
Karena saya sayang sama kamu, Citra Jenaya
Karena saya sayang sama kamu, Citra Jenaya
Karena saya sayang sama kamu, Citra Jenaya
Karena saya sayang sama kamu, Citra Jenaya
Citra menenggelamkan dirinya dalam selimut. Kalimat itu terus terngiang-ngiang dikepalanya membuatnya hampir seperti orang gila yang tidak bisa berhenti tersenyum.
"Ya ampuuuun, itu beneran Pak Arif? Kok manis sih? Huhuhuuuuuu galaknya ilaaaang." Citra bermonolog dalam selimutnya sambil tertawa girang.
Tok tok...
"Mbak Jeeeeen?"
"HISH! APAAAA?" Citra menurunkan selimut yang menutupi kepalanya. Alul benar-benar nyebelin. Ini ketiga kalinya adiknya itu bolak balik di kamarnya. Adalah nanyain kunci Inggris lah, palu lah, sampai linggis juga dicari-cari di kamarnya padahal ini bukan kamar tukang.
"Apa lagi sekarang? GERGAJI? TANG? NGGAK SEKALIAN MESIN PEMOTONG RUMPUT TETANGGA TANYAIN JUGA?! " Semprot nya saat Alul memunculkan kepala di sela pintu yang hanya di buka sedikit.
"Dicariin Pak Arif."
"DIH!" Citra kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ngapain juga Pak Arif mencarinya di rumah ini.
"Beneran, Mbak. Pak Arif lagi di depan sama Budhe dan Pakde." Ujar Alul mulai lelah. Paling malas dia kalau sudah di suruh memanggil kakaknya seperti ini. Citra kalau sudah menyebalkan bisa membuatnya botak dalam sekejap. "Mbak Jen?" Panggil nya lagi.
"Nggak mau. Temuin aja sendiri." Jawab Citra tak mau membuka selimut yang membungkusnya.
"Beneran ya?! Kalau Papi marah,bukan salah aku."Setelah mengatakan itu Alul lantas meninggalkan kamar Citra. Sementara Citra yang terganggu dengan kalimat Alul terakhir langsung terduduk.
" Awas aja kalau bohong." Citra berdiri lalu merapikan sedikit penampilannya, tidak sampai mengganti baju tidur bergambar gukguk kesukaannya.
__ADS_1
"Mana Pak Arifnya? Pasti bohong kan?" Citra menyentak Alul yang sedang santai di depan TV pasalnya di ruang tamu tidak ada siapapun.
"Nggak bohong, Mbak Jen. Pak Arif memang ada kok, di dapur." Ujar Alul tanpa mengalihkan tatapannya dari siaran TV yang sedang menayangkan dua kembar botak mengejar-ngejar ayam.
Citra berjalan menuju dapur, "Maaaah... mana Pak Ar---"
"Anak gadis zaman sekarang, ckckck."
Citra melongok, membeku di tempatnya. Di depannya ada Pak Arif, dengan tampilan santainya memegang piring buah yang diambil dari dalam kulkas.
"Bapak beneran disini?" Citra mengucek matanya untuk lebih meyakinkan diri apa yang dilihatnya sekarang.
"Ada orang tua saya juga." Jawab Pak Arif santai menunjuk meja makan dimana empat orang seumuran itu tengah bincang-bincang seru. Citra sampai tidak mendengar mereka karena kemunculan Pak Arif yang tidak disangka-sangkanya.
Melihat keempat orang itu sontak Citra mundur perlahan lalu melarikan diri. Ia tidak boleh terlihat kacau seperti ini di depan guru ngajinya. Baju tidur? Ayo laaaah, tanpa lengan dan sebatas paha,. Haduh. Bisa minus nilainya dimata orang tua Pak Arif. Ta-tapi tapiiii--- KENAPA KAMU HARUS PEDULI SIH CITRAAAAA???!! Citra menyandarkan badannya di belakang pintu kamarnya. Buru-buru ia menelisik penampilannya. Sebuah sweater dan celana piyama kotak-kotak menjadi pilihannya untuk tampil lebih sopan dan terlihat tidak berusaha untuk tampil cantik di depan tetangganya itu.
"Aman kan ya?" Sekali lagi ia mematut badannya di depan cermin memastikan tidak salah kostum. Setelan memastikan semuanya aman, ia keluar menemui Pak Arif dan kedua orang tuanya.
"Selamat malam, sayang." Ibunya Pak Arif menyambut Citra dengan hangat. "Coba buahnya, Nak. Diambil dari kebun sendiri." Lanjut Ibu Pak Arif.
