " Puji Citra setelah Pak Arif menutup Al Qur'an kecilnya yang selalu ia bawa-bawa kemana-mana.


"Mbak Jen nanti belajar juga. Supaya bacaannya lancar dan benar." Ujar Pak Arif mengusap lembut rambut hitam yang tergerai diatas Pangkuannya.


"Mas yang ajarin kan?"


"Tentu saja." Pak Arif mengambil HP Citra dan meletakkannya di sampingnya "Kalau lagi sama Mas, jangan main HP ya." pintanya.


Citra mengangguk, "Kenapa?"


"Mas cemburuan. Maunya perhatian Mbak Jen untuk Mas saja." Akunya mengunyel-ngunyel Pipi tembem Citra.


"Posesif bangat."


"Mbak Jen kan milik Mas, wajar."


"Iya deh yang punya Mbak Jen sakarang." Cibir Citra, menggoda sang suami.


Pak Arif terkekeh, Ia menurunkan kepala hingga bisa mencium kening Citra, "Sayang Mbak Jena."


"Sayang Mas Arif juga." Balas Citra membalas ciuman itu dengan pelukan erat di tubuh wangi itu.


Citra tau dirinya tak pernah merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orangtuanya tapi entah kenapa bersama Pak Arif perasaannya begitu lengkap. Apakah memang seperti ini rasanya merasa memiliki? Atau memang karena ini hubungan yang halal makanya rasanya lebih indah. Pak Arif seperti melengkapi semuanya. Semoga saja ini bukanlah perasaan sesaat seorang remaja tanggung yang penasaran akan hubungan laki-laki dan perempuan.

__ADS_1


***


__ADS_2