My Favorite You

My Favorite You
Pak Arif yang menyebalkan


__ADS_3

Sepulang dari sekolah Citra langsung menelfon Pak Arif. Ia harus menyampaikan pesan dari penjaga TU sebelum lupa. Tanpa melepas seragamnya ia langsung mengambil HP dalam tasnya.


...Masnya Alul👻...


...Berdering...


Tak lama menunggu panggilan itu akhirnya diangkat.


"Assalamu'alaikum, Pak, ini saya, Citra." Sapa Citra terburu-buru.


"Waalaikumsalam warahmatullah, iya, tau. Ada apa? Sudah sampai di rumah?" Tanya Pak Arif di sebrang sana.


"Ini baru nyampe. Bapak kok cepat pulang? Dicariin Pak TU tadi." Kata Citra sembari duduk di kursi belajarnya.


"Dicariin kenapa?"


"Jadwal piketnya ganti, Pak. Bapak di suruh lihat jadwal baru." Jawabnya sambil merapikan rambut lurusnya yang lepek.


"Iya, nanti saya lihat. Kamu istrahat, jangan lupa solat dan makan." Pak Arif terdengar sibuk disebrang sana. Terdengar bunyi klakson bersahutan.


"Bapak belum sampai rumah ya?" Tanya Citra selidik.


"Belum."


"Bapak dimana? Kok pergi nggak bilang-bilang?" Citra mulai bete. Tumben-tumbenan Pak Arif meninggalkannya, kalau di culik ojek gimana? Yaaah, walaupun Pak Bambang jelas tidak akan melakukan nya sih tapi tetap sajaaaa---


Pak Arif terkekeh, "Di jalan. Makanya nikah sama saya supaya dapat laporan terus."


Citra memutar bola mata, "Nikah terus yang bapak pikiran. Saya lulus sekolah saja belum." katanya sebal.


"Ujian empat bulan lagi. Lulus SMA kita nikah ya." Permintaan itu terdengar serius tapi Citra yang sedang mode menyebalkan hanya memutar bola matanya.


"Bapak nggak malu punya istri cuma lulusan SMA? Orang lain sampai S3 loh Pak, minimal S1." Kata Citra, entah dia sudah mulai gila atau tertular Pak Arif yang pasti sekarang ia sudah mulai mempertimbangkan kemungkinan itu.


"Saya mau jadikan kamu istri, bukan pegawai." Jawab Pak Arif datar.


"Izin sama Papi coba?!"

__ADS_1


"Serius?"


Citra sampai menyengir mendengar suara antusias Pak Arif.


"Kalau Papi ngasi izin, mungkin saya akan pertimbangkan. Eh tapi--tapi, Pak--" Citra teringat panggilan aneh yang disematkan padanya. Citra Jenayanya Pak Arif, apa tidak getar hatinya mendengar itu? Dan paling aneh yang menyematkan nya adalah bapak TU yang seharusnya tidak tau hubungan mereka.


"Apa, Mbak Jen?" Tanya Pak Arif kalem.


"Tadi masa bapak TUnya manggilnya Citra Jenaya nya Pak Arif, aneh bangat."


"Aneh apanya? kan memang Citra Jenayanya Pak Arif." Ujar Pak Arif di sebrang sana.


Citra bersemu, dasar bapak-bapak tukang bikin baper, "Iiih bapak nggak ngerti! Maksud saya, kok beliau tau ya tentang kita?" Pura-pura ngambek selalu menjadi jalan ninjanya.


"Kita ya?" Pak Arif menggumam, lalu berdehem.


Citra mengangguk. Memang kita kan? KITA? Ya Ampuuuun sekarang Pak Arif dan dirinya sudah menjadi KITA? IIIIIIIH KOK LUCUUUU. Citra menutup mulutnya menahan senyum. Jangan sampai dia disangka gila hanya karena sering senyum sendiri.


"Paaak?" Tidak ada sahutan. Citra melirik hpnya, masih tersambung, "Bapaaaaaaak."


"Iya, masih disini, Mbak Jenaya." Sahut Pak Arif.


"Kamu keberatan di panggil seperti itu?" Tanya Pak Arif.


Citra menggumam tidak jelas lalu, "Nggggg--- Enggak sih." katanya malu-malu.


"Mbak Jen di ganggu teman-teman di sekolah?" Tanya Pak Arif lagi.


Anehnya tidak. Hanya Tari saja yang mengonfrontasinya secara langsung selebihnya hanya memperhatikannya dari jauh dan diam-diam melihat atau mencibir nya malah kebanyakan teman-teman nya menghampirinya untuk sekedar kepo masalah foto ini. Tak sedikit juga yang menggodanya dengan Pak Arif.


