
Citra terbangun pukul empat subuh. Ia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Di sampingnya Pak Arif masih terlelap dengan pakaian solatnya. Sepertinya tengah malam tadi terbangun untuk solat dan tidak mengganti pakaiannya lagi. Pikiran Citra berkelana pada apa yang mereka lakukan semalam. Belum pada tahap yang lebih jauh tapi Citra sebagai anak polos yang belum tahu hubungan laki-laki dan perempuan dewasa belum hilang perasaan syoknya, Pak Arif sudah menyentuhnya di mana-mana. Reflek Citra menyilangkan tangan di dada mengingat bagaimana suaminya itu mengacaukan isi kepalanya semalam.
"Bener kali ya omongan orang kalau yang alim-alim kek gini isi kepalanya lebih wadidawww?! Bisa-bisanya tampang ubin mesjid kelakuan gituuu. Untung udah halal, kalau nggak, dosa bangat nggak sih megang-megang anak gadis orang?" Citra menggelengkan kepala sembari berdecak tak habis pikir. Bukannya ia menyesal atau apa tapi sampai saat ini dirinya belum habis pikir Pak Arif yang melihat perempuan saja hampir dibilang jarang kok bisa-bisanya bikin anak gadisnya Papi kehabisan nafas. Apalagi tuh tangan, wuidiiiih udah khatam bagian-bagian sensitif.
"Nggak yakin bakal tahan lama sih nih segel." Citra memperhatikan penampilannya yang memprihatinkan. Leher bajunya sudah melar sampai bahu, jangan lupa tali-talian di dalam sudah terlepas sejak semalam. Lagi-lagi Citra bergidik, mau gebukin Pak Arif tadi tidak munafik semalam ia sangat menikmatinya walaupun bercampur deg-degan.
Ranjang berderit saat Pak Arif bergerak mencari-cari sesuatu. Keningnya tampak mengerut saat tangannya tak mendapati apapun selain bagian ranjang yang kosong. Citra tahu lelaki itu sedang mencarinya tapi sejak terbangun tadi ia langsung mengambil jarak sedikit mepet pinggir ranjang.
"Jenaya?" Panggilnya. Matanya terbuka dan mendapati Citra juga menatapnya. "Sini, Mbak Jen." Ia menepuk kasur itu namun Citra menggeleng.
"Nggak mau. Bapak pasti mau macam-macam lagi."
Pak Arif tersenyum kecil dengan mata kembali tertutup. "Macam-macam gimana toh Mbak Jen?" katanya serak khas orang setengah bangun tidur.
"Ya gitu. Megang-megang Jena. Br* Jena sampe lepas. Bibir Jena juga kayaknya agak tebelan. Jena masih kecil loh, Pak. Dibawah umur." Omel gadis itu menjauhkan tangan Pak Arif yang berhasil mencapainya. Lelaki itu tak melawan malah menarik guling dan memeluknya meskipun bibirnya masih tersenyum kecil dengan mata tertutup.
"Gitu ya?! Jadi Mas harusnya gimana?" Pak Arif berucap dengan suara hampir tak jelas.
"Minta izin dulu jangan asal megang aja."
"Kemarin udah izin sama Allah. Mbak Jen udah halal."
Citra mendengus, ingin memukul kepala gurunya itu dengan lampu tidur tapi takut jadi j*nda muda.
"Izin sama Jena lah Pak." Ujarnya sebal. Gimana ya, tidak pernah pacaran, kenal cowok juga cuma sebatas teman, suka juga cuma suka-sukaan, Tiba-tiba nikah sama Pak guru sendiri ya jelas paniklah. Belum lagi modelannya Pak Arif begini. Anak tunggal kaya raya yang hobi menghukumnya sekaligus memanjakannya. Luar biasa.
Pak Arif mengangguk, tak ada lagi suara. Entah kegiatan apa yang dilakukan di mesjid sampai-sampai dia kelelahan seperti ini. Padahal biasanya jam segini Citra sudah di paksa-paksa bangun untuk solat atau mengaji.
Tak ingin mengusik Pak Arif, Citra turun dari ranjang dengan hati-hati. Langkah kakinya pun di jaga agar tidak menimbulkan bunyi berlebihan. Tujuannya adalah kamar mandi untuk membersihkan diri. Citra menutup pintu kamar mandi dengan pelan. Di depan cermin ia hampir memekik melihat ruam-ruam kemerahan di lehernya.
"Ya ampun, merah giniii." Ia berusaha membersihkannya dengan air namun gagal. Wajahnya tampak frustasi harus mengakali nya bagaimana agar tidak terlihat siapapun. Kalau keluar rumah sudah pasti pakai kerudung tapi bagaimana dalam rumah, pasti akan dipertanyakan Ibu atau Ayah. Citra mencoba menghapusnya berkali-kali bahkan menyikatnya dengan sikat gigi tak terpakai miliknya tapi bukannya membaik malah menambah merah-merahnya. "Udahlah, mau gimana lagi. Resiko pengantin baru." ujarnya pasrah.
Setelah membersihkan diri, Citra keluar dan lagi-lagi terkejut mendapati Pak Arif berdiri di depan pintu dengan muka bantal.
"Lain kali jangan ngagetin dong Pak. Jantung saya lemah." Citra menahan handuk di depan dadanya. Bukannya menanggapi, Pak Arif malah salah fokus, menunjuk bagian lehernya yang langsung membuat Citra mengelak.
