My Favorite You

My Favorite You
Terkonfirmasi milik Pak Arif


__ADS_3

TIDAK! Citra bukan tipe gadis yang menahan bangkai dalam hatinya. Kalau suka bilang suka, kalau tidak suka bilang tidak suka. Tidak ada istilah memendam seperti sekarang ini.


"BAPAAAAAAK!!!!"


BRAKKK!!!


Pak Arif yang tengah mengetik terlonjak bersama dengan pintu di buka dengan kasar oleh Citra. Wajah gadis itu merah dengan kening menukik tajam serta nafas ngos-ngosan terlihat jelas kemarahan di wajahnya.


"Ada apa?" Pak Arif melepas kacamatanya, masih di posisinya depan laptop. Ruangan itu hanyalah ruangan kecil dengan beberapa rak buku serta meja kecil tanpa kursi sebab Pak Arif ingin mengganti suasana meja kerjanya di sekolah dan rumah. Hanya karpet bulu serta bantal-bantal kecil yang biasa dipakainya untuk rebahan sejenak.


Citra mengangkat HP menunjukan pesan yang membuat isi kepalanya terbakar. Bisa-bisanya ia diselingkuhi bahkan sebelum pernikahannya seumur jagung. Tidak bisa dibiarkan!


"Apa itu? Mas nggak bisa baca kejauhan." Jawab Pak Arif enteng, sepertinya mulai paham sebab kemarahan istri kecilnya itu. Entah apa lagi pesan yang dikirimkan oleh orang itu.


Citra berjalan mendekat dengan hentakan kaki yang tampak menggemaskan dimata Pak Arif. Susah kalau sudah bucin, dalam keadaan terancam seperti ini saja masih bisa terpesona.


"BACA!"


PLUK!!!


Citra melempar HP kearah Pak Arif yang untungnya di tangkap dengan tepat oleh Pak Arif jika tidak kepalanya dipastikan sudah benjol sekarang.


"Istighfar, Mbak. Sini duduk sama Mas." Pak Arif hendak memegang lengan Citra namun di tepis dengan kasar bahkan matanya sudah berkaca-kaca.


"Nggak usah pegang-pegang!"


Pak Arif menarik nafas, menatap gadis itu dari posisi duduknya, "Duduk ya sayang. Nanti Mas jelasin." Bujuknya lembut. Kembali memegang tangan Citra kali ini Citra tidak bisa melepaskan diri karena Pak Arif memegangnya dengan erat. "Kita baca pesannya sama-sama." ditariknya Citra hingga terduduk diatas pangkuannya. Citra berusaha lepas namun tangan Pak Arif melingkar di perutnya, menahannya.


"Nggak usah sayang-sayangan sama Jena--hiks." Citra menangis. Tak sanggup lagi menahan air matanya yang sejak tadi ingin keluar.


"Shhhtttt... Jangan nangis. Ini tidak seperti yang Mbak Jen pikirkan. Janji." Pak Arif mengecup rambut Citra berkali-kali. "Mas jelasin."


Citra masih menangis sesunggukan namun tak menolak saat Pak Arif menjatuhkan dagu di bahunya, sembari satu tangan laki-laki itu yang memegang HP membuka pesan masuk yang bikin pintu ruang kerjanya sepertinya hampir lepas.


"Sudah dibaca dari atas belum pesannya?"


Citra menggeleng, "Nggak berani. Kan privasi." jawab Citra dengan suara serak.

__ADS_1


Pak Arif terkekeh. Lihat kan? Manis sekali gadis pilihannya ini, dalam keadaan kesal pun masih berusaha menghormati privasinya. Padahal dirinya tak masalah jika istrinya ini melihat semuanya. Baginya tak ada istilah privasi jika sudah sah menjadi suami istri. Bagaimana mau diprivasi bahkan bagian tubuh yang paling privasi dari pasangan pun pasti dilihat walaupun untuk saat ini mereka belum pada tahap sejauh itu. Segera. Ya Segera.


"Dia teman se organisasi mas dulu waktu masih kuliah. Kemarin tiba-tiba mengirim pesan di HP Mas." Pak Arif menggulir layar HP dari atas membiarkan Citra membaca sendiri pesan itu yang isinya memang agak menyebalkan di baca tapi sama sekali tidak balas oleh Pak Arif. "Lihat sendiri kan, Mas sama sekali tidak memperdulikannya."


Citra menyusut airmatanya, "Tapi kenapa sampe minta dinikahin? Bawa-bawa anak lagi. Itu anaknya Mas?"


