
Akhlak bintang satu seperti dirinya ini kok bisa-bisanya ya disukai sama laki-laki spek calon penghuni surga begini? Kalau misalnya sholat, apa mungkin Pak Arif salah doa atau doanya nyangkut di genteng rumah, ya bisalah seharusnya hatinya tertuju pada satu jenis perempuan sholehah yang ngajinya tidak terbata seperti dirinya. Kalaupun mau yang cantik manis imut seperti seorang Citra Jenaya sih seharusnya banyak ukhti-ukhti di tempat kajian yang sering disambangi Pak Arif. Memang hati tidak bisa ditebak apa maunya. Citra menggelengkan kepala, miris melihat pemilik punggung yang sedang khusyuk itu harus terjebak dengan remaja hobi membantah seperti dirinya. Di belakang Pak Arif ada dua makmum salah satunya Alul, Adiknya yang tak kalah ajaib dengan mbaknya.
"Bacaannya bagus bangat. Sudah nikah belum ya? Pasti seleranya yang ukhti-ukhti tuh. Tapi aku tetap mau sih kalau si akhi bimbing."
"Iya, aku juga. Ganteng gitu. Apalagi pas after wudhu, duuuuh air-airnya itu loh, pen aku lapin."
"Mukanya juga kelihatan bangat calon penghuni surga."
Citra melirik sinis tiga orang yang sedang menunggu seperti dirinya di bangku yang di sediakan cafe tersebut. Niat malam minggu di rumah menghabiskan list dracin nya sudah bubar jalan semenjak Pak Arif datang sore tadi dengan niat mulianya mengajarkan materi yang tertinggal untuk dirinya. Harusnya sih Citra menolak tapi backingan Pak Arif menduduki tahta tertinggi di rumahnya yaitu si Papi yang membiayai hidupnya. Kalau sudah demikian ya Citra bisa apa selain manut. Dan sekarang ia harus mendengar para cabe mengeksploitasi Pak Guru kesayangannya. Duh, tidak bisa dibiarkan ya.
"Minta IG nya yuk!" Salah satu diantara mereka memberi ide yang disetujui oleh kedua temannya.
Citra tersenyum sinis. Ia menoleh pada tiga perempuan muda yang sepertinya mahasiswi itu. Dengan sedikit berbisik ia berkata, "Kakak-kakak mendingan jangan deh sama bapak-bapak itu."
Ketiga perempuan muda itu menoleh, "Kenapa?" Tanya salah satunya merasa tak terima.
"Bapak itu galak, Kak. Pelit, salah sedikit langsung di jemur kayak ikan kering." Ujar Citra memulai aksi penyelamatan nya. Kasian kan kalau Pak Arif harus ketemu dengan modelan dark barbie seperti mereka ini.
"Tau dari mana? Ngarang ya?"
"Dih, ngapain ngarang. Orang dia tetangga saya kok. Saya saksi hidupnya kalau orang itu ganasnya minta ampun, suka merampas kebahagian orang lain. Beneran deh." Ujar Citra mendramatisir, mencoba meyakinkan korbannya. Ini bukan fitnah ya karena saat ini pun seorang Arif Rahman sedang merampas kebahagiannya di malam minggu, hiks.
"Masa sih? Keliatan baik gitu kok."
Citra mengibaskan tangannya, "Don't judge a book by its cover, Kak. Muka boleh hello kitty tapi kelakuan--beuuuh--" Yang ini apalagi. Pak Arif mukanya memang tipe-tipe tak mampu menyakiti nyamuk sekali pun tapi tega menghukumnya keliling lapangan di siang hari bolong, kurang durjana apa lagi coba.
"Ck. Pergi aja yuk." Ketiganya tanpa pikir panjang langsung meninggalkan tempat itu beserta Citra yang ngakak di tempatnya. Memang harus begitu untuk mengamankan posisinya sebagai kesukaan Pak Arif. Modelan Bu Wardah saja sanggup ia singkirkan apalagi cuma cabe-cabe kurang belaian.
"Mas Arif, ini Mbak Jen bacain ayat kursi coba. Ketawa sendiri, Mas. Alul takut."
__ADS_1
Citra menghentikan tawanya mendengar aduan dari Adik akhlak less nya. Mukanya langsung datar melihat senyum tipis Pak Arif.
"Nanti Mas bacain Ar Rahman Mbaknya." Ujar Pak Arif mengusap kepala Alul. Citra yang ternistakan langsung mendekat dan dengan kekuatan penuh langsung menginjak kaki Pak Arif.
