My Favorite You

My Favorite You
Si paling gagal


__ADS_3

Citra tak masalah jika harus di hukum jungkir balik dari kelas ke kantor. Sudah biasa baginya menjalani hukuman dari Pak Arif dengan alasan yang tidak jelas sekalipun. Tapi sekarang ia merasa Pak Arif sudah sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin ia tidak diizinkan masuk kelas hanya karena tidak membawa buku LKS Kimia yang sebenarnya bisa saja ia salin di bukunya melalui buku LKS milik teman-temannya jika memang ada tugas yang harus di kerjakan disana. Tak mau makin kesal karena melihat muka Pak Arif yang kembali menyebalkan seperti semula ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Suasana di perpustakaan sangat tenang ketika jam pelajaran berlangsung seperti ini.


"Citra kan?"


Citra yang sedang menulis namanya di buku pengunjung mendongak. Bu Wardah yang bertugas di perpustakaan tersenyum padanya.


"Iya, Bu?"


"Kok di luar? Harusnya kan ada kelas." Ujar Bu Wardah lembut. Memang tipikal perempuan-perempuan super lembut idaman para laki-laki dan mertua. Cocok lah sama Pak Arif-- EHHH ENGGAK YA!!!


Citra tersenyum kecut, "Tidak boleh masuk, Bu. Lupa bawa LKS." ungkapnya jujur.


Bu Wardah ber--oh, "Pelajaran apa?"


"Kimia."


"Pak Arif dong?"


Citra mengangguk. Entah setan jahat darimana yang meniup-niup kepala Citra yang pasti ia tidak suka melihat senyum sumringah Bu Wardah ketika menyebutkan nama Pak Arif.


"Waaah, lain kali jangan sampai lupa ya. Pak Arif biasanya baik loh, berarti memang kamunya yang salah." Ujar Bu Wardah yang terdengar seperti menyalahkan Citra.


Citra mengangguk, "Iya, Bu." jawabnya pelan, "Saya ke dalam dulu, Bu." lanjutnya tak mau lama-lama bersama Bu Wardah.


"Oh iya. Jangan di berantakin ya buku-bukunya." Pesan Bu Wardah yang ditanggapi lain oleh Citra.


BAKALAN SAYA BIKIN KAYAK KENA ANGIN TORNADO, BU! Ujarnya dalam hati. Gedek juga lama-lama.


Citra memilih tempat duduk paling belakang di antara rak-rak buku yang paling jarang di kunjungi yakni rak buku-buku pelajaran olahraga.


Citra mengambil buku yang paling tebal untuk dijadikan bantal karena meskipun dia hobi membaca tapi untuk sekarang ia hanya datang tidur sekaligus menenangkan hatinya.


Baru akan memejamkan mata, suara seseorang baru masuk menyapa Bu Wardah mengusiknya. Mulanya Citra tidak ingin perduli karena apapun yang Bu Wardah itu omongkan tidak menjadi urusannya tapi saat satu nama di sebutkan, telinganya langsung aktif.


"Pak Arif kamu undang kan nanti?" Ujar suara wanita yang Citra kenali milik Bu wahyuni guru matematika kelas sepuluh.


"Sungkan, Yun. Pak Arif kayaknya bukan yang hobi jalan begitu deh. "


"Ya makanya ajak semua guru. Dengan begitu kan tidak mungkin Pak Arif menolak. Sekalian buat dikenalin ke orangtuamu."

__ADS_1


"Hush! Jangan ngomong sembarangan. Lagian Saya dan Pak Arif tidak memiliki hubungan khusus kok." Suara Bu Wardah terdengar tak yakin.


"Ck, makanya jadiin khusus. Gimana sih masa yang itu juga harus saya ajarin. Bukannya beberapa hari ini kalian sering sama-sama ya?" Bu Wahyuni mengompori. Citra kini tak lagi duduk di bangku melainkan melangkah pelan-pelan mendekat kearah suara untuk mendengar lebih jelas pasalnya suara dua orang itu mengecil seperti bisik-bisik. Mungkin Bu Wardah memperingatkan Bu Yuni tentang keberadaannya disini.


"Nggak enak, Yun. Pak Arif memang orangnya ramah gitu, ribet kalau cuma saya nya yang baper. Beliau ramah ke semua orang." Ujar Bu Wardah tak bersemangat.


"Ck, bisa. Pasti bisa lah kamu pepetin. Manfaatin keramahannya itu, Lama-lama juga baper sama kamu."


DIH. Citra mencibir.


"Masa sih? Tapi emang kayaknya beliau tidak dengan siapapun sih. IG nya juga kosong."


"Nah itu. Mungkin Pak Arif bukan yang tipe ngedeketin kayak laki-laki pada umumnya, kali aja satu set sat set langsung sah. Pak Arif itu laki-laki potensial tau. Ayah dan Ibumu pasti merestui daripada sama si mantan yang ringan tangan itu."


"Iya sih, tapi---"


"Ck, udah. Pokoknya undang Pak Arif dan kenalin sama ortumu. Yakin deh, sedikit saja kamu ambil hati Pak Arif, beliau pasti langsung datang bawa ortunya ke rumah mu buat ngelamar."


HALUUUU!!! Citra geregetan di balik dinding. Telinganya sudah sangat panas mendengar obrolan dua guru muda ganjen itu. Bisa-bisanya Pak Arif mau disesatkan.


