My Favorite You

My Favorite You
Wanita Lain


__ADS_3

Baru kali ini Citra merasa tidak berdaya sampai makan pun harus di antarkan ke kamar oleh Pak Arif. Sebenarnya lelaki itu saja yang berlebihan, bahkan jika harus melata pun dia bisa ke ruang makan. Masalahnya suaminya ini terendus sebagai suami-suami ekstra sayang istri yang bawaannya pengen manjain aja dan Citra tentu tidak menolak semua anugrah itu dalam hidupnya. Lagian, siapa juga wanita yang tidak mau di ratukan lelakinya.Eh, lelakinya?


"Masih perih?"


Citra yang hendak memasukan sendok dalam mulutnya langsung cemberut, batal menyuapkan makanan "Jangan ditanyain mulu, Mas. Jena maluuu." katanya dengan kepala menunduk. Dengan cara jalannya yang bak kepiting saja sudah bikin malu apalagi ditanyain langsung seperti ini. Malunya jadi beroangkat-pangkat. Lagian nggal peka bangat jadi lelaki. Mana ada harga diri tersisa kalau seperti ini?!


Pak Arif tersenyum, mengacak rambutnya lembut. "Ngapain malu sama Mas. Suami kamu ini." ujarnya enteng.


"Tetep aja" Ujar Citra manyun. Ente gampang ngomong kayak gitu, tapi yang ngalamin enggak!!!


"Yaudah, Mas nggak tanyain lagi. Sendoknya, biar Mas suapin." Pak Arif mengambil alih sendok lalu dengan telaten menyuapi Citra yang awalnya malu-malu, makin lama ternyata makin mau. Dasar wanita aja ketinggian gengsi.


"Belepotan." Citra menunjuk bibirnya yang terdapat saos. Pak Arif dengan sabar menyekanya dengan tissue membuat Citra menyengir lebar. Tuh kan, terkonfirmasi bucin bapak guru satu ini.


"Makasih ya Mas Arif." Ucapnya di sela-sela nya mengunyah.


"Makasih untuk?"


"Untuk semuanya. Bahagia bangat jadi istrinya Bapak Arif Rahman. Jadi betah. Dimanjain, dijajanin, dibagiin aset, dipanggil sayang, pokoknya Pak Arif terbaik deh." ujarnya mengangkat jempol ke udara.


Pak Arif terkekeh, "Sama-sama. Makasih juga sudah mau sama Pak Arif si Pak guru galak ini." balasnya mengusap-usap pipi Citra dengan punggung tangannya. Sindiran halus yang sukses membuat Citra teringat akan label yang disematkan untuk guru kimianya ini. Yakan mana tahu ternyata dibalik kegalakan yang mendarah daging itu menyembunyikan kelembutan yang hakiki untuk sang istri. Batin Citra membela diri.


"Hehe nggak galak kok." Citra bergelayut manja di lengan Pak Arif, mengusap-usapkan rambutnya di lengan atas laki-laki nya itu.


"Sebentar sore ikut Mas ya."


Citra mendongak, "Kemana?"


"Temui orang yang udah bikin malam pertama kita terwujud."


"HAH?" Citra menjauhkan kepala meski tangan masih menggelayut.


"Iya. Mau ya? Mas nggak mau suatu saat nanti masalah ini bikin kamu tidak nyaman."


Citra menggeleng, "Nggak mau ah. Ngapain sih. Jena percaya kok sama Mas. Nggak usah kesana." Untuk apa juga membuang-buang waktu kan. Lagian ia yakin dan percaya dengan penjelasan Pak Arif semalam. Buat apa lagi cari penyakit.


"Mas mau membuat semuanya jelas. Mungkin dengan adanya kamu, dia akan berhenti mengganggu." Jelas Pak Arif.


Citra berdecak. Tidak suka ide ini. Terlalu malas melihat muka wanita tidak tahu malu itu. Suami orang kok di gangguin. Nggak jelas.


"Sebentar saja." Janji Pak Arif. "Kalau Mbak Jen nggak nyaman kita langsung pergi."


"Beneran nggak akan lama kan?"


"Insya Allah. Mas hanya mau memperjelas semuanya sama dia."


Citra manggut. Dengan ini mungkin sekalian ia kenalan saja sama wanita itu kali aja bisa berguru caranya ngelepasin urat malu.


"Trus yang ke sekolah itu nggak jadi?"


Pak Arif mengangguk, "Nggak usah dulu. Mas udah izin sama pimpinan hari ini mau temani istri di rumah."