"Nggak ada sih Pak." Jawabnya.


"Alhamdulilah. Berarti tidak ada masalah kan?!" Pak Arif menjeda ucapannya karena berbicara dengan seseorang di sebrang saja. "Sekarang istrahat, tutup telfonnya. Assalamu'alaikum."


Citra cemberut tapi tetap menekan ikon merah, "Waalaikumsalam." Ia menatap layar hpnya yang sudah kembali gelap, "Aku kan masih pengen dengar suara Pak Arif." ujarnya menghela nafas pendek.


***

__ADS_1


Ujian semakin dekat, persiapan-persiapan menghadapinya sedang dilakukan oleh setiap siswa termasuk Citra. Gadis itu menjadi jarang keluar kamar karena menghabiskan waktu berlatih mengerjakan soal-soal latihan. Mama si paling khawatir kesehatannya akan sering mengecek ke kamar membawakan jajanan untuk dirinya sebagai teman belajar. Alul yang biasanya rese menjadi lebih pengertian, tak jarang anak itu menemani sang kakak belajar meski dalam artian ia numpang tidur.


Tok tok tok.


Ceklek.


"Mbak Jeeeen, dapat kiriman." Alul datang-datang langsung menerobos kamarnya.


"Kiriman apa?" Tanyanya tanpa mengangkat kepalanya dari kertas-kertas di atas mejanya.


Alul mendekat, menyodorkan satu plastik besar merek mini market yang bertebaran di setiap sudut tempat. "Mas Arif. Buat teman belajar katanya."


Citra buru-buru mengambil plastik itu dan memeriksa isinya. Banyak sekali jajanan di dalam dan semuanya adalah kesukaannya. Senyumnya yang tadinya mengembang langsung luruh. Ia menyerahkan kembali plastik itu pada sang adik.


Alul mengernyitkan kening, "Kenapa, Mbak?" tanyanya.


Citra kembali berkutat dengan soal-soal nya, "Nggak apa-apa. Mbak lagi malas sama mas kamu itu." ujarnya kesal. Bagaimana ia tidak mau kesal, Pak Arif tidak lagi mengiriminya pesan atau menelfon nya sejak hari dimana ia menelfon gurunya itu terakhir kalinya. Di sekolah pun Pak Arif memperlakukan nya semakin dingin dari biasanya, walaupun tetap dalam kapasitas formal sebagai guru dan murid. Tidak ada lagi Pak Arif yang mengikuti ojek yang membawanya. Dan itu sudah berlangsung selama sebulan. Bahkan saat Pak Arif mengantar Tim Kimia ke tingkat provinsi dan berhasil membawa pulang gelar sebagai runner up, Citra tak diberi tahu sama sekali. Bukannya apa-apa, ini Pak Arif loh yang terakhir kali di telfon mengajaknya menikah. Apa begini cara kerja orang dewasa, setelah berhasil mengobrak abrik perasaan seorang gadis kecil seperti dirinya lalu di lepeh begitu saja?


"Balikin lagi sama Pak Arif, bilang kalau Papi masih sanggup jajanin." Kata Citra. Jika Pak Arif bisa mengabaikannya, kenapa dirinya tidak?!


Alul menatap kantong di tangannya dengan bingung, "Ini Mas Arif loh Mbak, yang sering bikin Mbak senyum-senyum sendiri."


Citra menarik nafas jengah, lalu menatap sang adik dengan tatapan lelah, "Adek keluar! Mbak mau belajar. Bawa sekalian jajannya. Terserah mau diapain." katanya sambil menunjuk pintu.


"Mbak Jen yakin?"


Citra mengangguk dengan yakin.


Alul mengedikkan bahu, "Jadi orang dewasa ternyata ribet." katanya sebelum meninggalkan kamar sang kakak.


Sepeninggal Alul, Citra langsung membanting fulpennya kesal.


"Pak Arif nyebelin!" Desis nya kesal.


Dia mengambil HP dan kekesalannya semakin bertambah karena selain Pak Arif nya yang tiba-tiba berubah semakin menyebalkan, ada lagi yang bikin ubun-ubun nya siap mengeluarkan api, yaitu foto-foto di IG bu Wardah yang menunjukkan kebersamaan Pak Arif dengan teman-teman guru lainnya. Bapak kimia super menyebalkan itu terlihat lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-teman guru yang masih single entah ke gunung, taman, makan bahkan pernah di rumah Bu Wardah.


"PAK ARIF IIIIH!!!!"

__ADS_1


***


__ADS_2