My Favorite You

My Favorite You
Rumah Baru


__ADS_3

"Cit, tambahin baksonya dong!"


"Cit, Sambel mana?"


"Cit, Jeruknya abis."


"Cit, kerupuknya dong."


Citra menarik nafas dalam-dalam mencoba untuk bersabar menghadapi keempat temannya yang sepertinya hari ini berniat menjadikannya asisten rumah tangga. Nasib jadi tuan rumah sih.


"Kalian kan punya tangan, ambil sendirilah." Omelnya sambil meracik baksonya sendiri. Hari ini ia mengundang keempatnya dalam rangka syukuran rumah baru. Hanya acara makan bakso yang dihadiri oleh Lisna, Abu, Sari dan Agus. Sepulang dari liburan keempatnya langsung merongrong Citra untuk di traktir bakso. Karena Mama Citra pintar masak bakso, akhirnya acara traktirannya dipindahkan di rumahnya. Kebetulan sekali masih ada sisa acara syukuran kemarin sekaligus bantu-bantu ngatur barang.


"Tuan rumah apaan nih? Tamu nggak dilayani. Muliakan tamu Mbak biar rejeki lancar." Agus si ustadz KW memulai khutbahnya. Bagus kalau di depannya ada Pak Arif sekalian di rekrut jadi asistennya di mushola kompleks. By the way lelaki itu seperti biasa sudah mulai aktivitas nya sebagai warga budiman aktif dalam kegiatan sosial.


"Maleees. Kalau tamu modelan kalian bukannya rejeki lancar malah mampet." Balas Citra dengan mulut penuh.


"Pak Arif apa nggak nyesel ya nikahin ni anak? Kalau aku jadi Pak Arif udah ku talak lima." Tambah Abu yang menyerahkan mangkok baksonya pada Lisna untuk di racik. Citra mendelik. Dia juga ogah kalau Pak Arif semodelan Abu. Ganteng sih tapi imannya tipis gampang di perdaya. Buktinya ia satu aliran dengannya yang sering adu balas-balasan dengan Pak Arif.


"Talak cuma sampe tiga, blog." Agus melempar gulungan tissue kearah Abu. Lisna kan pujaannya kenapa malah si Abu ini yang dilayani. Emosi jiwa juga melihat crush dimanfaatkan si abu jahal.


"Berisik ah! Ntar ganggu Pak Arif." Sari menimpali. Ia memeras jeruk diatas baksonya. Meskipun mengomel tetap saja tuan rumah menyediakan segalanya. Ia terkekeh melihat wajah terpaksa Citra yang harus bolak balik mengambil keperluan mereka di dapur.


"Gak ada bapak. Tadi aku lihat di depan mesjid." Ujar Abu melelet. Dasar bibir tipis.


"Masya Allah. Beruntungnya Mbak Citra." Lisna menepuk-nepuk bahu Citra yang langsung memamerkan wajah jumawa. Gimana ya rezeki anak solelah. "Betewe kamu udah isi belum cit?"


"Isi apa?" Tanya Citra bingung sambil menikmati kuah bakso yang menggigit lidah.


"Isi bakso." Ujar Agus lalu cengengesan pada Lisna yang menatapnya malas.


"Hamil, Cit. Gitu aja nggak tau." Sari memperjelas.


"Nggak lah." Jawab Citra seolah tak terima dengan kalimat itu. Bisa-bisanya ia hamil, "Di sentuh saja baru sebatas icip-icip. Yakali langsung hamil."


"Icip-icip?" Bukan saja Lisna yang bertanya, wajah Sari, Agus dan Abu mengartikan yang sama. Terlihat dari ketiganya menghentikan makan mereka dan menatap penuh pada Citra.


Citra yang mendapat tatapan seperti itu langsung menggeleng. Tentu saja urusan seperti ini belum boleh di dengar remaja tanggung seperti teman-temannya jangan sampai langsung di praktekan kan gawat, bisa jadi penyumbang dosa dirinya. Ogah.

__ADS_1


"Nggak. Yang belum halal mana boleh tau." Ujarnya akhirnya. Biarkanlah keganasan bibir Pak Arif menjadi rahasianya dengan Tuhan. Tampang doang alim, kelakukan liar. Decak nya dalam hati.


"Nggak asik ah!" Seru Abu diangguki ketiganya. Mereka kembali melanjutkan makan sedangkan Citra terkekeh senang. Lagian urusan delapan belas keatas mana boleh diumumkan.


Pukul lima sore keempatnya berpamitan. Tentu saja setelah membantu Citra mencuci piring dan membersihkan jejak-jejak bakso yang mereka tinggalkan diatas meja. Cukup tau diri lah, tidak numpang makan saja.


"Salamin sama Pak Arif ya Cit. Maaf nggak nungguin, takutnya kemalaman." Pamit Lisna memeluk Citra singkat diikuti Sari dan langsung ditarik Agus ketika Abu ingin melakukan hal yang sama.


"Abis kamu sama Pak Arif." Ancam Sari menatap galak.


"Kirain boleh hehe." Cengirnya tanpa dosa.


"Nggak boleh. Sebadan-badan ini cuma boleh dipeluk Pak Arif."


"DIIIIH!!!" Koor panjang dari keempat tamu itu membuat Citra tergelak. Puas sekali melihat wajah muak keempat temannya itu.


"Udah sana, balik!" Usir nya mendorong bahu Lisna yang paling dekat dengannya.


"Iya iyaaaa... Assalamu'alaikum." Pamit mereka.