"DIH!" Citra mencibir. "Alasan bangat sih Pak. Jena nggak apa-apa ini kok."


Pak Arif terkekeh, "Yakin? Itu ma---"


"Shhhhht! DIEM!!!" Gemas Citra membekap mulut Pak Arif.


Pak Arif mengangguk, menarik garis dari ujung bibirnya seakan sedang mengunci bibir, baru setelah itu Citra melepaskannya.


***

__ADS_1


Dia orangnya?


Citra memperhatikan perempuan muda di depannya. Perempuan yang ditemuinya kemarin dengan anaknya di minimarket dekat rumah ternyata orang yang sama dengan yang mengirimi suaminya pesan. Padahal kelihatan kalem gitu loh, kok kelakuan ngerusuh di rumah tangga orang?!


"Ini istri saya."


Citra tersadar dari pikirannya saat Pak Arif menariknya lebih dekat. Perempuan itu tampak menilai dirinya dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Bohong. Dia pasti adik Mas Rahman."


Ah, ya. Benar. Perempuan ini juga yang beberapa waktu yang lalu datang ke rumah mertuanya mencari orang bernama Rahman. Kenapa ia bisa tidak kepikiran bahwa Mas Mas bernama Rahman yang dicari perempuan ini adalah Mas Arif Rahmannya ya?!


"Terserah kamu mau percaya atau tidak tapi saya mohon berhenti mengirimi saya pesan. Saya tidak nyaman." Ujar Pak Arif lembut namun terdapat ketegasan disana.


Perempuan yang hari ini tanpa anaknya itu menatap Pak Arif berkaca-kaca sambil berucap lirih, "Mas sudah janji akan selalu menjadi rumah untuk saya pulang. Mas nggak bisa ingkar begitu saja."


Citra yang mendengar menoleh pada Pak Arif yang tetap terlihat tenang, sama sekali tidak terusik tangisan pilu perempuan di depannya itu.


"Maaf jika kamu salah mengartikan. Tapi semua orang di rumah singgah tahu bahwa rumah tempat kembali adalah Rumah Ibu dan semua orang yang ada di dalamnya. Bukan saya atau para tenaga sukarelawan disana. Kamu juga tahu itu sebelumnya karena kamu bagian di dalamnya." Terang Pak Arif.


Perempuan itu menggeleng, "Nggak. Mas udah janji. Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi Mas. Anak itu butuh figur seorang ayah seperti Mas." Ngototnya.


Citra mulai tidak sabar. Ingin rasanya berkomentar tapi remasan di tangannya menahannya. Pak Arif mengusap punggung tangannya dengan ibu jari untuk menenangkannya.


"Bawalah pada ayahnya. Saya bukan siapa-siapa. Saya memiliki keluarga sendiri yang membutuhkan kehadiran saya."


"Dia tidak menginginkannya." Ujar wanita itu, tangisnya meluruh, menarik beberapa pasang mata yang ada di tempat itu.


"Maaf. Tapi saya pun tidak memiliki kewajiban untuk itu."


"Bahkan sebagai sesama muslim yang membutuhkan?" Kali ini perempuan itu menoleh pada Citra yang hanya diam menyimak dengan lisan yang siap memuntahkan isi kepalanya.


"Saya turut prihatin tapi jika perlindungan yang kalian butuhkan maka Rumah Ibu akan selalu terbuka untuk kalian atau siapapun."


Citra yang mendadak di serang langsung siaga. Ia akan tidak akan membalas dengan cara yang sama, menarik simpatik dan berlagak seperti korban yang ditindas.


"Maaf ya mbak kalau gara-gara saya. Mas Arif bucin jadi sulit juga ngehalanginnya." Ujarnya asal. Bodo amatlah, Lama-lama kesal juga seolah dirinya perebut kekasih orang padahal Mas Arif mah dari dulu singlelillah.


"Sudah sewajarnya saya memastikan perasaan nyaman istri saya." Pak Arif menarik Citra semakin dekat, merangkulnya. "Sekali lagi saya mohon tolong berhenti. Jika tidak maka masalah ini akan saya bawa ke ranah hukum sebagai tindakan teror dan perlakuan tidak menyenangkan."


"Mas---"


"Kami permisi, Assalamu'alaikum." Pak Arif langsung menarik Citra keluar tanpa menunggu balasan salam dari perempuan itu.


Citra menoleh kebelakang menatap datar perempuan muda itu yang balas menatapnya penuh amarah. Inilah sulitnya terlalu GG dan baperan, endingnya sakit sendiri.


