My Favorite You

My Favorite You
Sogokan


__ADS_3

Alam tak akan pernah menunggumu untuk siap. Pernah dengar kalimat semacam itu? Jika ia, seharusnya Citra sudah diberi tahu sejak lama agar saat itu datang ia tidak perlu menghela nafas panjang seperti ini.


"Kalian tau peraturan sekolah ini? Tidak boleh keluar pagar selama jam sekolah."


Citra, Abu, dan Agus menunduk. Mereka ketahuan Pak Arif melompati pagar belakang sekolah untuk makan es krim yang sering nankring di depan sekolah. Citra bahkan belum menyentuh sama sekali es krim nya sudah tertangkap duluan.


"Tau, Pak. Maaf." Jawab Agus menjadi juru bicara grup kecil-kecilan itu.


"Kamu bahkan memanjat pagar dengan rok seperti ini Citra Jenaya?" Kali ini Pak Arif tertuju penuh pada Citra. Sikapnya itu lebih karena khawatir terjadi hal buruk pada Citra.


Citra menggigit bibir bawahnya sambil berusaha menyembunyikan bagian belakang roknya yang sobek terkait paku.


"Sekarang pergi ke lapangan, lari lima kali putaran. Setelah itu ke ruangan BK." Titah Lord Arif Rahman lalu meninggalkan tiga remaja itu dalam keheningan.


"Gila ya, Pak Arif kesurupan demit mana sampe nggak bosan menghukum siswa." Abu mengusap wajahnya tak habis pikir. Mereka bahkan tak berniat bolos sama sekali tapi kesannya sudah menghancurkan nama baik sekolah ini. "Pak Arif kayaknya nempelin GPS di badan kamu, Cit. Dimana pun kamu pergi tu bapak pasti tau."


Citra meringis. Belum habis lelahnya menunggu bosan di perpustakaan sekarang malah dapat hukuman baru. Memang cocoknya ia diangkat menjadi Duta Hukuman khusus jalur Pak Arif. "Nggak tau. Perasaan tadi pagi sebelum berangkat saya doa dulu deh mohon keselamatan dunia akhirat."


"Salah niat kali." Timpal Agus terkekeh. Manusia satu ini memang 11 12 dengannya, kenyang oleh hukuman. Saking terbiasa nya malah jadi rutinitas harian.


"Iya Sih. Saya niatnya biar nggak ketemu beliau."


"Tuh kan. Lain kali luruskan niat sebelum mulai berdoa." Sambar Abu membenarkan dugaan Agus.


Citra mendengus, ia menatap es di tangannya. Rasa taro favoritnya yang sudah meleleh. Sayang sekali.


Ketiganya lantas ke tengah lapangan untuk memulai hukuman dari Pak Arif.


"Pulang dari sekolah pastiin Pak Arif dapat balasannya, Cit." Abu berucap sembari menunjuk Pak Arif dengan gesture memberitahukannya pada Citra. Bapak guru mereka itu sedang bercakap dengan guru BK, mengawasi merek dari jauh.


"Memangnya Pak Arif salah apa?" Tanya Citra bingung. "Bukannya memang sudah aturannya kek gini ya?"


"Yakan kamu kesayangannya. Masa kesayangan di hukum, panas-panas pula. Gunain lah power kamu untuk menuntut keadilan." Agus yang menjawab, sengaja memang mau mengabarkan pada dunia bahwa Citra terdeteksi menjadi kesukaan Pak Arif.

__ADS_1


"Nggak berani. Pak Arif galak." Citra bergidik takut.


"Bisaaaa. Kamu cukup mogok bicara sama beliau. Yakin pasti pusing dah tuh guru." Ujar Abu ikut-ikutan.


Agus menggeleng putus asa, "Susah, Bu. Ini anak sudah bucin. Di sogok es krim rasa taro juga langsung klemer-klemer di hadapan Pak Arif."


"ENGGAK YA! FITNAH MULU KAYAK DAJJAL." Omel Citra tak Terima tuduhan teman-temannya. Sejak kapan coba dia semurah itu, CEWEK MAHAL BOSS!!!


Abu dan Agus mencibir. Percuma juga, Si Mbak mbak satu ini mana tahu kalau virus bucin nya sudah menyatu dengan darahnya. Membohongi diri sendiri memang mudah tapi tidak dengan mata para lelaki.


