
Pernah lihat kehidupan seorang buronan? Belum? Kalau belum, lihatlah seorang Citra Jenaya sekarang. Hidupnya menjadi tidak tenang semenjak Pak Arif mengungkapkan rasa sukanya padanya. Siswi yang akhirnya menyerah menggunakan rok pendek kesukaannya itu tengah mengendap-endap di balik tembok menuju kantin. Lapar dan tertindas, kurang sengsara apalagi hidupnya. Dan salah siapa semua itu? Oooh tentu saja Lord Arif yang sedang santai di bawah pohon mangga bersama siswa siswi kesayangannya. Awas saja kalau ia jatuh pingsan gara-gara kelaparan, akan dipastikan Pak Arif menikmati hari-harinya di bawah pembalasan dendamnya.
"Kenapa harus diam-diam gini sih? Perasaan saya tidak punya utang atau musuh di sekolah ini." Abu yang terpaksa mengikuti aksi memalukan ini pasrah di seret-seret oleh Citra yang membawa-bawa kesetiaan seorang sahabat yang harus di junjung tinggi.
"Shhhhhtttt jangan berisik!" Mereka hampir saja mencapai dinding kantin dan sedikit lagi bisa menyelinap masuk.
"Ck. Nyusahin bangat ni anak." Abu merutuk tanpa berusaha menyembunyikan dirinya sama sekali.
"Nunduk!" Citra menarik tangan Abu agar berjalan menunduk. "Nanti ketahuan." Ujarnya pelan.
"Ketahuan siapa? Yang ada semua orang liat kita kayak orang aneh." Protes Abu tapi tetap berjalan menunduk entah apa faedahnya. Masalahnya mereka sedang menunduk di bawah jendela kelas yang isinya sedang kosong sementara semua orang di halaman sekolah melihat mereka dengan jelas.
"Pak Arif." Ucap Citra gemas karena Abu susah diajak kerjasama.
"Pak Arif guru kimia kesayangan kamu itu?"
"Siapa lagi."
Abu menghela nafas pasrah. Sungguh sangat bodoh. Sejak tadi mereka jalan mengendap-endap untuk menghindari orang yang sedang menonton mereka bak layar lebar. Hebat sekali Mbak Citra Jenaya ini.
"Yuk, bangun yuk!" Abu menarik Citra untuk berdiri tegak.
"Ih, apaan sih! Nanti ket---"
"Tuh! Pak Arif lagi nontonin kita." Tunjuk nya kearah pohon mangga dimana bukan saja Pak Arif yang memperhatikan tapi teman-temanmu mereka juga, "Disana ada Pak Fian." jarinya menunjuk arah lain dimana Pak guru kesukaan Citra tengah berdiri menatap mereka bersama beberapa guru lain. Memang cari malu mereka berdua ini.
"Bu? Abuuuu?" Citra menepuk-nepuk lengan Abu cepat, "Itu mereka lagi liatin siapa? Bukan kita dong ya. Masa kita sih? Kan dari tadi kita ngumpet." wajah Citra meringis ngeri. Demi mesin jahit jago-jago papinya, mau dibawa kemana mukanyaaa! hiks.
__ADS_1
Abu menepuk bahu Citra pelan, "Sabar, memang hidup kita tuh nggak lengkap sebelum mempermalukan diri."
***
Pelajaran pertama sukses terlewati, pelajaran kedua dan kantin pun Citra lalui dengan selamat meskipun tidak bisa dikatakan seratus persen tapi setidaknya ia tidak berhadapan langsung dengan Pak Arif tapi kali ini sepertinya akan sulit--
"Bukunya di meja bapak ya."
"Baik, Pak." Citra mengangguk tak semangat. Biasanya ia selalu bersemangat kalau bisa menolong Pak Sudarmono. Beliau adalah guru biologi kesayangannya. Beliau adalah guru legend yang terkenal kebijaksanaannya. Beliau tidak pernah marah tapi sekalinya marah bahkan kepala sekolah dibuat kicep. Kesahajaan beliau membuat guru-guru lain maupun para siswa menaruh rasa hormat dan segan kepadanya. Dan sekarang Citra seperti biasa mendapat kepercayaan dari Pak Sudarmono untuk mengambil buku tugas milik teman-temannya. Yang bikin Citra lemas adalah meja Pak Sudarmono terletak tepat di samping meja Pak Arif yang tengah di hindarinya.
