
Citra berdiri di balik pohon depan jalan sekolah menyaksikan Pak Arif yang tengah mengobrol dengan Abu dan genknya diatas motor masing-masing. Seperti inilah Pak Arif, di luar gerbang sekolah, dia adalah teman sepermainan siswa siswinya. Ada yang menjadi teman se timnya main futsal, teman mendaki, dan kadang juga teman nongkrong di warung kopi sambil menonton bola atau membahas hobi mereka. Citra menunggu dengan tidak sabaran, ia kebelet BAK sejak tadi tapi mau keluar persembunyian sama artinya dengan stor nyawa. Citra yakin dan percaya Pak Arif sudah membuka dompetnya karena laki-laki itu mana mungkin tahu siapa pemilik dompet kalau tidak mengecek isinya di dalam. Dan saat ini Citra belum siap di gulung dan di lempar dari atas puncak gedung oleh Pak Arif.
Tidak lama setelah itu, Pak Arif, Abu dan lainnya berpisah menuju arah pulang masing-masing. Citra pun bisa keluar dari persembunyian dan langsung memanggil tukang ojek pengkolan yang sudah dikenalinya.
"Mbak kenapa tidak sama Pak guru saja pulangnya? Kan searah." Mang ojek membuka obrolan.
"Nggak enak, Pak. Masa nebeng sama guru." Jawab Citra. Boro-boro mau nebeng, melewati jalur yang sama saja sebenarnya Citra ogah tapi mau bagaimana lagi, jalan yang harus dilewatinya menuju rumah ya cuma jalur ini.
"Pak Arif baik ya, Mbak. Anak saya dibeliin peralatan sekolah. Udah baik, ganteng, soleh, guru lagi, Mbak." Ujar Mang lagi membuat Citra mengernyitkan kening. "Beruntung yang jadi jodohnya. " lanjut Mang tak menyadari di belakang Citra hampir muntah mendengar puja puji itu. Untuk apa semua itu kalau tidak punya hati yang hangat. Lagian, katanya suka, kok ganjen sama Bu Wahdah. Citra melirik tajam saat melewati dua orang dewasa yang tengah mengobrol diatas motor di depan sebuah kedai penjual es krim tak jauh dari sekolahnya.
"Baru juga di omongin, Mbak." Mang terkekeh sedangkan Citra mengomel dalam hati dengan alasan tak jelas. Yang pasti sekarang Citra Jenaya sedang kesal.
"Playboy tua!" Celetuk Citra sebal.
"Gimana, Mbak?"
Citra menggeleng, "Hati-hati, Pak." ucapnya asal. Amit-amit disukai playboy. Hih!
Motor berhenti di depan pagar putih seperti biasa. Citra turun dan menyerahkan uang ojek. "Makasih, Pak."
"Sama-sama, Mbak. Mari." Mang Ojek pergi sedangkan Citra tidak langsung masuk kedalam. Gadis manis itu mengintip ke jalan, menunggu seseorang muncul dari belokan depan. Beberapa menit menunggu, keringat mulai mengucur tapi sasaran belum juga muncul.
"Ngobrolin apaa sih? Udah siang juga. Nggak laper apa?" Citra mengomel seorang diri. Baru juga terputus kalimatnya sosok yang ditunggu akhirnya muncul dan Citra tentu saja langsung berpura-pura sebagai makhluk yang tak peduli sama sekali. Gadis itu buru-buru berdiri di depan pagar, memegang pengait seperti akan membuka pagar. Motor Pak Arif berhenti, tak ada sapaan sama sekali. Hanya suara pintu pagar yang terbuka lalu senyap. Citra penasaran tapi menoleh pun ia termakan gengsi. Harga dirinya akan terjun bebas kedalam got kalau sampai ia menyapa Pak Arif sekarang tapi-- tapi dia penasaran. Citra menghembuskan nafas kencang. Pipinya mengembung, tidak ada pilihan lain daripada penasaran sampai besok pagi dan tidak bisa tidur nyenyak lebih baik ia lempar egonya ke dasar bumi.
Citra balik badan, "Ba----"
"Es krim. Suka kan?"
Citra menutup mulutnya. Di depannya berdiri Pak Arif dengan sekantong es krim terangsur padanya. Citra mengerjap. Embun-embun es di kantong putih itusungguh sangat menggoda, segar, lembut dan pasti manis seperti yang ngasih--Eh.
Citra melipat tangan di depan dada, "Nggak mau." tolak nya jual mahal. Kain di ruang jahit papinya saja di jual mahal masa dia harus jual murah sih? Enggak dong.
Pak Arif melihat isi di dalam kantongnya, "Vanilla, stroberi, coklat, mocca, dan-- taro favorit kamu." katanya menyebutkan satu-satu kelemahannya.
Citra mengintip dengan gaya angkuhnya. Taro favoritnyaaaaaa... huhuhu.
"Alul pasti su---"
"Terima kasih." Citra mengambil kantong putih itu cepat. Bisa-bisa alul lagi yang untung disini padahal yang korban perasaan adalah dirinya. Tidak akan dibiarkan.
Pak Arif tersenyum, "Sama-sama, Mbak Jen."