"Ini kenapa merah-merah? Di gigit nyamuk? Tapi di kamar saya biasanya tidak ada nyamuk." Lelaki itu tampak khawatir.
Citra memutar bola mata, ini nih, lempar batu sembunyi tangan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Serangga raksasa. Bapak masuk gih, trus liat ke cermin, pasti ketemu serangganya." Katanya lalu melewati Pak Arif yang tampak kebingungan. Lelaki itu lantas masuk dalam kamar mandi lalu sejurus kemudian pintu kembali terbuka memunculkan kepala Pak Arif disana.
Citra yang baru saja mengambil pengering rambut menoleh, "Udah kenalan sama serangganya, Pak?" tanyanya dengan mimik serius.
Pak Arif menunjuk wajahnya sendiri, "Itu yang bikin Mas?" tanyanya dengan wajah yang juga serius. Citra menghembuskan nafas kesal.
"Menurut bapak aja gimana." Jawabnya asal lalu kembali sibuk dengan urusannya sendiri.
"Mas, Mbak Jen." Pak Arif kembali mengoreksi.
"Iya, Maaaasss." Ujar Citra menoleh dengan senyum lebar yang dipaksakan. Rewel bangat emang suaminya ini.
Pak Arif mengangguk lalu masuk kembali dalam kamar mandi tak lupa menutup pintu.
***
Seharian ini Citra ditinggal seorang diri di rumah Pak Arif. Ibu dan Ayah pergi untuk urusan bisnis di luar daerah sementara Pak Arif ke sekolah untuk persiapan Ujian Akhir Semester kelas X dan XI. Di rumah Papi pun tidak ada siapa-siapa karena Mama yang biasa di rumah saja pergi ke rumah saudara jauh memenuhi undangan tujuh bulanan. Untuk menghilangkan bosan, Citra mengisi waktu merawat tanaman dan bermain di taman belakang seorang diri. Fasilitas Pak Arif selain panahan juga ada mini golf dan lapangan basket kecil. Cukuplah untuk mengeluarkan keringat.
Saat sedang berusaha memasukan bola kecil ke lubang, suara bel terdengar mengacaukan konsentrasinya alhasil ini kali ke 68 ia gagal memasukan bola. "Siapa sih yang bertamu pagi-pagi gini. Nggak tau apa orang lagi kerja."
Ceklek. Ia membuka pintu rumah dan melihat kearah luar pagar dimana sang tamu sedang berdiri. Ada seorang perempuan berkerudung panjang berdiri menunggu pemilik rumah.
Perempuan muda itu tersenyum lembut, tampak lega namun juga bingung. "Assalamu'alaikum." Sapanya.
"Waalaikumsalam." Jawab Citra masih menjaga jarak aman dari pagar putih, siapa tau saja kan komplotan penjahat yang sedang menyamar.
"Ini rumah Mas Rahman kan?" Tanyanya dengan suaranya yang lembut.
Citra menggeleng, "Bukan, Mbak. Salah alamat."
"Tapi alamatnya cocok." Ujarnya mencocokkan alamat yang tertera di pagar dan kertas di tangannya.
"Tapi ini rumah mertua saya, Mbak. Bukan Mas siapa tadi?"
"Rahman.Mas Rahman."
"Ya itu. Mungkin Mbaknya dapat alamat palsu. Hati-hati Mbak, jaman sekarang banyak bangat orang ngasi alamat palsu." Ujar Citra cukup kasian melihat wanita itu.
"Gitu ya tapi--"
__ADS_1
"Maaf ya Mbak. Saya masih ada kerjaan di dalam." Citra buru-buru menutup pintu. Bukannya tidak sopan sama tamu tapi selain penipu, sekarang ada juga yang suka hipnotis orang dan berujung minta uang memperdaya korbannya.
Citra kembali kedalam rumah. Niatnya untuk lanjut main sudah hilang. Ia memutuskan kembali ke kamar untuk istrahat, tidur-tiduran seperti pemalas.
Saat hendak membaringkan badan, sebuah telfon masuk dari Pak Arif.
"Assalamu'alaikum, Mbak Jen."
"Waalaikumsalam, Mas."
"Sudah makan siang?"
Citra mengangguk, "Sudah. Ibu masak tadi sebelum berangkat. Mas sudah makan?"
"Sudah. Mbak Jen nggak apa-apa kan sendiri di rumah? Kalau bosan, boleh main sama teman-teman tapi jangan pulang malam."
"Teman-teman Jena semuanya lagi liburan, Mas. Memangnya Jena boleh liburan juga? Libur panjang ini looh."
Pak Arif terdengar menghela nafas sesaat, "Mau liburan sama Mas? Tapi setelah ulangan selesai."
Citra bersorak senang, "Liburan kemana, Mas?"
"Terserah Mbaknya mau kemana."
"Beneran?" Tanya Citra antusias.
"Iya, Mbak Jen." Jawab suara dibalik sana.
"Oke okeeee. Jena mau liburan sama Mas Arif."
"Ya sudah, Mas tutup ya telfonnya."
"Iya, Mas. Selamat bekerja."
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Citra menutup telfon lalu kemudian berteriak senang. "YEEEEEEEEE LIBURAAAAAN!!"
Tanpa sepengetahuannya tamu yang tadi masih berdiri di depan pintu, menatap hpnya dengan tatapan nanar yang menampilan foto pernikahan yang tampak saling mencintai.
__ADS_1
***