My Favorite You

My Favorite You
Penjelasan


__ADS_3

Citra menemui teman-temannya di taman belakang sekolah. Seperti janjinya tadi ia akan menjelaskan duduk perkara yang menghebohkan publik semalam. Rencana awalnya mereka akan membahas ini di kantin sambil mengisi lambung tapi kondisi kantin yang selalu padat merayap tidak memungkinkan untuk membahas skandal semacam ini belum lagi dirinya belum siap menjadi bulan-bulanan natizen disana.


"Ooooh, jadi ini yang godain Pak Arif? Biasa aja kok, buta kali yang bilang cantik."


Baru juga melewati lorong kelasnya sudah ada saja yang nyinyir. Citra sudah menduga hal ini sebelumnya tapi ternyata saat ia mengalaminya langsung rasanya darah meletup-letup di ubun-ubun.


"Ada masalah apa ya, Dek?" Citra menoleh sepenuhnya pada adik kelasnya yang ia tandai sebagai anggota ekskul karya ilmiah. Namanya Tari, teman jalan Vania gebetannya Abu sahabatnya. Memang dunia sesempit daun kelor, kenapa juga ia harus berurusan dengan mereka ini. Bukankah dirinya senior disini? Apa sekarang sudah zamannya junior memegang kendali?


"Mau tau saja, ternyata seperti ini wujudnya siswi penggoda?" Katanya lagi dengan senyum merendahkan.


Citra melipat tangan di dada dengan tatapan menantang, "Kenapa? Panas ya? Telen AC coba kali aja dingin. Kasian." ujarnya tak kalah meremehkan. Kalau urusan yang begini secara alami jiwa petarung nya langsung bergejolak. Dulu-dulu saja Pak Arif bisa dia balas apalagi cuma cabe mentah seperti ini.


"Dih, amit-amit. Murahan kok bangga." Ujar Tari memancing. Sayangnya Citra yang sudah lelah seharian ini bergelut dengan pikirannya sendiri menanggapinya dengan santai.


"Kalau murahannya ke orang modelan Pak Arif sih worth it lah. Pengen ya sama Pak Arif? Duh, maaf ya, selera Pak Arif tuh bukan kayak ondel-ondel dandanan warna warni seperti ini." Citra menatap remeh dari ujung kaki ke ujung kepala juniornya tersebut "Gelang warna warni sampai siku, pita dasi badut segede pintu menempel di kepala. Bikin sakit kornea."


"ISH!!!" Tari menghentakkan kaki kesal lalu berbalik meninggalkan Citra yang tersenyum penuh kemenangan. Ternyata tidak seburuk itu, pada akhirnya ia masih bisa mempertahankan harga dirinya. YA JELAS LAAAAH KESUKAAN PAK ARIF. Tak ber lama-lama, Citra langsung bergegas menemui teman-temannya. Lebih dari pada natizen, lebih penting baginya menjelaskan hal ini pada teman-temannya. Ia butuh pasukan yang berada di pihaknya dan itu sudah pasti Lisna, Sari, Agus dan Abu. Tidak peduli sebanyak apapun orang yang mencibir nya selama ada ke empat orang itu, sepertinya ia masih bisa berdiri dengan wajah terangkat.


"Sorry, lama." Citra langsung mengambil duduk di depan Sari dan Lisna tanpa Agus dan Abu. Dua manusia itu pasti sedang makan di kantin.


"Ngapain dulu?" Tanya Lisna galak. Ini nih yang paling berat, Lisna si fans garis keras Pak Arif.


"Basa basi sama adek kelas." Jawab Citra tak mau membahas aksi bulian yang di dapatkannya.


"Ya udah, cerita. Saya udah penasaran bangat." Ujar Sari bersemangat.


Citra menarik nafas. Agak bingung juga harus memulai dari mana. Haruskan ia katakan pada mereka kalau Pak Arif sudah mengungkapkan rasa sukanya? Atau langsung pada tragedi foto saja?


"Mau tau yang mana?" Tanya Citra menyandarksn punggungnya di bangku taman, berusaha santai.


"Semuanya." Ujar Lisna menyorot tajam, "Kenapa fotomu bisa di IG pak Arif? Bukannya kalian susah akur? Kamu kan yang selalu amit-amitin Pak Arif?"


"Siapa suruh kamu aamiin aamiinin?" Potong Citra. Bisa jadi rasa benci yang selama ini bercokol di hatinya berubah jadi suka karena ucapan-ucapan teman-temannya ini kan.


"Jadi beneran kalian pacaran?"


"ENGGAK!"


Sari berjengit kaget, "Santai dong. Saya kan cuma nanya."

__ADS_1


Citra mendengus, "Pertanyaan kalian aneh-aneh. Siapa juga yang pacaran. " Pak Arif nya ngajak nikah kok.


"Ya trus gimana ceritanya tuh fotomu sama ikan bisa di IG bapak?" Ulang Lisna greget.


"Nggak sengaja." Jawab Citra ketus.


