My Favorite You

My Favorite You
Klarifikasi


__ADS_3

Biasanya nih ya, biasanya, Citra akan mengambil jarak sejauh mungkin dari radar Pak Arif bahkan jejaknya pun akan di hindarinya apalagi sarangnya. Tapi sekarang, seorang Citra Jenaya dengan suka rela berdiri di depan rumah Pak Arif hanya untuk memastikan satu hal, kurang gila apalagi coba siswi kesukaan Pak Arif ini.


"Bapak beneran mau mendaki? Bareng Bu Wahdah?"


Pak Arif yang baru saja membuka pintu langsung di cerca pertanyaan dari tetangga depan rumah merangkap siswinya itu. Bahkan tidak ada salam sama sekali. Benar-benar luar biasa.


"Assalamu'alaikum dulu, Mbak Jen." Tegur Pak Arif mengintip ke belakang gadis itu, biasanya ada Alul yang mengekor di belakangnya. Tumben sekali hari ini mau datang ke rumahnya, sendiri pula.


"Waalaikumsalam. Jadi bener?" Citra melipat tangan di depan dada, menatap Pak Arif penuh. Tak sabar untuk segera mendapatkan klarifikasi. Lupakan sejenak sopan santun, ia sedang terbakar sekarang, terbakar api cemburu--HEH!


"Benar apanya?" Tanya Pak Arif dengan kesabaran tingkat tinggi. Laki-laki itu membuka pintu lebar-lebar, "Tidak mau masuk dulu?"


Citra menurunkan tangan dan egonya, "Bapak tidak sendiri kan di rumah?" tanyanya sambil melewati Pak Arif masuk kedalam rumah.


"Iya." Pak Arif mengikuti Citra yang duduk di kursi tamu. "Mau minum apa?"


"Nggak usah, Pak. Sudah di rumah tadi." Tolak Citra mengibaskan tangan. "Mending bapak duduk, jawab pertanyaan saya." lanjutnya serasa tuan rumah.


Pak Arif terkekeh. Bisa-bisa nya ia menyukai gadis labil ini. Emosinya bahkan belum bisa terkontrol dengan baik. "Jadi Mbak Jen ini mau dengar apa dari saya?" tanyanya lembut setelah duduk di kursi single di depan Citra. Lengan bajunya ia gulung sesiku.


"Bapak mau mendaki bareng Bu Wardah?" Ulang Citra.


"Sama guru lain juga, Mbak."


"Berarti benar dong Pak Arif mau nikah sama bu Wardah? Katanya suka sama saya, kok nikahnya sama Bu Wardah sih?" Tuntut Citra menatap Pak Arif galak.


Pak Arif mengernyitkan kening, "Siapa yang mau menikah sama Bu Wardah? Mendaki iya, sama guru lain juga. Kenapa jadi menikah." guru muda itu menggaruk ujung keningnya bingung.


"Kata Mama, Pak Arif lagi di jodoh-jodohin. Udah nemu Bu Wardah sekarang. Iya kan?"


"Astaghfirullah." Pak Arif mengusap wajah.Ia bahkan tidak membahas pernikahan dengan siapapun tapi kenapa siswinya ini malah satu langkah kedepan infonya. Sudah pasti nyonya rumah ini sudah melakukan bincang-bincang dengan tetangga depan.


"Pak Arif nggak boleh mainin hati perempuan. Baru juga kemarin bilang sukanya ke saya, Kok nikahnya sama Bu Wardah? Nggak bisa gitu ya, Pak." Citra mengangkat dagu tinggi-tinggi, "Ini hati loh Pak bukan larutan."


Pak Arif bersandar di kursi dengan kedua tangan menjadi bantalan kepalanya. Tatapannya jenaka kearah siswinya yang sedang menatapnya sengit, "Jadi karena saya sukanya sama kamu, saya juga nikahnya harus sama kamu. Begitu, Mbak Jen?"

__ADS_1


"IYALAH-- EEH NGGAK!!! " Citra meralat ucapannya cepat, "Te-terserah bapak sih." ujarnya tergagap malu. Duh, malu-maluin, Cit. Gadis itu melarikan pandangannya ke lantai rumah tatkala melihat senyum puas tipis Pak Arif. Mati ajalah Cit, sekalian.


Pak Arif meluruskan punggungnya, "Oke, saya dan guru-guru lain memang rencanannya mau mendaki mi--"


"Bu Wardah juga?" Potong Citra cepat.


Pak Arif menghela nafas pendek lalu mengangguk, "Iya, Bu Wardah juga. Tapi kami hanya mendaki bukan menikah. Paham sampai disini?"


Citra mengangguk.


"Saya sukanya sama kamu, kalau jodoh, nikah juga sama kamu." Lanjut Pak Arif.


"Saya nggak mau nikah sama bapak."


