My Favorite You

My Favorite You
Diam-Diam dapat Love


__ADS_3

"Jadi ikut kan Cit?" Abu menghampiri Citra di bangkunya.


"Jadi dong." Citra menutup bukunya lalu buru-buru memasukkan dalam tas. "Izin Papi dulu." ia mengambil HP lalu menelfon Papinya meminta izin untuk hunting foto bagus bersama Abu. Sahabatnya itu memang sedang hobi-hobinya fotografi. Citra yang sudah diangkat jadi bestie forever sering diajak untuk berburu foto bagus.


"Assalamu'alaikum, Pi. Jena pulang telat ya, mau jalan sama Abu."


"Waalaikumsalam. Jangan pulang malam ya Nduk."


"Siap, Papi." Citra menutup telfonnya, "Aman."


Abu mengancungkan jempolnya, "Mantap."


"Tapi ingat ya, bayaran saya tidak murah."


"Iyeee aaah. Tenang aja, saya sudah siapin semuanya di tas." Kata Abu menepuk tak ranselnya.


"Bagus." Citra menyengir. Mereka keluar kelas beriringan.


"Pake." Abu menyerahkan helm yang di pinjam nya sama temannya pada Citra.


"Berat ih helemnya. Gak usah aja. Nggak ada polisi juga." Tolak Citra mengembalikan helm itu pada Abu.


"Mau ada polisi atau tidak, aspal tetap keras, Mbak." Ujar Abu memakaikan helm pada Citra.


"Ck, berat. Ganti helm aja. Biar saya pinjam sama---"


"Woe!"


Citra dan Abu yang berdebat perkara helem menoleh. Di parkiran itu ada Agus yang juga hendak mengambil motornya.


"Mau kemana?" Teriak Agus.


"Hunting foto. Mau ikut?" Ajak Citra.


"Ajak Lisna tapi ya?"


Citra melirik Abu, "Gimana?"


Abu mengangguk, "Boleh deh."


"Oke. Kamu yang telfon." Ujar Citra, naik keatas motor.


"Kami tunggu di dekat halte." Ujar Abu pada Agus yang sedang berusaha menelfon Lisna. Cowok itu mengacungkan jempolnya.


"Beli minum dulu lah." Citra menepuk pundak Abu saat motor sudah melaju meninggalkan sekolah.


"Pop Ice di depan banyak variannya."


"Tetap di hati cuma taro."


Keduanya asik bercerita sepanjang jalan tanpa menyadari keberadaan Pak Arif yang sedang membeli kue putu di pinggir jalan. Laki-laki jelas mengenali kedua siswanya tersebut.


Abu menghentikan motornya di tempat penjual pop ice bersamaan dengan itu sebuah panggilan masuk di HP Citra. Nama Pak Arif tertera disana.


"Pak Arif ngapain telfon ya?" Gumamnya terdengar jelas oleh Abu. Cowok itu mengintip HP Citra.


"Kangen kali."


"Dih, apaan." Citra menggeser ikon hijau,

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Pak."


"Waalaikumsalam warahmatullah. Mau kemana?"


"Ha?" Citra melihat kiri kanan, apa Pak Arif melihatnya ya?


"Mau kemana?" Tanya Pak Arif lagi.


"Kenapa?" Tanya Abu tanpa suara pada Citra.


Citra menggeleng tak tahu, "Jalan sama Abu, Pak. Ada apa, Pak? Mau nitip sesuatu?"


"Jalan kemana?"


"Jalan kemana kek." Citra mulai kesal. Seingatnya Pak Arif tidak sekepo ini biasanya, "Kenapa sih Pak? Saya sudah izin kok sama Papi."


"Sama saya belum."


"Lah, ngapain? Bapak bukan siapa-siapa saya. Jam sekolah juga sudah lewat." Ujar Citra tak mengerti kenapa ia harus izin Pak Arif. Ya Pak Arif memang memintanya untuk izin tapi kan--- Ah sudahlah.


Tidak ada jawaban dari Pak Arif.


Citra melihat layar hpnya, masih tersambung, "Pak?" Panggilnya.


Pak Arif tidak menjawab namun helaan nafas terdengar disana sebelum kemudian ia menutup telfon setelah mengucapkan salam.


"Kenapa sih? Aneh bangat ini bapak bapak satu." Citra menatap layar telfonnya dengan kening mengerut.


"Ada apaan?" Tanya Abu penasaran.


Citra menggeleng, "Nggak tau. Nggak jelas bangat." Ia memasukan kembali hpnya dalam tas, "Yuk, pesan es nya."


***


"Cit,"


"Hm?"


"Itu Pak Arif kan?"