"Astaghfirullah, Sayang. Demi Allah, Mas belum pernah menyentuh wanita lain seujung kuku pun selain Ibu dan semoga Allah menjaga Mas dari menyentuh wanita yang tidak halal bagi Mas." Pak Arif mengeratkan pelukannya, "Hanya kamu wanitanya Mas. Hanya kamu yang Mas Sentuh dan Hanya kamu yang akan menjadi ibu dari anak-anak Mas." Di ciumnya pelipis Citra berkali-kali. "Hapus semua pikiran buruk itu. Mas tidak akan menyakiti kamu. Mas sudah janji sama Allah sejak lafadz qabul itu Mas ucapkan. Mas cinta sama kamu, Citra Jenaya."


Kali ini Citra menangis bukan karena marah tapi terharu mendengar ucapan Pak Arif, "Jena juga." Ia balik badan lalu memeluk leher Pak Arif, menyandarkan dagu di bahunya.


Pak Arif balas memeluknya erat, mengusap punggungnya naik turun dengan lembut, "Juga apa?" Bisiknya. Citra manyun. Niat sekali lelaki ini membuatnya malu. Apa Pak Arif ini tidak tahu bahwa mengungkapkan cinta itu berat bangat?!


"Jawab!" Tuntut Pak Arif menjauhkan badan Citra agar bisa ditatapnya mata bening itu, "Juga apa?" wajahnya mendekat, hingga jarak kedua bibir mereka hanya setipis rambut.


Citra mengerjap, merasa kehilangan oksigen dengan posisi seperti ini. Belum lagi posisi duduknya yang entah sejak kapan pahanya mengangkangi, mengapit pinggang Pak Arif. Terlalu dekat. Sangat dekat. Bikin pusing.


Citra hendak menarik kepalanya ke belakang agar tercipta jarak namun tengkuknya ditahan oleh Pak Arif. Tak ada lagi cara melarikan diri baginya. Dia harus menyelesaikan diri dan melarikan diri supaya bisa tetap hidup.


"Jena juga cinta Mashhhmpphhh."


Sudah bisa ditebak. Pak Arif jelas tak akan membiarkan dirinya bebas begitu saja. Pak Arif menciumnya dengan lembut, mengeksplor bagian dalam mulutnya dengan tidak sabar. Mengh*sap bagian lunak itu yang dibalas sebisa mungkin oleh Citra.


"Hmphh." desahannya teredam oleh Ciuman Pak Arif saat rasa itu semakin menyerang. Disisi lain Pak Arif sama sekali tak berniat melepasnya.


Kepanikan Citra belum selesai saat merasakan sesuatu yang keras menekannya. Citra memaksa melepaskan bibir mereka dan berhasil, menimbulkan bunyi kecup yang jelas. Citra menatap Pak Arif yang berkabut mencari jawaban dari apa yang dipikirkan di kepalanya sekarang.


Kedua tangan Pak Arif turun bertengger di paha atasnya, mengusap dengan pola abstrak sedangkan wajah bercambangnya menyeruk di lehernya, mengecup menggodanya, "Mas mau kamu." Bisiknya dengan nafas memburu, "Boleh?"


Citra tak tahu harus menjawab apa namun tubuhnya serasa seperti sinyal untuknya. Ia tidak tahu apa yang dirasakan nya tapi ia suka saat Pak Arif menyentuh, ia suka rasa yang ditimbulkannya dan gilanya lagi ia menginginkan sentuhan itu lebih dalam. Dengan sisa kewarasannya, Citra menangkup wajah Pak Arif, menatap matanya dan dengan pelan tapi pasti mendekat, mengecup bibir basah itu lembut sebagai tanda persetujuannya. Mendapat lampu hijau itu, Pak Arif tak membuang-buang waktu membalas ciuman itu lebih dalam dan perlahan merebahkan Citra diatas karpet tak lupa menyelipkan bantal kecil dibawah kepalanya.


Citra mengerjap dengan nafas tertahan melihat Pak Arif di atasnya, posisi mereka sangat rawan. Citra tahu bahwa malam ini akhirnya datang juga saat ia menyerahkan diri sepenuhnya pada suaminya, menyempurnakan kewajibannya.


Pak Arif menepis anak rambut yang jatuh di kening Citra dengan hati-hati, "Mas akan pelan-pelan." bisiknya selembut kepangan sayap kupu-kupu yang mulai berterbangan di perutnya.


***


Citra terbangun. Matanya liar menatap langit-langit temaram yang terlihat tinggi kali ini. Tumben sekali ia kedinginan padahal biasanya Pak Arif mengatur suhu kamar agar hangat. Ngomong-ngomong dimana ini? Kenapa tidak ada lampu tidur kelap kelipnya? Citra mengerutkan kening, berpikir keras. Kesadaran menyentak nya saat melihat kondisinya yang tak berbusana dengan selimut meluruh di perutnya.