Pak Arif menaikkan satu alisnya, "Yakin?" tantang nya.


Citra manyun, "Tau ah. Saya masih kecil nggak mau bahas-bahas nikah. Geli." ujarnya bergidik, memeluk lengannya sendiri.


"Mbak Jen duluan tadi yang bahas. Lagian nikahnya juga bukan sekarang."


"Mbak Jen siapnya kapan?" Pak Arif tersenyum tipis melihat wajah Citra yang bersemu merah. Gadis kesukaannya itu menangkup wajah dengan kedua tangan.


"Bapaaaaaak, maluuuuuuuu." Ujarnya teredam.


Tawa Pak Arif pecah. Rasa-rasanya tangannya gatal ingin mengacak rambut hitam panjang itu tapi ia masih ingat kisah favoritnya dimana seorang pemuda soleh lebih memilih membakar kesepulun jarinya ketimbang menyentuh wanita yang tidak halal untuknya.


"Lain kali jangan mulai." Kata Pak Arif masih setia menatap Citra yang menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. "Dari pada bahas pernikahan, ada yang saya ingin tanyakan sama Mbak Jen tapi turunin dulu tangannya."


Citra menurunkan tangannya tapi tak berani mengangkat kepala. "Bapak mau tanya apa?"


"Foto di dompet kamu itu---"


Mampus!


Citra berdiri cepat, "Eeeng kayaknya udah malam deh, Pak. Saya pulang ya, Pak. Nanti dicariin orang rumah." ujarnya tanpa berani menatap Pak Arif. Ia harus melarikan diri secepatnya kalau tidak mau berakhir diceramahi Pak Arif. Gadis itu bergegas keluar sementara Pak Arif memperhatikannya dengan senyum kecil tapi tak menghalanginya menuju pintu, "Permisi, Pak. Assalamu'alaikum." ujarnya berlari sekencang mungkin.

__ADS_1


Pak Arif menggelengkan kepala melihat tingkah lucu Citra "Waalaikumsalam warahmatullah." Ia berdiri di depan pintu memastikan Citra masuk dalam rumah sebelum kemudian menutup pintu.


"Siapa, Rif?" Ibu Pak Arif muncul dari arah ruang tengah membawa brownis yang baru saja keluar dari panggangan.


Pak Arif menoleh kearah pintu yang sudah tertutup, "Calon." jawabnya dengan senyum kecil menghias wajahnya.


.


.


"Pi, liat deh, foto yang ini sobek."


Citra yang baru masuk tertahan di ruang tengah mendengar ucapan Alul yang tengah menemani papi dan Mamanya nonton TV.


"Loh, Iya ya. Kok bisa sobek?" Mama menimpali.


"Dimakan tikus mungkin." Ujar Papi.


"Dimakan tikus kok sobekkannya pas bagian Pak Arif aja? Rapi lagi." Tambah Mama yang kini fokus memperhatikan foto, melupakan sejenak sinetron favoritnya. Album foto kegiatan-kegiatan di mushola memang di simpan di rumah Citra.


"Iya. Tikusnya pasti ganjen, gigi depannya pasti tonggos." Sambung Alul membuat Citra ingin sekali melempar vas buka di kepalanya.Bisa-bisanya spek bidadari begini disamain kayak tikus.


Ganjen palamu lonjong?! "Adik durjana!" Gereget Citra, ia masuk ke kamar sambil menghentakkan kaki kesal, "Assalamu'alaikum." Teriaknya sebagai formalitas lalu menutup pintu.


Ketiga orang di ruang tamu itu menoleh kebelakang, "Mbak Jen kayaknya lagi sakit, Pih, Ma. Kasian, padahal masih muda." Alul bersuara dengan mimik prihatin.


"Hush! Jangan sembarangan ngomong." Tegur Papi dan Mama. Alul mengedikkan bahu, punya kakak perempuan satu-satu nya kok gini bangat. Anak SD itu menggeleng-gelengkan kepala, sayang saja kakaknya setengah mateng, kalau tidak, bisa digadaikan ke tetangga depan sebagai jaminan untuk dapat stiker baru. Pasti Pak Arif tidak akan menolak.


Sementara itu di kamarnya Citra buru-buru mengambil dompetnya lalu mengeluarkan sobekkan foto dimana muka Pak Arif sudah di gambar sedemikian rupa.


"Yaaah, nggak bisa dihapus." Ujarnya lesuh setelah mencoba menghapus bagian coret-coret itu. Akhirnya dengan menyesal ia memasukan kembali foto itu dalam dompetnya, "Galak sih." gerutunya sambil mengusap-usap wajah di foto tersebut, tak lama senyum manis terbit di wajahnya lalu terkekeh persis orang kurang waras.


Luuul, liat Mbakmu Luuuul!


***

__ADS_1


__ADS_2