Citra melihat kedepan dimana Pak Arif tengah berdiri di depan pagar rumahnya.


"Bapak ngapain?" Tanya Agus.


Citra menggeleng, "Dari rumah kalik."


"Ngelamar?"


"Jangan gila ya." Citra memukul bahu Agus kesal. Ngeri bangat nggak sih kalau beneran dia di lamar? Haduh. Jangan sampe. Pak Arif juga masih punya otak sehat untuk tidak menikahi siswinya sendiri, iya kan?


"Assalamu'alaikum, Pak." Sapa Agus saat menghentikan motornya di depan rumah Citra.


"Waalaikumsalam." Balas Pak Arif. Ia sama sekali tidak menyapa Citra yang berdiri disamping motor Agus.


"Bapak dari ru--"


"Bapak masuk dulu ya, Gus. Hati-hati bawa motor." Potong Pak Arif tak membiarkan Citra bicara.


"Ah iya, Pak. " Agus menyalami Pak Arif dengan santun.

__ADS_1


Pak Arif meninggalkan mereka tanpa melirik Citra sama sekali. Citra yang diperlakukan dingin seperti ini hanya bisa bengong.


"Kalian marahan?"


Citra mengerjap, "Enggaklah." Jawabnya tak yakin.


"Kirain marahan. Pulang di rumah langsung chat, tanyain."


"Dih, kayak orang pacaran aja."


"Memangnya tidak?"


Citra menatap Agus malas, "Gimana mau pacaran, jalan aja iring-iringan kayak mobil pengantin." ujarnya teringat kejadian pulang dari taman kemarin. Modelan seperti Pak Arif pacaran? Citra lebih mempercayai kucing bertelur daripada Pak Arif pacaran.


"Mbak Jen ngarep ya?" Goda Agus menoel-noel bahu Citra namun aksinya itu terhenti oleh teguran seseorang.


"Pulang, Gus. Nanti maghribnya terlambat." Pak Arif muncul di depan pagar mengenakan baju koko dan sarung.


Agus menoleh dan mengangguk takzim, "Iya, Pak." Ia lantas menoleh pada Citra, "Saya balik, Cit, ngeri sama bapak-bapak yang sedang cemburu." bisiknya lalu menstater motornya meninggalkan Citra tak lupa membunyikan klakson saat melewati Pak Arif.


Citra pikir Pak Arif akan menegurnya seperti biasa seperti menyuruhnya masuk atau menceramahinya satu dua ayat tapi ternyata tidak. Pak Arif bahkan tak menoleh lagi kearahnya, langsung berjalan menuju mushola.


"Itu Pak Arif sariawan apa sawan ya?" Monolog Citra menatap punggung gurunya.


Citra masuk dalam rumah dengan tidak bersemangat. Ada yang tidak enak dalam hatinya saat Pak Arif bersikap dingin padanya.


"Assalamu'alaikum." Ucapnya tak bersemangat.


"Waalaikumsalam. Gimana tadi, Nduk? Senang-senang?" Tanya Papi yang sudah bersiap hendak ke mushola.


Citra mengangguk, "Senang, Pi."


"Senang kok mukanya murung gitu? Lemes."


Citra menggeleng, "Nggak apa-apa, Pi. Alul tidak ikut ke mushola, pih?" Adiknya itu tidak biasanya tidak ribet sore seperti ini. Adalah nanyain sajadah, songkok nya, sampai sendal anti maling juga biasanya bikin heboh sesorean. Persiapan beribadah yang sangat bikin kesabaran seorang kakak teruji.


"Udah duluan sama teman-temannya."


Citra mengangguk, "Oh. Yaudah, Jena ke kamar ya, Pih."


"Iya. Mandi trus jangan lupa sholat."


"Siap, Papi."


Citra masuk dalam kamar. Ia langsung menghempaskan badannya diatas kasur sambil melamun, menerawang kira-kira kenapa Pak Arif bersikap seperti itu padanya.


"Apa aku salah ngomong ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Jika sebelumnya Citra berharap tidak usah berurusan dengan Pak Arif, sekarang ia malah merasa tidak nyaman saat gurunya itu tidak menegurnya. Bahkan untuk sekedar menyapanya pun tidak.


Citra menghela nafas, "Tau ah. Pusing!" ia bangun dari ranjang. Saat akan ke kamar mandi, sebuah pesan dari Abu masuk. Disana ada hasil screenshot foto dirinya dan lingkaran merah pada bagian tanda hati diikuti pesan dari Abu.


Abu gosok🤡


Dapat love dari Pak Arif 🥳


***


Ini loh yang dapat Love, anggap aja Citranya lagi nggak pake Jilbab ya 😅


__ADS_1


__ADS_2