
"Jangan diliatin aja, Pak?"
"Eh?!" Pak Arif tersentak. Di sampingnya berdiri Abu dengan tampang tengil memegang bunga-bunga hidup yang akan dijadikan hiasan meja.
Hari ini sekolah mereka mengadakan kegiatan keagamaan dimana kelas dua belas yakni Citra dan teman seangkatannya menjadi panitia inti kegiatan sebagai persembahan terakhir mereka sebelum lulus dari sekolah ini.
"Cantik ya Pak teman saya?" Goda Abu menaik turunkan alisnya. Pak Arif tersenyum tipis, gadis di depan sana memang cantik dengan kerudung merah muda yang menutupi rambut lurus hitamnya.
"Jangan di cuekin lama-lama, Pak. Anaknya labil, gampang oleng." Ujar Abu sebelum kemudian minta izin pergi melanjutkan tugasnya mengumpulkan kembang sesuai pesanan Kanjeng Ayu Citra Jenaya, bossnya saat ini.
Sepeninggal Abu, Pak Arif selaku pengisi acara yakni pembawa hikmah langsung merapat kebagian depan dimana tempat untuknya sudah disediakan. Saat melewati rombongan siswa, ia tak sengaja mendengar ucapan salah satu guru yang ia tandai sebagai guru yang pernah membuat hatinya kacau seperti balon hijau yang di pecah karena menjadi guru favorit siswi kesukaannya yakni Pak Alfian yang berada diantara mereka.
"Di pake terus saja jilbabnya, cantik."
Bukan Pak Arif tidak mengakui kebenaran ucapan guru bahasa Inggris itu tapi dia tidak senang melihat wajah bersemu milik siswi yang di pujinya itu bukan karena dirinya.
"Makasih, Pak. Ini juga minjem sama---"
"CITRA JENAYA!"
Citra menoleh, ada Pak Arif berdiri tak jauh dari mereka, "Permisi, Pak. Saya kesana dulu." pamitnya pada Pak Alfian lalu bergegas menghampiri Pak Arif yang menatapnya datar. "Iya, Pak, ada apa?" tanyanya pada guru yang modenya itu suka tidak jelas. Sejenis bunglon yang moodnya tergantung perkiraan cuaca seperti yang selalu ia bilang.
"Sound systemnya belum dipasang."
Citra mengernyit, "Itu kan tugasnya perlengkapan, Pak. Saya mana ngerti masang begituan." Suka heran memang sama Pak Arif yang mintanya tidak kira-kira. Kemarin saja karena satu kresek yang dia tolak, uang jajannya ditahan seminggu oleh Papinya karena katanya masih banyak di kulkas jajan dari Pak Arif. Kurang menyebalkan apa lagi bapak gurunya yang satu ini. Kalau mau cuekin ya harusnya jangan setengah-setengah dong.
"Yakan bisa diarahin temannya. Gimana sih ini panitia?! Cepat sana!" Ujarnya tegas seperti kebiasaannya dulu kalau mau menyiksanya.
Citra mengangguk, "Baik, Pak." jawabnya patuh. Ia undur dari hadapan Pak Arif yang juga sudah kebagian dapan. Meski dongkol, hari ini statusnya sebagai keset sepatu yang bisa di perintah sana sini membuatnya harus melapangkan dada seluas gurun sahara tak lupa senyum yang selalu manis paripurna semanis es krim di taman kota.
"Nimpuk kepala guru pake batako dosa nggak sih?" Citra melempar kertas susunan acara di depan Agus yang tengah mengganti baterai sound system.
"Siapa nih biar saya bantuin nimpuk?" Agus terkekeh santai sembari tetap sibuk melakukan pekerjaannya.
Citra melempar diri diatas kursi di samping Agus, "Tuh, guru kimia kesayangan kamu!"
Agus tersenyum jenaka, "Kesayangan kamu kali. Ngomong aja pake typo segala." ia melirik sang sahabat yang melototkan mata padanya, senyumnya makin lebar. Mengganggu Citra memang menjadi salah satu kesenangannya karena sahabatnya itu mudah sekali mengamuk, kesabarannya lebih tipis daripada tissue.
"Kerjanya cepet! Lord Arif sudah ngomel-ngomel tuh. Dikiranya jadi panitia gampang apa." Omel Citra menatap penuh dendam kearah Pak Arif yang asik mengobrol dengan guru lain. Memang niatnya cuma merecoki dirinya saja kan yang tadi itu. Lagian dirinya bukan ketua panitia loh.
"Kenapa lagi sih ukhtinya Pak Arif? Ngomongnya lebih lembut cobak. Masa kalah sama tai kucing." Abu si panitia ghoib nimbrung dengan wajah minta di timpuk pake sound system.
__ADS_1
"Kasi minum dulu, Sob." Tambah Agus makin membuat Citra kesal sekesal-kesalnya.
"Susah emang punya temen setengah mateng." Gerutu Citra menghentakkan kaki kesal meninggalkan dua makhluk hidup yang hobi menggodanya itu.
Daripada melayani keisengan mereka, lebih baik ia mengurus yang lain sebelum Pak Arif Lord Rahman kembali mempertanyakan kinerjanya sebagai panitia inti.