"Saat ini feed ig nya yang kamu tinggali, kelak hati Pak Arif yang akan kamu tinggali. Jadi semangat ya Beb. Kalian cocok."


"Gitu ya. Semoga deh." Bu Wardah tertawa renyah bersama Bu Wahyuni.


Darah langsung naik ke ubun-ubun melihat apa yang ada di instagram Pak Arif. Hanya satu foto saja tapi sangat sukses membuat Citra darah tinggi. Di dalamnya ada foto saat mereka mendaki dimana di dalamnya Bu Wardah terlihat sedang duduk di samping Pak Arif menikmati matahari terbit. Bukan hanya berdua sih, tapi tatapan dan wajah sumringah keduanya benar-benar membuat kesal setengah mati.


Awas ya, Pak.


***


Akhirnya jam pelajaran pertama selesai. Citra keluar dari perpustakaan dan bersikap seolah-olah tak mendengar apapun dari kedua guru yang masih asik juga bercerita hanya sekarang sudah ganti topik karena Perpustakaan mulai ramai oleh siswa siswi yang ingin membaca atau sekedar tidur-tiduran.


Tempat pertama yang Citra tuju adalah kelasnya. Ia ingin menemui teman-temannya dan menanyakan apa saja yang dipelajari tadi. Saat masuk kelas ia langsung disambut kehebohan. Lisna dan Sari tampak sangat bahagia begitupun beberapa siswa yang mengerubuni mereka.


"Ada apa ini? Rame bangat kayak pasar." Ujar Citra memecah keramaian itu.


Lisna dan Sari langsung berlari memeluknya, "Sekolah kita lolos ke tahap selanjutnya, Cit. Pak Arif benar-benar keren." Puji Lisna. Di sampingnya Sari juga ikut menyebutkan kehebatan-kehebatan Pak Arif dibidang nya karena sudah membawa tim Kimia lolos ke tingkat provinsi.


"Wah selamat ya." Ucap Citra tulus dari dalam hatinya meskipun ada rasa iri yang hinggap.

__ADS_1


"Iya, kamu juga hebat loh, meskipun tidak lolos tapi di peringkat kedua itu sudah luar biasa bangat. Sebelum-sebelumnya mana ada yang sampai runner up. Dua puluh besar saja tidak masuk." Ujar Sari memberi semangat. Tapi percuma saja, bagi Citra gagal ya gagal. Tidak ada yang namanya gagal terpuji.


Citra tersenyum tipis. Sebut saja dia manusia iri tapi memang dalam hati kecilnya ia ingin membuktikan dirinya juga mampu meskipun tidak di dukung oleh siapapun. Tapi sayang sekali semesta tidak merestuinya.


Daripada dalam kelas dan hatinya makin busuk, Citra memutuskan untuk keluar mencari ketenangan. Ia berjalan menyusuri lorong kelas tanpa tahu tujuannya kemana, senyumnya langsung mengembang kala melihat Abu dan Agus bersama tim futsalnya sedang beristirahat di lapangan.


"Mau kemana?" Sapa Agus dari jauh.


"Nggak tau."


"Dih, labil." Agus berdiri, berpamitan pada teman-temannya dan menghampiri Citra.


"Cieeee gagal." Godanya full senyum.


Citra langsung manyun. Punya sahabat setan memang begini efeknya, bukannya peduli, dihibur atau ditenangkan malah diledek.


"Nggak guna bangat jadi teman. Hibur kek, apa kek, ini malah di ledekin." Omel Citra melipat tangan kesal.


"Alah, yang gituan doang." Agus menepuk bahunya, "Mau es? Biar hati kamu adem. Pasti panas sekali di kelas kan?" Ujarnya menawarkan.


"Di traktir kan?"


"Iya, nanti saya minta gantinya sama Pak Arif." Agus cengenges melihat wajah terlipat Citra. "Mau nggak? Kalau nggak saya main---"


"Ck.MAULAH!" Citra beranjak dari tempat itu diikuti oleh Agus. Tujuan mereka adalah gerobak es yang ada di luar pagar.


"WOE! TUNGGUIN!" Abu berlari menyusul mereka. Ketiga remaja itu berjalan sambil bercanda, apalagi bahan candaannya kalau bukan kegagalan Citra.


Dari jauh, Pak Arif melihat ketiganya. Senyum tipis tersungging di wajahnya.


"Liatin apa, Pak?"


"Oh-- itu, bukan apa-apa. Maaf, ibu tadi ngomong apa?" Perhatiannya teralih pada Bu Wardah yang berdiri di sampingnya.


"Bapak bisa kan datang di acara syukuran rumah kami?"


Pak Arif diam sejenak lalu menjawab, "Insya Allah saya usahakan datang kalau dapat izin."


Bu Wardah yang mendengarnya tersenyum senang. Bukan hanya karena Pak Arif mengusahakan datang tapi mengetahui laki-laki dewasa seperti Pak Arif masih mengutamakan izin kedua orangtuanya membuatnya semakin yakin bahwa laki-laki inilah jawaban dari doa-doanya.

__ADS_1


Bu Wardah tidak tahu bahwa selain orangtua, Pak Arif kini punya satu orang lagi yang harus dia dapatkan izinnya kalau mau ke mana-mana, dan yang satunya ini jelas lebih susah didapatkan izinnya.


***


__ADS_2