My Favorite You

My Favorite You
Hal Istimewa


__ADS_3

Di bulan-bulan terakhir mendekati Ujian, Citra kembali menjalani aktivitasnya dengan normal. Normal seperti biasa ketika belum ada Pak Arif sebagai seseorang yang berbeda dalam hidupnya. Pak Arif selalu seperti biasa masih sering menghukumnya dengan hukuman-hukuman yang membuat Citra terkadang masih mempunyai hasrat untuk membalasnya. Lelaki itu masih galak walaupun cara mengajarnya tetap juara. Bedanya setiap pulang sekolah Pak Arif akan menunggunya di bawah pohon tak jauh dari sekolah dengan sekantong jajanan sehat sebagai teman belajarnya terkadang juga sebagai sogokan supaya gadis yang sudah mulai mengenakan jilbab itu tidak mendiamkannya. Seperti hari misalnya, Citra harus menghabiskan jam istrahat mengerjakan soal karena ketahuan ngobrol saat pelajaran. Salahkan Abu yang suka sekali mengajaknya ghibah saat pelajaran berlangsung.


"Jari saya penyok, Pak." Adunya menunjukkan jari telunjuknya yang mencetak jejak folpen.


Pak Arif mengambil plastik putih dari kaitan motornya lalu menyodorkan nya, "Lain kali ulangi lagi supaya saya bisa hukum kamu menyalin isi buku paket." kata laki-laki tanpa perasaan.


Citra mengerucutkan bibir sebal, mengadu pada Pak Bambang yang setia menjadi orang ketiga diantara mereka, "Liat sendiri kan, Pak! Galak!"


Pak Bambang terkekeh begitupun Pak Arif yang hanya menggelengkan kepala gemas. Mau bagaimana lagi, resiko punya cem ceman anak muda ya kerjaannya ngadu.


"Ini suap untuk Pak Bambang." Kata Pak Arif sengaja menggoda Citra yang sudah menatap galak padanya. Satu kantong plastik juga tentu tidak ketinggalan untuk Pak Bambang yang sudah mengantar jemput siswi kesukaannya ini dengan selamat tanpa lecet-lecet.


"Pak Bambang di pihak saya kan? " Citra menatap lelaki paruh bayah itu penuh harap.


Pak Bambang tertawa, "Saya pihak netral Mbak Jen. Saya cinta damai."


"Bagus, Pak." Pak Arif tos dengan Pak Bambang membuat Citra sebal.


"Tau ah, semua bapak-bapak sama aja. Nyebelin." Gerutunya melipat tangan di dada.


"Iya, makanya Mbak Jen suka kan?" Goda Pak Bambang, yang langsung diacungi jempol oleh Pak Arif, puas melihat wajah tak terima Citra.


Mau ngamuk juga kenyataannya memang begitu. Hadeh.


***


Setiap sore Citra berdiri di depan jendela ruang tamu. Hal ini menjadi kebiasaannya semenjak Pak Arif membuka les gratis kepada siswa siswinya yang ingin mendapatkan pelajaran kimia tambahan sebagai upaya untuk mendapatkan hasil yang memuaskan kelak. Disana ada Lisna, Sari, Vania bahkan Tari tak ketinggalan meramaikan halaman rumah Pak Arif. Abu yang tidak pernah belajar tambahan selama ini pun hadir. Tentu saja niat sahabat nistanya itu bukan untuk belajar tapi cari muka di depan gebetannya. Agus? Tentu saja ada. Lisna kan sekarang jadi penumpang abadinya. Hanya dirinya yang tertinggal seorang diri disini. Bukan karena tidak mau belajar bersama tapi Pak Arif melarangnya. Laki-laki itu memberinya waktu khusus setelah Isya di rumahnya ditemani oleh Alul sebagai pihak ketiga. Selalu ada jalan memang kalau ada kemauan. Lihat saja Pak Arif, ada saja caranya untuk bisa bersamanya meskipun harus lewat jalur tutor mandiri.


"Mbak Jen, es krim nya Alul minta ya?"


"Jangan semuanya. " Jawab Citra tanpa menoleh pada Alul.

__ADS_1


"Oke." Alul kembali ke dapur sambil melompat-lompat kegirangan.


Lelah berdiri, Citra kembali ke ruang TV. Disana ada Mamanya yang tengah menonton sinetron azab favoritnya. Kali ini judulnya agak membuat otak ngebug. Anakmu adalah mertua dari Istriku. Apa coba maksudnya itu?