***


"Ma, ada minyak urut nggak?" Citra pulang-pulang langsung menghampiri Mamanya yang sedang menyiapkan makan siang di dapur.


"Loh, kamu jatuh, Mbak? " Tanya Mamanya khawatir, menghampiri sang Putri.


Citra menggeleng, "Di hukum keliling lapangan tadi."


"Ketangkap pas mau beli es krim di luar pagar." Akunya merasa bersalah.


"Ya ampun, Mbak. Kan bisa tunggu pulang baru beli es krimya."


"Pengen banget, Ma. Makanya nekat keluar."


Mama Citra berdecak, "susah punya anak gadis kelakuan lanang. Ya udah, Mbak ke kamar nanti Mama susulin. Mandi air hangat." ujarnya pada sang Putri.


Citra mengangguk, menyalami mamanya, "Ke kamar dulu, Ma."


"Iya. Ckckck, Mbak jen, Mbak Jen." Mama menggeleng sembari menarik nafas dalam.


Citra tidak tahu berapa lama ia tertidur setelah di urut oleh Mamanya yang pasti saat membuka mata gorden di kamarnya sudah tertutup. Ia sempat bangun untuk sholat maghrib lalu tidur lagi. Ia terbangun karena rasa perih di perutnya. Lambungnya meronta meminta jatah dan dia dengan seenaknya tidur.


Citra keluar kamar menuju dapur untuk mengisi lambungnya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mama, Papi dan Alul pasti sudah terlelap. Citra membuka tudung saji dan menemukan rantang susun yang sudah di pisah-pisah berisi lauk pauk, sebuah catatan dari Mamanya tertempel di sana.

__ADS_1


Panasin sebelum di makan.


Note : Dari Pak Arif untuk Mbak Jen ๐Ÿ˜


"Dih, mama apaan sih pake emot segala." Citra menggaruk pipinya yang tak gatal. Tanpa sadar senyum terukir di wajahnya. "Mau nyogok ceritanya?" Ia mengambil rantang pertama berisi sambal goreng yang Citra tebak pasti buatan Ibunya Pak Arif mengingat ini bukan kali pertamanya mereka mendapat menu ini. Selanjutnya tumisan kol dicampur sosis dan jagung muda, wanginya menguar memenuhi indra nya. "Pasti enak." Dan terakhir ada beberapa potong ayam goreng kecap, "Wah, di rumah Pak Arif ada hajatan apa ya? Lengkap gini menunya." ia terus bermonolog sambil memanasi tumisan kol sedangkan ayam dan sambal goreng akan di makannya langsung.


Sambil menunggu tumisannya, Citra membuka kulkas dan matanya langsung berbinar melihat empat kotak es krim rasa taro, lalu ada beberapa jenis kue yang juga rasa taro tersusun di samping kotak es krim. Citra langsung mengambil satu kotak teratas, disana ada catatan yang tertempel.


Jangan sakit.


Es krim nya di bagi sama Alul.


Tak ada tulisan dari siapa es krim tersebut tapi melihat dari tulisannya yang rapi, Citra tahu persis coretan tangan siapa itu.


"Beneran mau nyogok ternyata." Gumannya menahan senyum. Sebagai pihak yang tidak gampang di sogok, ia tidak akan menyia-nyiakan semua ini. Anggap saja ganti dari es krim nya yang meleleh siang tadi.


"Mau Bapak sogok gimanapun saya bakal tetap ngambek, Pak. Tungguin aja besok." Katanya sembari menikmati es krim tersebut. Memang tidak tau diri sih tapi ya siapa suruh bawa es krim, yang penting tidak minta kan.


Citra mengambil hpnya lalu mengetik pesan untuk Pak Arif.


^^^Lord Arif๐Ÿ‘บ^^^


^^^Bpk klau mau nyogok jgn ke sy, Pak. Sy manusia dgn integritas tinggi. ^^^


^^^Citra meletakkan hpnya setelah mengirim pesan tersebut. Tak lama semua pesan balasan masuk. ^^^


Lord Arif ๐Ÿ‘บ


Jangan lupa cuci tangan.


Citra manyun. "Capek-capek mengetik balasannya cuma di suruh cuci tangan. Dasar bapak-bapak."


***

__ADS_1


__ADS_2