"Waalaikumsalam." Citra menunggu mereka hilang dari pandangannya baru kemudian masuk dalam rumah. Baru saja menutup pintu, suara salam dari luar kembali terdengar.


"Mas ketemu teman-temanmu di belokan depan." Ujarnya mencium kedua punggung tangan Citra yang ada dalam genggamnya.


"Bau bakso, Mas." Citra menarik tangannya, meletakkan dibelakang punggung.


Pak Arif terkekeh, "Tidak apa-apa. Mas suka." ujarnya merangkul Citra masuk kedalam. "Besok ke kampus?" lanjutnya setelah duduk di sofa Abu yang memuat dua orang. Besok Citra sudah mulai masuk kampus untuk melengkapi berkas-berkasnya. Sebagai mahasiswa jalur undangan ia tidak perlu tes karena sudah mendapat kursi di kampus yang diinginkannya.


"Iya. Mas nggak usah anter. Nanti bareng Lisna." Jawab Citra. Ia dan Lisna berada di Fakultas yang sama. Lisna memilih pendidikan kimia sebagaimana sejak awal mengidolakan Pak Arif, tujuan pendidikan nya pun mengikuti jejak sang idola. Berbeda dengan Citra yang memilih jurusan bahasa asing. Cita-cita awalnya adalah menjadi seorang pramugari namun badannya yang minimalis mengubur mimpi itu. Kata Papinya bahaya kalau tinggi tidak capai kabin.


"Kalau ada apa-apa langsung telfon, Mas."


"Iya, Mas. Jena bisa kok." Ujar Citra meyakinkan Pak Arif yang terlihat sekali meragukan kecakapannya bersosialisasi. Sepertinya Pak Arif belum tau kalau istrinya ini terkenal sebagai social Butterfly di mana-mana bisa membaur dengan mudah, punya banyak kenalan.


Pak Arif mengangguk, "Iya, Mbak Jena kita ini pasti bisa. " ujarnya menarik Citra dalam pelukannya, "Wangi sekali Mbak Jen. Mas jadi laper." Pak Arif mengendus-endus badan Citra membuat gadis itu kegelian.


"Kan bakso--IIIIHHH MAAS!" Citra menggeliat menjauh dari sofa saat Pak Arif iseng menjilat lehernya. "Geli." omelnya dari jarak aman. Pak Arif tertawa dengan wajah tak bersalah. Lelaki kelamaan jomblo ya gini akhirnya, isengnya overdosis.

__ADS_1


"Kenapa jauh-jauh?! Sini sama Mas!" Panggilnya yang ditolak Citra mentah-mentah.


"Nggak mau. Mas jilatin mulu, dikira Jena es krim apah." kata gadis polos itu mengusap bagian lehernya yang disinggahi lidah Pak Arif. Mana tahu dia kalau sang suami pelan-pelan mulai menerobos kejalur-jalur berbahaya.


"Tidak lagi." Ujarnya meyakinkan, "Ayo sini. Mas pengen peluk. Sebentar lagi waktu maghrib Mas harus balik ke mesjid."


"Janji?" Citra menawarkan jari kelingkingnya.


"Janji, Sayang." Pak Arif melakukan hal yang sama. Sangat childish tapi namanya juga menikahi remaja jadinya ikut-ikutan kelakuan bocah.


"Awas aja kalau iseng lagi. Jena bales." Ancam Citra seraya mendekat pada Pak Arif yang langsung menangkapnya dan mendudukannya diatas pangkuan.


"Mau balas gimana memangnya, hm?" Bisik laki-laki itu, tersenyum tipis.


Sedikit aja jeda diantara keduanya sebelum kemudian Citra menoleh, menghadapkan wajah tepat di depan Pak Arif. Lelaki itu menatapnya dengan kening terangkat satu seolah menunggu apa yang akan dilakukan gadis kecil diatas pangkuannya itu. Pak Arif tak sempat mengantisipasi apa yang dilakukan saat Citra mendekat dan seperti slowmotion melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Pak Arif tepat di urat bawah telinganya.


Deg.


Seluruh aliran darah seolah tersedot ke wajah laki-laki itu. Membeku seperti patung dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Citra menarik kepalanya dengan wajah puas, menyeringai "Tuh! Rasain!"


Pak Arif tak berkutik untuk beberapa saat. Wajahnya memerah, Citra sepertinya baru saja menyerang salah satu titik sensitif lelaki itu terbukti dari ekspresinya yang tersiksa.


"Sayang"


"Hm?"


Pak Arif meneguk saliva susah payah sebelum lanjut berbicara, "Di kulkas ada stok air dingin?"


"Kayaknya sih iya. Kenapa? Mas haus? Mau Jena ambilin?" Tawar Citra kebingungan melihat Pak Arif yang seperti orang linglung. Lelaki itu bahkan tanpa pikir-pikir langsung menyingkirkannya dari pangkuannya.


"Mas mau keramas."


"Hah?"


"Mas mau mandi. Tolong ambilin handuk ya." Tanpa menjawab kebingungan Citra, Pak Arif ngibrit ke kamar mandi, bahkan saking terburu-burunya sampai menendang kaki meja.

__ADS_1


Citra melongok, "Mas Arif kenapa sih? Bukannya tadi udah mandi ya? Lagian keramas pake air kulkas apa nggak beku tuh?!" Meskipun bertanya-tanya, tapi ia tetap berjalan ke kamar untuk mengambil handuk. Aneh. Dasar bapak bapak.


***


__ADS_2