***
Acara selesai menjelang maghrib tadi. Semua orang sudah bubar tersisa panitia dan beberapa penjaga TU yang membantu membereskan barang-barang yang dipakai selama acara berlangsung. Citra yang sudah selesai mengerjakan pekerjaannya harus tertahan di mushola sekolah karena hpnya lobet sedangkan dia harus menghubungi ojek langganannya untuk menjemputnya. Abu dan Agus sudah menawarkan diri untuk mengantarnya pulang namun melihat begitu banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan panitia perlengkapan ia menjadi tak tega untuk mengambil salah satu personil mereka.
Citra memutuskan untuk menunggu di gerbang depan setelah daya hpnya terisi lima belas persen. Ia akan semakin kemalaman jika harus menunggu lebih lama. Lagipun sendiri di mushola bukan lah ide yang bagus mengingat tempat itu terletak di ujung belakang dekat UKS yang menghadirkan sensasi horor yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Belum pulang, Cit?" Citra bertemu salah satu tetangga kelasnya, yang juga baru akan pulang saat melewati parkiran. Temannya itu mengendarai motor besar yang kalau bonceng di belakang akan nyunsep kedepan. Salah satu jenis motor yang membuat seseorang cepat sakit pinggang.
"Baru mau pulang."
"Mau bareng?"
Citra menggeleng, "Enggak deh, makasih. Saya pake rok." tolak nya.
"Angkat aja roknya, bisa kok."
"Nggak usah, makasih ya." Bagaimana ceritanya mau angkat rok sedangkan dirinya sendiri masih sempurna memakai kerudung. Bukankah akan terlihat seperti penghinaan menggunakan kerudung tapi betis obral?!
"Iya, ada ojek langganan kok." Kata Citra tersenyum pada temannya itu.
"Oh, ya udah kalau gitu. Saya duluan ya."
"Iya.Hati-hati." Ujar Citra melambaikan tangan.
Citra menarik nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan langkah menuju gerbang sekolah. Suasana sekolah yang masih terang benderang dan suara-suara besi dan palu yang bersahutan dengan suara tawa para panitia membuat suasana sekolah tidak menyeramkan. Saat baru sampai di depan pagar, sebuah mobil yang tak asing meng klakson. Lalu kaca jendelanya turun dan muncul Alul di jok depan.
"Mbak Jen." Panggil adiknya itu.
Citra mendekat kearah mobil, melirik supir yang sudah bisa di tebak siapa tanpa mengucapkan satu kata pun. Pak Arif pun tak menoleh sama sekali kearahnya.
"Masuk, Mbak." Ujar Alul.
Citra yang tidak mungkin menolak meskipun sangat ingin melakukannya lantas membuka pintu belakang lalu masuk duduk di jok belakang.
"Malam, Pak." Sapanya tak ikhlas.
__ADS_1
"Waalaikumsalam." Jawab Pak Arif yang membuat Citra mendumel dalam hati. Tuh, kan? Nyebelinnya Pak Arif kayaknya lagi kumat. Apa yang kemarin-kemarin itu hanya halusinasinya ya?
"Assalamu'alaikum." Ujar Citra datar mengerti sindiran tipis-tipis itu. Ia merosot di kursi penumpang, mencari posisi yang paling enak.
"Mekdi aja, Mas. Disana ada es krimnya." Ucap Alul Pada Pak Arif.
Citra mengernyit, Ape nih? "Kita nggak langsung pulang ke rumah?"
"Enggak. Kita makan dulu. Iya kan, Mas?"
Pak Arif mengangguk, "Iya."
"NGGAK! Saya turun aja. Capek, pengen istrahat. Kalian berdua aja." Potong Citra. Badannya rasanya remuk dan lengket, masuk di keramaian bukanlah ide yang baik apalagi sama Pak Arif yang mukanya sepet bikin bete.
"Di rumah nggak ada makanan, Mbak. Papi dan Mama lagi ke pesta temannya." Terang Alul menoleh kebelakang.
"Saya bisa makan mie atau telur." Katanya masih belum mau ikut rencana dua orang di kursi depan.
"Massss." Alul merengek pada Pak Arif yang tenang-tenang saja di kursi kemudi.
"Kapan-kapan saja makan di mekdinya ya Lul, kasian Mbak Jen cape." Ujar Pak Arif memberi pengertian pada bocah di sampingnya itu.
"Oke deh."
Citra mencibir. Kalau sudah Pak Arif yang bicara cepat sekali setuju nya. Coba kalau dirinya, beuuh tunggu perang dulu baru puas.
Pak Arif lantas membelokkan kendaraan kearah perumahan tempat mereka tinggal. Hanya saja saat sampai di depan rumah, Pak Arif tidak membuka kunci pintu dan langsung masuk dalam area rumahnya.
"Kita makannya di rumah Mas saja."
"LOH? NGGAK MAU BAPAAAAAAK!!!" Citra memprotes yang sama sekali tidak di hiraukan oleh Pak Arif.
Laki-laki itu turun di susul Alul yang langsung berlari kedalam rumah. "Turun!" Ujar membuka pintu belakang.
Citra menggeleng, "Nggak mau." mulutnya manyun persis bebek.
Pak Arif menghela nafas, "Ya sudah, terserah. Tapi kunci pagar dan kunci rumahmu ada sama saya." katanya lalu meninggalkan Citra yang sudah melotot horor di tempatnya.
BUK!!!
Suara bantingan pintu dan hentakkan kaki yang menyusul di belakangnya menciptakan senyum tipis di bibir laki-laki itu.
__ADS_1
Mbak Jeeen... Mbak Jeeen... marah saja tetap menggemaskan. Masya Allah.
***