Citra melirik kedua orangtuanya yang seolah tidak menyadari kehadirannya disana. Papi dan Mamanya bersikap terlalu biasa bahkan tidak berusaha menjelaskan apapun padanya. Well, keluarga Pak Arif memang tetangga paling dekat dengan mereka tapi sebelum-sebelumnya sangat jarang dilakukan kunjungan dengan personil lengkap seperti ini.
"Mas, bagiin buahnya untuk Mbak Jen." Titah Ibu Pak Arif pada putranya yang sepertinya datang dari pintu belakang.
Pak Arif menghampiri Citra dan menawarkan buah-buahan di keranjang plastik, "Mau yang mana? Ini buah naga, ---" tunjuk nya pada buah berwarna pink, lalu berlanjut pada buah-buahan lain, "Ini buah jeruk, ini buah rambutan dan ini---" Pak Arif menunjuk Citra dengan isyarat dagu, "yang ini buah hati saya." lanjutnya hampir seperti bisikan.
***
Citra duduk di ruang TV, matanya terpusat pada tayangan di layar sedang di depannya tapi telinganya berusaha mencuri dengar pembicaraan orang-orang dewasa di dapur. Setelah ucapan Pak Arif tadi, tanpa pikir panjang ia langsung melarikan diri ke ruang keluarga. Terus terang saja mendengar ucapan Pak Arif yang berani-beraninya menggodanya di depan kedua orangtuanya membuat jantungnya bekerja tidak normal. Sangat mendebarkan. Dalam sikapnya yang selama ini seperti mengajaknya perang ternyata menyimpan banyak hal yang membuat Citra hampir tidak mengenali sosok gurunya itu.
"Gabung aja, Mbak Jen. Nggak usah ngintip-ngintip gitu." Sindir Alul yang kini tanpa dosa mencomot buah-buahan yang sudah di potong-potong oleh Pak Arif dan diberikan pada Citra. Pada akhirnya Citra tidak memilih buah apapun dan Pak Arif lah yang inisiatif membawakannya untuknya.
__ADS_1
"Dek--" Citra mencolek lengan Alul.
"Hm?"
"Pak Arif akhir-akhir ini agak lain ya? Ngerasa nggak?" Tanyanya berbisik pada Alul. Ia melirik Pak Arif yang santai mengobrol dengan para orangtua. Umur memang tak bisa dibohongi.
"Enggak. Biasa aja."
"Ck, coba deh ingat-ingat lagi. Pak Arif tuh bedaaa, kayak--ngerti nggak sih?!"
Alul menatap kakaknya bengong lalu menggeleng, "Nggak ngerti, Mbak Jen. Mbak aja ngomongnya nggak jelas kok."
Citra manyun. Percuma. Percuma bicara sama anak kecil, bukannya dapat solusi malah bikin naik darah.
"Cape ah ngomong sama anak kecil." Citra menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa.
Keduanya diam. Alul juga tidak mau pusing-pusing seperti orang yang sedang beranjak dewasa di sampingnya ini. Menjadi dewasa itu capek, ribet. Paling bagus memang menjadi nobita, tidak beranjak dewasa sama sekali.
"Mbak, Jen, Lul?" Mama menghampiri keduanya diikuti oleh yang lainnya. "Salim dulu." ujarnya menyuruh kedua anaknya untuk menyalami para tamu.
Citra yang lebih dulu beranjak menyalami Budhe dan melewatkan Pakde dan Pak Arif. Kedua laki-laki itu memang tak pernah menyentuh selain mahrom mereka. Begitu pula Alul yang hanya menyalami dua laki-laki di keluarga itu.
"Kapan-kapan ikut ke kebun biar lihat sendiri kebun buahnya." Ujar Pakde mengusap kepala Alul kala melihat buah di piring mereka sudah kosong.
"Minggu depan aja gimana? Boleh kan, Bu?" Ibunya Pak Arif menimpali sembari meminta izin langsung pada Mama Citra.
"Saya sih terserah anak-anak saja, tapi itulah, Anak-anak kalau sudah ke tempat baru banyak hal ingin di coba, apalagi anak-anak saya ini, huh aktifnya minta ampun. Susah diatur, jaganya butuh tenaga ekstra." Ujar Mama berlebihan. Padahal Citra sendiri merasa dirinya paling mager, paling-paling ya manjat pohon rambutan, atau durian. Itu hal biasa kan?
"Alul bisa diatur. Bisa jaga diri juga." Sambar Alul cepat. Kapan lagi bisa liburan sambil makan buah sepuas hati. Hanya tuan tanah seperti Pak Arif sekeluarga ini yang bisa mewujudkannya.
"Kalau Mbak Jen biar saya yang jaga." Ujar Pak Arif yang langsung mengundang keheningan. "Gimana, Mbak Jen? Mau?"
__ADS_1
***