"Nggak sengaja gimana? Kok bisa HP Pak Arif sama kamu? Atau kalian tukaran akun gitu?" Cerca Lisna.


"Apaan sih. Tukaran akun gimana coba. Akunnya sepi kek kuburan gitu apa bagusnya."


"Yaudah, cerita." Tambah Sari hampir mati penasaran. Dari tadi Citra belum juga menjawab pertanyaannya.


"Bener, dari tadi mutar-mutar mulu." Sambung Lisna.


Citra menatap kedua temannya itu lalu mulai menceritakan kronologis insiden foto tersebut mulai dari liburan mereka, hpnya yang lobet, dan kemudian kesalahannya yang tidak sengaja mengupload foto miliknya sendiri di akun Pak Arif.


"Jadi kamu yang up? " Tanya Lisna tak habis pikir. Citra mengangguk tak semangat. Kedua temannya itu tergelak.


"Ciiit, biasanya orang lain ya, mulutmu harimaumu, kamu ini lain sendiri, jarimu harimaumu." Ujar Sari di sela-sela tawanya.


"Jangan diketawain dong." Citra mengguncang lengan kedua temannya itu meminta mereka berhenti, "Yaudah, saya bodoh emang."


"Ini itu namanya karma. Udah dibilangin jangan benci-benci amat sama orang, nggak percaya. Jadinya gini kan? Debut sendiri di HP Pak Arif." Lisna menepuk-nepuk bahu Citra, tawanya belum juga reda.


"Nggak ada yang lucu ya!" Citra membuang wajah kearah lain, bete melihat dua temannya yang menertawai kecerobohannya.


"Eh, tapi, kok kamu bisa liburan sama Pak Arif?" Tanya Sari tiba-tiba yang langsung membuat Citra tersedak.


"Itu---"


"Ck, tetangga. Liburan kompleks ya?" Tebak Lisna. Kadang tebak-tebak Lisna ini cukup membantu menyelamatkannya.


Citra diam, tidak tau harus jujur atau menyembunyikan hal ini.


"Nggak se kompleks juga sih." Ujarnya ragu.


"Trus?" Sari masih dengan mode penasaran akutnya. Ini Pak Arif loh, Si paling anti dekat sama perempuan manapun apalagi Citra yang sering di juluki bapak itu sebagai pemilik rambut Api, alias rambut neraka karena tidak menutup aurat.


"Bertiga doang." Kata Citra. Seharusnya tidak ada pertanyaan lagi, kan wajar ya liburan sama tetangga. Iya kan?

__ADS_1


"Kok bisa?" Sayangnya Lisna lebih kritis dibandingkan isi dompetnya.


"Bisalah. Namanya juga tetangga paling dekat rumah. Pak Arif juga kan guru ngajinya Alul." Jelas Citra. Dia tidak bohong, mereka memang tetangga kan? Citra hanya tidak jujur bahwa dibalik status tetangga mereka itu, Pak Arif sudah sangat terus terang dengan perasaanya.


"Iya sih." Lisna dan Sari mengangguki. Citra diam-diam menghela nafas lega. Setidaknya untuk dua temannya ini sudah aman, kalau Abu dan Agus sangat gampang, tinggal minta Pak Arif saja memberikan mereka tip tutup mulut.


***


Bel pulang sudah berbunyi. Citra yang piket kelas hari ini masih di kelas bersama dengan dua teman piketnya.


"Tinta boardmarkernya udah habis." Ujar salah satu temannya yang sedang merapikan meja guru."Cit, kamu yang isi di TU ya? Saya mau beresin yang ini dulu, nanggung."


"Oke." Citra meletakkan penghapus yang dipakainya menghapus papan lalu mengambil dua spidol itu dan dibawanya ke ruang TU yang berada tepat di samping ruang guru.


Tok tok tok.


"Permisi, Pak."


"Masuk. Ada apa, Dek?" Penjaga TU itu menyapa ramah Citra.


Citra masuk kelas menunjukkan dua spidol di tangannya, "Mau isi tinta, Pak."


"Oh, itu botol tintanya, isi sendiri ya. Bapak lagi bikin absen pagi."


"Oh iya, Pak." Citra mengambil botol tinta yang ada dalam laci lalu mulai mengisi satu persatu spidol tersebut. Setelah selesai ia menutup kembali botol tinta lalu mengembalikannya di laci. "Sudah, Pak. Terima kasih."


"Iya, sama-sama." Jawab Pak TU itu ramah.


Citra hendak keluar namun langkahnya tertahan, "Adek ini Citra Jenaya nya Pak Arif guru kimia itu kan?"


"Hah?"


"Bapak minta tolong, sampaikan sama Pak Arif kalau piket besok jadwalnya sudah di ganti. Beliau sudah tidak di kantor tadi waktu jadwal baru keluar. Bisa ya?!"


Citra masih terpaku karena sebutan baru itu untuknya saat bapak TU kembali bersuara, "Ngomong-ngomong adek ini cocok sama Pak Arif. Muka jodoh."


INI APA SIIIIIIH???


***

__ADS_1


__ADS_2