"Argh!" Pak Arif menahan teriakannnya. Pelaku kekerasan itu malah dengan senyum lebarnya melambaikan tangan meninggalkannya dan Alul. Anak nakal itu, hah. Untung sayang-- Pak Arif menggeleng, tak bisa dibiarkan. Ia sudah kewalahan menanggulangi perasaannya sendiri. Gawat gawat gawat. Ia harus segera bertindak sebelum perasaannya ini menyesatkan mereka berdua.
Sementara itu Citra langsung memilih tempat duduk di bagian pojokkan dekat dengan kolam ikan. Cafe yang Pak Arif pilih ini mengusung tema living room jadi terkesan seperti ruang keluarga dimana ada TV besar yang menayangkan acara makan besar tentu saja dengan tujuan agar pengunjungnya tergugah seleranya dan memesan banyak makanan.
"Dekat TV aja, Mbak. Biar bisa nonton." Alul protes dengan pilihan tempat duduk Mbaknya.
"Nggak. Kamu nggak liat tas Mbak penuh buku? Mbak kan datang belajar disini, biar pinter, nggak ketinggalan materi, biar jadi juara, Iya kan Pak guru?" Ujarnya sengaja agar Pak Arif tersinggung. Sayang sekali bukannya tersinggung dan mengajak mereka pulang, Pak Arif malah mengangguk.
"Pintar sekali siswi saya yang satu ini. Pasti kesukaan Pak guru. Iya kan, Mbak Jen?"
Citra melirik sinis, "Dih, PD nya."
Pak Arif yang sudah khatam kelakuan siswinya menoleh pada wali gadis itu dan berucap lembut, "Mbaknya untuk Mas Arif saja ya, Lul."
Citra menganga tak percaya. Bisa-bisanya adik kandung sedarah, serahim, serumahnya ini menukarnya dengan stiker sepedaaaa... Sulit dipercaya.
Pak Arif tertawa, "Gimana Mbak Jen? Alul nya sudah mau tuh."
"BODO!!!"
***
"Tadi beneran paham kan?" Pak Arif menarik pekerjaan Citra yang juga belum selesai-selesai. Ini sudah soal ketiga dan Citra tidak satupun menjawab dengan benar.
"Nggak bisa mikir, Pak. Kalau malam minggu otak saya settingannya beda." Katanya menumpu dagu diatas buku. Ia melirik Alul yang tidur nyaman di paha Pak Arif. Pengen jugaaaaa.
__ADS_1
"Biasanya kamu bisa loh. Saya jelasin lagi satu kali ya." Ujar Pak Arif lembut dan tentu saja dengan kesabaran tingkat tinggi seperti biasa. Tipe-tipe guru malaikat lah kalau sedang menjelaskan lain lagi kalau sudah mode guru jaga, killer nya ampun-ampunan. "Sini bukunya." ia mengambil buku paket Citra dan kembali mengulang penjelasannya.
TUK!!!
"Aw!" Citra mengusap kepalanya yang dipukul pake fulpen oleh Pak Arif.
"Liatnya jangan ke saya, tapi ke bukunya." Laki-laki itu menghela nafas pendek. Lama-lama bisa khilaf juga dia kalau siswinya setiap saat se menggemaskan ini.
"Iyaaaaa, ini saya liatin kok." Gerutu Citra. Perhatiannya ia paksakan untuk memperhatikan penjelasan Pak Arif namun makin lama tatapannya semakin naik ke wajah Pak gurunya itu, lalu, terkunci. Masya Allah, ciptaanMu ya Tuhaaan.
"KHHHHMM!!!"
"Eh, kenapa Pak? Tenggorokannya ke sumbat gorila?" Citra buru-buru mengambil air minum dan menyerahkannya pada Pak Arif, "Minum dulu."
Pak Arif tak menolak meskipun ia sama sekali tak butuh air untuk melepaskan gorila di tenggorokannya karena memang tak ada gorila disana, yang ada hanyalah wajah manis siswinya yang menganggu di matanya.
"Kita cukupkan saja belajarnya." Pak Arif menutup buku dengan buru-buru.
"Loh kenapa, Pak? Saya mau belajar loh." Ujar Citra pura-pura kecewa padahal sebenarnya inilah keinginannya HAHAHA.
"Sudah malam. Kamu juga sudah mengantuk."
Citra menggeleng, "Belum kok. Mata saya masih segar, udah liatin Pak Arif tadi." katanya tanpa dosa.
Kali ini pak Arif bukan hanya melihat Citra di matanya tapi lautan api yang siap melahapnya di dasar neraka karena keinginannya untuk menarik si siswi bandel ini dalam pelukannya.
Istighfar, Rif.
"Astaghfirullah."
__ADS_1
***