Citra mengintip kedalam ruangan guru terlebih dahulu untuk memastikan Pak Arif sedang tidak di dalam. Seharusnya sih beliau tidak disana karena sedang jam pelajaran tapi siapa tau saja semesta mengkhianatinya seperti biasa. Citra bisa menarik nafas lega kala tak menemukan keberadaan Pak Arif disana. Dengan langkah ringan siswi yang sudah mulai lagi mengenakan rok panjangnya itu masuk ruang guru.
"Cari apa, Nak?"
Deg!
Citra membeku. Suara itu, jelas suara milik Pak Arif yang entah datang dari mana. Sepertinya laki-laki itu tidak mengenalinya karena Citra sudah berdiri di depan meja Pak Sudarmono.
"Oh." Jawab Pak Arif pendek. Lelaki itu sudah kembali ke mejanya sendiri tepat di samping Citra berdiri. Citra mengintip melalui ekor mata, ternyata Pak Arif tengah sibuk membaca. Syukurlah.
Citra buru-buru mengambil tumpukan buku lalu bergegas keluar, "Permisi, Pak."
"Iya."
Citra mempercepat langkahnya. Saat akan mencapai pintu, Pak Arif kembali bersuara kali ini memaku kaki Citra di tempat.
"Sampai kapan mau menghindari saya?"
__ADS_1
Citra menggigit bibir bawahnya mati kutu. Percuma saja usahanya untuk tidak terlihat Pak Arif, nyatanya bapak gurunya ini mengetahui semua usahanya. Citra berdehem, lalu tanpa mengatakan apapun ia segera berlari seperti maling yang sedang diburu warga meninggalkan ruangan itu dan juga Pak Arif yang mengulum senyum tipis.
Citra terus berlari sambil sesekali melihat kebelakang, takut Pak Arif mengejarnya yang tentu saja tidak mungkin. Selama ini Pak Arif bekerja dengan profesional, tidak pernah melakukan sesuatu di luar tugasnya sebagai seorang guru. Citra adalah satu-satunya siswi yang mampu membuat guru muda itu menghianati prinsipnya sendiri meskipun tidak sampai membuatnya tidak profesional dalam bekerja.
"Kenapa?" Tanya Lisna setelah Citra duduk kembali di bangkunya. Buku tugas mereka sudah ia serahkan Pak Sudarmono.
Citra menggeleng, "Nggak apa-apa. Pengen lari-larian aja." ujarnya bohong. Untuk ungkapan hati Pak Arif, Citra belum menceritakannya pada siapapun. Kalau bisa, jangan ada orang yang mengetahui hal ini. Citra harus memastikan sekali lagi agar bisa mengambil sikap untuk membalas atau menolaknya. ASTAGA MEMBALAS? TIDAAK!!! Citra menarik rambutnya panik. Pikiran darimana itu? Bisikan darimana itu? Bisa-bisanya ia berpikir untuk membalas perasaan guru tak berhati itu. Duh, Cit, sadar Naaaak. Sadar!
"Kenapa sih?" Lisna menarik tangan Citra yang sedang memegangi rambut dengan wajah frustasi.
Citra menatap Lisna dengan tatapan lesuh, "Saya mau pindah sekolah aja." ujarnya menjatuhkan kepala diatas meja.
Lisna memutar bola mata, "Saking seringnya kamu ngomong ini, yakin, bentar lagi kamu dapat kulkas dua pintu." ia menoleh kembali ke arah papan. Daripada mendengarkan ucapan Citra yang selalu ingin pindah tapi sampai sekarang masih juga betah, mendingan mendengarkan pencerahan dari Pak Sudarmono agar hidupnya bisa glow up seperti mukanya.
"Saya pindah aja kali ya." Citra mengulang lagi keinginannya yang hanya sebatas tenggorokan itu.
"Terserah.Pindah kewarganegaraan sekalian." Ujar Lisna lelah. Sementara Citra, otak cerdas tapi setengah matangnya itu malah serius memikirkan ucapan Lisna. Pindah kewarganegaraan negara ya? Kayaknya bagus juga.
"Citra Jenaya?"
"Iya, Pak?" Citra berdiri mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia langsung terduduk lemas melihat siapa yang memanggil namanya.
"Dompet kamu." Pak Arif mengangkat dompet hitam yang memang milik Citra.
Citra masih syok. Bukan karena kenyataan kalau dompetnya jatuh dan ia baru menyadarinya tapi khawatir jika Pak Arif melihat isi dompetnya. Ya Tuhaaan, disana ada foto Pak Arif yang sudah di Coret-coretnya seperti boneka santet.
Citra hampir pingsan melihat senyum miring guru berhati es itu. Tentu saja ini pertanda buruk.
__ADS_1
Papiiiiiii.... tolong Jenayaaaaa.
***