"Kusut gitu mukanya, Mbak." Mama menggeser tempat duduknya membiarkan sang putri mengisi bagian kosong disana.


"Bosen." Layar kaca sedang menampilkan sebuah adegan rumah tangga dimana sang mertua sedang memarahi menantunya. "Mertua galak ya, Ma?" tanyanya tiba-tiba ngeri membayangkan Ibu Pak Arif berubah jadi Godzilla.


"Nggak semua. Itu kan tergantung pribadinya orangnya."


"Tapi pasti ada galaknya kan, Ma?"


"Manusiawi dalam keluarga seperti itu."


"Ibunya Pak Arif bakal galak juga nggak sih?"


Mama menoleh, menatap putrinya dengan kening terangkat satu, "Kamu mau nikah sama Pak Arif?" Wajahnya langsung sumringah.


Citra berdecak melihat reaksi Mamanya yang kesenangan.


Mamanya langsung menoleh sepenuhnya pada Citra, "Ini yah, Mama cuma mau ngingetin. Modelan Pak Arif di dunia itu bisa dibilang satu diantara seribu. Langka. Jadi jangan sampai lepas."


"Iih mama kok gitu."


"Beneran, Mbak. Mbak Jen nggak tau aja gimana ibu-ibu majelis taklim pengen bangat punya menantu seperti Pak Arif. Tapi ya mau gimana, Pak Arif sukanya sama anak Mama." Katanya sombong.


"Tapi masa nikah muda sih, Ma? Mama nggak takut diomongin tetangga gitu? Ntar Jena dituduh MBA lagi."


"Yeeee, itu sih tetangganya aja yang iri dengki. Lagian Mbak Jen kan mau lanjutin kuliah, nggak tinggal disini-sini aja." Ujar Sang Mama menjelaskan situasi yang akan dihadapi Citra.


"Emang boleh? Istri bukannya harus selalu sama-sama suami ya? Ngelayanin suami."

__ADS_1


Mama mengibaskan tangan, "Itu zamannya nenek buyutnya Mama. Kalau sekarang semua bisa di bicarakan. Coba omongin sama Pak Arif. " memberi saran.


Citra manggut-manggut. Pak Arif kan open minded ya, masa sih tidak memikirkan masa depan seorang Citra Jenaya. "Ntar Jena tanyain deh."


"Jangan lama-lama. Itu ustadzah yang kemarin ngajarin sholat Jenazah di mesjid kayaknya demen sama Pak Arif."


Citra langsung terduduk tegak, "Seriusan, Ma? Cantik nggak? Trus trus Pak Arif nya gimana?"


"Cantik, kelihatan dewasa bangat. Ilmu agamanya juga mantap. Kalau Pak Arif---"


Citra menunggu dengan tidak sabar. Ini kalau Pak Arif sampai goyah, apa ia harus melempari rumahnya pakai batu bata?!


Mamanya melirik Citra dengan ekor mata. Anaknya itu terlihat sangat tegang di tempat duduknya.


"Yaaaa gimana yaaa, Pak Arif sih biasa aja cuma Budhe Lia kayaknya senang deh sama Ustadzah."


Citra langsung merosot di kursinya. Kalau sudah urusan Ibu-ibu, dia menyerah. Dari ujung kaki sampai ujung kepala memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Solat subuhnya masih suka telat, dzikir pagi dan petangnya kebanyakan tidak dikerjain, kemampuan di dapur juga standar, pekerjaan juga masih minta jajan sama orangtua, trus ada lagi nih yang paling parah, dosa-dosanya di masa lalu pada Pak Arif, haruskah ia jujur pada gurunya itu?!


"HEH! Kok bengong sih." Mama menepuk bahu Citra.


Citra menggeleng. Lalu helaan nafas keras lolos dari mulut nya, "Jena insecure, Ma. Jena kan nggak ada apa-apa nya dibanding perempuan-perempuan hebat yang suka Pak Arif di luar sana."


Mama menepuk-nepuk pundak Citra, "Jangan ngomong gitu ah. Mbak Jen hebat kok, nggak pernah bikin mama dan Papi khawatir. Bertanggungjawab sama diri sendiri dan tentu saja masih muda."


"Gitu doang?" Tanya Citra lesuh.


Mamanya menggeleng, "Satu lagi."


"Apa?"


"Pak Arif suka sama kamu."

__ADS_1


Citra mengangguk. Iya sih. Dari sekian banyak perempuan kenapa harus dirinya cobak. Pasti ada kan hal keren yang dilihat Pak Arif dari seorang Citra Jenaya kan?!


***


__ADS_2