__ADS_1
Citra memeriksa isi kantong itu tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaan di wajahnya. Ya memang murah sekali dirinya, sekantong es krim bisa membelinya. Tapi tidak apa, tidak masalah Jenaya, harga dirimu masih tinggi kok.
"Masuk!" Perintah Pak Arif.
Citra yang tadinya asik menghitung es krim nya langsung manyun. Teringat tujuan awalnya berdiri sampai gosong seperti ini di depan pagar.
"Bapak pacaran sama Bu wardah?" Tanyanya to the point. Ngapain mutar mutar kalau tujuannya satu.
"Tidak."
"Masa? Saya tidak percaya."
"Terserah kamu."
Citra makin manyun. Bukannya menjelaskan dan meyakinkan dirinya seyakin-yakinnya kenapa Pak Arif malah pasrah saja sih.
"Bapak kok gitu? Katanya suka sama saya--oops." Potong saja Cit, potong saja lidahmu itu dan masak jadi sop lidah saudara. Ya ampuuuun mukaaaa mau dibawa kemana iniiii. Citra membuang pandangan kearah lain walaupun percuma sih, senyum Pak Arif menyebalkan!
"Iya, saya suka Mbak Jen." Ujar Pak Arif masih mempertahankan senyumnya. Senyum menyebalkan kata Citra.
"Trus ngapain sama Bu Wardah di tempat umum kayak gitu? Di gosipin nggak takut?"
"Nggak percaya."
Pak Arif menghela nafas pendek, "Terserah. Sekarang kamu masuk. Panas." ujar nya sambil membuka pagar rumah Citra. "Atau mau ikut saya ke rumah?"
"MOH!!!" Citra masuk ke dalam melewati Pak Arif begitu saja, " Assalamu'alaikum." teriaknya sambil berlari masuk dalam rumah.
Pak Arif menggelengkan kepala takjub, "Sabar Rif, salah sendiri suka sama bocah." ujar nya terkekeh. Ia lalu menutup pagar dan kembali ke rumahnya.
***
"Abu dan yang lainnya lama nggak kesini ya, Mbak." Papi membuka obrolan di meja makan.
"Sibuk sama hobi barunya, pih." Jawab Citra setelah meneguk air minum. "Kenyaaang, Alhamdulillah."
"Mendaki?" Tanya Papinya.
"Kok Papi tau?"
"Berarti sama Mas Arif juga dong. Waaah pasti asik." Timpal Alul.
__ADS_1
Citra mengerutkan kening heran, darimana keduanya tau?
"Pantesan Ibunya sibuk bangat nyari janur. Buat bekal kali ya." Mama Citra yang datang dari arah dapur menimpali.
"Pak Arif mau muncak, Ma? Kata siapa?" Tanya Citra tak sabar. Masa sih ia ketinggalan info? Wah keterlaluan si Abu tidak menyampaikan info penting ini.
"Iya, sama beberapa teman guru katanya." Jawab Mama sembari memberikan potongan puding pada suaminya.
"Kamu nggak ikut, Mbak?" Tanya Alul yang sibuk menikmati puding buatan Mama.
Citra menggeleng, "Kalau teman guru ikut, berarti Bu Wardah juga dong?"
"Bu Wardah itu guru di sekolah kamu juga, Mbak? Belum menikah?" Tanya Mamanya beruntun.
Citra mengangguk.
Mamanya langsung bertepuk senang, "Wah, berarti Ibunya Pak Arif bentar lagi dapat mantu nih."
"MAKSUD MAMA?" Tanpa sadar Citra berteriak membuat tiga orang di ruangan itu terkejut.
"Mbak Jen, anak cewek ngomongnya lembut." Papi memperingatkan.
"Iya, maaf." Ujar Citra menyesal. Gara-gara info baru ini dirinya sampai lepas kontrol.
"Jadi Pak Arif di jodohin, Ma?" Tanya Alul mewakili Citra yang sudah tidak bisa berpikir jernih.
"Bukan di jodohin sih tapi namanya usaha dibukain lah jalan untuk kenal sama orang-orang. Tau sendiri gurunya Mbak mu itu pasifnya minta ampun."
"Yah, kirain jadi kakak ipar Alul." Alul berujar lesuh, "Mbak Jen sih galaaaak." omelnya pada sang kakak.
"Loh, kok Mbak sih?!" Citra tak Terima disalahkan. Ia saja masih gedek memikirkan hal ini. Bisa-bisa nya bilang suka tapi mendekati perempuan lain. Guru yang tidak bisa di contoh. Sesat.
"Udah, udah. Malah ngomongin orang. Do'ain aja Mas Arif nya dapat jodoh cepat." Ujar Papi menengahi.
Citra menggeleng tak Terima, "Jodoh Pak Arif masih jauh, Pi."
"Tau darimana?" Alul yang menyahuti.
"Taulaaah." Ujar Citra percaya diri. Gimana mau tidak jauh kalau jodohnya masih mau lulusin sekolah, kuliah S1, S2, S3, cari kerja, sukses, lalu menikah. "Jena kedepan ya Pih, Ma." Ia langsung berlari ke depan rumah tanpa menunggu izin. Ia harus bertemu dengan Pak Arif untuk mengecek kebenaran berita ini. Awas saja kalau sampai benar, bakal dijatuhin bom tuh rumah depan.
***
__ADS_1