__ADS_1


"Astaghfirullah." Citra terduduk, buru-buru menarik selimut dengan wajah panik. Kenapa ia telanj*ng? Dimana baju-bajunya? Pantas saja ia dingin ternyata tidak ada sehelai benang pun membungkus badannya. Citra menutup mulut menahan pekikannya saat melihat pakaiannya tercecer disekitarnya, ingatannya seketika memutar adegan haram yang dilakukannya semalam dengan Pak Arif, "Papiiiiiiiii" ia memanggil papinya dengan suara lirih, "Piiiih," Citra panik. Terlebih tidak ada siapapun di ruangan itu, hanya dirinya. Pleaseee, ini hanya mimpi kan? Dengan susah payah sembari memegang selimut agar tidak jatuh, ia mencoba berdiri namun baru saja menggerakkan jari kakinya, rasa nyeri menyerang pusat tubuhnya.


"Awwshhh." Rintihnya. Ia menatap kebawah, tahu persis penyebab bagian itu perih. "Ya Allah, kok sakit? Periiih." Citra tak jadi berdiri. Ia terduduk kembali dengan lesuh. "Massss... " Panggilnya agak keras. Ruangan itu kosong namun pintu sedikit terbuka memunculkan cahaya dari ruang tengah. Citra kembali mencoba bergerak kali ini ia ngesot di lantai dengan susah payah.


"Mas.... " Panggilnya memelas. Bagian bawahnya tidak bisa diajak kerjasama sama selalu. Belum lagi rasa pegal di seluruh tubuhnya. Pak Arif yang seharusnya bertanggungjawab malah hilang. Citra menghembuskan nafas kasar. Lalu dengan sisa tenaganya kembali bergerak, "Mass... "


Pintu terbuka, Pak Arif masuk hanya mengenakan sarung tanpa atasan. Dia baru saja dari kamar mandi dan dibuat terkejut oleh penampakan Citra yang mirip adegan film horor, "Loh," Ia menekan saklar lampu "Sayang ngapain?" menghampiri Citra yang menatapnya dengan tatapan memelas.


"Masssss... kok bawahnya jena sakiiiit?" Adunya hampir menangis.


Pak Arif mendekapnya dengan rasa bersalah, "Maaf ya. Maafin Mas." ucapnya mencium kening Citra lama. Mungkin semalam ia terlalu bersemangat sampai tidak memikirkan kondisi istrinya.


"Mas nggak salah cuma jena nggak bisa berdiri. Kaki Jena kayak mau copot. Itunya perih sampe ketulang-tulang." Ujar Citra menatap Pak Arif dengan wajah polos yang kebingungan membuat Pak Arif merasa seperti seorang bajing*n beruntung karena merasa gemas dengan ekspresi yang ditunjukan Citra. Pasti perih lah, di gempur hampir semalaman sama bujang yang sudah berpuasa seumur masa baligh nya. Ketika akhirnya buka puasa ya beginilah jadinya, anak gadis orang jadi korban.


"Kok mas senyum sih?" Protes Citra menatap Pak Arif galak.


"Eh, enggak sayang. Mas cuma-- Ah, ayo Mas bantu." Pak Arif mengalihkan perhatian Citra, menggendongnya ala bridal style. "Ayo ke kamar."


"Mau ngapain?" Tanya Citra waspada. Ia bahkan menyilangkan tangan di dada saking paniknya.


Pak Arif terkekeh, "Enggak, Sayang. Kita cuma tidur. " Ujarnya sungguh-sungguh. Ia meletakkan Citra diatas ranjang setelah mengatur bantal.


Citra masih menatap Pak Arif dengan waspada, "Emang sekarang jam berapa?"


Pak Arif mengambil hpnya di nakas, "Jam satu lewat." jawabnya, lalu meletakkan kembali hpnya sebelum kemudian ikut menyusul diatas ranjang.


"Janji ya Mas, kali ini tidur aja." Citra menoleh pada Pak Arif yang mengatur bantal untuk dirinya sendiri.


Pak Arif mengangguk, "Iya, sayang." Ia mendekat, menjadikan lengannya sendiri sebagai bantal Citra, "Sini Mas peluk."


Citra mendekat dengan ragu-ragu, "Janji?" tanyanya lagi sebelum benar-benar mendaratkan kepala di lengan suaminya.


"Janji sayang." Pak Arif tersenyum kecil, memeluk Citra dengan erat.


Citra bersandar nyaman di dada terbuka Pak Arif, menikmati elusan lembut di lengannya yang terbuka hingga membuat matanya memberat. Sebelum benar-benar terlelap ia sempat mendengar Pak Arif berbisik padanya.


"Makasih ya." Pak Arif mengecup kening Citra lalu ikut terlelap.

__ADS_1


***


__ADS_2