"Itu namanya siapa sih Mas? Nggak sempat kenalan tadi." Citra mempercepat langkahnya agar menyamai Pak Arif.


"Inayah."


"Cie masih ingat."


Pak Arif menoleh, mengerutkan kening tak paham. "Maksudnya?"


Citra yang capek langsung menggeleng cepat. Terlalu malas untuk menjelaskan. Jokes nya nggak nyampe. Beda generasi ya ginilah.


"Mau makan apa?" Pak Arif membuka pintu mobil untuk Citra.


"Apa aja yang penting kenyang."


"Apa ajanya Mbak Jen ini beneran atau--"

__ADS_1


"Beneran, Mas. Tenang aja, Jena nggak suka drama kok. Suka bilang suka, tidak suka bilang tidak suka biar cepet." ujarnya.


Pak Arif mengangguk, "Jangan lupa seatbelt." ujarnya mengingatkan sebelum kendaraan akhirnya menjauh dari tempat itu.


"Bakso, mau?"


Citra mengangguk, "Mau."


Pak Arif lantas mengendari mobil menuju rumah makan yang menjadi tempat favoritnya jika ingin ngebakso.


Tak lama, sekitar lima belas menit mereka akhirnya sampai di sebuah rumah makan dengan desain unik. Terlihat ramai lancar, mungkin salah satu daya tariknya adalah tempatnya instagram able.


"Cari tempat duduk ya, Mas mau langsung pesan."


"Oke." Citra memilih tempat duduk yang dekat dengan live musik. Dia paling senang kalau ada musik live seperti konsep yang di usung pemilik rumah makan ini.


Baru saja hendak duduk, panggilan seseorang menarik perhatiannya.


"Wah kebetulan sekali. Mimpi apa gue bisa ketemu bidadari hari ini."


Citra menarik nafas lelah. Di depannya beridiri Rama si paling berisik. Baru kali ini ketemu cowok super aktif. "Bisa pergi aja nggak? Ganggu bangat." Balasan Citra bukannya membuat Rama tersinggung malah senyumnya makin lebar bahkan dengan tidak tahu malunya duduk di kursi yang sudah Citra pilih.


"Lo sendiri kan? Pas, ada gue yang nemenin." Rama mengedip.


Citra menggeleng prihatin, padahal ganteng tapi sayang kelakuan memprihatinkan.


"Silahkan duduk." Citra tak jadi duduk disana, ia hendak pergi namun pergelangan nya ditahan Rama.


"Mau kemana?"


Citra menepis tangan kurang aj*r itu, "Bukan urusan kamu." ia bergegas pergi namun langkahnya kembali tertahan oleh Rama yang sigap menghalangi.


"Gue cuma mau ngobrol biasa. Nggak bisa?" Tanyanya mulai tak sabar.


Citra makin dibuat lelah. Ternyata tak cukup perempuan tadi, sekarang ditambah lagi beban mental yang baru. "Nggak bisa. Minggir!" ia menabrak bahu Rama untuk melewatinya.


Rama kembali berhasil menahan tangannya namun kali ini ada sebuah tangan lain yang menggengam tangannya, meremas nya kuat lalu menghempaskannya.


"Jaga tangan kamu sebelum saya patahkan!" Ujar Pak Arif tajam.


Rama mendengus, "Lo siapa?"


Citra beringsut disamping Pak Arif, memeluk lengannya sembari menatap Rama tak suka.


"Istri saya. Jadi tolong jaga tangan anda." Jawab Pak Arif, menggenggam tangan kanan Citra.


Rama tertawa remeh, "Nggak usah ngarang."


"Terserah." Pak Arif menggandeng Citra pergi dari hadapan Rama.


"Kita nggak jadi makan Mas?" Tanya Citra yang sejak tadi diam bertindak sebagai pengamat.


Pak Arif menggeleng. Ia meletakkan beberapa uang di meja kasir untuk membayar pesanannya. "Kita cari tempat lain. Disana gerah. "


Citra melongok, sejak kapan Pak Arif takut gerah? Lagian bukannya tadi sejuk ya?


"Lain kali kalau ada yang menyentuh Mbak Jen, jangan segan-segan untuk menggeser salah satu persendiriannya." Ujar Pak Arif saat sudah sampai dalam mobil.


"Bisa masuk penjara tauuu, apalagi kalau dilaporin."


"Uang Mas banyak. Jangan pikirkan. Mbak Jen cukup lakuin apa yang Mas bilang. Oke?"

__ADS_1


Citra mengangguk, "Oke, Mas."


***


__ADS_2